Berangkat Ke New City

1047 Words
“Pak,” ucap Kate yang mulai menyadari apa yang mereka lakukan terlalu berlebihan sambil menatap lurus Bryan sambil menengadahkan wajahnya menatap pria itu. “Maafkan aku,” ucap Bryan sambil mengecup lembut bibir Kate. “Hah!” ucap Kate dalam hatinya sangat terkejut. Pria itu melepaskan pelukannya dan langsung berlalu, sementara Kate kini masih berdiri dengan rasa yang aneh. Bukan hanya Kate yang merasakan hal aneh itu. Bryan, lelaki itu juga terkejut karena untuk pertama kalinya dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Desiran hebat mengguncang tubuhnya ketika bola mata hazel Kate menatapnya. *** Dua hari setelah insiden di rooftop itu akhirnya Kate bisa merasa lega dan mulai menikmati hidupnya lagi. “Buket dari siapa?” ucapnya saat melihat sebuah buket indah dengan cukup banyak coklat di dalamnya tergeletak di mejanya. CATHERINE BELKA “Itu namaku,” ucapnya sambil membuka kertas yang terselip itu. Namun Kate tidak bisa menemukan apapun di dalamnya sehingga dia tidak tahu siapa pengirimnya. Kate kemudian meletakkannya begitu saja dan mengabaikannya. Kate memang tidak pernah mau lagi berurusan dengan sesuatu yang tidak dilakukannya. Dia kemudian mulai mengerjakan beberapa laporan yang beberapa hari ini belum selesai dikerjakannya. Suasana gaduh di ruangan ini tak dipedulikannya. Kate tetap fokus dengan pekerjaannya. “Semuanya, siapa yang akan ikut seleksinya? Formulir seleksi resmi sudah datang,” ucap Komandan Choi datang ke ruangannya dan memberitahu terkait formulirnya itu. Meski sempat ragu, akhirnya Kate mengacungkan tangan meminta formulir tersebut. “Aku mau Bu, aku ingin mencobanya,” ucap Kate yang sontak membuat semua mata di ruangannya itu menatap ke arahnya. Tak lama setelahnya mereka pun terbahak-bahak menertawakan keputusan Kate. “Kate, biar ku ingatkan … disana bukan untuk merapikan ruangan arsip atau mengetik ya?” ucap Audrey sangat sinis. “Audrey benar, jika masalah kecil di sini saja kau tidak becus bagaimana saat kau menjadi pasukan elite? Kau bahkan akan tersenggol sebelum seleksi dimulai,” ucap Komandan Choi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya kepada Kate. “Itu tidak masalah Bu, setidaknya aku sudah pernah mencobanya,” jawab Kate yang entah mendapat keberanian dari mana bisa mengatakannya sangat tegas. Audrey terlihat kesal mendengar jawaban tegas dari Kate tersebut. Namun di meja lainnya, Wilson justru mengacungkan jempol kepadanya. “Baiklah, isi semua sebelum jam kerja berakhir … kau akan membutuhkan stempelku Kate,” ucap Komandan Choi masih dengan tatapan tak percaya kepada Kate. “Baik Bu,” jawab Kate sambil meraih formulirnya. Sisa harinya ini kemudian dilanjutkan dengan mengisi lengkap formulir itu dan menyiapkan beberapa dokumen pendukung untuknya. Setelah mendapatkan stempel resmi dari Komandan Choi selaku atasan berwenangnya, kini Kate hanya tinggal menunggu surat jalan dari kantornya. Seleksi yang dilakukan selama lima hari ini akan menyita waktunya sehingga sebuah dispensasi khusus perjalanan dinas pun diberikan kantor kepadanya. “Pastikan kau tidak terlambat sampai di New City Kate,” ucap Komandan Choi ketika wanita itu hendak pulang. “Terima kasih sudah mengingatkan Bu,” jawab Kate penuh semangat. Saat jam kerjanya berakhir, Kate kemudian pulang dan bersiap. Setelah berhasil mengirimkan salinan file ke email resmi markas pusat untuk mengkonfirmasi pendaftarannya. Akhirnya Kate yang telah menunggu sekitar setengah jam dari konfirmasi pendaftaran pun menerima kode konfirmasi pendaftarannya dan kini dia hanya perlu registrasi ulang menggunakan kode konfirmasi yang diberikan yang oleh pihak markas pusat tersebut melalui email pribadinya. Setelah proses pendaftaran ulang secara online ini diselesaikan dengan benar, Kate pun akhirnya memutuskan untuk berbelanja beberapa hal yang akan dibawanya sebagai bekal. Dia benar-benar harus siap untuk berangkat menuju New City. Sekitar lima jam perjalanan harus ditempuhnya sementara dia bahkan belum memiliki tiket kereta ataupun tiket busnya. Hal ini semakin diperparah karena sudah akhir bulan dan dia tidak memiliki banyak pegangan uang. Terpaksa Kate pun mengambil dana tabungannya terlebih dahulu karena tidak memiliki uang tunai yang cukup. Setelah beristirahat dua jam, pada pukul sebelas malam Kate kemudian memutuskan berangkat. Bis yang akan ditumpanginya berangkat setengah dua belas malam ini dari haltenya sehingga Kate harus berada di halte sejak beberapa menit sebelumnya. “Okay, semua siap. Aku tak percaya aku akhirnya ikut seleksi ini,” gumamnya sambil menatap foto keluarganya yang tersimpan rapi pada sebuah meja. “Ayah, Ibu, kalian semua … aku akan menemukan orang itu!” ucapnya menguatkan lagi tekad untuk bisa menemukan pelaku pembunuhan keji terhadap keluarganya bertahun-tahun yang lalu. Sebuah tekad yang membuatnya kini berada di Kepolisian. Dinginnya malam malam ini, membuat Kate mengenakan mantel dan syal tambahan untuk menjaga suhu tubuhnya. Kate baru saja membuka pintu kamarnya saat melihat Wilson tengah berdiri di sana. “Kau sedang apa di sini?” tanya Kate sangat terkejut. “Tentu saja aku akan mengantarmu, perjalanan ke New City bukan sebentar. Aku akan menemanimu,” ucap Wilson. “Hey, kau ini kenapa? Di sana aku lima hari, apa yang mau kau lakukan dalam lima hari itu?” tanya Kate bingung. “Aku dapat izin,” ucap Wilson sambil mengibaskan selembar kertas kepada Kate. “Hah?” jawab Kate. Wilson tersenyum lebar. Kate pun tidak bisa menolaknya lagi. Dengan ditemani Wilson dia berangkat ke New City malam ini. “Ini seru ya, tidak kusangka kita akan menaiki bus malam bersama,” ucap Wilson sambil tersenyum kepada Kate. Kate sendiri sudah sangat mengantuk dan dia memilih tidur di sepanjang perjalanan. Bis ini memiliki ruang yang cukup luas pada setiap seat-nya sehingga dia bisa tidur cukup nyenyak di dalamnya. Tiba di New City pada pukul empat pagi, Kate kemudian membangunkan Wilson yang terlelap di sebelahnya. “Sudah sampai?” tanya Wilson sambil bersiap untuk turun. “Welcome New City!” ucap Kate yang untuk pertama kalinya menapakkan kaki di kota ini. Udara dingin yang jauh lebih sejuk dibandingkan Metropolis menyambutnya. Kabut tebal memenuhi sekelilingnya. “Kau harus menyiapkan sangat banyak mantel selama disini,” ucap Wilson. Kate hanya tersenyum. Keduanya kemudian sampai di Markas Pasukan Elite Kepolisian pada pukul enam pagi. Di pos jaga, Kate kemudian menyerahkan kartu identitas peserta seleksi kepada petugas jaga. Tak lama setelahnya dia masuk ke dalam dengan diantar oleh petugas khusus. “Good Luck Kate,” ucap Wilson. Pria itu kemudian melangkah masuk dengan kartu identitasnya menuju bagian dalam markas hendak menemui seseorang. Sementara itu di salah satu ruangan. “Peserta dengan nama yang Anda cari sudah tiba,” ucap seorang polisi kepada komandannya. “Baik, pastikan dia mendapatkan kesulitan dan laporkan kepadaku perkembangannya,” ucap Bryan kepada ajudannya itu dengan raut yang sangat dingin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD