48

1529 Words

Seakan penat seharian ini ia lampiaskan semuanya, kasur besar dengan bantalan yang sangat empuk menjadi teman tepat baginya. Galilleo berguling bak anak kecil. Sprei yang beberapa saat lalu terpasang dengan rapi, kini mulai bergelung di sana sini. Dua bantal yang seharusnya ada di bagian kepala ranjang, kini sudah beralih ada di kaki. Serta lampu tidur yang seharusnya tidak dinyalakan saat lampu utama masih benderang, kini justru dengan gabutnya Gali nyalakan. Ia mendesah, sangat panjang. Tangannya mengusap wajah dan rambut secara bergantian. Harusnya dia bergegas mandi, lalu kemudian bersiap turun untuk makan malam, namun sekarang dia benar-benar tidak menginginkan keduanya di saat otaknya madiun bekerja mengingat apa yang dikatakan oleh Janendra saat makan siang tadi. "Kok bisa dia ma

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD