“S-saya? Kenapa dengan saya, Nyonya? Tuan? Apa saya membuat suatu kesalahan?”
Nyonya Lee mengangkat tangannya, memejamkan mata kemudian menarik napasnya panjang. “Tidak, Dara. Kamu boleh pergi, maksudku tinggalkan kami berdua.” Ucap Miran secara terang-terangan meminta Dara pergi dari sana.
Tidak ingin membuat masalah, meski kepala Dara penuh pertanyaan, gadis itu akhirnya memutuskan pergi, meninggalkan pasangan suami-istri itu kembali hanya berdua.
“Yeobo. Kita kembali ke ruanganmu atau kita bicarakan ini di kamar. Jangan di sini.”
“Masih mau membicarakannya? Meski aku sudah mengatakan hal semacam tadi?”
“Yeobo…” Miran benar-benar menggunakan nada memelas untuk membujuk suaminya itu agar satu pemikiran dengannya, meski sudah sekian bulan membujuk pun belum sedikitpun membuahkan hasil.
“Aku lelah Miran, kalau kamu masih ingin membicarakan hal itu, pikirkan juga apa yang aku katakan tadi.” Setelah mengatakan hal itu Taehyun benar-benar pergi, meninggalkan Miran yang masih berseru tak mau menyerah.
“Maksud kamu, kamu serius dengan ucapanmu itu, Yeobo? Soal Dara? Soal kamu yang—YEOBO!”
Taehyun hilang dibalik tembok yang memisahkan ruang besar keluarga dengan ruang santai yang menuju ke arah dapur. Bukan Miran tidak bisa menyusul atau mengejar suaminya, hanya saja wanita itu sudah kehilangan kata-kata dan tidak tahu apa yang harus diucapkan lagi pada suaminya itu.
***
“Ada apa, Dara? Aku mendengar suara Nyonya bicara dengan kamu tadi.” Bibi Nayeon menghampiri Dara yang berada di halaman belakang rumah, wanita itu pergi untuk mengangkat beberapa jemuran di sana.
“Ah, Bibi. Bibi mendengarnya?”
Bibi Nayeon mengangguk, duduk di sebuah kursi panjang yang ada di sana menatap Dara dan menunggu cerita gadis itu.
“Aku ada di depan dan hendak masuk dari pintu depan tadi, tapi mendengar obrolan Tuan dan Nyonya membuatku mengurungkannya, tapi ketika akan pergi aku mendengar Nyonya menyebut nama kamu.”
Dara menarik kain sprei putih terakhir, membawanya dalam dekapan dan duduk di samping Bibi Nayeon.
“Aku juga tidak tahu, Bi. Aku sudah coba bertanya tadi, tapi Nyonya memintaku pergi. Maka dari itu aku tidak tahu sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan.”
Bibi Nayeon terdiam, terlihat berpikir.
“Semoga saja bukan sesuatu yang buruk mengenaiku. Aku tidak ingin dipecat dari sini, Bi. Aku sudah terlanjur nyaman, Tuan dan Nyonya juga memberikan gaji yang layak untukku. Aku bisa sedikit menabung—dan mungkin bisa kembali kuliah tahun depan, kalau aku tidak mengirimkan uangnya ke Indonesia.” Dara hanya mampu bergumam di akhir kalimatnya, menggunakan bahasa Indonesia pula agar Bibi Nayeon tidak mengerti apa yang dia bicarakan.
“Tidak, Nak. Kamu tidak pernah melakukan sesuatu yang buruk di sini, malah semua pekerjaanmu baik. Kami semua di sini mengakuinya, tidak ada yang berpikiran buruk selama kamu tinggal di sini.”
Dara tersenyum penuh rasa terima kasih. Syukurlah kalau memang dirinya dinilai seperti itu. Dara hanya berharap bahwa penilaian Bibi Nayeon sama dengan penilaian Tuan Park juga Nyonya Lee.
Di dalam rumah, Nyonya Lee terlihat tengah mencari seseorang, wanita itu sudah berkeliling rumah selama beberapa menit, namun tidak menemui sosok yang dicarinya, Nyonya Lee juga sudah bertanya ke beberapa pekerja di rumahnya tapi tidak ada satupun yang mengetahui sosok yang dirinya cari.
“Hah, kalian ini. Bagaimana bisa kalian tidak tahu rekan kerja kalian sendiri.”
“Maaf, Nyonya. Nyonya ingin saya mencari Bibi Nayeon dan memintanya menghadap Nyonya?”
“Tidak perlu, lanjutkan pekerjaan kamu. Biar saya cari sendiri.”
Pemilik rumah itu akhirnya berjalan menuju ke halaman belakang, tempat yang mungkin saja menunjukan keberadaan Bi Nayeon yang sedang dicarinya. Tepat saat itu ketika Nyonya Lee membuka pintu ke arah halaman belakang, dirinya bukan hanya mendapati Bibi Nayeon di sana, tapi juga Dara yang sedang berbincang dengan sosok itu.
“Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan adik-adikmu di Indonesia? Apa mereka baik-baik saja?”
Kali ini Dara tersenyum miris.
“Mereka sempat menangis histeris ketika tahu bahwa akan dipisahkan ke beberapa panti asuhan. Tapi kami tidak punya pilihan lain, dan pada akhirnya mereka hanya bisa menerima, Bi. Tidak ada yang bisa aku perbuat, panti asuhan tempatku tinggal sejak kecil pada akhirnya sudah diambil alih oleh pemilik tanah dan dijual ke orang lain.”
“Ya Tuhan… tega sekali, bisa-bisanya ada orang sejahat itu. Padahal kamu bilang tanah itu sudah disumbangkan, kan? Tapi oleh anak pemilik tanahnya malah diambil alih dan dijual ke pihak lain?”
Dara menarik napasnya panjang, pandangannya kosong tanpa arah. “Aku berharap bisa sukses, dan memberikan sebuah tanah beserta bangunannya untuk tempat berkumpul anak-anak sepertiku yang tidak beruntung memiliki tempat tinggal.”
“Bibi selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Nak. Selalu yang terbaik untukmu karena kamu orang baik.” Ucap Bi Nayeon sambil mengusap punggung Dara yang duduk di sampingnya.
Dara menoleh kembali ke arah Bibi Nayeon, kali ini tersenyum penuh dengan rasa terima kasih. Dara mungkin kehilangan banyak hal akhir-akhir ini, tapi sebagai gantinya Dara juga mendapatkan hal baru yang tidak dirinya miliki sebelumnya—seperti kehadiran Bibi Nayeon yang sudah seperti ibunya sendiri.
Kedua orang itu tidak tahu, kalau Nyonya Lee mendengarkan percakapan mereka dan tidak menyelanya. Entah apa yang ada dipikiran Nyonya Lee, tapi wanita itu mengurungkan untuk bicara dengan Bibi Nayeon, meski sejak tadi dirinya sudah mencari sosok itu, tapi ketika ketemu, Nyonya Lee justru mengurungkan niatnya.
Nyonya Lee berbalik, berniat kembali ke kamarnya.
“Nyonya, apa Nyonya sudah bertemu dengan Bibi Nayeon?”
“Tidak, saya tidak jadi bicara dengannya. Mungkin nanti.” Ucap Nyonya Lee meninggalkan salah satu pekerja rumahnya yang bertanya, menyisakan pertanyaan di kepala pegawai rumah itu yang memandang kepergian pemilik rumah yang terlihat tengah memikirkan sesuatu dengan serius.
***
Pintu kamar diketuk, membuat wanita yang sedang berkaca di depan cermin mengeluarkan suara untuk siapa pun yang berada di balik kamar itu masuk menemuinya.
“Maaf menganggu, Nyonya. Tapi saya dengar tadi Nyonya mencari saya, apa Nyonya membutuhkan sesuatu?”
Pertanyaan itu membuat Miran yang sedang memakai skincare-nya berbalik dan menghadap wanita tua yang berdiri beberapa meter darinya, menatap Bibi Nayeon yang sudah membungkuk dan menunggu instruksi macam apa kiranya yang bisa Bibi Nayeon lakukan untuk sang pemilik rumah.
“Ya, tadi saya memang mencari Bibi.”
“Maaf Nyonya, tadi saya—”
“Tidak perlu minta maaf, sekarang Bibi sudah di sini.”
Bibi Nayeon membungkuk, sekali lagi hendak bertanya apa kiranya yang Nyonya rumahnya itu butuhkan, namun sebelum Bibi Nayeon melakukannya, Nyonya Lee sudah lebih dulu bersuara.
“Sudah berapa lama Dara bekerja di sini?”
“Eh?”
“Saya tanya sudah berapa lama Dara bekerja di sini, Bi?”
Nyonya Lee mencarinya untuk bertanya soal Dara? Entah mengapa Bibi Nayeon merasakan yang tidak enak soal hal ini.
“Dara, Dara… sudah bekerja 3 bulan lebih, Nyonya. Ada apa? Apa Dara melakukan sesuatu? Kalau ada sesuatu yang kurang berkenan Dara lakukan, tolong jangan langsung memintanya berhenti bekerja di sini Nyonya. Kasih Dara kesempatan, kasihan dia—”
“Tidak ada yang akan memecatnya, Bi. Saya hanya bertanya sudah berapa lama dia bekerja di sini.”
Refleks Bibi Nayeon menghela napas lega, meski perasaan was-was masih menghantuinya.
“Tiga bulan rupanya, sudah lumayan ya…” Untuk kali ini Miran terdengar bergumam untuk dirinya sendiri.
“Lalu, menurut Bibi bagaimana?”
“Eh?”
“Menurut Bibi bagaimana kepribadian Dara? Apa dia gadis yang baik? Sopan? Pintar seperti yang Bibi ceritakan saat pertama kali memperkenalkannya pada saya?”
“A-ah, ya. Tentu Nyonya. Dara gadis yang cantik, baik, sopan dan tentu saja pintar. Gadis itu dengan cepat belajar banyak hal, bahkan beberapa minggu ini yang membuatkan sarapan itu Dara, Nyonya. Yang dengan cekatan bisa menyalin seluruh instruksi saya dalam menyiapkan makanan persis seperti yang saya arahkan.”
Miran terdiam lama, dan Bibi Nayeon tidak berani menyelanya dengan bersuara. Wanita itu terlihat berpikir, beberapa kali mengalihkan pandangan masih dalam diam, hingga gumaman keluar dari mulut wanita itu.
“Tapi bagaimana pun dia hanya pembantu di sini, bagaimana mungkin—” Decakan selanjutnya keluar seiring dengan kalimat yang terpotong, menunjukan betapa rumitnya isi kepala wanita itu.