Misi Pertama

1085 Words
"Aku hanya berharap kau akan tetap baik-baik saja dan bisa berkeluarga," ucap Komandan Choi sambil tersenyum kepada Kate membuat pikiran gadis itu semakin ambigu. "Baiklah Komandan, aku harus pamit," ucap Kate. "Tentu, kau jelas tidak akan pernah lagi memiliki banyak waktu untuk kita. Semoga kita akan diertemukan takdir suatu hari nanti," ucap Komandan Choi dengan mata berlinang. Kate sendiri tak bisa menghindari rasa haru-nya. Dia benar-benar mencoba untuk menahan keharuan yang saat ini menyelimuti perasaannya dengan tetap tersenyum. *** Pukul sebelas siang, Kate sudah selesai berkemas. Sesuai dengan perintah, dia hanya membawa dokumen penting dan barang rivate nya saja dari kamar kost ini. Selebihnya, akan ada yang mengurusnya, begitulah Kate menerima pesan. Tanpa ponsel dan juga tanpa identitas. Kate kini hanya membekali dirinya dengan uang tunai, sebuah kartu tanpa serie dan juga alat komunikasi khusus yang tidak bisa diakses sendiri olehnya kecuali untuk mendapatkan pesan. Dengan menggunakan bis kota siang ini, Kate hendak menemui seseorang di Atrium Green Apartment. Pesan yang diterimanya pagi tadi, mengakhiri pesan tersebut dengan sebuah alamat yang harus dikunjunginya. Hanya seperempat jam dari lokasi kontrakannya tadi. Kate kini sudah berdiri di sebuah gedung elite yang terkenal sebagai apartemen para milyuner dan juga selebritas ternama di negara ini. 'Seperti mimpi, akhirnya aku masuk ke sini,' gumam Kate sambil melangkah masuk ke dalam gedung tersebut. Dia telah memegang sebuah kunci kamar. Sehingga langkahnya sangat mulus hingga di lantai 23 dimana kamarnya berada. Tidak ada yang berbeda di tempat ini, semua standar bintang lima dan semua tidak saling mengenal. Kehidupan yang hening dan sunyi di tengah bangunan juga interior yang sangat mewah yang menyelimuti seluruh detail bangunan ini. 'Ini kamarku,' ucap Kate sambil menggesek kartu kunci miliknya pada sebuah alat yang menempel di pintu. Hanya jeda beberapadetik berikutnya, pintu terbuka dan lampu di bagian dalam kamar pun langsung menyala. 'Waw!' Kate sangat takjub mengetahui isi di dalam kamarnya yang serba luxurious itu. Dia menjelajahi satu demi satu detail ruangan yang konon akan menjadi tempat tinggalnya sementara waktu ini. "Tidak buruk, apakah ini salah satu fasilitas EYES?" gumam Kate. "Tidak, ini adalah bagian dari misi!" ucap seseorang langsung membuat Kate terkejut. 'Suara itu?' Kate sangat mengenal suara itu dan dia langsung merasa gugup. Sementara suara keran air dari pintu yang terbuka dan juga aroma sabun yang mendadak tercium membuat Kate sangat yakin jika lelaki itu pasti baru saja mandi di dalam kamarnya ini. "Bagaimana Anda bisa?" ucap Kate sambil membalikkan tubuhnya. "Aaaaa!" Kate histeris saat melihat Bryan berdiri di sana hanya dengan handuk menutupi bagian bawah tubuhnya. "Kate! Tenanglah! Kau harus terbiasa," ucap Bryan dengan cuek. Dia kemudian melangkah ke arah meja makan dan mengambil dua botol air mineral dari sana. Kate masih bergeming. Dia sangat syock dengan apa yang baru saja di lihatnya. "Ayo duduk dan minumlah," ucap Bryan yang sudah duduk di sofa setelah meletakkan sebotol air mineral untuk Kate di meja. Kate melangkah mendekat masih dengan wajah menunduk. "Komandan B, tolong ... berpakaian saja terlebih dahulu. Karena penampilan Anda itu, membuat pikiranku kacau. Aku wanita normal," ucap kate sambil terus menunduk dan beberapa kali meneguk salivanya yang terus saja mengaliri kerongkongannya saat ini. Bryan tersenyum. "Kau harus terbiasa, kita akan bersama selama sekitar tiga minggu di sini. Kita bahkan harus berbagi ranjang yang sama," ucap Bryan sambil meneguk air minumnya dengan tenang. "Hahh! Kenapa? Itu tidak ada di dalam etunjuk dan pesan yang dikirimkan usat padaku," ucap Kate langsung menyela dengan bola mata melebar menatap Bryan. 'Sial, kenapa aku harus menatap wajahnya. Dia sungguh sexy. perfectly man,' gumam Kate yang tidak bisa mengingkarijika buliran air di rambut Bryan yang masih basah itu semakin membuatnya terpesona. "Kau kenapa?" tanya Bryan yang melihat Kate memandangnya seperti itu merasa heran. "Tidak, Komandan maafkan aku. Tolong ... pakai dulu pakaian lengkap Anda. kau sungguh jadi kacau karenanya," ucap Kate sambil melangkah ke arah kamar mandi untuk menenangkan dirinya. Bryan terkekeh. Sejujurnya, dia sangat senang dengan ekspresi wajah Kate barusan. Untuk kali ini, dia merasa sangat beruntung, misi pertama Kate melibatkannya langsung dan itu adalah perintah dari pusat. 'Ini misi terindahku,' gumam Bryan sambil melangkah ke kamar dan berpakaian. Kate masih berada di dalam kamar mandi. Dia sungguh harus menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum keluar dan kembali berhadapan dengan lelaki yang sejak kehadirannya terus saja membuat jantungnya nyaris terlepas itu. "Kate,kau baik-baik saja?" ucap Bryan setelah menggedor pintu kamar mandi. "Aku baik-baik saja Komandan," sahut Kate sambil membasuh lagi wajahnya. Setelah merasa tenang, Kate kemudian keluar dari kamar mandi dan menghampiri Bryan kembali. "Mana lencanamu?" tanya Bryan. "Lencanaku? di sana ... " sahut Kate sambil menunjuk jaketnya. Bryan kemudian mengambil jaket milik Kate dan mengeluarkan lencana wanita itu. Setelah mendapatkannya, Bryan kemudian menarik dua pipa kecil di balik lencana tersebut dan menyolokannya ke sebuah colokan listrik yang berada di dekat sofa. "Kenapa seperti itu?" tanya Kate heran. "Ini cara kau menggunakan lencanamu untuk mengetahui misi apa yang aktif untukmu," ucap Bryan. Kate mengamatinya dengan seksama dan membacanya secara rinci. "Ini sangat aneh," ucap Kate yang membaca misi pertamanya kali ini adalah menyamar di Atrium Green Apartment sebagai pasangan Collato yang tengah berbisnis di Metropolis demi mengetahui peredaran bisnis gelap di dalam atrium mewah yang memiliki keamanan sangat ketat itu. "Misi ku juga sama, kita menjadi partner kali ini," ucap Bryan sambil menyerahkan lencananya kepada Kate. "Untuk apa?" tanya Kate bingung. "Nyalakan dan baca misiku yang tersimpan di sana, aku tidak mau kau berprasangka buruk dengan keberadaanku di sini," ucap Bryan yang menangkap jelas jika Kate pasti berpraduga kepadanya. Kate mendelik tajam beberapa saat. Dia kemudian menyalakan lencana Bryan tersebut dan membaca misi lelaki itu. "Baiklah, Tuan Sam Collato," ucap Kate akhirnya menyerah setelah mengetahui misi yang diemban oleh Bryan memang sama dengannya kali ini. "Thankyou, Nyonya Collato," sahut Bryan sambil tersenyum puas menatap Kate yang saat ini tengah menggulungkan bibirnya sambil menyandarkan tubuhnya pada sofa. Tiga minggu, itulah waktu pengintaian Kate di tempat ini. Dia harus membaur dengan penghuni lainnya dan mengikuti beberapaaktifitas di tempat ini untuk mendapatkan informasi. Tidak sulit untuknya. Tapi, menjadi Nyonya Collato, itulah yang membuatnya gemetar disko. "Sore nanti kita akan berenang di kolam renang publik yang ada di lantai 30, bersiaplah. Semua yang kita butuhkan seharusnya sudah tersedia di lemari kita," ucap Bryan sambil berbaring di ayunan besar yang menghadap ke arah luar apartemen tersebut. Jendela luas yang menjadi dinding keseluruhan apartemen ini membuat kamarnya ini memang bisa mengakses pemandangan di luar sana dengan sangat jelas. "Ayo, duduklah di sini bersamaku," ucap Bryan sambil melambaikan tangannya kepada Kate. 'Demi apapun, kenapa dia mengajakku duduk di ayunan itu?' gumam Kate sambil melangkah bimbang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD