Chapter 5. Si Kembar Adalah Kado Terindah.

1357 Words
Lima tahun telah berlalu. Di sebuah taman kota, Golden Gate Park San Fransisco. Hari ini, Nadira akan merayakan hari bahagianya bersama Tasya, Troy dan kedua anak kembarnya, Nanda dan Nando. Sekaligus, merayakan hari ulang tahun kedua buah hatinya tersebut. Senyuman dan keceriaan Nanda Raka Bumi dan Nando Raka Bumi, dua buah hati Nadira, merupakan kado terindah dalam perayaan hari kelulusannya itu. Kini, Nadira sudah mengantongi gelar sarjana satunya. Dan, ia sudah tidak sabar ingin segera bekerja untuk menyalurkan kemampuannya, sekaligus untuk memenuhi kebutuhan kedua anak kembarnya. Nadira merasa sudah cukup, selalu merepotkan Tasya dan Troy. Meskipun Nadira tahu, kedua sepasang suami istri itu, sangat tulus menyayangi ia dan kedua buah hati kembarnya. Namun, ia tidak mau menggantungkan hidupnya terus kepada mereka. Kedua bola matanya, berkaca-kaca. Ingatannya kembali muncul di hari kedua setelah kelahiran kedua anak kembarnya. Saat itu, Tasya mengirimkan hasil rekaman video kepada Sandrina. Di mana Nadira yang tengah melahirkan secara cesar, dan saat Nadira sedang menggendong salah satu anak kembarnya, Nanda. Di sana pun terlihat, Tasya yang sedang menggendong Nando dengan ekspresi tertawa bahagia. Tanpa disengaja, ayahnya, Cakra, ikut melihat rekamam video yang sedang berputar di ponselnya Sandrina. Ia pun terkejut bukan main, saat melihat semuanya itu. Tanpa banyak kata, Cakra pun meminta istrinya untuk segera menghubungi Nadira. Cakra nampak geram dengan kebohongan putri dan istrinya tersebut. Sandrina pun tidak bisa berbuat apa-apa, ia pun terpaksa menuruti permintaan suaminya tersebut. Setelah terhubung dengan kontak Nadira, Candra pun meluapkan kemarahannya terhadap putri semata wayangnya itu. Karena, ia malu dengan kelakuan Nadira yang hamil di luar nikah, melarikan diri ke Amerika dengan alasan ingin kuliah di sana, ternyata hanyalah sebuah kebohongan semata. Cakra pun merasa ditipu mentah-mentah oleh istri dan putrinya, hingga ia pun menghukum Nadira dengan cara menghentikan pengiriman uang kuliah dan kebutuhannya di Amerika. Cakra meradang, dan melarang istrinya untuk menemui Nadira ke Amerika. Begitu pun sebaliknya, Cakra melarang Nadira untuk kembali ke rumahnya. Secara terang-terangan, Cakra mencoret nama Nadira dari akte keluarganya. Padahal, Nadira putri satu-satunya yang ia miliki. Namun, Cakra tidak perduli dalam hal itu. Ia berkata, lebih baik tidak memiliki anak sama sekali, dari pada harus menanggung malu, dengan memiliki anak yang tidak bisa menjaga kehormatannya, sampai hamil dan melahirkan tanpa memiliki suami. “Bunda…” teriak Nanda, menarik Nadira dari lamunan masa lalunya. “Ya, Sayang. Jangan lari-lari, nanti jatuh! Sini…” Nadira menghampiri putri cantiknya kemudian berjongkok, sambil mengulurkan tangannya, untuk menyambut Nanda yang masuk menubruk tubuhnya. “Kak Nando nakal, Bunda. Masa, Nanda mau dikasih ulat bulu. Nanda kan jijik, Bunda,” tuturnya bergidik ngeri, dengan wajah yang teramat lucu dan menggemaskan, membuat Nadira seketika terkekeh pelan. Namun, Nadira menghentikan kekehannya, ketika raut wajah Nanda yang nampak kesal kepadanya. Ia pun segera menoleh ke arah Nando yang masih asik dengan mainan ulat bulunya tersebut. “Nando…!” panggil Nadira dengan tatapan berpura-pura marah, untuk menunjukkan kepada putri cantiknya, jika ia sedang memarahi kakaknya. “Ya, Bunda!” sahutnya, menoleh dan menghentikan kegiatannya. Ia pun berjalan untuk menghampiri ibu dan adiknya. “Ada apa, Bunda?” tanyanya nampak polos. Wajahnya Nando, begitu mirip dengan Dava Arya Bima, ayah biologisnya. “Buang ulat bulunya, Sayang. Jangan suka jahilin Adikmu! Nanda jijik, melihatnya,” titahnya tegas. Namun, ia tidak tega melihat raut wajah Nando yang tiba-tiba sedih. “Tapi, ini sangat lucu, Bunda. Ulat bulu ini pun tidak gatal sama sekali, kok,” bantahnya, berusaha menolak. “Nggak, Bunda. Pokoknya, Kak Nando harus buang ulat bulu itu! Yang namanya ulat bulu, tetap ajah menjijikan. Nanda nggak suka.” “Huh, payah! Dasar cewek,” dengkus Nando kesal. “Udah, kamu mengalah saja, Sayang! Katanya, kamu Anak laki-laki yang akan melindungi Bunda dan Adik kamu,” bujuk Nadira dengan lembut. Nando pun segera membuang ulat bulu tersebut, lalu berhambur memeluk tubuh Nadira dan Nanda. Kedua wanita yang sangat Nando sayangi. “Ya, Bunda. Kalau Nando sudah besar nanti, Nando akan selalu menjaga dan melindungi Bunda dan Adek Nanda,” ucapnya seperti orang yang memiliki pikiran dewasa. Nando memang anak yang memiliki otak genius, lagi tegas dan berpikiran luas ke depan. Ia memiliki pemikiran di atas rata-rata layaknya orang dewasa, yang tidak dimiliki oleh anak-anak lain yang seumuran dengannya. Nanda pun memiliki otak yang tidak kalah genius dari sang kakak. Hanya saja, Nanda masih sangat manja dan kekanak-kanakan. Namun, hal yang wajar bagi seusia Nanda dan Nando, karena usia mereka yang baru menginjak lima tahun tersebut. “Ada apa, ini? Kok, Omah dan Opah, nggak diajak pelukkan?” tanya Tasya, yang berjalan bersama Troy, menghampiri mereka dengan membawa dua buah kado berukuran besar. Nadira pun mengurai pelukkan kedua anak kembarnya. Lalu, menghapus air matanya yang diam-diam menetes tadi, saat memeluk hangat dua buah hatinya. “Omah… Opah…! Kadonya besar sekali. Apa kado itu untuk kami?” tanya Nanda dengan raut wajah berbinar. Sedangkan Nando, terlihat menggeleng pelan. “Ya ia lah, Dee… ! Emangnya, untuk siapa lagi kado itu, kalau bukan untuk kita berdua? Huh, payah!” “Nando, Sayang!” tegur Nadira melayangkan tatapan tidak setuju dengan sikap sang putra, lewat gelengan kepala dan jari telunjuk yang di taru di depan mulutnya. “Husss!” Nando pun terdiam, lalu mengangguk mengerti. Tasya dan Troy pun tetawa renyah, melihat tingkah lucu kedua anak kembar berbeda jenis itu. Mereka tidak bisa membayangkan, jika kelak akan berpisah dengan Nadira dan kedua buah hatinya, yang sudah mereka anggap seperti anak dan cucu mereka. “Ini, kado dari Omah untuk Nanda. Dan, ini, kado dari Opah untuk Nando,” jelas Tasya, menyerahkan sekotak hadiah besar. “Selamat ulang tahun yang ke lima tahun ya, Sayang. Semoga kalian selalu sehat, panjang umur, selalu menjadi kebanggaan kami semua, terutama Bunda kalian. Dan, jadi Anak yang genius serta rajin belajar.” Doa Tasya sematkan, ketika memeluk kedua bocah kembar itu bergantian. Lalu, disusul oleh Troy. “Terima kasih hadiah dan doanya, Omah, Opah. Nanda akan selalu menjaga Bunda,” ucapnya tulus nan polos. Kemudian diikuti oleh Nando, yang juga sama mengucapkan kata seperti adiknya, Nanda. Namun, Nando menambahkan satu kata lain, yang membuat semuanya tercengang. “Nando takan pernah membiarkan Bunda menangis seorang diri lagi. Sebentar lagi, Nando sudah mulai masuk sekolah. Berarti, Nando sudah besar, dan Nando akan melindungi Bunda dari orang-orang yang membuat Bunda menangis,” clotehnya panjang lebar dengan menatap wajah Nadira dengan tatapan serius. Seketika, tubuh Nadira bergetar lirih dengan bola mata yang sudah berkaca-kaca. Ia tidak menduga, bocah kecil berusia lima tahun itu, benar terlihat layaknya pria dewasa yang sedang mengucapkan sebuah janji yang tulus dari hatinya. Drrt…. Kriing… Bunyi panggilan telpon memekik gendang telinga. Membuat Nadira pun refleks merogoh ponselnya dari dalam tasnya. “Papa… “ gumam Nadira lirih, saat membaca nama yang ada di dalam kontak panggilannya. “Siapa yang menelpon, Sayang?” tanya Tasya penasaran. Pasalnya, wajah Nadira terlihat memucat. Nadira menoleh, lalu bangkit dari posisinya yang sedang berjongkok. “Papa… Tante,” jawabnya lirih. “Tumben.” Wajah Tasya nampak cemas. Nadira pun menggeleng, ia tidak tahu harus bagaimana. Angkat atau tidak? Perasaannya tiba-tiba tidak baik-baik saja. “Angkat saja, Sayang!” timpal Troy, membuat Nadira tersentak. “Ya, sepertinya, kamu harus mengangkatnya, Sayang. Tante takut, ada sesuatu yang hendak Papamu sampaikan. Sejak lima tahun itu, Papamu tidak pernah menghubungimu lagi, bukan?” Ya, sejak ia dicoret dari akte keluarga, ayahnya memang tidak pernah menghubunginya lagi. Namun, Sandrina, ibunya, masih sering sembunyi-sembunyi menghubunginya, dan sering berkomunikasi dengan Nanda dan Nando. Terkadang, Sandrina pun mengirim uang tabungan yang ia miliki untuk anak dan kedua cucu kembarnya, walaupun tidak banyak. Nadira pun akhirnya mengangkat panggilan ayahnya dengan sedikit ragu. “H-halo…” “Nadira… apa ini kamu, Sayang?” Suara lelaki yang begitu Nadira rindukan, terdengar lembut dari sebrang telponnya. “I-iya, Pah.” Ucapannya terdengar bergetar. “Pulanglah, Sayang! Mama kamu sakit keras. Kata Dokter, nyawanya tidak akan lama lagi. Mama kamu bersikukuh ingin bertemu denganmu, di sisa-sisa terakhirnya. Maafkan keegoisan Papa selama ini kepadamu, Sayang.” Boom! Debaran dalam da da Nadira bergemuruh hebat. Rasa sakit dan sesak, tiba-tiba menghimpit jiwanya. Seperti terkena pukulan keras sebuah batu besar yang menghujam tepat di jantungnya. Air matanya mendesak tiba-tiba, tanpa kompromi. Berita yang baru saja ia dengar, membuat sekujur tubuhnya lunglai bagai tak beraga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD