Malam sudah larut ketika Aria melangkah keluar dari gedung Moretti Tower. Kepalanya berdenyut karena ribuan angka dan strategi yang baru saja ia susun. Namun, pikirannya hanya tertuju pada satu hal: Leo. Ia merasa bersalah karena melewatkan waktu makan malam putranya.
Keesokan paginya, kekacauan dimulai. Pengasuh Leo, Mrs. Gable, tiba-tiba menelpon dengan suara panik.
"Ms. Watson, maafkan aku. Pipa air di apartemenku pecah dan banjir! Aku harus segera pulang, atau pemilik apartemen akan menuntut," ujar Mrs. Gable lewat telepon.
Aria memijat pangkal hidungnya. "Sekarang? Tapi aku ada rapat penting dengan Dante—maksudku Mr. Moretti—tiga puluh menit lagi."
"Mama, aku ikut ke kantor!" teriak Leo yang sudah rapi dengan kaos berkerah dan celana jins kecilnya.
Aria menatap putranya dengan ngeri. "Tidak, Leo. Kantor itu bukan tempat bermain. Itu sarang naga."
"Aku suka naga! Aku akan membawa pedang mainanku," jawab Leo semangat.
Aria tidak punya pilihan. Jika ia terlambat, Dante akan menjadikannya alasan untuk memecatnya atau lebih buruk lagi, menyelidikinya lebih dalam. "Baik. Tapi kau harus janji: tetap di ruangan Mama, jangan keluar, jangan bicara dengan siapa pun. Mengerti?"
"Siap, Kapten!"
Aria berhasil menyelundupkan Leo melalui pintu belakang staf dan membawanya ke ruang kerja pribadinya di lantai 50. Ia memberikan tablet dan beberapa buku gambar kepada Leo.
"Ingat, Leo. Jangan keluar dari pintu ini," bisik Aria sambil mengecup kening putranya.
"Oke, Mama. Selamat bekerja!"
Aria berjalan menuju ruang rapat besar dengan jantung yang berdebar kencang. Di dalam, Dante sudah duduk di kepala meja, tampak segar dan tajam dalam setelan jas abu-abu gelap.
"Kau tepat waktu, Ms. Watson. Aku terkesan," ujar Dante tanpa mengalihkan pandangan dari jam tangannya.
"Aku selalu menepati janji, Sir," jawab Aria sambil membagikan dokumen draf yang ia kerjakan semalam.
Rapat berlangsung intens selama dua jam. Aria memaparkan strateginya dengan brilian, membuat para direktur mengangguk setuju. Bahkan Dante tampak mendengarkan dengan serius, meski tatapannya tetap sulit dibaca.
Namun, di tengah diskusi tentang anggaran iklan, pintu ruang rapat yang berat itu perlahan terbuka sedikit. Sebuah kepala kecil dengan rambut hitam acak-acak menyembul masuk.
Aria membeku. Kalimatnya terhenti di tengah jalan. "Dan untuk segmentasi pasar..."
"Ada masalah, Ms. Watson?" tanya Dante, menyadari perubahan ekspresi Aria.
"Maaf, aku... Ku pikir aku lupa sesuatu," jawab Aria terbata-bata.
Tapi sudah terlambat. Leo, yang rupanya bosan menunggu, masuk ke dalam ruangan dengan percaya diri. Ia memegang sebuah mobil-mobilan merah di tangannya.
"Mama, tabletnya mati. Aku lapar," suara cempreng Leo memecah kesunyian ruang rapat yang formal itu.
Seluruh direksi menoleh. Dante Moretti perlahan memutar kursinya. Ruangan itu mendadak terasa seperti kekurangan oksigen.
"Leo! Apa yang kau lakukan di sini?" Aria segera berlari menghampiri putranya dan mencoba menariknya keluar. "Maafkan aku, Mr. Moretti. Pengasuhnya ada keadaan darurat dan—"
"Tunggu," potong Dante. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang membuat langkah Aria terhenti.
Dante berdiri dari kursinya. Ia melangkah mendekat, matanya terkunci pada sosok kecil di depan Aria. Semua orang di ruangan itu menahan napas. Kemiripan itu... sangat mencolok. Jika Dante adalah singa dewasa, maka bocah ini adalah anak singa yang baru belajar menggeram.
Dante berlutut di depan Leo. Sebuah pemandangan yang mustahil bagi siapa pun yang mengenal sang CEO berdarah dingin itu.
"Siapa namamu, Jagoan?" tanya Dante. Suaranya entah bagaimana melunak, sesuatu yang belum pernah Aria dengar.
Leo tidak tampak takut sedikit pun. Ia menatap balik mata gelap Dante dengan keberanian yang sama. "Leo Watson. Siapa kau? Kau raja di sini?"
Dante tersenyum tipis—senyum asli pertama yang Aria lihat. "Bisa dibilang begitu. Dan ini kantorku."
"Kantormu besar. Tapi Mama bilang kau naga," ucap Leo jujur.
Aria hampir pingsan di tempat. "Leo! Jangan bicara begitu!"
Dante terkekeh pelan, sebuah suara yang dalam dan kaya. "Naga, ya? Mungkin dia benar. Dan naga biasanya menjaga harta karunnya."
Dante berdiri dan menatap Aria. Tatapannya kini tidak lagi sekadar dingin; ada rasa ingin tahu yang membara dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: pengenalan.
"Dia mirip sekali denganmu, Ms. Watson," ujar Dante, meski matanya berkata sebaliknya. "Terutama sifat keras kepalanya."
"Dia... dia mirip ayahnya," bohong Aria, suaranya gemetar.
"Begitukah?" Dante menaikkan sebelah alisnya. "Ayahnya pasti pria yang sangat... luar biasa, sampai bisa meninggalkan jejak sekuat ini."
"Rapat selesai untuk hari ini," Dante mengumumkan kepada para direksi tanpa mengalihkan pandangan dari Aria. "Kalian bisa pergi."
Setelah ruangan kosong, hanya menyisakan Dante, Aria, dan Leo, suasana berubah menjadi sangat intim dan menyesakkan.
"Mr. Moretti, aku minta maaf atas gangguan ini. Aku akan membawa Leo pulang sekarang," ujar Aria terburu-buru.
"Kenapa terburu-buru, Aria?" Dante menggunakan nama depannya untuk pertama kali. "Leo bilang dia lapar. Kebetulan, aku juga belum makan siang."
"Oh, kami tidak ingin merepotkan—"
"Aku ingin makan burger!" sela Leo sambil menarik ujung jas mahal Dante. "Raja Naga, apa kau punya burger di sini?"
Dante menunduk menatap tangan kecil Leo di jasnya yang seharga sepuluh ribu dolar. Marcus, yang berdiri di pintu, tampak hampir terkena serangan jantung. Tapi Dante justru mengangguk.
"Aku punya akses ke burger terbaik di kota ini, Leo. Mau ikut?"
"Mau!"
"Mr. Moretti, tolong..." Aria mencoba memprotes, namun Dante mendekat padanya, berbisik di telinganya sehingga hanya dia yang bisa mendengar.
"Jangan mencoba lari lagi, Aria. Semakin kau mencoba menyembunyikannya, semakin aku ingin menggali. Kita akan makan siang bersama. Dan kau akan menjelaskan padaku... kenapa putra Anda memiliki mata yang persis sama dengan milikku saat aku menatap cermin pagi ini."
Aria terpaku.