“Yeobo. Aku sudah mencari tahu semuanya dan memutuskan.”
Baru saja Miran masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba istrinya itu sudah memulai suatu percakapan yang Taehyun—entah mengapa merasa bahwa percakapan ini tidak akan berjalan mudah dan melelahkan.
“Aku sudah mempertimbangkannya selama dua bulan terakhir sambil mengamati secara langsung, meski memiliki banyak kelemahan dan mungkin kekurangan, tapi aku juga berhasil menemukan sesuatu yang mungkin sisi positif dari semua sisi negatif tadi.”
Taehyun menarik napasnya berat, kemudian menghembuskannya pelan. Pria itu sedang mencoba tenang, meski dari cara bicara Miran yang bertele-tele membuatnya ingin segera mengakhiri percakapan ini.
Dirinya lelah, sungguh. Pulang bekerja, menjemput istri yang juga bekerja, Taehyun berharap bahwa dia bisa menikmati waktu istirahat atau mungkin makan malam yang tenang bersama sang istri di tempat yang nyaman, tapi belum apa-apa wanita di sampingnya itu sudah membahas topik yang entah mengarah kemana.
“Aku setuju kalau kamu memang menginginkan Dara sebagai ibu pengganti dari anak kita.”
Gerakan tangan Taehyun yang hendak menyalakan mesin mobil terhenti. Pria itu membeku sesaat, sebelum menoleh dengan tatapan tidak percaya ke arah istrinya.
“Ada banyak kekurangan—jelas, ada kemungkinan juga dia tidak akan mirip denganmu karena dna ibunya yang berasal dari negara yang berbeda, tapi aku pikir—”
“Miran. Tolong jangan mulai lagi.”
“Aku serius, Yeobo. Meski ini pertimbangan yang sulit, tapi nyatanya aku bisa memutuskan hingga aku bisa menyetujuinya.”
Taehyun seperti kehilangan kata-kata, tak mampu menanggapi ucapan istrinya kali ini. Pria itu menatap mata istrinya lurus, dan seperti yang wanita itu katakan, memang ada keseriusan dan keteguhan dari sorot matanya.
“Dia gadis yang cerdas, cantik, sopan, dan pekerja keras—meski statusnya di rumah kita hanya sebagai pembantu, nyatanya dibalik semua itu ada perjuangan yang hebat darinya yang membuatku awalnya tertarik untuk mencari tahu mengenai Dara lebih jauh. Dan yah, awalnya aku tidak ingin mengakui, ingin tetap membuatmu menerima salah satu wanita yang sudah aku ajukan sebelumnya, tapi jika dibandingkan dengan mereka semua—di antara yang lain Dara jelas tidak memiliki banyak kekurangan, kecuali statusnya di rumah kita, kewarganegaraannya yang berbeda, dan keteguhan juga kerja kerasnya yang justru menjadi kelebihan di antara yang lain.”
Demi Tuhan, Taehyun benar-benar kehilangan kata-kata mendengar seluruh penuturan istrinya. Miran sudah bertindak sejauh itu? Itu kenapa istrinya itu bilang sudah mencari tahu semuanya?
“Selama publik tidak mengetahuinya, aku pikir tidak masalah kalau orang itu Dara. Dia memang orang Indonesia, tapi—maksudku, kita bisa berusaha untuk memastikan bahwa anak kita nanti lebih mirip denganmu dibandingkan dia.”
Taehyun memejamkan matanya. Meski terlihat tenang, pria itu sesungguhnya berpikir keras bagaimana bisa merubah pikiran wanita di sampingnya ini. Apa sebegitu hebat pengaruh sikap dan perkataan ibunya pada Miran hingga wanita yang dinikahinya itu bersikeras melakukan hal ini?
“Tapi aku tarik kembali kata-kataku mengenai kamu yang harus tidur dengannya—maksudku, kita tidak akan melakukan proses pembuahan itu secara alami, aku tetap mengusulkan IVF sebagai cara utamanya.”
Baiklah, apakah ini sudah saatnya Taehyun mendengarkan rencana istrinya itu? Ini sudah hampir setahun, dan bahasan mengenai hal ini sama sekali tidak pernah hilang. Itu tandanya Miran memang tidak akan berubah pikiran, kan?
“Aku menemukan seseorang yang bisa aku percaya, Yeobo. Teman SMA-ku yang sekarang merupakan dokter obgyn dan menjadi kepala rumah sakit di rumah sakit milik keluarganya.”
Oh, bahkan Miran sudah mencari tahu sejauh itu.
“Tapi kalau menurutmu lebih aman mencari tempat di luar negeri di mana tidak ada siapa pun yang tahu mengenai kita, aku pikir tidak masalah juga melakukannya. Kita bisa membuat berbagai macam alasan dan memilih tempat sepi dan nyaman sebagai tempatku melahirkan nantinya dengan dalih bahwa itu keturunan pertama kita dan jelas adalah sebuah hal yang istimewa dan dinanti-nanti.”
Taehyun menelan salivanya, tidak percaya bahwa dirinya akan mengeluarkan kalimat macam ini setelah hampir setahun terakhir mendebat seluruh pernyataan istrinya.
“Baik. Ayo kita lakukan. Aku cuma harus mengikuti apa yang kamu katakan, kan? Dan kamu yang mengurus semuanya.”
Ekspresi wajah Miran yang sebelumnya normal, perlahan berubah. Awalnya matanya terbelalak ketika mendengar sepatah kata di awal kalimat Taehyun, lantas setelahnya garis senyum di bibirnya muncul dan melebar disertai dengan seruan bahagia dari Miran yang mungkin tidak pernah dijumpainya selama Taehyun hidup bersama wanita itu.
“Sungguh? Sungguh kamu akan melakukannya, Yeobo? Serius? Aku tidak salah dengar, kan?! Kamu akhirnya setuju?”
“Iya, Yeobo. Mari lakukan seperti yang kamu bilang. Aku sudah tiba bisa mengabaikannya kalau kamu seserius ini.”
Miran berteriak bahagia, lantas memeluk suaminya itu sambil mengucapkan rasa terima kasihnya berkali-kali. Taehyun lelah, namun melihat istrinya sebahagia itu hanya karena satu persetujuan darinya, segaris tipis senyum muncul di bibir Taehyun. Mungkin ini, mungkin ini memang salah satu yang bisa membuat istrinya bahagia di antara semua tekanan yang diterimanya selama bertahun-tahun belakangan.
Tepukan ringan Taehyun berikan di punggung Miran, memberikan rasa aman dan ketenangan pada wanitanya itu bahwa tidak ada yang perlu dirinya lagi perjuangkan seperti selama ini—mungkin setelahnya banyak, tapi setidaknya bukan sesuatu yang Miran harus lakukan pada Taehyun lagi.
“Ayo kita makan malam enak untuk merayakannya.” Ucap Miran setelah melepaskan pelukannya dari Taehyun.
“Hm, tentu. Sebelum kamu mengatakannya semuanya panjang-lebar tadi pun aku memang sudah berencana untuk mengajakmu makan malam di luar.”
“Sungguh? Baik sekali suamiku…”
“Tentu saja aku baik. Suami mana yang bisa menyetujui ide tidak masuk akal istrinya kalau bukan suami yang baik sepertiku.” Taehyun mendengus, menyiapkan mobilnya untuk melaju di jalan raya.
“Yeobo!” Protes Miran yang terlihat tidak senang mendengar ucapan suaminya. Meski Miran tahu Taehyun hanya mengatakan hal itu sebagai sebuah lelucon, walau berdasarkan fakta yang baru mereka hadapi.
“Jadi, apa kamu sudah mengatakannya pada Dara? Dan dia juga sudah menyetujuinya?”
Mobil sudah melaju, dengan Taehyun yang fokus mengemudi dan jalanan yang ada di hadapannya.
“Miran?” Seru Taehyun ketika tidak mendengar sepatah kata pun dari istrinya yang padahal sejak tadi banyak sekali bersuara.
“Kamu sudah bicara pada Dara dan gadis itu sudah menyetujuinya, bukan?” Taehyun mengulangi pertanyaannya. Tapi sama seperti sebelumnya, Miran tidak lantas langsung menjawab.
“Yeobo.” Panggil Taehyun lagi, kali ini menoleh untuk memastikan bagaimana ekspresi istrinya itu sekarang.
Tunggu. Perasaan Taehyun menjadi tidak enak karena reaksi istrinya ini. Miran yang diam, dengan raut wajah yang datar bahkan terkesan tenang.
“Jangan bilang kamu belum mengatakannya pada Dara?”
Hening.
Baru berjalan beberapa ratus meter dari kantor Miran tadi, mobil yang Taehyun kemudikan sudah memilih untuk menepi dan berhenti dengan cara yang ekstrim setelah Taehyun mengambil kesimpulan dari reaksi diam istrinya.
“Kamu benar-benar belum mengatakannya pada Dara?! Yeobo, apa kamu benar-benar sudah gila?!” Seru Taehyun untuk kesekian kalinya menaikan nada suaranya pada Miran.