"Kau kenapa? Seperti melihat hantu saja menatapku?" ucap Bryan sambil mengosongkan tempat disebelahnya dengan mengangkat bantal yang berada di sana.
Kate merasasangat gugup. Dia duduk di sana.
"Indah bukan?" ucap Bryan sambil menatap ke depan sana.
"Ternyata, puncak gunung di sana jauh lebih indah dilihat dari sini ya," ucap Kate terpukau.
Bryan mengangguk.
"Malam nanti, kita akan perkenalan. Untuk sebuah apartemen ini terasa berlebihan bukan?" ucap Bryan.
"Perkenalan? Dengan siapa?" tanya Kate heran.
"Ini juga aneh menurutku, tapi saat aku check in dan melakukan pembayaran. Mereka memberikan undangan invited night ini untuk kita," ucap Bryan sambil menyerahkan sebuah kartu undangan berwarna merah maroon kepada Kate.
"Ini terlihat sangat private," ucap Kate.
"Kau benar sekali. Jadi, ayo kita periksa data apa saja yang kita miliki," ucap Bryan sambil melangkah ke arah meja.
Kate menunggu di ayunan tadi dengan tetap menikmati pemandangan di luar sana.
"Ini adalah data dari orang-orang yang tinggal di sini. EYES mempunyai sejumlah masa lalu dengan mereka semua dan yang terutama adalah nama ini. Pasangan muda yang saat ini menjadi tetangga kita di sebelah. Kedua orang ini adalah salah satu target utama kita," ucap Bryan sambil menunjukkan foto pasangan istri tersebut kepada Kate.
"Joan dan Chris ... mereka adalah pemain profesional tenis lapangan bukan? Aku melihat wajah mereka hampir di sejumlah iklan belakangan ini," ucap Kate dengan sangat polos menjawab.
"Kau benar sekali. Joan dan Chris mendadak menjadi sangat terkenal setelah mereka memenangkan turnamen terakhir dan itu juga menjadi sebuah tanda tanya besar karena kolega yang mereka miliki tidak pernah berkaitan dengan perusahaan besar kecuali promote langsung dari agensi yang menaungi mereka. Hanya saja ... perubahan aset yang mendadak di dalam laporan harta kekayaannya akhir tahun kemarin membuat banyak hal memungkinkan untuk mencurigai mereka terlibat dalam bisnis gelap," ucap Bryan menjelaskan panjang lebar membuat Kate menganguk-angguk mengiyakannya.
"Apakah itu berarti kita akan memata-matai dan mencari tahu keterlibatan mereka dengan bisnis haram?" ucap Kate sambil terus membaca bio profil dari kedua orang tersebut dengan seksama.
"Aku tidak bisa memastikan hal tersebut, hanya saja tugas kita saat ini memang mencari tahu kehidupan pribadi dari Joan dan juga Chris yang mendadak tertutup dari publik sejak mereka terlibat sejumlah iklan besar tersebut," ucap Bryan sambil menunjukkan beberapa media massa dan beberapa kabar lainnya yang memuat target mereka.
"Aku tidak tahu jika menjadi seorang EYES berarti akan seperti ini, sejujurnya aku takut Komandan," ucap Kate akhirnya mengungkapkan isi hatinya itu kepada Bryan.
"Aku tahu itu. Kau sudah mengatakan itu pada setiap lembaran psikotes yang kau ikuti," ucap Bryan sambil melangkah menuju kamar mandi.
Kate terus memperhatikan dan membaca berulang kali bio profil dari Joan dan Chris. Wanita ini juga mulai mengingat wajah dari keduanya supaya bisa mengenali pasangan itu saat mereka berada dalam Invitated Night malam nanti.
***
"Hei kau mandilah dulu karena kita tidak punya banyak waktu, jam makan malam pukul 07.00 kita tidak boleh terlambat atau itu akan membuat kita semakin terkenal nantinya," ucap Bryan yang melangkah keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk itu membuat Kate langsung menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya dan langsung menghambur pergi ke arah kamar mandi.
"Tolong jangan gunakan handuk seperti itu lagi, aku menjadi tidak fokus," teriak Kate dari dalam kamar mandi.
Bryan yang mendengarnya tersenyum sangat manis sekali.
"Kau ini," gumam Bryan sambil mengenakan setelannya yang juga sudah disiapkan oleh tim mereka di dalam lemari.
***
Lima belas menit berlalu, Kate baru saja selesai mandi sementara Bryan sudah sangat siap dengan setelan makan malamnya. Pria itu menunggu sambil duduk tenang di sofa.
"Pakaianmu sudah ada di lemari dan pastikan mengambil pakaian yang serasi dengan bajuku kali ini. Tim kita sudah menyiapkan semuanya secara berurutan jadi jangan mengacak-ngacak karena aku tidak suka lemari yang berantakan!" ucap Bryan dari luar kamar dengan suara lantang membuat Kate menjadi sebal.
"Dia kira aku tidak bisa mengambil baju dengan rapi apa?" ucap Kate menggerutu.
Wanita itu kemudian mengambil salah satu gaun yang sudah tidak memiliki pasangan tapi detik berikutnya hal yang tak diinginkannya justru terjadi.
Sejumlah baju yang tergantung di dalam lemari itu terjatuh dan membuat Kate sangat terkejut hingga dia langsung berteriak.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" teriakan Kate membuat Brian sangat terkejut mendengarnya.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," sahut Kate sambil bergegas merapikan pakaian yang berantakan itu dan berharap Bryan tidak mengetahui jika dia telah menjatuhkannya.
"Aku tidak bisa menggunakannya," gumam Kate setelah beberapa menit berlalu.
"Kau ini kenapa? Ada masalah apa dengan pakaianmu?" tanya Bryan lagi.
"Pakaian ini terlalu sempit dan kekecilan, tidak muat untukku," jawab Kate lagi.
"Buka saja pintunya! Aku harus tahu. Bagaimana aku bisa membantumu jika aku tidak mengetahuinya," kali ini Bryan langsung mendobrak pintu yang terkunci oleh Kate itu dan langsung masuk untuk memastikan kondisi Kate.
Bryan melongo, di depannya itu kini Kate tengah berdiri dengan gaun yang dipakainya separuh.
"Tolong aku, ini membuatku kesulitan," ucap Kate dengan wajah yang merona malu mengatakannya.
"Kau bilang baju ini tidak muat?" tanya Bryan bingung karena melihat bagian punggung wanita itu sudah tertutup rapi.
"Iya, sangat tidak muat terutama di bagian ini," ucap Kate dengan wajah bingung mengatakannya.
"Kau ini bisakah tidak usah bertele-tele? Mana yang tidak muat dan kau hanya perlu menyesuaikannya saja dengan pakaian lain jika perlu," ucap Bryan sambil memutar tubuh Kate setelahnya.
"Apa?" ucap Bryan sambil meneguk salivanya berulang.
"Kau ini kenapa menggunakan pakaian seperti ini! Ayo ganti!" teriak Bryan dengan sangat gugup.
Sementara Kate kini tetap berdiri di sebelahnya dengan tangan menutupi buah kembarnya yang nyarismeloncat keluar dari pakaiannya akibat ukuran bajunya yang kesempitan.
'Sial! Semua bajunya bermodel begitu?'umpat Bryan di dalam hati sambil terus menghamburkan pakaian Kate yang ada di dalam lemari pakaian tersebut.
Kate yang sedari tadi diam, kini mencoba membantu dengan memilih baju bersama Bryan.
Tapi hal ini justru membuat Bryan terganggu.
"Kau diam saja di sana, gerakan bulatanmu itu membuatku tidak bisa fokus!" ucap Bryan yang tidak bisa memungkiri jika benda kenyal di bagian depan tubuh Kate itu sangat mendesirkan hasratnya.
"Maaf," ucap Kate sambil mundur dan menjauh ke belakang dari posisinya saat ini.
"Kenapa tidak ada baju dengan stelan lainnya? Apa dia harus memakai semua baju kesempitan?" ucap Bryan sambil meraih telepon dari saku celananya.
Dia menelepon seseorang dari tim perencana yang memang bertugas menyiapkan perlengkapan mereka itu.
["Kami sudah mencari yang terbesar, tapi memang ukuran bendanya itu terlampau besar jadi kami tidak mendapatkan stocknya. Kami kira ukuran itu akan sedikit ketat saja,"]
"Baiklah sudah, aku akan mencarikannya baju sendiri!" ucap Bryan sambil menutup sambungan teleponnya itu.
Dia kemudian memutar otak mencari cara untuk mendapatkan pakaian yang sesuai untuk Kate.
"Baiklah, aku punya ide," ucap Bryan sambil membongkar semua baju dari dalam lemari tersebut.