13

1524 Words
"Istirahat pertama nanti, absen nomor satu sampai lima belas ke ruang BK ya! Ada bimbingan buat milih universitas," teriak Anzelo agak keras. Kelas miliknya adalah kelas paling bising dan sering membuat pada guru menyerah, karena beberapa dari temannya berasal dari keluarga kelas atas dan terbiasa dimanjakan. Seperti saat ini, walaupun Anzelo meminta waktu hanya sedikit untuk mendengarkan dan menegaskan bahwa ini pengumuman penting, namun mereka lebih sibuk bercanda sendiri atau tidak benar-benar mendengarkan. Anzelo menyerah, bukan karena dia tidak berani berlaku tegas tapi dia benar-benar malas melakukannya. Maka yang ia lakukan selanjutnya adalah membiarkan keadaan tetap seperti itu sampai akhirnya guru idolanya datang dan hanya dengan langkah kakinya saja sudah membuat beberapa temannya terdiam. "Ibu tadi lihat Zelo di depan kelas, ada pengumuman?" Lova mengambil tempat di tengah ruangan setelah menaruh tas miliknya di atas meja guru dengan aman. Anzelo mengangguk, "Pengumuman buat bimbingan universitas, Bu," jawabnya. Lova mengangguk paham, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kelas. "Dan kalian sudah paham yang diberitahukan oleh Zelo? Ada yang belum mengerti?" tanya Lova. Tidak ada jawaban, beberapa muridnya bahkan hanya saling pandang tanpa menjawab pertanyaannya. Anzelo juga tahu bahwa bahkan Lova yang terkenal sebagai guru yang galak dan tegas itu malas mengajar di kelasnya, namun begitu Anzelo merasa suasana kelasnya lebih bisa terkontrol saat Lova lah yang mengajar. Namun kedamaian itu tidak berlangsung lama karena hari ini Lova membagikan kertas hasil ulangan dan mengadakan remedial saat itu juga untuk anak-anak yang tidak melampaui nilai standar, sedangkan anak yang lulus diminta menunggu di luar untuk beberapa saat sambil mengerjakan tugas lain. Anzelo menutup pintu karena ia menjadi yang terkahir keluar. Dia bergabung dengan temannya Karis yang sudah melantai dengan membuka buku panduannya. "Padahal gue engga belajar waktu ulangan kemarin, untunglah gue masih inget sedikit-sedikit soal jawabannya. Dan engga nyangka ternyata engga harus remedial," ujar Karis. Zelo terkekeh kecil, ikut membuka buku miliknya dan membaca soal dari halaman yang harus dia kerjakan. "Kalau gue sih selalu siapin belajar walau sedikit, soalnya Bu Lova sering banget bikin ulangan dadakan. Udah gitu nilainya dipake buat dimasukin ke raport lagi," balas Zelo. Karis mengangguk setuju, "Bener banget. Pas semester kemarin nilai ujian gue engga bagus, tapi terbantu sama hasil dari ulangan harian. Makanya gue cinta banget sama Bu Lova," akunya. Zelo tertawa mendengar ucapan Karis. Bukan hanya sahabatnya itu yang menyukai Lova, karena walaupun galak, Lova tidak semena-mena pada muridnya dan hanya akan bertindak ketus pada anak yang membuat ulah dengannya. Kemudian mereka mengerjakan soal itu bersama sambil sesekali membahas tentang guru yang hanya berjarak pintu yang tertutup saja dari mereka. Hanya ada sepuluh anak yang lulus, dan mereka duduk melantai sambil mengerjakan tugas yang Lova berikan tadi sebelum mereka keluar. "Aww!" Zelo memekik tiba-tiba saat seseorang menginjak kakinya yang ia selonjorkan. Ia mendongak dan menatap datar siapa yang barusan menginjak kakinya itu. "Sorry, gue lupa kalau lo lemah. Keinjek sedikit aja udah teriak kayak cewek." Ucapan sinis itu sudah biasa Zelo dapatkan dari teman sekelasnya ini. Tapi entah kenapa kali ini dirinya merasa kesal mendengar ucapan meremehkan yang keluar dari mulut Larriant. "Gue juga lupa kalau penglihatan lo buruk, jadi gue maklumin kalau lo sampai bisa nginjek kaki gue padahal gue duduk udah di pinggir gini," balas Zelo dengan senyum miring. Bisa ia lihat betapa Larriant tersinggung dengan ucapannya, terbukti dari sikap lelaki itu yang langsung menarik Zelo hingga berdiri. "Sebagai orang yang nista, lo engga berhak menghina gue," desisnya. Anzelo mengepalkan tangannya dengan ketat, sama sekali bukan hal yang menyenangkan mendengar ucapan itu dari manusia seperti Larriant. "Kenapa lo dari tadi cuma ngomongin apa yang ada di diri lo sendiri? Gue tahu sih orang kayak lo, yang nginjek orang lain biar kelihatan tinggi," sahut Anzelo. Dia langsung menampik tangan Larriant yang ada di kerah bajunya dengan keras. Tapi sebuah tindakan impulsif yang dilakukan Larriant setelahnya sungguh mengejutkan bagi Anzelo. Ia bahkan sampai terkapar di lantai dengan sisi bibir yang sobek. Larriant baru saja memukulnya, dengan sepenuh tenaga. Anzelo terkekeh kecil sambil mengusap bibirnya. Karis sudah membantunya berdiri dan beberapa temannya juga sudah berusaha memisahkan mereka. Namun bagi Anzelo, ini semua belum selesai. Karena mata harus dibalas mata dan gigi dibalas gigi. BUGH Lebih keras. Anzelo menghantam wajah Larriant dengan lebih keras hingga lelaki itu bahkan terdorong saat jatuh ke tanah. Tidak ada lagi tatapan main-main yang dia tunjukan, seluruh kemarahan yang sedari tadi ditahannya baru saja meluap lewat tinjuannya. "b******k! Dasar anak pelakor!" Larriant bangun dengan cepat dan hendak mengayunkan kembali tinjuannya ke arah Anzelo saat tanpa diduga tangannya ditahan dengan sangat kuat oleh seseorang. "Berhenti! Apa kalian pikir sekolah ini ring tinju?" Lova berdiri di tengah antara Larriant dan Anzelo dengan tangan yang menahan kepalan tinju milik Larriant. Kehadirannya membuat terkejut semua orang yang sedari tadi sudah dalam kondisi kacau. "Kalian, tunggu saya di ruang guru!" _ Mungkin ini bisa dibilang bodoh dan tidak tepat, namun Anzelo tidak bisa berhenti mengingat adegan dimana Lova dengan kerennya berdiri di tengah perkelahian antara dirinya dan Larriant tanpa ragu, bahkan menahan tinjuan milik Larriant yang Zelo yakin tidak lemah. Baginya, itu benar-benar keren. "Apa kalian senang?" Anzelo terkesiap saat mendengar suara dengan intonasi dingin itu. Dia baru ingat kalau sekarang dirinya dan Larry sedang berdiri di depan meja milik Lova di ruang guru, di saksikan oleh guru-guru yang lain yang sudah pasti mengetahui apa yang terjadi di antara mereka. "Maafkan saya, Bu. Saya engga bermaksud buat bikin ribut," ucap Zelo sambil menundukkan kepalanya. Tapi ucapannya mungkin terdengar lucu bagi pria yang berdiri di sebelahnya, karena Larry tertawa dengan santai setelah mendengar ucapan Zelo. "Dasar penjilat," sindir Larry pelan. Zelo sudah hampir memukul Larry untuk yang kesekian kali kalau saja Lova tidak menghentikan nya dengan sebuah kalimat yang membuat dirinya panik. "Kalian boleh kembali ke kelas, saya akan lebih memilih berbicara dengan wali kalian daripada berhadapan dengan kalian seperti ini." Zelo panik, dia sama sekali tidak menyangka jika akan jadi seperti itu masalahnya. Dirinya tidak ingin kalau sampai masalah ini terdengar oleh Ayahnya, itu hanya akan menjadi masalah yang lebih besar bagi Zelo. Dia melirik ke arah Larry, ingin tahu apakah di saat seperti ini juga tampang teman sekelasnya itu akan sama datarnya atau tidak. Namun dia terkejut saat mendapati wajah pucat Larry dengan matanya yang membelalak. Kemudian sesaat kemudian, tanpa mengatakan apapun lagi, Larry berlari keluar dari ruang guru meninggalkan Zelo yang menatap dengan bingung. "Kamu juga, kembali ke kelas Zelo," titah Lova. Anzelo bahkan sempat lupa kalau dirinya juga dalam bahaya sekarang. "Bu, saya akan lakuin apa aja. Tapi tolong jangan panggil orang tua saya," ujar Zelo memohon. Lova menatap datar muridnya yang selama ini tidak pernah berulah itu. "Keputusan saya sudah final, jadi kamu bisa kembali ke kelas dan besok akan saya panggil lagi saat orang tua kamu dan juga Larry datang," katanya. Anzelo tampak mendesah berat, namun begitu akhirnya dia menurut dan pamit untuk kembali ke kelasnya. Lova menyandarkan tubuhnya ke kursi setelah dua murid penyebab masalah itu sudah tidak ada, tangannya mengurut dahi dengan pelan sambil terus menggerutu. "Hari yang berat ya, Bu." Tanpa mengangkat wajah, Lova sudah tahu suara siapa yang menyapanya. Dia tersenyum dengan anggukan lemah. "Saya cuma engga nyangka hari seperti ini akhirnya datang. Saya tahu selama ini mereka kurang akur, tapi saya engga berpikir kalau sampai berkelahi kayak tadi," katanya. Digta tersenyum dengan begitu hangat, tangannya mengeluarkan sesuatu dari saku jaket yang dikenakannya dan menaruhnya di depan Lova. Sebotol soda yang ia tahu adalah kesukaan dari Lova. "Mungkin bisa ngurangin stresnya Ibu hari ini," katanya. Lova sempat terdiam, tapi kemudian dia menerimanya dengan senyuman tulus. "Makasih ya, Pak Digta. Tapi sekarang saya engga bisa langsung minum ini karena belum makan, nanti saat jam istirahat baru saya minum," ujarnya. Digta terkekeh kecil sambil mengangguk. "Santai aja, Bu. Kalau Bu Lova mau saya bisa beliin itu setiap harinya," selorohnya. Lova ikut tertawa, tangannya memasukan botol soda itu ke dalam laci mejanya. "Saya bisa-bisa jadi gagal ginjal karena kebanyakan minum soda begini, Pak," canda Lova. Entah apa gurauannya memang selucu itu atau memang dasarnya Digta yang receh, tapi Lova tidak menyangka hanya dengan candaan garingnya yang bahkan terdengar sedikit ngeri itu, Digta justru tertawa dengan lepas hingga membuat beberapa guru menoleh ke arah mereka dengan tatapan penuh arti. "Pak Digta seneng banget kayaknya!" sahut seorang guru matematika dengan senyum jahil. Digta yang mendengar itu kemudian menoleh sambil mengusap pinggir matanya seakan-akan ada air mata yang keluar saat dirinya tertawa tadi. "Habisnya Bu Lova lucu banget, Bu," katanya. Lova meringis, menatap salah tingkah ke arah pada guru yang semakin memandang dengan tatapan aneh kepadanya. "Padahal saya cuma ngomong gitu doang," gumam Lova pelan. Digta menggeleng, "Itu lucu loh, Bu. Tapi Ibu emang benar, bahaya juga kalau minum soda setiap hari," katanya sambil kembali tertawa. Lova akhirnya ikut tertawa walaupun terdengar terlalu memaksakan. Dirinya tidak mengerti kenapa Digta sampai berusaha sekeras itu untuk terlihat bahwa dirinya memperhatikan Lova sedemikian rupa. Tidak sadarkah pria itu jika Lova justru tidak merasa nyaman dengan kelakuannya yang terlihat sangat dibuat-buat itu? Ah, Lova bahkan saat ini berharap bahwa dirinya bukanlah orang yang peka sehingga tidak perlu merasa tidak nyaman saat secara tidak langsung tahu tentang Digta yang mungkin saja memiliki perasaan untuknya. __
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD