"Apa berjalan lancar? Saya dengar tadi anak-anak ngomongin soal orang yang datang bareng sama Anzelo, katanya ganteng kayak CEO di novel-novel," Irene bertanya dengan cekikikan.
Lova tersenyum kecil, bagaimana ibu satu anak ini bisa antusias membicarakan seorang pria tanpa ingat akan statusnya?
"Lucunya anak-anak itu, saya yakin imajinasi mereka tinggi banget sampai bisa bayangin gimana gantengnya CEO di novel padahal cuma lewat kata yang dideskripsikan penulis," sarkasnya dengan senyum geli.
Kemudian dia duduk di bangkunya dan mulai menyalakan notebook miliknya.
"Dia om nya Anzelo, memang ganteng," lanjutnya. Dia hanya bersikap objektif karena roh kenyataannya Omnya Anzelo yang bernama Gali itu memang tampan.
"Ah, gen keluarga Abraham memang mengerikan," timpal Irene.
Lova tersenyum miring, itulah kenyataannya.
Bagaimana pun seorang yang terkahir dari darah Abraham memang akan setampan itu. Semua orang bahkan akan langsung menjadi fans fanatik jika saja mereka mendengar nama Abraham atau melihat nama besar itu di belakang nama seseorang.
Lagipula siapa yang tidak mengenal garis keturunan dengan nama yang mencolok itu?
Abraham adalah sebuah kerjaan bisnis yang membuat semua orang memiliki pemikiran gila untuk reinkarnasi dan menjadi bagian di dalamnya. Perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan, industri makanan, dan real estate. Serta kabarnya dalam waktu dekat, Abraham akan melebarkan sayap di bidang jas pariwisata. Iklannya sudah beredar dimana-mana baru-baru ini.
"Orang kaya seperti mereka akan selalu merepotkan," gumam Lova.
"Apa?" tanya Irene, karena di merasa Lova mengatakan sesuatu namun dia gagal menangkapnya.
Lova menggeleng dengan senyum manis, "Bukan apa-apa. Ah, saya masih harus ngomong sama Larry," katanya.
Irene meringis setelah mendengar nama itu. Bukan rahasia jika Larry adalah anak pembuat masalah nomor satu di sekolah ini.
Yang mengagumkan adalah Lova masih bisa bersikap adil di saat semua orang tahu jika di dalam masalah Larry dan juga Anzelo, sudah pasti Larry lah yang mencari masalah lebih dulu.
"Sekalipun Ibu ngomong sama dia sampai jam pelajaran selesai, itu engga akan ada gunanya, Bu. Dia bertingkah begitu bukan karena dia lagi cari jati diri atau semacamnya, menurut Pak Nendra selaku guru BK, Larry itu memang sifat bawaannya manja. Kemudian karena keluarganya berantakan setelah orang tuanya bercerai, dia jadi semakin memberontak. Menurut Pak Nendra juga, kalaupun orang tua Larry masih bersama, maka Larry akan tumbuh menjadi anak orang kaya manja yang hobi menindas. Bukannya kami menjudge seenaknya tentang kepribadian Larry, tapi Pak Nendra sudah melihat dari tes tersembunyi yang dia lakukan ke Larry dulu waktu kelas satu," jelas Irene panjang lebar.
Tidak ada yang bisa Lova katakan, karena dia sendiri sudah bisa menebak jika memang seperti itu. Dia juga tidak pernah menyukai anak itu, tanggung jawabnya sebagai wali kelas saja lah yang membuatnya merasa hadiah berbicara dengan Larry sekalipun itu sia-sia.
Ia bangkit dari duduknya sambil tersenyum, menutup kembali notebook yang bahkan belum begitu lama ia sentuh.
"Mau kemana?" tanya Irene.
Lova mengangkat bahu dengan senyum misterius.
"Menjalankan tugas sebagai wali kelas yang baik, mungkin?" jawabnya.
Kemudian dia langsung keluar dari ruang guru dan berjalan menuju kelas Larry. Namun langkahnya tidak berhenti di kelas itu, karena Lova tahu sudah pasti Larry tidak akan ada di sana.
Anak didiknya itu pasti sedang membolos di belakang gedung olahraga yang merupakan taman kosong yang tidak dirawat oleh pihak sekolah.
Dan saat Lova sampai di sana, dia merasa takjub pada dirinya sendiri karena bisa menebak dengan tepat.
"Bukannya jam istirahat udah habis dari tadi?"
Lova menyeringai saat sosok remaja naka itu tampak terkejut dengan kehadirannya.
"Sekarang bukan jam pelajaran Ibu, jadi bukan urusan Ibu kalau saya bolos," balas Larry tak senang.
Hah, bahkan baru beberapa detik disini tapi Lova sudah ingin pergi dan berpura-pura lupa bahwa dia tidak memiliki anak didik sejenis ini di kelasnya.
"Kalau kamu lupa, saya adalah wali kelas kamu. Yang bertanggung jawab atas nilai kamu di seluruh mata pelajaran, dan jujur saja, saya keberatan kalau kamu sampai engga lulus dan saya harus mengajar kamu lagi untuk satu tahun ke depan. Itu sama sekali engga menyenangkan," ujarnya terang-terangan.
Larry tersenyum sinis, bangun dari duduk melantai nya dan menatap tajam guru cantiknya yang tampak tidak terganggu sama sekali.
"Orang tua saya engga datang kan? Sudah saya bilang, percuma saja memanggil mereka," ujarnya pelan.
Kemudian dia melewati Lova dan hendak pergi saat Lova menghentikan langkahnya.
"Dengar ini, Larry. Saya engga perduli kalaupun setelah ini kamu akan langsung melupakan ucapan saya atau semacamnya, saya cuma mau bilang. Entah itu kamu dalam fase mencari jati diri atau bukan, entah kamu merasa tidak diperdulikan oleh keluarga kamu atau bukan, tapi yang perlu kamu tahu adalah, jangan bermental korban. Hanya karena kamu menderita lalu kamu sibuk menyalahkan orang lain," ujar Lova tegas.
Dia berbalik, berjalan hingga sekarang berada di hadapan Larry lagi.
"Kamu yang bertanggung jawab atas hidup kamu. Kalau kamu merasa menderita, kamu cuma perlu mencoba sesuatu yang bisa membuat kamu bahagia. Tentunya dalam hal ini saya menyarankan itu adalah sesuatu yang positif. Kalau kamu cuma sibuk menjadi anak nakal yang menyebalkan, yang memberontak dan membenci kebahagiaan orang lain, maka engga akan ada yang berubah. Dengan kamu yang seperti ini, kamu cuma membuat apa yang dilakukan oleh keluarga kamu itu berhasil menghancurkan diri kamu di usia semuda ini. Dan itu sangat disayangkan," lanjutnya.
Kemudian tangannya menepuk pundak Larry beberapa kali.
"Jangan menyusahkan saya selama sama adalah wali kelas kamu, itu menyebalkan," katanya sebelum akhirnya pergi meninggalkan Larry yang terdiam.
_
"Kamu datang?"
Galilleo berdecih pelan, "Ya, menurut Kakak, kenapa aku datang?"
Gea di depannya tersenyum sambil mempersilahkan Galilleo untuk duduk.
Tadi saat dia baru datang, rumah begitu ramai karena kayanya ada arisan yang sedang berlangsung. Mendengar fakta itu, Galilleo benar-benar merasa marah karena kakaknya lebih memilih menjalankan arisan daripada datang ke sekolah Anzelo.
"Mau ngomongin soal Zelo, kan? Kamu habis dari sekolahnya?" tanya Gea.
Gali hampir saja melempar vas yang berada tepat di depan matanya saat melihat raut santai Gea yang tidak terlihat merasa khawatir atau merasa bersalah sama sekali.
Tadinya dia memang ingin mengatakan tentang Zelo seperti apa yang diminta oleh wali kelas Zelo, tapi melihat kakaknya yang tampak tidak perduli itu, membuat Gali tidak ingin membuang-buang waktunya untuk hal yang sia-sia.
"Bukan. Lagipula Kakak engga akan perduli tentang apapun yang aku dengar di sekolah Zelo tadi kan?" sangkal Gali.
Ia bisa melihat raut terkejut di mata Gea, walaupun setelahnya kakaknya itu tidak mengatakan apapun untuk menyanggah ucapannya.
"Aku kesini buat ngambil barang-barang Zelo, dia akan tinggal di rumah Ayah mulai hari ini," putusnya.
Kali ini bukan hanya raut terkejut yang ditunjukan Gea, melainkan wanita itu langsung berdiri dari duduknya dengan tatapan tidak setuju.
"Apa hak kamu mutusin itu? Apa hak kamu ikut campur masalah aku dan anakku?" cecar nya.
Gali menarik nafas berat, ikut berdiri sambil merapikan kemejanya.
"Apa ada yang istimewa kalau Zelo tetap disini? Kamu selalu sibuk kesana kemari memamerkan kekayaan yang berasal dari Ayah. Dan suami kamu itu lebih sibuk sembunyi-sembunyi buat ketemu sama mantan istrinya tapi juga engga peduli sama anaknya yang di sana. Kalian mau Zelo tumbuh menjadi gila seperti kalian?" desis Gali.
Tangannya terkepal erat, menahan amarah yang dia tahan sejak di kantor tadi. Sejak menyadari betapa tidak perduli nya manusia di depannya ini pada darah dagingnya sendiri.
"Lagipula kamu udah engga bisa nolak, Kak. Ini keputusan Ayah yang mau Zelo tinggal di sana. Kalau kamu memang sedih berpisah dari anak kamu, kamu bisa datang ke sana setiap hari. Seenggaknya kamu jadi punya alasan lain saat datang ke rumah utama, bukan cuma untuk membujuk Ayah supaya suami kamu tercinta itu dipindah ke kantor pusat," lanjutnya.
Kemudian Gali berjalan ke arah kamar keponakannya dan mengepak sendiri pakaian milik Anzelo. Setelahnya dia langsung keluar sambil menggeret koper berisi pakaian Anzelo dan masuk ke dalam mobil, tidak menghiraukan Gea yang terus memanggilnya.
"Koper siapa itu, Gal?" tanya Lucas bingung saat melihat koper yang baru saja dimasukan oleh bosnya itu.
"Anzelo," jawab Gali singkat.
Ia duduk bersandar, tangannya menutupi wajah dan mengeluarkan helaan nafas yang kian berat.
"Lo mau bawa Zelo ke rumah utama? Lo udah bilang bokap lo?" tanya Lucas.
Ah, Gali ingat jika tadi dia berbohong kepada kakaknya dengan membawa nama Rein. Karena kenyataannya, dirinya bahkan belum membicarakan ini pada keluarganya yang lain.
"Ini baru mau bilang, kita ke rumah dulu," katanya.
Lucas menghela nafas sama beratnya.
"Apa engga apa-apa ngambil Zelo begini aja? Harusnya lo tanya dulu anaknya mau atau engga, walaupun Bokap lo pasti engga keberatan cucu kesayangannya tinggal di rumah utama, tapi belum tentu Zelo mau."
Gali terdiam memikirkan ucapan Lucas, dia tidak bisa menyangkal itu. Harusnya memang tidak seperti ini, namun Gali terlalu kesal karena Zelo diperlakukan dengan buruk di rumahnya sendiri, padahal anak itu anak yang baik. Anak yang seharusnya menerima banyak cinta dari orang tuanya kalau saja orang tuanya adalah manusia normal.
"Gue akan tanya sekarang, lo diem. Gue bakal telepon dia," ujarnya buru-buru.
Tapi tangannya yang sudah akan mendial nomor Zelo itu terhenti saat Lucas kembali bicara.
"Lo boleh telepon dia sekarang kalau lo emang mau bikin keponakan lo dalam masalah, karena sekarang udah bukan jam istirahat," beritahu nya.
Galilleo berdecak kesal sambil memasukan lagi ponsel ke dalam saku jasnya.
"Engga tahu kenapa hari ini lo kelihatan lebih menyebalkan dari biasanya, Luc," gerutunya.
Tapi Lucas hanya tersenyum tipis sambil kembali fokus pada kemudi. Dia tahu atasannya itu sedang tidak dalam mood yang baik.
__