Enam bulan kemudian.
“Aaah… aku nggak kuat, Tante, Om!”
Dari semalam, Nadira merasakan perutnya yang kram dan mulas. Ia meringis, sambil memegangi perut buncitnya yang ternyata tengah mengandung anak kembar yang berbeda jenis kelamiin.
Nadira pun hampir tidak percaya dengan hasil pemeriksaan yang kedua kalinya, ketika usia kandunganya berjalan empat bulan saat itu. Namun, setelah pemeriksaan kehamilannya yang ketiga kalinya, Nadira baru benar-benar percaya, jika dirinya memang tengah mengandung anak kembar.
Tasya yang ikut menemani Nadira ke dokter specialis kandungan itu pun, nampak bahagia dan gembira. Karena, Nadira tengah mengandung bayi yang bukan hanya satu, melainkan bayi kembar. Dirinya sangat tidak sabar, ingin segera menggendong dan merawat kedua bayi kembar Nadira.
Rasa mulas di perutnya, semakin lama semakin sering dirasakan. Hampir setiap saat, Nadira merasakan perutnya yang melilit, seperti ingin buang air besar.
Tasya dan Troy, suaminya, sungguh tidak tega melihat kondisi Nadira yang seperti tengah kesakitan. Meskipun mereka belum berpengalaman dalam menghadapi persalinan. Namun, mereka tahu, ciri-ciri wanita hamil yang akan melahirkan.
“Sabar ya, Sayang! Kita akan segera ke rumah sakit, sekarang juga.” Tasya mencoba menenangkan Nadira. “Om Troy, sedang memanaskan mobilnya dulu,” terangnya, sambil memapah tubuh Nadira yang meringis pilu, menahan mulas dan sakit di perutnya.
Nadira hanya mengangguk lemah, di sela ringisan lirihnya. Ia pun berjalan pelan-pelan, dengan menyeret langkah beriringan dengan langkah Tasya.
“Aah… ini apa, Tante?” tanya Nadira, saat bawahan baju daster yang dikenakannya basah dan berlendir.
“Kenapa, Sayang?” tanya Tasya, sambil meraba bawahan baju Nadira yang dipeganginya.
Tasya pun tersentak, ia pun langsung memanggil suaminya. “Pih… cepat, Pih! Angkat tubuh Nadira, Pih! Sepertinya, ketubannya sudah pecah.”
Dengan sigap, Troy pun mengangkat tubuh Nadira yang cukup berat. Karena, bobot tubuhnya naik dua kali lipat dari sebelumnya. Hampir delapan puluh lima kilo gram, bobot tubuh Nadira terakhir kali menimbangnya.
***
Sesampainya di rumah sakit, Nadira segera dilarikan ke ruangan IGD. Para suster dan dokter jaga pun segera memeriksa kondisi Nadira dan bayinya.
Walaupun mereka bukan dokter specialis kandungan yang biasa Nadira melakukan chek up. Namun, mereka dengan sigap dan mengerti, apa saja yang harus mereka lakukan untuk melakukan pertolongan pertama.
“Maaf, Nyonya dan Tuan. Sepertinya, pasien harus segera melakukan tindakan Operasi Cesar,” tutur salah satu dokter jaga yang baru saja melakukan pemeriksaan dengan menggunakan bahasa Inggris.
“Lakukan yang terbaik, Dokter!” pinta Tasya yang dianggukkan oleh Troy, dengan menggunakan bahasa inggris pula.
“Baik, Nyonya dan Tuan. Kami sudah menghubungi Dokter Obgyn yang sudah biasa memeriksa kehamilan pasien. Beliau sedang dalam perjalanan ke sini. Sekarang, silahkan Anda menandatangani surat persetujuan ini, sebagai wali dari pasien.” Dokter itu pun mengulurkan selembar kertas tersebut kepada Tasya dan Troy.
Tanpa berpikir dua kali, Tasya dan Troy pun segera mengambil selembar kertas tersebut, lalu menandatanganinya dengan cepat.
“Terima kasih banyak, Nyonya dan Tuan. Sebaiknya, kalian berdoa untuk keselamatan pasien dan bayinya,” ucap dokter jaga itu, sambil tersenyum ramah.
Tasya dan Troy pun mengangguk kecil, sambil tersenyum tipis. “Itu sudah pasti, Dokter!” ucap mereka hampir bersamaan.
***
Di ruang meja operasi.
Nadira terus melapalkan ayat-ayat pendek dalam Al-Quran yang ia hapal, untuk berdoa kelancaran operasi cesarnya. Ia berdoa kepada Tuhan-Nya, agar diampuni segala dosa-dosanya di masa lalu. Walaupun sampai detik ini, ia tidak tahu sebenarnya apa yang tengah terjadi dengan dirinya malam itu. Karena, ia merasa bukan seperti dirinya yang biasa.
Tasya pun berada di samping Nadira, selalu menyemangatinya saat tengah bertarung nyawa dalam menjalani operasi cesar saat ini. Sedangkan, Troy merekam kegiatan team dokter yang sedang melakukan operasi cesar, tanpa mengganggu jalannya operasi. Semua itu adalah permintaan Tasya, sebagai dokumentasi untuk sahabatnya Sandrina, yang tidak bisa menemani langsung proses persalinan putrinya.
Meskipun keyakinan Tasya berbeda dengan Nadira, namun dengan segenap jiwa dan raganya, ia berdoa dengan tulus untuk keselamatan Nadira dan kedua bayi kembarnya, kepada Tuhan yang ia yakini.
“Kamu harus bertahan, Sayang! Tante percaya, kamu wanita yang hebat dan tangguh,” ucap Tasya sambil menggenggam erat jemari tangan Nadira penuh semangat.
“Ya, Tante Tasya. Nadira akan tetap bertahan, demi bayi kembar ini,” sahut Nadira, meneteskan air mata pilu.
Beberapa team dokter pun, terlihat sedang focus melakukan tindakan operasi cesar di perut Nadira. Nadira dapat melihat bayangan itu dari balik kain putih yang menutupi perutnya.
***
Owek…
Owek…
Owek…
Tangisan bayi yang baru saja berhasil dikeluarkan oleh team dokter, terdengar dengan begitu nyaring.
Air mata kebahagian sekaligus kepiluan, mengiringi tangisan bayi kembar Nadira dari bibirnya. Tasya pun ikut menangis bahagia, mendengar suara tangisan bayi Nadira.
Lima menit berselang, tangisan bayi kedua pun terdengar, yang berhasil team dokter keluarkan kembali.
Semakin deras, air mata Nadira yang menetes membasahi pipinya. Tidak henti-hentinya Nadira mengucap kata syukur kepada Tuhan-Nya. “Alhamdulilah, ya Allah. Engkau sangat baik kepada hamba-Mu yang bergelimang dosa ini.”
Hampir empat puluh lima menit berjalan, akhirnya proses persalinan Nadira berjalan dengan lancar. Semua team dokter, saling bersalaman dengan senyuman lega. Setelah itu, semua team dokter itu pun memberikan ucapan selamat kepada Nadira dan pasangan suami istri Tasya dan Troy.
Kedua bayi kembar Nadira, harus dibawa oleh dua orang suster untuk di simpan di alat Incubator sementara. Karena, kondisi Nadira harus pulih terlebih dahulu, setelah pasca menjalani persalinan dengan operasi cesar. Begitu juga dengan kondisi bayi kembarnya yang masih butuh perlindungan dan kehangatan seperti di dalam Rahim ibunya. Cara yang tepat, menyimpan mereka di alat incubator untuk beberapa jam ke depan.
Sebelum dibawa, Nadira pun sempat mencium dan menyentuh lembut pipi bayi kembarnya dengan sayang. Tasya dan Troy pun menyentuh tangan mungil bayi kembar Nadira, dengan sangat lembut dan sayang juga. Mereka sudah tidak sabaran, ingin cepat-cepat menggendong kedua bayi kembar tersebut. Namun, mereka harus menahan rasa itu untuk sementara ini.
“Ya Tuhan, bayi kembar kamu sangat cantik dan tampan, Sayang,” ucap Tasya mengagumi dengan rona wajahnya yang berbinar.
Sedangkan Troy, nampak tersenyum mengembang, sambil merangkul pundak istrinya. Ia pun merasakan hal yang sama dengan Tasya, meskipun itu bukan anak yang lahir dari Rahim istrinya. Namun, Troy tetap bahagia, akan ikut merawat dan membesarkan kedua bayi kembar tersebut.
“Terima kasih, Tante Tasya dan Om Troy. Tanpa kalian, Dira mungkin tidak akan sanggup menjalani semua ini sendirian,” ucap Nadira dengan segenap perasaannya.
Tasya pun berhambur memeluk tubuh bergetar Nadira yang sedang menangis, saking sayang dan terharunya. Sedangkan Troy, hanya menepuk pelan pundak Nadira, sambil tersenyum getir. “Jangan pernah merasa sendiri, Sayang! Kami akan selalu ada bersamamu,” ucapnya tulus.
Nadira pun sangat bersyukur, dikelilingi oleh orang-orang baik seperti Tasya dan Troy, karena mereka sudah menganggap dirinya seperti anak mereka sendiri. Meskipun hati kecilnya berkata, jika ia sangat merindukan kehadiran kedua orang tua kandungnya, disaat seperti ini.