Chapter 6. Kembali Ke Tanah Air.

1205 Words
Di kediaman mewah Cakra Raka Bumi. Nadira, bersama dua buah hati kembarnya baru saja tiba di bandara Internasional Soekarno-Hatta. Tasya dan Troy pun tidak ketinggalan, ikut serta menemani mereka untuk bertemu dengan sahabatnya yang sedang sakit parah. Bukan hanya Nadira yang shock dan khawatir dengan kondisi Sandrina. Akan tetapi, Tasya dan suaminya pun tidak kalah shock dan khawatirnya, saat mendengar berita yang baru saja diterimanya itu. Tanpa berpikir panjang, sore itu juga mereka langsung memesan tiket pesawat untuk terbang ke Indonesia. Kini, setelah perjalanan panjang yang memakan waktu hampir dua puluh tiga jam, akhirnya mereka pun sampai di depan halaman kediaman seorang Cakra Raka Bumi, yang begitu Nadira rindukan. Hampir enam tahun lamanya, ia baru menginjakkan kakinya kembali di rumah itu. Perasaannya campur aduk, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Nadira meneteskan air mata dalam diam. Suasana di rumah itu, tidak ada yang berubah sedikit pun. Masih tetap sama, sebelum ia pergi ke Amerika, enam tahun yang lalu. Sambutan ramah, mereka dapati dari dua orang satpam yang masih sama. Masih mengenal siapa Nadira. Gadis cantik yang selalu ramah, ceria dan baik terhadap mereka. “Ya Allah, Non Dira. Apa kabar, Non? Udah lama sekali, kami tidak melihat Non Dira. Non Dira masih tidak berubah, tetap cantik dan baik dari dulu,” ujar pak Karim, salah satu satpam yang berdiri di hadapan mereka dengan raut wajah bahagia. “Ya, Non Dira. Apa kabar, Non? Bapak Toto, rindu melihat senyuman Non Dira, yang cantik, baik dan ceria. Semenjak Non Dira ke Amerika, udah nggak ada lagi yang bikin kita terhibur. Setiap hari, bawaannya tegang, kalau Tuan Besar sedang marah dan kesal,” adunya berkeluh kesah. Nadira hanya mengulum senyum, sambil mengucapkan terima kasih kepada mereka berdua, karena masih ingat dan merindukan dirinya. “Sama-sama, Non Dira. Mari, Pak Karim antar, Non!” tawarnya ramah. “Tidak usah, Pak Karim. Saya masih hapal rumah ini. Terima kasih,” ucap Nadira sambil mengulas senyum. “Oh, iya, Pak Karim dan Pak Toto. Perkenalkan, ini Tante Tasya dan Om Troy. Merekalah yang selama ini menemani dan menjaga Dira dengan si kembar ini,” ujar Dira tidak ingin menutup-nutupi keberadaan kedua buah hati kembarnya. Nanda tengah tertidur pulas di gendongan Troy. Sementara Nando, nampak menyimak dengan baik pembicaraan Nadira dengan kedua satpam rumah tersebut. “Selamat malam, Tuan Troy dan Nyonya Tasya. Selamat datang di kediaman Tuan Besar kami,” sapa pak Karim, yang diikuti oleh pak Toto dengan sopan. “Selamat malam juga, Bapak-bapak. Terima kasih,” ucap Tasya tak kalah sopan, lalu diikuti oleh suaminya. Kedua satpam itu pun mengangguk hormat, seraya mengulas senyum. “Aden ganteng, namanya siapa?” tanya pak Karim, menyapa dengan mengusap pucuk kepalanya. “Nando Raka Bumi, Pak!” sahutnya dengan tegas. “Ya Allah, pinternya. Sama pinter, kayak Ibunya,” puji Pak Karim mengulas senyum, dengan kedua netranya yang berkaca-kaca. Berita tentang kehamilan anak majikannya tersebut, sudah mereka ketahui sejak Nadira tidak kunjung pulang ke tanah air. Semenjak itu pun, nyonya besar mereka, sering jatuh sakit. Dan saat ini, merupakan sakit yang paling parah. *** Cakra Raka Bumi, sedang duduk di samping istrinya yang terbaring lemah dengan mengenakan peralatan medis. Di lengannya, terpasang jarum impus, dan di hidungnya terpasang selang oksigen. Betapa terenyuhnya, setiap orang yang melihat kondisi Sandrina. Tubuhnya semakin kurus kering, wajahnya pucat pasi, serta kepalanya yang sudah gundul tanpa rambut. Karena, setiap hari, rambut Sandrina mengalami kerontokan yang diakibatkan harus menjalani kemoterapi, setiap dua kali dalam satu minggu. Nadira melangkah dengan seluruh tubuh bergetar lirih, seraya menggandeng tangan Nando. Langkahnya diikuti oleh Tasya dan Troy, menuju kamar kedua orang tuanya. Salah satu pelayan di rumah itu, menawarkan bantuan untuk merebahkan tubuh Nanda di kamar bekas Nadira dahulu. Nadira pun tersenyum miris, saat melihat kamarnya yang tidak pernah berubah sedikit pun, sejak ia meninggalkannya enam tahun yang lalu. Meninggalkan kamarnya dahulu, salah satu pelayan yang lainnya menemani langkah Nadira kembali bersama Tasya dan Troy, menuju kamar kedua orang tuanya. Setelah sampai di depan pintu kamar kedua orang tua Nadira, pelayan itu pun undur diri untuk kembali melakukan tugasnya yang lain. Nadira dan sepasang suami istri itu pun nampak mengucapkan terima kasih dengan tulus. Tok… Nadira mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya, yang masih sama seperti dulu terakhir ia pergi. “Silahkan, masuk!” Nadira pun menarik gagang pintu, lalu mendorongnya dengan perlahan. “Assalamualaikum…” ucap Nadira dengan raut wajah tersenyum getir, dengan kedua netranya yang berkaca-kaca. “Wa’alaikumussalam…. D-dira…” sahut Cakra, dengan suara bergetar lirih, dan tatapan nanar. Ia pun lantas berdiri, dan berjalan dengan langkah tertatih, hendak menghampiri sang putri yang sangat dirindukannya. Nadira menggeleng lemah, air matanya pun tak bisa dibendung lagi. Meluncur deras bagaikan air hujan, membanjiri wajahnya. Ia pun lantas melangkahkan kakinya terlebih dahulu, sebelum ayahnya menghampiri. Brukk! Nadira menjatuhkan diri di bawah kaki sang ayah, duduk bersimpuh dengan kepala tertunduk. “Maafkan Nadira, Pah! Maafkan atas semua kesalahan yang dilakukan oleh Nadira, Pah. Nadi…” Cakra mencegahnya, buru-buru kedua tangannya mengangkat bahu Nadira untuk segera berdiri. “Jangan seperti ini, Nak! Papa yang bersalah, Sayang! Papa yang seharusnya minta maaf kepadamu. Bangunlah, Nak! Jangan duduk di bawah begini!” potongnya. Nadira mendongak ke arah Cakra, dengan tangisan mengharu biru. Begitu pun dengan Cakra, tangisannya pecah untuk pertama kalinya terdengar, setelah melihat kembalinya sang putri semata wayang yang begitu sangat ia sayangi. Meskipun saat berbicara ia begitu tegas dan kejam, sebenarnya di dalam hatinya yang paling dalam, selalu bersedih seorang diri, dan tidak pernah mengucapkan sungguh-sungguh jika ia membencinya. Hati dan bibirnya, sangat bertolak belakang. Namun, gengsinya mengalahkan perasaan yang ada di hatinya selama ini. Cakra pun segera membawa tubuh Nadira masuk ke dalam pelukkannya. Ia bisa merasakan tubuh sang putri yang bergetar, meski lirih. Nadira pun menumpahkan segenap kerinduannya di dalam pelukkan sang ayah. Begitu juga dengan Cakra, melepaskan rasa bersalahnya kepada sang putri, yang dengan teganya mencoret namanya dari akte keluarga. “Maafkan Papa, Sayang!” ucapnya tulus, sambil mengusap lembut rambut panjang Nadira. Tasya dan Troy pun, ikut terharu dengan pemandangan yang mereka lihat. Keduanya pun tidak bisa menahan, untuk tidak mengeluarkan air mata. Antara rasa sedih dan bahagia, bercampur menjadi satu. Nando yang melihat ibunya menangis seperti itu, seolah ikut merasakan hal yang sama layaknya seperti orang dewasa. Namun, Nando tidak suka melihat orang yang menangis, terutama melihat ibunya menangis. Baginya, menangis itu sesuatu yang cengeng dan manja, seperti yang sering dilakukan oleh adiknya, Nanda. “Kenapa orang dewasa itu, sukanya menangis? Bukankah, lebih baik tersenyum dan tertawa, dari pada menangis? Aku tidak suka mendengar suara tangisan. Aku lebih suka tersenyum dan tertawa,” tanya Nando dengan lugunya, membuat Nadira dan Cakra pun menghentikan tangisan seketika. Cakra mengurai pelukkannya dari sang putri, lalu mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh si kecil Nando, cucunya. “Cucu Eyang, yang tampan,” ucapnya lirih dengan raut wajah bahagia, sambil merentangkan kedua tangannya untuk menyambut kedatangan Nando. “Aku tidak mengenal siapa Anda. Eyang itu siapa, ya?” tanyanya dengan nada dingin, dengan sorot mata tidak suka. Karena laki-laki tua di hadapannya itu, telah membuat ibunya menangis. “Kenapa Anda membuat Bundaku menangis?” tanyanya dengan raut wajah serius. Cakra pun nampak shock mendengar pertanyaan si kecil Nando, yang begitu pintar dan kritis. Nadira dan sepasang suami istri yang sudah hapal dengan tabiat Nanda, hanya bisa geleng-geleng kepala.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD