Insiden Di Kamar Mandi
“Ya ampun sudah dua jam lebih aku di sini? Lima belas dokumen ini benar-benar horror,” gumam Kate sambil melepaskan kancing kemejanya.
Kate merasa sangat gerah sehingga dia memutuskan untuk mandi sebelum pulang.
Wanita itu kemudian meraba satu persatu lemari loker dan lemari penyimpanan dokumen dari awal. Arsip yang dibawanya ini adalah arsip lama sehingga Kate harus melangkah masuk ke bagian dalam ruangan arsip untuk menyimpannya.
Ruangan dokumen ini berada cukup jauh di bagian dalam lantai tiga. Berada di dekat ruangan Komandan Choi dan juga ruangan Wakil Kepala Biro, membuat siapa saja yang datang ke ruangan dokumen ini sudah pasti hanya orang-orang tertentu saja bukan orang sembarangan.
“Syukurlah, akhirnya selesai,” ucap Kate sambil mengunci kembali ruangan arsip yang menjadi tanggung jawabnya itu.
Kate memang sering menghabiskan waktunya di sini. Entah kenapa Komandan Choi selalu saja memilihnya untuk menjadi juru kunci ruangan arsip ini.
Merasa kegerahan, Kate kemudian memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum pulang.
Kate melangkah menuju kamar mandi di bagian luar ruangan. Diantara dua ruangan para petinggi Kepolisian, terdapat sebuah kamar mandi tamu yang bisa digunakannya.
"Ya ampuun, gak bisa dikunci?" ucapnya menggerutu kesal.
Tubuhnya sudah terasa sangat gatal sehingga Kate benar-benar hanya ingin mandi saat ini. Diambilnya handuk baru yang tersedia pada lemari kecil di depan wastafel. Handuk di sini memang selalu baru karena kamar mandi ini diperuntukkan bagi tamu para petinggi Kepolisian di tempatnya Kate bekerja ini.
"Tidak akan ada yang masuk ke dalam sini kan? Mereka semua pasti masih sangat sibuk di bawah sana," ucap Kate sambil membuka atasannya dan menggantungkannya pada sebuah hanger di balik pintu.
Dengan cekatan, Kate melepas pakaiannya, lalu menikmati acara mandinya itu dengan sangat tenang.
Sementara itu, di lantai bawah. Seorang pria dengan langkahnya yang terburu-buru kini masuk kedala lift sambil menutupi wajahnya menggunakan topi pet yang digunakannya.
Langkah pria ini benar-benar tak bisa lagi diperlambat karena dorongan sesuatu yang sudah terasa hendak keluar. Pria itu kemudian sampai di lantai dua dan segera mengikuti papan penunjuk arah yang menuntunnya menuju kamar mandi.
"Kenapa jauh sekali?" gumam Bryan sambil terus mempercepat langkahnya.
Dia kemudian menoleh ke arah kanan papan penunjuk di mana dia melihat kamar mandi disana. Sepi dan tidak ada suara, membuatnya semakin yakin melangkah masuk. Dia kemudian mendorong pintu kamar mandi tersebut. Namun yang terjadi sungguh di luar kendalinya.
Pintu kamar mandi yang terbuka perlahan, kini memamerkan sesosok tubuh indah seorang wanita yang tengah menyapukan handuk di tubuhnya. Dengan posisi yang setengah memunggunginya, Bryan bisa melihat dengan sangat jelas setiap lekuk tubuh seksi wanita itu.
Bryan yang bersiap untuk buang air ini kini tanpa sadar justru mengelus lembut ujung tumpulnya yang mendadak menegang sempurna karenanya.
Bryan masih berdiri dengan takjub, tanpa berkedip sedetikpun dia memandangi maha karya terindah di depannya dengan sangat detail.
Tangan wanita itu kini tengah mengelap belahan d**a indahnya dengan sangat lembut, membuat fantasy liar Bryan kian berkelana mendapatkan puncak d**a indah yang kemerahan itu sangat eksotis diantara mulusnya kulit wanita itu yang seputih porselen. Sementara pinggang rampingnya terlihat semakin menonjolkan lekukan pinggulnya yang semakin membuat Bryan tersiksa dengan fantasy-nya.
Nafas Bryan mendadak sesak, bukan lagi karena lelah latihan tapi karena desakan hasratnya yang mendadak membubung tinggi tanpa bisa dikendalikannya.
"Komandan B?" panggil seseorang di kejauhan membuyarkan semuanya.
Bryan dengan sigap langsung masuk sementara Kate berlari ke arah pintu membuat keduanya bertabrakan.
Tangan Bryan dengan sigap memeluk Kate dan membuat keduanya kini berada dalam jarak yang tak lagi terjeda.
"Kate?"
Suara Komandan Choi memanggilnya.
Bryan yang kini tengah memeluk Kate pun kemudian menggigit rambut wanita di depannya itu agar menoleh kepadanya.
Kate kemudian memandangnya dengan penuh kemarahan sekaligus keterkejutan.
Wajahnya kini berada di ceruk leher Bryan, hingga Kate bisa melihat jambang sang komandan yang baru di cukur itu dengan sangat jelas.
"Dia memanggilmu," bisik Bryan dengan sangat pelan.
"Kate?" panggil Komandan Choi lagi.
"Aku di sini Komandan Choi," jawab Kate sambil memberontak dari dekapan Bryan dengan menginjak-injak sepatu lelaki itu beberapa kali.
Tapi Bryan tak menggubrisnya. Dia justru menikmati gerakan tubuh Kate yang membuat beberapa tekanan nikmat di bagian perut dan dadanya.
"Kau di kamar mandi? Apa kau melihat Komandan B? Tamu kita?" tanya komandannya lagi dari luar sana.
Bola mata Bryan kini menyipit tajam seraya menggelengkan wajahnya menatap intens pada Kate yang hanya beberapa inchi darinya itu.
"Ti-Tidak Bu, aku tidak melihatnya sejak tadi," jawab Kate sambil balas menatap dengan tak kalah galaknya.
Kate yang masih emosi kini mulai mencari cara menyakiti Bryan dengan gigitannya.
Wanita itu berusaha melepaskan diri dari pelukan Bryan tapi tenaga lelaki itu jelas tak sebanding dengan tenaganya, membuat Kate akhirnya pasrah.
"Lalu kemana Komandan B?" ucap si pria yang entah siapa kembali bertanya.
"Mungkin dia sudah turun menggunakan jalan yang lain," ucap Komandan Choi menjawab.
Suara sepatu keduanya kemudian terdengar menjauh.
Kate mendengus kesal.
Dia masih sulit bergerak karena Bryan mengunci dekapannya dengan sangat kuat.
"Mereka sudah pergi, lepaskan aku!" ucap Kate sambil menengadahkan wajahnya menatap Bryan dengan sangat lekat.
Nafas wanita itu mendadak tersengal ketika menyadari bola mata hitam legam Bryan tengah memandanginya.
Jeda detik membungkam keduanya dalam tatapan intens yang sangat dalam.
"Apa ini?" ucap Kate saat menyadari ada benda keras nan hangat tengah menekan di perutnya.
"Maaf, aku harus pergi," ucap Bryan sambil melepaksan pelukannya dan segera mengancingkan resletingnya sambil berlalu meninggalkan kamar mandi tersebut.
***
“Hahh! jam berapa sekarang?” ucap Kate yang terbangun kesiangan. Dia kemudian melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi dan dia pun langsung bergegas mandi.
Untung sekali karena kamar kosannya itu berada tidak jauh dari kantor kepolisian. Sehingga dia hanya butuh berlari cepat menyeberangi jalan untuk mencapai kantornya.
Sesampainya di sana, Kate benar-benar nyaris kesiangan. Semua anggota di sana sudah berbaris rapi. Dia menjadi orang terakhir yang masuk ke dalam barisan.
Delikan tajam dari Komandan Choi pun langsung menyambutnya lagi pagi ini.
“Kau kesiangan lagi?” tanya Wilson.
“Iya aku kelelahan,” ucapnya.
Kate kemudian melangkah dan langsung masuk ke dalam barisan dengan tetap tenang.
Apel pagi pun dimulai. Ketegangan Kate semakin bertambah setelah mengetahui seseorang di depan sana yang tengah mengenakan seragam lengkapnya itu adalah pria yang bersamanya di kamar mandi malam tadi.
“Mati aku! Celaka! Dia ???” ucapnya dalam hati sambil meneguk salivanya beberapa kali.