Chapter 9

1198 Words
“Bi, apa aku boleh izin keluar sebentar? Ada hal yang harus aku lakukan.” Dara langsung menghampiri Bibi Nayeon setelah sambungan teleponnya diputus. Wajah gadis itu terlihat cemas, begitu juga dengan suara yang bergetar seolah menyiratkan kekhawatiran. Sorot matanya penuh harap menatap Bibi Nayeon, yang tentu tidak tega melihatnya. “Tentu, Nak. Pergilah. Kamu tidak akan izin pergi kalau memang bukan karena sesuatu yang mendesak, Bibi tahu itu, jadi pergilah.” Ucap Bibi Nayeon tersenyum tipis, menepuk pundak Dara prihatin. Bibi Nayeon ada di sana ketika Dara melakukan panggilan internasional ke Indonesia karena sebelum melakukannya Dara juga izin terlebih dahulu. Bibi Nayeon mendengar Dara bicara dalam bahasa Indonesia meski dia tidak mengerti apa yang gadis itu bicarakan dengan lawan bicaranya di sambungan telepon sana. Satu hal yang Bibi Nayeon tahu, satu-satunya yang akan dan bisa Dara hubungi prihal sanak saudara di Indonesia adalah saudara-saudaranya yang ada di panti asuhan, khususnya yang tinggal bersama ibu panti yang sudah seperti ibu sendiri bagi Dara. Hanya mereka, Dara tidak memiliki kerabat atau urusan yang lain selain mereka. Maka dari itu, tanpa bertanya pun, kalau Dara sudah bertukar kabar dengan mereka yang berada di Indonesia, kesimpulannya Dara bertukar kabar dengan orang-orang itu, termasuk kali ini. “Terima kasih, Bi. Aku janji tidak akan pergi terlalu lama, setelah selesai aku akan langsung kembali.” Bibi Nayeon mengangguk mengerti, percaya karena Dara memang selalu menepati janjinya. “Sesuatu terjadi di Indonesia, kan?” Bibi Nayeon bersuara ketika Dara melepas celemek yang dipakainya dan bersiap untuk pergi. Gerakan Dara terhenti, gadis itu menaikan pandangan dan membalas tatapan wanita paruh baya itu. Tidak ada yang bisa Dara lakukan selain mengangguk dan berusaha tersenyum, dan Bibi Nayeon pun tidak berencana menanyakannya lebih jauh karena baginya jawaban itu sudah cukup membenarkan asumsinya. Dara pamit pergi setelahnya, keluar dari dapur namun masuk ke dalam kamarnya yang berada di rumah itu terlebih dahulu untuk mengambil sesuatu. Uang tunai dan buku tabungan yang dimilikinya. Dara bergegas pergi begitu mendapatkan apa yang dirinya perlukan. Gadis itu keluar dari rumah dengan langkah terburu, berjalan kaki ke tempat yang dia tuju. Saking kalutnya pikiran Dara, gadis itu tidak menyadari bahwa dirinya berpapasan dengan mobil yang membawa Nyonya dan Tuan rumah tempatnya berkerja melintas melewati dirinya. Hanya dua orang dalam mobil itu yang menyadari sosok Dara yang berjalan dengan langkah terburu. “Mau ke mana dia?” Gumam Miran memperhatikan Dara hingga memutar kepalanya saat mobil mereka sudah melewati gadis itu. “Wajahnya terlihat serius, dia juga seperti terburu-buru.” “Hm.” Taehyun hanya berkomentar demikian, tetap melajukan mobilnya hingga berhenti di depan rumah mereka. Turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah, yang menyambut mereka adalah beberapa pekerja di sana. “Tolong ambilkan kami air minum.” Miran langsung meminta itu setelah dirinya masuk ke dalam rumah, yang tentu langsung disambut dengan anggukkan oleh salah satu pembantu rumah tangganya. “Woo yoon, apa kamu tahu kemana Dara?” Miran bicara pada pekerja di rumahnya yang lain. “Eh? Maaf, Nyonya?” “Tadi aku melihat Dara keluar dan berjalan kaki. Jadi aku tanya padamu apa kamu tahu kemana Dara akan pergi? Ini… belum waktunya dia selesai bekerja, kan?” “Aah… benar Nyonya, tapi yang lebih tahu kemana Dara akan pergi sepertinya Bibi Nayeon, karena Dara bicara dengannya sebelum pergi tadi.” Miran mengangguk mengerti, “Tolong panggilkan Bibi Nayeon kalau begitu.” Wanita yang dipanggil Woo Yoon tadi membungkuk dan langsung undur diri dari sana, berjalan ke belakang untuk memanggil Bibi Nayeon menghadap Nyonya rumah mereka. Tidak menunggu lama, Bibi Nayeon sudah menghadap Miran, yang kini duduk di rumah tengah bersama gelas air yang dimintanya. Sementara suaminya, Taehyun sudah pergi ke kamar mereka lebih dulu. “Nyonya memanggil saya?” “Hm, ada yang mau aku tanyakan pada Bibi.” Bibi Nayeon menunggu, apa kiranya yang akan ditanyakan Nyonya Lee padanya. “Kamu tahu kemana Dara pergi, kan? Apa sesuatu terjadi padanya? Maksudku—tadi aku melihatnya berjalan cepat di luar, dengan raut wajah yang juga tidak bisa dibilang baik-baik saja.” “A-ah… itu—” “Katakan saja, Bi. Tidak apa-apa, aku bukan akan mencari-cari kesalahannya, hanya perlu tahu beberapa hal.” “Um… saya tidak begitu tahu apa yang akan Dara lakukan di luar, Nyonya. Tapi Dara pergi setelah telepon dengan keluarganya di Indonesia.” “Di Indonesia?” Bibi Nayeon mengangguk. “Kalau dia pergi dengan wajah seserius itu, berarti sesuatu yang serius terjadi, kan?” “Saya pikir juga begitu, tapi saya tidak tahu apa tepatnya yang terjadi.” Setelahnya Nyonya Lee diam, hanya mengangguk dan mengizinkan Bibi Nayeon pergi dari hadapannya. *** Dara mengetuk pintu ruangan itu dengan hati was-was. Sepulangnya dari urusannya tadi, Dara langsung diberitahu Bibi Nayeon untuk menghadap Nyonya Lee ke ruangan kerjanya. Nyonya Lee menunggunya di sana, katanya. Mendengar itu jelas membuat Dara takut. Dirinya ketahuan pergi saat jam kerja, meski Dara sudah meminta izin pada Bibi Nayeon, tapi bisa jadi Nyonya Lee tidak senang karena hal itu, kan? Maka dari itu Dara takut, Dara takut dirinya dipanggil karena hal itu dan entah akan mendapatkan peringatan macam apa. Yang Dara doakan saat ini hanyalah semoga dirinya tidak mendapatkan kabar terburuk alias—dipecat dari pekerjaannya misalnya. Ah, tidak! Memikirkannya saja sudah mengerikan. “Nyonya memanggil saya?” Ucap Dara setelah dirinya diizinkan masuk ke dalam ruang kerja itu. “Oh, Dara-ssi. Kamu sudah kembali. Duduklah, ada hal yang harus aku bicarakan denganmu.” Miran menunjuk sofa yang ada di ruangan kerja itu, meminta Dara untuk duduk di sana, dan Miran akan menyertainya. Mendengar itu membuat Dara semakin was-was, selama bekerja Dara belum pernah diminta duduk di sana, kalau tidak mengantar atau diminta melakukan sesuatu, Dara jelas tidak akan masuk ke ruangan itu ketika si pemilik ada di dalamnya. Miran berdiri dari kursi kerjanya begitu Dara sudah duduk di sofa, membawa sebuah bundalan kertas tipis di tangan, Miran duduk di hadapan Dara. “Ada sesuatu yang ingin aku tawarkan padamu.” Miran memulainya langsung, menyodorkan bundalan kertas itu dan menyerahkannya pada Dara. Dara menatap sang Nyonya dengan sorot penuh tanya, bergantian antara bundalan kertas itu dengan wajah sang Nyonya di hadapannya. “Ini… apa, Nyonya?” Miran tersenyum tipis, lalu menggerakkan dagunya sebelum bicara. “Bacalah. Aku akan jelaskan setelahnya.” Meski masih diselimuti tanda tanya, Dara akhirnya meraih bundalan kertas itu, lantas membuka dan membaca perlahan isi di dalamnya. In Vitro Fertilization. Dara membaca tulisan pada baris pertama yang dilihatnya. Pandangan Dara langsung naik ke arah Nyonya Lee, tanpa ditahan mengeluarkan pertanyaan itu dari mulutnya. “Ini tulisan ilmiah mengenai bayi tabung—” “Seperti yang saya duga, kamu memang cerdas. Hanya dengan membaca sebaris kalimatnya kamu sudah tahu apa itu. Meski dipuji, Dara justru semakin tidak mengerti, kenapa dirinya diberikan dan minta membaca tulisan ilmiah itu? Kalau ini soal pendidikannya, yang lebih tepat seharusnya Dara disodorkan dengan tulisan mengenai bisnis yang dirinya pelajari, kan? “Aku ingin menawarkan padamu menjadi Ibu pengganti untukku dan suamiku.” “E-EH?” Dara tidak bisa menahan diri, mengeluarkan ekspresi terkejutnya itu refleks begitu saja. Dirinya tidak salah dengar, kan? Tidak sedang salah mengerti bahasa Korea, bukan? Karena Dara merasa baru saja mendengar sebuah permintaan gila yang baru pertama kali didengarnya seumur hidup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD