Chapter 3. Pergi Ke Amerika.

1112 Words
Nadira mondar-mandir di dalam kamarnya, ketika mendengar perdebatan kedua orang tuanya yang memekik telinga. Pasalnya, Cakra tidak ingin putri satu-satunya berada jauh di negeri orang, hanya untuk sekedar kuliah. “Pokoknya, Papa tidak mengizinkan Nadira kuliah di sana, Mah! Nadira itu Putri kita satu-satunya, bagaimana bisa Mama setega itu berada jauh dengan kita. Papa tidak setuju.” Cakra tetap ngotot menolak. “Tapi, Pah! Pendidikan di sana lebih bagus dan berkelas,” tahan Sandrina, agar suaminya berpikir ulang dengan keputusannya. Sebenarnya, Sandrina lelah berkilah. Akan tetapi, ia tidak memiliki pilihan lain. “Semua pendidikan di mana saja menurut Papa sama saja, Mah. Tergantung Anaknya, bisa mengikuti atau tidak. Sepertinya, Anak kita termasuk Anak yang pintar dan berprestasi, bukan? Selama sekolah dari TK sampai SMA, nilainya selalu bagus dan mendapatkan juara. Setahu Papa, Nadira sudah mendaftar kuliah beberapa bulan yang lalu bersama teman dekatnya, Medina. Ya, seingat Papa seperti itu.” “Nadira berubah pikiran, Pah. Makanya, tadi siang Nadira minta izin sama Mama untuk kuliah di Amerika. Nilai ujian Nadira sangat bagus, sayang kalau hanya kuliah di sini, Pah. Lagipula, Nadira tidak akan tinggal sendirian di sana. Ada sahabat Mama yang bekerja dan tinggal di sana. Papa pasti kenal dengan Tasya, bukan? Dia teman sekampus dengan Mama, dulu.” “Tasya?” Cakra mencoba mengingat-ingat. “Heem… Mama masih sering berkomunikasi dengan Tasya, Pah. Sayang, Ia belum memiliki Anak sampai detik ini. Makanya, ia sering menanyakan keadaan Nadira, jika kami sedang menelpon.” “Kok, Papa nggak tahu.” Dahi Cakra mengernyit. “Papa kan sibuk kerja. Lagipula, mana pernah Papa bertanya kegiatan Mama selama di rumah. Papa selalu bilang sama Mama, yang penting Mama selalu happy dan memantau kegiatan Nadira. Itu sudah lebih dari cukup, bagi Papa.” Cakra tersenyum kecil, apa yang dikatakan sang istri, benar adanya. Sandrina pun tersenyum lega, ini kesempatan yang baik. “Jadi, boleh kan Nadira kuliah di sana?” Cakra pun akhirnya mengangguk lemah. Tidak ada alasan lagi untuk tidak merelakan putrinya kuliah di sana. Akan tetapi, di dalam hati Cakra masih merasa sedih, jika berjauhan dengan Nadira. Walaupun selama ini ia sibuk bekerja, namun ia masih sering berkomunikasi, bermain, belajar, bercanda, pergi jalan-jalan dengan putri kecilnya yang sekarang sudah tumbuh dewasa tersebut. Seandainya, Nadira kuliah di luar negeri. Apalagi Amerika, yang cukup jauh dengan Indonesia. Sudah dipastikan, apa yang selama ini dilakukan, tidak akan pernah ada lagi. Karena, jarak memisahkan dirinya dengan sang putri. “Alhamdulilah. Kalau begitu, besok pagi Mama akan segera urus surat Visa dan Paspor Nadira, agar secepatnya Nadira bisa berangkat ke Amerika.” Cakra pun mengangguk, lalu meninggalkan istrinya dengan perasaan gamang. Antara rela tidak rela, Cakra masih sangat berat hati melepaskan putri semata wayangnya berada jauh darinya. Tadinya, Cakra ingin bertanya langsung kepada Nadira, perihal apa yang dikatakan oleh istrinya, Sandrina. Namun, ia urungkan. Karena, Sandrina mengatakan kepadanya, jika Nadira sudah tidur sebelum ia pulang. Ya, biasanya Nadira selalu menunggu kepulangannya dari kantor. Meskipun ia sering pulang terlambat, karena harus kerja lembur. Namun, untuk kali ini keadaannya berbeda. Seperti ada yang kurang saja, di mata Cakra. Akhirnya, Nadira pun bisa bernapas dengan lega. Samar-samar, ayah dan ibunya pergi meninggalkan pintu kamarnya, dan menghentikan perdebatan mereka. *** Satu minggu kemudian. Pagi ini, Nadira sudah bersiap-siap untuk ke bandara bersama kedua orang tuanya. Ada rasa berat hati, yang masih menyelimuti hati Cakra, saat ikut mengantar sang putri ke bandara. Perjalanannya menuju bandara, seperti sedang berjalan di atas duri yang tajam. Ia merasakan sakit yang begitu perih, harus merelakan berpisah jauh dengan putri kesayangannya. Sahabat Nadira pun ikut menyusul ke bandara, untuk melepaskan kepergiannya. Ia pun sangat bersedih, karena keputusan Nadira yang terkesan mendadak tersebut. Biasanya, Nadira akan menumpahkan curahan hatinya kepada sahabat dekatnya tersebut, jika dirinya sedang merasa sedih atau pun marah. Namun, untuk hal ini, Nadira pun menutup diri. Ia tetap bersembunyi dalam kesedihannya seorang diri, tanpa diketahui oleh sahabatnya, Medina. Ya, satu hari setelah Nadira siap untuk memantapkan hatinya pergi ke Amerika, ia pun menghubungi sahabat baiknya tersebut. Nadira memohon maaf, tidak bisa kuliah di kampus yang sama, seperti apa yang pernah mereka rencanakan sebelumnya. Medina pun tidak bisa menahan kepergian Nadira, yang pastinya akan merenggangkan persahabatan mereka. Karena, mereka tidak akan pernah bisa seperti dulu lagi. Jalan dan main bersama-sama, sewaktu sekolah dulu. Kini, Nadira berpamitan kepada kedua orang tuanya dengan air mata yang mengalir begitu deras. Rasanya teramat pilu dan getir, ketika harus melepaskan kedua tangan mereka. Begitu juga dengan sahabat dekatnya, Medina. Mereka menumpahkan tangisan perpisahan, untuk beberapa saat. “Kamu baik-baik di sana, Dira. Jangan lupa, sering kabar-kabari aku! Jangan pernah melupakan persahabatan kita, Dira. Kamu harus ingat itu!” pesan Medina terdengar tulus, seraya mengurai pelukkan Nadira. “Ya.” Nadira mengangguk kuat, sambil mengusap air matanya yang tidak mau berhenti menetes. Tidak berselang lama, Nadira pun melangkah masuk ke dalam bandara untuk melakukan chek in, seraya melambaikan tangan perpisahan kepada kedua orang tua dan sahabatnya. Air mata Nadira seakan tidak ada habisnya, terus mengalir deras di pipinya. Padahal, ia berusaha mengusapnya dan mencoba tegar untuk berhenti menangis. *** Bandara Internasional San Francisco. Hampir dua puluh tiga jam, Nadira menempuh perjalanan dari Jakarta ke Amerika. Tubuhnya terasa pegal dan ngilu semua. Terlebih lagi, dirinya tengah mengandung saat ini. Namun, ia dan kondisi bayi dalam kandungnya tetap baik-baik saja, hingga mendarat sampai di tujuan. Nadira pun mulai merenggangkan otot lengan dan kakinya, untuk mengurangi rasa pegal dan ngilunya. Ia pun memegangi perutnya yang masih rata dengan bergumam pelan. “Kamu harus tetap bertahan ya, Sayang. Baik-baik, kamu di dalam sini.” Di depan Bandara, Nadira sudah ditunggu oleh Tasya, sambil melambaikan tangannya ke arah Nadira, ketika melihat anak sahabatnya telah sampai dengan selamat, sesuai waktu yang sudah dijadwalkan. “Hei… keponakan cantik Tante. Kemarilah, Sayang!” seru Tasya, sambil berteriak kencang. Nadira pun tersentak, lalu berhambur memeluk tubuh Tasya dengan erat. “Tante Tasya,” ucapnya lirih disela senyuman pilu. “Ya, Sayang. Selamat datang di Amerika. Semoga kamu dan calon bayi kamu, akan betah di sini,” ujar Tasya, sambil mengelus lembut perut Nadira yang masih rata. “Selama dalam perjalanan, apa kamu merasa pusing atau pun mual, Sayang?” tanyanya khawatir. “J-jadi, Tante Tasya udah tahu kehamilanku?” tanya Nadira sedikit terkejut, sambil menggeleng lemah dengan tubuh bergetar hebat. “Sudah, Sayang. Mama kamu sudah cerita semuanya, apa yang tengah menimpamu. Pokoknya, kamu harus yakin dan kuat untuk bertahan. Tante dan suami Tante, kelak yang akan membantu kamu merawat dan menjaga bayi yang ada di dalam kandungan kamu. Setelah bayi itu lahir, kamu bisa melanjutkan kuliah di sini. Biarkan kami yang akan merawat dan membesarkannya.” Nadira hanya bisa bergeming, dengan sudut bibir yang terpaksa untuk tersenyum, walaupun getir yang ia rasakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD