Cahaya temaram dari lampu meja kerja Dante memantul di permukaan meja mahoni yang dipoles sempurna. Jarum jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam—waktu di mana sebagian besar karyawan sudah pulang—namun bagi Aria, malam baru saja dimulai.
Dante berdiri di dekat jendela kaca besar, memunggungi Aria. Tangannya terlipat di belakang punggung, posturnya tegak dan mengintimidasi.
"Kau bilang kau bisa menangani apa saja, Aria," suara Dante rendah, namun menggema di ruangan yang sunyi itu.
Aria merapikan rok pensilnya, mencoba menyembunyikan getaran di jemarinya. "Aku berdiri di sini karena aku mampu, Tuan Dante."
Dante berbalik perlahan. Sebuah senyuman tipis, hampir seperti seringai, muncul di wajahnya yang tajam. Ia menjatuhkan tumpukan map tebal di depan Aria. Brak!
"Ini adalah laporan audit tiga tahun terakhir dari lima anak perusahaan di Asia Tenggara. Aku butuh ringkasan eksekutif, analisis risiko, dan proyeksi keuntungan untuk kuartal depan," Dante menjeda sebentar, matanya mengunci mata Aria. "Semuanya harus ada di mejaku besok pagi, pukul enam tepat."
Aria tertegun. Matanya membelalak menatap tumpukan kertas yang tingginya hampir mencapai dagunya. "Besok pagi? Tuan, ini lebih dari dua ribu halaman data mentah. Secara logistik, mustahil dilakukan oleh satu orang dalam semalam."
Dante melangkah mendekat, masuk ke ruang pribadi Aria hingga ia bisa mencium aroma parfum sandalwood pria itu yang memabukkan sekaligus menyesakkan.
"Mustahil adalah kata yang sering digunakan oleh mereka yang medioker," bisik Dante. "Apakah kau medioker, Aria?"
"Tentu saja tidak," jawab Aria cepat, dagunya terangkat.
"Bagus. Karena selain itu, aku ingin kau mengatur ulang jadwal pertemuan dengan dewan direksi di London. Sesuaikan dengan zona waktu mereka, pastikan semua materi presentasi sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin untuk mitra kita dari Beijing, dan... oh, pesanlah bunga untuk ibuku. Dia suka lili putih, tapi pastikan bukan dari toko yang biasa kita gunakan."
Aria mengerjap. "Tunggu, lili putih? Dan terjemahan Mandarin? Aku bukan penerjemah tersertifikasi, Tuan Dante."
Dante mengangkat bahu acuh tak acuh. "Gunakan koneksimu. Gunakan otakmu. Itulah alasan aku membayarmu dengan angka yang membuat orang lain iri. Atau, kau bisa menyerah sekarang, tinggalkan tanda pengenalmu di meja, dan kita anggap eksperimen ini gagal."
Aria merasakan amarah mulai mendidih di bawah permukaan ketenangannya. Ia tahu ini bukan sekadar pekerjaan; ini adalah tes ketahanan. Dante mencoba mematahkannya.
"Eksperimen?" Aria mendesis. "Jadi ini hanya permainan bagimu?"
"Hidup adalah permainan, Aria. Aku hanya ingin tahu apakah kau pemain atau sekadar bidak," Dante berjalan menuju pintu keluar, mengambil jasnya. "Jangan lupa, kopiku harus sudah panas saat aku tiba besok. Tanpa gula, dua tetes susu."
"Tuan Dante!" panggil Aria sebelum pria itu mencapai pintu.
Dante berhenti namun tidak menoleh. "Ya?"
"Jika aku berhasil menyelesaikan ini... apa yang akan ku dapatkan?"
Dante tertawa kecil, suara yang kering dan dingin. "Kau mendapatkan hak untuk tetap bekerja di sini satu hari lagi. Bukankah itu cukup adil?"
Pintu tertutup dengan bunyi yang tajam, meninggalkan Aria sendirian di kantor yang terasa makin sempit.
Pukul 02:15 dini hari.
Aria duduk di lantai beralaskan karpet tebal, dikelilingi oleh tumpukan kertas dan tiga cangkir kopi kosong. Matanya perih, dan angka-angka di layar laptopnya mulai tampak seperti tarian semut.
"Analisis risiko anak perusahaan di Thailand... sengketa lahan, fluktuasi mata uang..." gumamnya sambil mengetik dengan kecepatan tinggi.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Dante.
Dante: Aku lupa menyebutkan, tambahkan analisis perbandingan dengan kompetitor utama kita di Singapura. Aku butuh grafiknya dalam bentuk 3D.
Aria menatap ponselnya dengan tatapan ingin membunuh. Ia meraih ponsel itu dan mengetik balasan dengan jempol yang gemetar.
Aria:Tentu, Tuan. Apakah Anda juga ingin aku membangun replika Singapura dari stik es krim sebelum subuh?
Satu menit berlalu. Ponselnya bergetar lagi.
Dante: Idenya menarik. Tapi fokuslah pada grafik. Jangan buang waktumu untuk sarkasme yang tidak efisien.
Aria menggeram, melemparkan ponselnya ke sofa. "Pria gila. Dia benar-benar monster."
Pukul 05:50 pagi.
Dante melangkah masuk ke kantor dengan setelan jas abu-abu gelap yang licin tanpa cela. Ia tampak segar, kontras dengan suasana ruangan yang masih menyisakan aroma kopi pekat dan kelelahan.
Ia berhenti di depan meja Aria. Aria tidak ada di sana.
"Sudah kuduga," gumam Dante sinis. Namun, saat ia melirik ke meja kerjanya sendiri, matanya menyipit.
Lima map berwarna berbeda tertata rapi sesuai urutan urgensi. Di atasnya, terdapat sebuah tablet yang menampilkan presentasi 3D yang ia minta. Di sampingnya, sebuah vas kecil berisi lili putih yang masih segar dan berembun. Dan tentu saja, secangkir kopi yang mengepulkan uap tipis.
Aria muncul dari arah dapur kecil, wajahnya pucat namun matanya bersinar dengan kemenangan yang dingin.
"Selamat pagi, Tuan Dante," sapanya dengan suara serak. "Kopi Anda. Tanpa gula, dua tetes s**u. Suhunya tepat 65^circ C."
Dante mengambil salah satu map, membukanya, dan membolak-balik halaman dengan cepat. Ia mencari celah, mencari kesalahan sekecil apa pun. Tapi semuanya sempurna. Bahkan analisis risikonya lebih tajam dari yang ia bayangkan.
"Bagaimana dengan bunga itu?" tanya Dante tanpa mengalihkan pandangan dari kertas. "Toko bunga belum buka pukul lima pagi."
"Aku menelepon pemilik toko bunga langgananku di pasar induk pada pukul empat pagi. Aku membayarnya tiga kali lipat untuk membuka toko lebih awal dan mengantarkannya sendiri ke sini," jawab Aria datar. "Dan terjemahan Mandarin itu? Aku menghubungi teman lama di Shanghai untuk melakukan pengecekan ulang setelah aku menggunakan perangkat lunak enkripsi terbaik."
Dante meletakkan map itu. Ia menatap Aria lama, mencoba membaca apa yang ada di balik mata lelah wanita itu.
"Kau tidak tidur," cetus Dante.
"Tidur adalah kemewahan yang tidak Anda izinkan dalam instruksi Anda, Tuan."
Dante berjalan mendekati Aria, berhenti tepat di depannya. Aria bisa merasakan panas dari tubuh pria itu, tapi kali ini ia tidak mundur satu inci pun.
"Kau membuktikan satu hal, Aria," suara Dante kini lebih lembut, hampir seperti pujian yang tersembunyi.
"Apa itu?"
"Bahwa kau cukup gila untuk bertahan di sisi seorang monster sepertiku."
Aria tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya namun penuh dengan tantangan. "Hanya monster yang bisa mengenali monster lainnya, bukan?"
Dante terdiam sejenak, lalu mengambil kopinya dan menyesapnya. "Kopinya enak. Sekarang, ambil waktu tiga puluh menit untuk mandi dan mengganti pakaianmu. Kita punya rapat dengan direksi dalam satu jam."
"Tiga puluh menit?" Aria memprotes. "Tuan, aku butuh setidaknya—"
"Dua puluh sembilan menit, Aria," potong Dante sambil duduk di kursinya. "Jangan membuatku menunggu."
Aria berbalik, menyumpah serapah dalam hati, namun di balik kelelahannya, ada percikan adrenalin yang aneh. Ia telah melewati ujian itu. Dan bagi seorang Dante, itu adalah pengakuan tertinggi yang bisa diberikan.