“Catherine Bellka!”
“Aku!” sahut Kate sambil mengacungkan papan nama yang menggantung di dadanya.
Wanita ini kemudian melangkah ke sumber suara dan berbaris rapi di antara deretan peserta lainnya yang sudah dipanggil.
Jantungnya berdegup sangat kencang ketika menyadari hanya ada tiga atau empat nama Polisi Wanita yang mengikuti seleksi ini.
Tentu saja, persaingan menuju tempat ini bukanlah hal yang mudah. Kate sendiri sangat menyadari hal tersebut. Posisi dan jabatan elite yang terbatas memang sangat bergengsi. Namun, untuk mendapatkannya Kate tahu bukanlah hal yang mudah.
“Apa kau tidak salah tempat, Nona?” sapa seorang peserta seleksi kepadanya dengan tatapan menggoda sambil terus memandangi tubuh Kate.
“Fokus saja dengan rintanganmu, Bung!” ucap Kate sambil tersenyum dan terus berlari cepat melewati rintangan gawang yang masih menantinya itu.
Terdengar suara orang terjatuh lengkap dengan suara benda yang juga terjatuh di belakangnya.
Raungan meringis kesakitan kemudian terdengar setelahnya membuat Kate yakin jika peserta yang tadi mengajaknya bicara itu pasti sudah di diskualifikasi dari seleksi karena menjatuhkan gawang yang harus dilompatinya itu.
Kate semakin fokus. Kini dia masih berada di urutan ketiga dari delapan peserta.
Sementara itu, dari setiap putaran hanya akan ada dua peserta saja yang lolos ke tahapan berikutnya.
“s**t! Aku harus mengalahkannya!” ucap Kate sambil memfokuskan dirinya untuk menambah kecepatan lari dan lompatannya.
Jarak Kate dengan peserta di depannya itu hanya sekitar satu detik. Tapi dua peserta di depannya itu benar-benar sulit di kejar karena kecepatan mereka yang sangat konstan.
“Baiklah Kate! Melompat lebih dulu!” ucap Kate sambil langsung mengambil ancang-ancang untuk segera melompat meski jarak gawang masih sekitar satu langkah lagi.
Kate harus memangkas jaraknya dengan peserta kedua untuk bisa mendapatkan tiket lolos ke tahap berikutnya.
Wanita itu langsung melompat dan hampir saja … Kate membuat dirinya gagal jika saja dia tidak segera mengendalikan dirinya yang oleng saat melakukan pendaratan.
“Argh!” teriak peserta paling depan sambil langsung ambruk seketika.
Hampir saja, Kate berhenti untuk menolongnya.
“Jangan berhenti, terus saja berlari!” ucap peserta kedua yang kini sejajar dengannya itu mengingatkan.
Kate beruntung, dia mendengarkan pria tersebut dan meneruskan larinya.
***
“Kau sangat gigih! Harus aku akui kau wanita yang tangguh!” ucap peserta yang tadi bersamanya sambil mengulurkan tangan ke hadapan Kate.
“Terima kasih, untuk peringatanmu!” ucap Kate sambil mengulurkan tangannya hendak menyambut jabat tangan peserta di depannya itu.
“Aslan,” ucapnya.
“Catherine,” ucap Kate.
“Kau sendirian dari Departemen mu?” tanyanya.
“Iya,” jawab Kate sambil terus melangkah beriringan dengan Aslan.menuju ke deretan bangku di bagian pinggir lapangan.
Keduanya telah menenteng air mineral yang diberikan panitia lengkap dengan snack makan siangnya.
“Aku juga sendirian, aku bertugas di Departemen Kepolisian Bandara, kau?” tanyanya lagi sambil menyantap makan siangnya dengan tenang.
“Aku dari Kepolisian Kota Metropolis,” sahut Kate tak kalah cueknya.
“Hmm, pantas saja. Kepolisian di Kota membutuhkan banyak personil untuk patroli penyakit masyarakat bukan? Itulah kenapa mereka merekrut wanita sexy sepertimu,” ucap Aslan sambil melirik nakal ke arah Kate.
“Aku bekerja di bagian data dan juga kriminal,” ucap Kate datar.
“Uhukz!” Aslan langsung tersedak mendengar kalimat Kate barusan.
Sangat jelas jika kemampuan Kate telah diragukan pria tegap itu.
“Terima kasih, aku ingin sedikit jalan-jalan,” ucap Kate yang langsung kehilangan mood-nya setelah menyadari jika Aslan pun merendahkan kemampuannya setelah kegigihan Kate pada tahapan seleksi tadi yang cukup mengimbanginya.
Jeda istirahat makan siang masih setengah jam. Tapi Kate sudah merasa bosan.
Dia kemudian melangkah ke arah taman yang berada di pinggir lapangan luas ini. Kate tertarik dengan deretan pinus yang berjajar rapi di ujung lapangan ini.
Sementara Kate berjalan-jalan. Seseorang masuk di antara peserta mencarinya.
“Kemana dia?” ucap Bryan yang sedari tadi berkeliling tapi tidak juga bisa menemukan Kate diantara peserta yang tengah makan siang.
Tak ingin penyamarannya di antara ratusan peserta seleksi terbongkar, Bryan kemudian melangkah menuju ruangan nya kembali.
“Komandan, Anda?” tanya sang ajudan yang terheran-heran melihat Bryan mengenakan seragam training putih hitam polos seperti para peserta seleksi.
“Berhenti menatapku seperti itu! Kau mendapatkan pesanannya?” tanya Bryan sambil meraih handuk yang disodorkan sang ajudan kepadanya lalu mengelap wajahnya yang berkeringat.
“Siap sudah Komandan! Ini buketnya, sesuai dengan perintah Anda tulisannya masih kosong,” ucap sang ajudan kepadanya.
“Tuliskan Untuk Kate si Ceroboh! Dan jangan pernah mengingat kalimat itu!” Ucap Bryan lagi.
“Siap Komandan!”
“Jika sudah selesai, letakkan di dalam locker wanita itu,” ucap Bryan sambil melepaskan kaos putih yang dikenakannya itu.
“Wanita yang mana?” tanya ajudannya dengan sangat polos.
Sorot tajam Bryan langsung menusuknya, membuat ajudan tersebut langsung mengerti jika wanita yang dimaksud Komandannya ini pasti personil wanita yang tiba pagi tadi.
“Jangan sampai menuliskan namaku di sana!” ucap Bryan yang melihat tangan ajudannya tengah menuliskan nama pengirim di dalam buket tersebut.
“Siap!” Jawab ajudannya itu sambil kembali menutup spidol di tangannya.
Tak lama setelahnya, ajudan itu pun pergi.
***
Seleksi siang ini berlanjut, Kate sudah bersiap dengan pakaian renangnya.
Ya, tahapan seleksi berikutnya adalah berenang.
“Kau mau membuat pesta bikini di sini?” tegur salah satu Polisi Wanita yang menjadi panitia seleksi sambil menggeleng-gelengkan kepala menatapnya.
“Maaf, aku menggunakan pakaian yang disediakan panitia. Bukankah kami menggunakan pakaian yang sama?” ucap Kate tak terima dengan kalimat nyinyir dari seniornya itu.
Kate merasa kesal karena sedari tadi dia selalu saja dipandang rendah oleh alasan yang tidak masuk akal.
Smenetara di ruangan pengawas.
“Matikan saja monitornya selama para peserta wanita itu berenang!” Perintah Bryan dengan tegas ketika melihat Kate berada di tepi kolam bersiap untuk berenang.
‘Kenapa dia masih saja terlihat?’ gumam Bryan membatin.
Pria ini telah mengeluarkan aturan baru berenang untuk peserta seleksi wanita dengan menggunakan training khusus dan bukan bikini. Tapi apa yang terjadi? Pakaian renang yang diberikan panitia itu tetap saja terlihat seperti bikini di tubuhnya Kate.
“Komandan, bagaimana kita melakukan penjurian?” tanya seorang personil kepadanya.
“Peserta wanita hanya ada tiga orang, biarkan saja mereka lolos semua di sini! Tahap berikutnya, baru akan semakin menentukan, bukan?” Ucap Bryan sambil membuang wajahnya.
Dia tahu benar bagaimana sirat pandang dari para personilnya itu yang sedari tadi tengah memperhatikan tubuh molek Kate di monitornya.
“Waktunya hanya delapan menit untuk sampai, jadi kalian bisa membuka monitor itu lagi setelah sepuluh menit, mengerti?” ucap Bryan sambil melenggang pergi.
Kembali ke kolam renang.
“Hai, kau sangat hebat. Aku Hanna, dari Departemen Laboratorium Forensik,” ucap seorang peserta wanita kepadanya.
“Hai, Catherine. Kau juga luar biasa,” ucap Kate sambil mengelap rambutnya menggunakan handuk.
Dia kemudian masuk ke dalam ruangan penyimpanan menuju lockernya.
“Buket dari siapa?” Ucap Kate yang terkejut ketika melihat sebuah buket bunga yang indah berada di dalam lockernya.
Wanita ini menoleh ke kanan dan kiri serta kembali memastikan kunci locker miliknya memang benar terkunci.
“Hmm!” gumam Kate.