Kate berdiri dengan sangat gugup, sambil terus memandangi wajah lelaki misterius yang semalam terlibat insiden dengannya.
Detik berikutnya, bola mata pria itu mengunci manik mata Kate, yang semakin sukses membuat Kate semakin gugup karenanya.
Pria yang terlihat sangat diam dan slow itu rupanya adalah Komandan Pasukan Elite Kepolisian yang bernama Bryan Alaric. Kenyataan ini membuat Kate semakin merasakan senam jantung, dia nyaris bisa terkapar karena sangat syok mengetahuinya.
Kate merasa jika karir kepolisiannya akan segera hancur tak lama lagi. Dia hanya berharap Bryan tidak akan mengungkap kejadian kemarin di kamar mandi.
“Kau kenapa? Kau sakit?” tanya Shesa yang melihat wajah Kate memucat.
“Tidak, aku hanya kurang tidur saja,” jawab Kate sambil tetap berusaha tenang di dalam barisannya.
Pemaparan singkat proses rekrutmen Pasukan Elite pun terus berlangsung.
“Bisakah kita kabur dari sini?” ucap Kate kepada Shesa.
Tentu saja hal ini membuat Shesa sangat terkejut.
“Kabur? Kau mau kabur ke mana? Apa yang ada di otak seksimu itu?” ucap Shesa sambil menggelengkan kepalanya.
Kate hanya bisa terdiam. Dia benar-benar ketakutan setengah mati terlebih ketika beberapa kali Bryan menatap ke arahnya. Buru-buru Kate menunduk.
Saking cemas dan juga paniknya Kate sampai tidak menyadari jika komandan itu bertanya kepadanya.
“Dia bertanya padamu?” ucap Wilson sedikit kencang.
“Yah Pak! Aku yang melakukannya!” ucap Kate sambil mengacungkan tangannya dan menjawab dengan sangat lantang.
Kate meneguk salivanya sendiri.
Tatapannya kini beradu dengan Bryan dalam jeda detik.
Semua orang yang ada di sana pun menatap heran, sementara Komandan Choi kini menatapnya sinis dan juga murka.
“Apa pertanyaannya, maaf!” ucap Kate merevisi jawabannya.
“Aku hanya bertanya sudah berapa lama kau bekerja di sini?” ucap Bryan menjawab menggunakan mic nya.
“Siap salah! Maafkan aku Pak, aku terlalu tegang. Izin menjawab, aku baru dua tahun bekerja disini,” jawab Kate sambil menelan salivanya berulang kali.
Bryan tersenyum sambil menatapnya.
Hal ini rupanya disadari oleh Audrey yang langsung mengirim pesan chat kepada Kate setelahnya. Sayangnya, ponsel Kate ketinggalan di kamarnya karena buru-buru akibat kesiangan tadi.
Saat makan siang, Kate yang tengah menikmati makanannya terpaksa pindah ketika Audrey menghampiri mejanya. Dia tak ingin lagi berurusan dengan Audrey.
Diangkatnya nampan makan siang dan dia memilih pindah dari tempatnya itu.
“Oh, jadi sekarang kau sudah mulai tidak mau bersosialisasi dengan kita?” ucap Audrey terus saja menyindirnya dan membuatnya kesal.
“Tenanglah Kate, jangan meladeni Audrey. Anggap saja dia hanya toxic,” ucap Kate berusaha menenangkan hatinya.Iya, Kate memang orang yang ceroboh dan sering melakukan kesalahan meski begitu tidak serta merta dia melakukan kesalahan yang fatal.
Meski begitu Kate tetap berharap jika Bryan tidak benar-benar akan menghukumnya.
“Kenapa tadi dia tidak membahasnya?” ucap Kate.
Dia kemudian melihat pria itu tengah bersama dengan komandan Choi.
Kate mulai memikirkan untuk meminta maaf secara pribadi kepada Bryan. Dia kemudian mencari cara untuk mendekati pria itu. Kebetulan sekali karena Kate kemudian melihat Bryan ke arah luar ruangan sendirian. Kesempatan ini digunakannya untuk memberikan sebuah pesan.
“Kertas dna pulpennya,” ucap Kate sambil mengeluarkan alat tulis dari saku celananya.
PAK BRYAN ROOFTOP JAM LIMA SORE
Kate kemudian melipatnya lebih kecil dan segera berjalan cepat ke arah berlawanan dari arah Bryan berjalan.
Kate berhasil melihat Bryan, dia pun melangkah semakin mendekati Bryan yang berjalan berlawanan arah dengannya.
Wanita itu cukup gugup. Namun tekadnya sangat kuat.
“Siang Komandan!” sapa Kate sambil memberi hormat. Wanita ini kemudian menyodorkan tangannya hendak menyalami Bryan.
“Siang,” jawab Bryan seraya menyodorkan tangannya.
Hal yang tidak disia-siakan oleh Kate. Wanita itu menggenggam lebih kuat tangan Bryan demi menempelkan kertas pada telapak tangan Bryan.
Setelah merasa yakin kertas itu diterima Bryan, Kate langsung bergegas pergi. Dengan langkah super cepatnya dia kembali ke kursi makannya.
“Makanan ku?” ucap Kate yang tak lagi bisa menemukan makanannya di sana. Di kejauhan Audrey terlihat senyum-senyum menatapnya.
“Kau lagi!” ucap Kate yang melihat makan siangnya tengah dibuang Kate ke tong sampah.
“Bodo amat, yang penting urusanku dengan Pak Bryan selesai,” ucap Kate di dalam hatinya.
Dia kemudian melihat ke arah sudut ruangan, di sana Bryan tengah membuka lipatan kertas yang kecil darinya itu dan tak lama setelahnya Bryan mengedarkan pandangan mencari seseorang.
Kate hampir mati lagi kali ini. Dia merasakan tubuhnya bergetar hebat dan sangat lemas ketika senyuman aneh itu menghiasi wajah Bryan sambil menyelipkan kertas yang sudah dibacanya itu ke dalam saku celananya.
Dia kemudian melirik arlojinya. Masih empat puluh menit sebelum jadwal pertemuan mereka yang dituliskan Kate pada kertas tersebut.
Acara sendiri akhirnya selesai pada jam setengah lima. Kate bisa bernapas lega sambil menunggu waktu.
“Kau pulang sekarang?” tanya Wilson sambil menghampirinya.
“Tidak, aku harus membereskan beberapa pekerjaanku,” jawab Kate.
“Okay, aku pulang duluan ya,” jawab Wilson.
Kate terpaksa berbohong. Sebenarnya dia tidak memiliki pekerjaan apapun. Kantor mereka selama dua hari ini begitu sibuk dengan acara kunjungan sehingga hanya bagian pelayanan publik saja yang tetap beroperasional normal karena staf lainnya di geserkan mengikuti sejumlah acara pemaparan dari perwakilan Pasukan Elite Kepolisian yang memberikan sangat banyak materi untuk mereka.
Kate kemudian melangkah naik menuju rooftop. Dia tidak mau mengingkari janjinya sendiri.
“Masih ada lima belas menit,” ucap Kate sambil melihat pintu yang sudah terbuka.
Kate tidak terlalu memperdulikannya. Dia mengira jika pasti sebelumnya ada orang yang lalu lalang ke sini.
Wanita itu pun kemudian berdiri ke arah belakang gedung di mana terlihat banyak sekali gunung dan juga hamparan sawah yang sangat luas.
“Kate! Kau ini selalu saja sial!” gerutunya.
“Ah! masih lima belas menit aku bisa bebas,” ucap Kate sambil terus berusaha terus mengingat kejadian kemarin.
Sepatunya sama, ya … orang yang di ruang dokumen itu juga adalah orang yang sama dengan yang di depan kamar mandi saat dia menyiramnya.
“Ceroboh sekali!” Sampai kapan kau hidup seceroboh ini sih Kate?” ucapnya sambil menatap kejauhan dengan nanar.
“Percuma kalau punya otak yang cerdas, tubuh yang seksi … wajah yang cantik tapi kau selalu ceroboh! Kau sungguh ceroboh!” wanita itu terus mengoceh mengeluarkan isi hatinya sambil meliuk-liukan tubuhnya dengan asal.
Di rooftop yang sangat luas ini menjadi salah satu tempat terbaik untuk Kate menenangkan diri sejenak dan meluapkan emosinya.
Di tempat ini tidak ada seorang pun yang akan mengganggunya seperti biasa.
Angin yang sepoi-sepoi pada ujung hari yang mulai senja ini pun memberikan angin segar tersendiri untuk Kate yang menikmatinya sambil tetap berdiri di tepiannya.
“Dia pasti terlambat!” ucap Kate bergeming dari sana dan berbalik arah sambil melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul lima kurang lima menit.
“Orang penting seperti dia sudah biasa terlambat, sebaiknya aku tiduran dulu. Mataku sangat mengantuk sekali,” ucap Kate.
Tapi matanya langsung menuju pada ujung sepatu yang berada di depannya.
Jarak mereka hanya sekitar dua langkah saja dan sepatu itu terus mendekat ke arahnya. Jarak yang semakin dekat membuat Kate perlahan mundur.
“Sepatu ini kan?” ucapnya yang merasa mengenali sepatu itu.
“Tidak, masih kurang tiga menit dan orang penting seperti dia tidak mungkin tempat waktu,” ucap Kate lagi.
Dia belum berani melihat sosok si pemilik sepatunya itu yang terus berjalan maju ke arahnya hingga dia tersudut di ujung pagar pembatas.
“Kau sudah tidak punya ruang lagi untuk mundur,” ucap sosok itu kepada Kate.
Suara bariton khas yang membuatnya kian gugup itu akhirnya membuat Kate perlahan menggeser tatapannya.
“A!”
Kate nyaris berteriak kencang jika lelaki itu tidak membungkamnya dengan tangannya.
“Jangan bicara apa-apa lagi! Jadi aku mengikutimu sejak dari ruangan dokumen? Kamu mencampurkan banyak sekali deterjen hingga kau juga memasukkan oli di dalamnya? Kau tahu Catherine Bellka, kau telah merusakkan baju kesayanganku,” ucapnya dengan tatapan mata yang sangat tajam.
Kate membelalakan kedua matanya tanpa jeda mengunci netranya menatap mata hitam legam itu.
Jarak mereka kini hanya satu jengkal saja, Kate mendadak merasakan degupan jantungnya semkain kuat dengan nafas yang tersengal-sengal oleh rasa gugup.
“Emhmbhmp!” ucap Kate yang tidak bisa mengeluarkan suaranya dengan jelas karena tangan kanan Bryan menutup mulutnya.
“Kertas ini? Ide yang bagus! Tapi terlambat? Aku bukan pria yang suka ingkar janji karena aku tidak akan sembarangan membuat janji! Kau mengerti otak seksi!” ucap Bryan dengan tegas.
Pagar pembatas yang berada di belakang Kate terlepas dari ring penguatnya. Sekian detik menjeda membuat Kate merasakan tubuhnya limbung kehilangan penopang hingga sesuatu menariknya.
Tangan Bryan dengan cepat menarik tubuh Kate yang hampir saja terjerembab ke bawah sana.
Terdengar suara runtuhan pagar di bawah sana begitu kencang.
“Kau aman!” ucap Bryan sambil memeluknya sangat erat.
Kate tersengal-sengal. Dia mengeratkan pelukan Bryan karena masih merasakan sensasi melayang tadi ketika dia nyaris saja terjun bebas ke bawah sana.
Demikian dengan Bryan, pria itu juga merasa sangat kaget dengan ambruknya pagar pembatas itu.
Jeda panjang membungkam keduanya dalam dekapan yang memiliki makna sangat ambigu bagi mereka.
“Komandan!” ucap seseorang dari belakang Kate menyeru.
Kate merasakan tangan Bryan bergerak, namun pria itu tidak juga melepaskan pelukannya