"Lo engga apa-apa kan gue kirim ke Surabaya? Atau perlu gue ikut berangkat juga?"
Lucas menyesap kopinya dengan tenang, matanya melirik ke arah Gali yang sedang berdiri menyandar pada meja kerjanya dengan gaya yang terlihat menyebalkan di mata Lucas.
"Engga apa-apa, itu tugas gue. Lo engga usah cari alasan buat menghindar dari Venus dengan berangkat ke Surabaya," tolak nya.
Gali berdecih, "Sok tahu banget anda ya! Venus udah berangkat lagi keliling dunia, gue udah engga ada ketakutan hal semacam itu lagi," sangkalnya.
Lucas tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Ya tapi emang engga usah, kalau lo ikut gue, yang ada abang-abang lo jadi girang. Bisa-bisa lo disabotase biar kecelakaan di jalan terus engga balik lagi," ujar Lucas kejam.
Tapi Gali justru tertawa lebih keras dari apa yang tadi dilakukan oleh Lucas. Dia merasa teringat kenangan lama saat Lucas membicarakan soal itu, kenangan dimana Betrand benar-benar pernah hampir membunuhnya saat Gali masih kuliah. Dengan alasan membantu Gali melepas penat, Betrand mengirim Gali pergi mendaki gunung dan menyiapkan sekelompok bandit untuk menyerangnya.
Beruntung saat itu Gali pergi bersama Lucas yang dapat dengan mudah menghadapi bandit-bandit itu sendirian. Itulah yang akhirnya membuat Gali meminta agar Lucas mau menjadi asisten pribadinya selepas mereka lulus.
"Itu pengalaman gila, dia engga nyangka kalau gue diem-diem belajar bela diri dan juga bawa lo bareng gue saat itu," ujar Gali geli.
Lucas menggeleng pelan, "Lagian gue heran kok bisa-bisanya lo engga laporin itu ke bokap lo. Walaupun Pak Rein kelihatan dingin, gue tahu kalau beliau sayang banget sama lo sebagai anak lelaki nya. Dia pasti engga akan diem aja kan kalau tahu," komentarnya heran.
Gali terdiam, ucapan Lucas membawanya pada sebuah momen dimana dirinya tidak melaporkan kejahatan yang dilakukan kakak iparnya itu.
Saat itu Anzelo masih sangat kecil, dan karena Anzelo kecil sangat dekat dengan Betrand dan juga sangat menyayangi ayahnya itu, Gali tidak sampai hati untuk memisahkan mereka berdua. Seperti yang Lucas katakan tadi, Rein lumayan protektif pada dirinya sedari kecil sehingga Gali yakin jika sampai ayahnya mengetahui masalah itu, ayahnya tidak akan segan untuk meminta Gea berpisah dari Betrand dan menjebloskan Betrand ke penjara.
"Kasihan Zelo kalau harus engga punya Papa," jawab Gali dengan senyum lebar.
Lucas mendengus, "Percuma punya Papa kalau b******k kayak dia," sungutnya.
Galilleo terkekeh melihat wajahnya suram Lucas. Dibalik kejadian yang menimpanya dulu, haruskah ia bersyukur karena berkat itu dirinya dan Lucas menjadi lebih dekat bahkan bertahan hingga sekarang?
Tawanya terhenti saat ponsel pribadinya berdering. Ia mengerutkan kening bingung saat mendapati nama kakak pertamanya di layar.
"Panjang umur, bininya Betrand nelepon," gumamnya.
Ia kemudian mengangkat panggilan itu dan langsung menanyakan tujuan kenapa Kakaknya itu menghubunginya.
"Apa? Anzelo berantem? Kok bisa? Dia bukan anak yang kayak gitu!" tanya Gali heran.
Dia benar-benar terkejut, karena selama ini keponakannya adalah sosok yang menyenangkan dan banyak disukai orang. Juga Zelo bukanlah tipe yang mudah melayangkan tinjunya begitu saja.
"Terus kenapa Kakak malah minta aku yang datang? Kakak sibuk apa sampai engga bisa datang ke sekolah anak kakak sendiri?" tanya Gali geram.
Tapi percuma saja dia marah-marah pada kakaknya, karena sampai panggilan berakhir kakaknya itu tetap meminta tolong padanya untuk dapat menggantikan Gea datang ke sekolah Anzelo memenuhi panggilan gurunya.
"Zelo kenapa?" tanya Lucas.
Gali memijat keningnya pelan.
"Katanya kemarin berantem, adu jotos. Terus orang tuanya di suruh datang hari ini tapi kakak gue bilang dia sibuk dan engga bisa datang," jawab Gali.
"Hah!" Dia mendesah berat sambil mengambil jas miliknya kemudian memakainya.
"Menurut lo ibu rumah tangga kayak dia sibuk apa? Shopping? Arisan? Padahal ini masalah anaknya, tapi dia engga mau datang. Mereka semua gila."
Lucas hanya bisa terdiam melihat Galileo yang tampak sangat kesal. Ia sangat mengenal bahwa Galilleo adalah sosok yang humble dan jarang marah. Atau kalaupun marah, Gali hanya akan diam dan memendamnya sendirian. Tapi kali ini sahabatnya itu bahkan menggerutu tentang banyak hal, itu membuktikan bahwa Gali benar-benar merasa marah.
Galilleo melonggarkan sedikit dasinya saat dia sudah berada di dalam mobil yang dikendarai oleh Lucas. Sepanjang jalan dia hanya memikirkan akankah Zelo kecewa karena dirinya yang datang dan bukan orang tuanya? Tapi di sisi lain juga dia tidak ingin kalau sampai Betrand yang datang, karena ada sesuatu yang tidak seharusnya bertemu di sekolah keponakannya itu.
"Gal, sekolahnya yang di ujung sana kan?" tanya Lucas.
Galilleo mengangguk, kembali merapikan kemeja yang dipakainya karena sudah hampir sampai. Bagaimana pun dia membawa nama Abraham kemana-mana, jadi dia harus selalu terlihat sempurna dalam segala macam kondisi.
Beberapa menit setelahnya mobil yang dikendarai Lucas benar-benar berhenti, Gali turun setelah memastikan bahwa penampilannya sudah sempurna.
Dia berjalan memasuki kawasan sekolah yang ramai. Entah salah atau memang sudah seharusnya, tapi sekolah tampak sangat ramai karena sedang istirahat. Apalagi dirinya berpenampilan cukup mencolok sehingga membuat beberapa siswi terang-terangan menoleh ke arah nya.
Ia tersenyum saat melihat Zelo berlari ke arahnya. Tadi sebelum berangkat dan saat akan sampai, Gali sempat mengirim pesan agar menunggu Gali di depan. Dan sekarang keponakannya itu menyambutnya dengan wajah muram.
"Om baru tahu kalau kamu bisa berantem," sindir Gali.
Zelo tampak menunduk, terlihat bahwa remaja itu merasa menyesal dengan apa yang ia lakukan.
"Kemana kita harus pergi? Om engga nyaman dilihatin sama anak-anak," tanya Gali.
Kali ini Zelo tersenyum, kemudian dia memimpin jalan untuk menuju ke ruang BK.
"Om.." panggil Zelo pelan.
Gali menoleh dan menunggu Zelo untuk bicara.
"Aku...berantemnya sama Larry," katanya pelan.
Galilleo sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tangannya terangkat mengusap rambut Zelo.
"Engga apa-apa, wajar kalau kamu berantem. Tapi kamu mending jangan benci dia ya, kamu pasti tahu alasannya engga suka sama kamu," ucap Gali.
Zelo tampak mengangguk dengan pelan, mengiyakan permintaan dari Omnya itu.
Kemudian dia berhenti, berkata bahwa mereka sudah sampai.
Dan saat Zelo membukakan pintu di depannya itu,Galilleo tiba-tiba merasakan dirinya tidak dapat bereaksi saat tidak sengaja menatap ke arah seorang wanita tinggi dan berparas tegas tengah tersenyum dan menyapa ke arahnya.
"Selamat pagi, silahkan masuk! Saya wali kelas Anzelo, Lovandra."
Sekilas bayangan 'dia' yang hilang bertahun-tahun lamanya, Tiba-tiba saya terpikir oleh Galilleo.
'Ah, wanita di depannya bahkan lebih cantik.'
_
Lova terdiam dengan senyum canggung, sudah lewat beberapa detik setelah dia menyapa seorang pria muda yang datang bersama Anzelo. Tapi pria itu hanya berdiri di ambang pintu dan menatapnya dengan aneh.
Lova melirik ke arah Zelo, remaja itu langsung tersadar dan buru-buru menepuk pundak pria di sampingnya.
"Om, kok diem? Bu Lova nyapa Om tadi," katanya.
Bisa Lova lihat bagaimana pria di depannya itu terkejut, namun tidak ada ekspresi yang berarti terlihat di wajahnya. Pria itu hanya kemudian tersenyum dan langsung duduk berhadapan dengan dirinya.
"Maaf saya kurang fokus karena harus buru-buru kesini di tengah rapat," ujar pria itu.
Lova hanya mengangguk maklum, "Engga apa-apa. Dan kalau saya boleh menebak, anda ini bukan orang tua dari Zelo, benar?"
Pria dengan setelan rapi di depannya itu mengangguk sambil menoleh ke arah Zelo.
"Iya, saya Om nya. Kakak saya engga bisa datang kesini, jadi saya yang menggantikan. Engga masalah kan?"
Lova menggeleng, "Engga ada. Tapi saya minta apa yang akan saya ucapkan nanti bisa disampaikan juga ke orang tuanya," katanya.
Pria itu tersenyum dengan sangat hangat sambil mengangguk yakin.
"Itu bisa dipastikan. Jadi separah apa yang disebabkan oleh Zelo?"
Lova melirik ke arah Anzelo yang menunduk. Remaja itu tampak gugup dan bahkan tidak berani bertatapan dengannya.
"Jadi begini, Pak..."
"Galilleo. Nama saya Galilleo, Ibu bisa panggil saya Gali," ujar Galilleo memberitahu.
Lova mengerjap beberapa saat, agak takjub dengan nama pria di depannya ini. Tapi entah kenapa nama itu terasa tepat untuk pria yang tengah fokus menatap ke arahnya itu.
"Ah, ya, Pak Gali. Kemarin di tengah jam pelajaran tiba-tiba saja Zelo berkelahi dengan salah satu temannya. Saya sudah menanyakan kepada mereka berdua, bahkan juga ke teman-teman mereka yang kebetulan ada disana, kesimpulannya mereka berkelahi hanya karena saling sindir sampai akhirnya terbawa emosi. Dan memang di kejadian ini, pihak satunya yang memulai lebih dulu. Meskipun begitu, Zelo tetap salah karena dia juga memukul temannya," jelas Lova.
Tidak ada respon yang terlihat dari pria di depannya. Pria itu justru hanya diam dengan tatapan yang Lova tidak mengerti apa artinya.
"Anak itu...apa orang tuanya juga datang?"
"Maaf?"
Ini mengejutkan. Lova tidak menduga jika Galilleo akan bertanya seperti itu.
"Itu..saya sudah menghubungi orang tuanya, tapi ibunya bilang dia sedang di luar negeri dan tidak bisa datang. Tapi saya sudah berbuka banyak dengan ibunya lewat telepon," jawab Lova.
Setelahnya dia bisa melihat saat Galilleo menoleh ke arah Zelo yang juga menatapnya. Mereka melempar pandangan dengan senyum sendu yang Lova tidak mengerti apa maksudnya.
"Oke, saya sudah tahu kalau Zelo bersalah. Setelah semua ini saya juga akan membicarakan ini dengan kakak saya, Zelo juga berjanji tidak akan mengulangi hal yang sama. Meskipun begitu, Ibu tetap berhak untuk memberikan Anzelo hukuman atas apa yang sudah dia lakukan. Apakah ada lagi?"
Senyum yang tenang itu, meskipun terlihat menyenangkan tapi Lova tidak merasa nyaman saat melihatnya.
"Saya hanya ingin anda menyampaikan kepada orang tua Zelo, bahwa obrolan ringan atau sekedar membahas kejadian selama di sekolah dengan Anzelo secara langsung memiliki efek positif untuk Anzelo yang sedang mencari jati diri," ujarnya.
Ia lalu menoleh ke arah Anzelo, "Dan Zelo, mungkin ini terdengar tidak nyaman dan canggung, tapi cobalah untuk membagi pikiran kamu dengan orang yang kamu percaya. Menurut Pak Nendra, hal seperti itu dapat membuat kamu lebih bisa memahami diri kamu sendiri juga," lanjutnya.
Anzelo tampak mengangguk dengan senyum tipis.
"Terimakasih, Bu Lova," katanya sebelum akhirnya ia dan Omnya keluar meninggalkan ruang BK yang Lova pinjam sementara waktu.
__