"Apa yang Anda lakukan?" ucap Kate saat melihat Bryan menggunting sebuah jas berwarna senada dengan jas yang dikenakannya meski sedikit lebih soft.
Bryan tak menjawab. Lelaki itu memilih diam dan terus fokus menggunting jas tersebut.
"Tetaplah diam di sana! Jangan membuatku gugup dan gemetar, atau aku akan menjadikanmu makan malam nantinya!" ucap Bryan yang langsung membuat Kate menghentikan gerakannya.
Dia terus mematung di sudut kamar.
Hingga jeda menit berikutnya, Bryan menghampirinya.
"Pakai ini untuk menutupi tanganmu," ucap Bryan sambil menyerahkan sebuah cardigan darurat untuk dipakai oleh Kate.
Senyuman pun mengembang di wajah Kate.
Wanita itu tidak menduga jika Bryan ternyata tengah berusaha membuatkan cardigan untuk menutupi lengannya yang terbuka itu.
"Bangunlah, balutkan ini di bendamu itu," ucap Bryan sambil menyerahkan sebuah scraft panjang kepada Kate.
Dengan wajah yang bingung, Kate menatap Bryan.
Dan Bryan langsung membuang wajahnya karena dia tak pernah sanggup memandangi wajah jelita Kate yang belakangan ini terus mengganggu tidurnya itu.
"Pak, aku harus bagaimana?" tanya Kate lagi.
"Ahh, kau balutkan saja dan ikatkan," ucap Bryan sambil terus berusaha menjauhkan pandangannya dari benda kenyal Kate itu yang terus menerus memompa fantasy-nya.
"Apa seperti ini?" tanya Kate sambil menyimpulkan scraft itu menjadi sebuah pita di bagian dadanya.
"Tidak Kate! Itu justru semakin membuatmu menggoda mata lelaki!" ucap Bryan sambil mendengus kesal.
Lelaki itu akhirnya menguatkan tekadnya dan langsung mengambil alih scraft tersebut lalu melepaskan ikatannya dna membalutkannya ke arah belakang. Membelitkannya sekali lagi untuk memastikan benda kembar Kate itu tertutup rapi sebelum akhirnya menyimpulkan bagian ujungnya dengan sangat kuat di punggung Kate.
"Jauh lebih baik, dan jangan kau lepaskan outernya ini, faham!" ucap Bryan sambil merapihkan lagi cardigan dadakan buatannya itu.
Kate kini tersenyum. Gaun bereblahan d**a sangat rendah itu kini sudah nyaman untuknya berkat tambahan aksen scraft buatan Bryan tadi.
"Kancingkan ini dan jangan membungkuk selama di sana!" ucap Bryan lagi.
Lelaki itu tidak mau belahan d**a Kate dinikmati mata lain.
"Baik," ucap Kate sambil bersiap lagi merapihkan rambut dan riasannya.
Lima belas menit berikutnya.
"Aku sudah siap," ucap Kate kepada Bryan.
Senyuman tipis yang sarat keambiguan menyapu wajah Bryan.
"Kemarilah, kita akan melengkapi diri dengan peralatan kita," ucap Bryan sambil membuka koper hitam di depannya.
Kate menurut.
Sebuah mikrochip kemudian disematkan sebagai giwang di telinga Kate, sementara sebuah tato kecil yang berada di ceruk leher Kate adalah sebuah alat pelacak digital yang terhubung dengan markas pusat EYES.
Semua hal yang dilihat, di dengar dan dirasakan Kate juga Bryan akan terhubung dengan operator di markas pusat EYES.
"Jangan mendesah, karena itu akan membuat para operator gelisah," ucap Bryan menggoda.
["Kami mendengarmu, B!"]
"Waww, benda kecil ini benar-benar membuat kita terhubung dengan markas?" ucap Kate sangat antusias.
["Welcome, Key"]
Kate tersenyum mendengar sahutan dari operatornya itu.
[Kami di sini mengawasi kalian, bahkan ... kegelisahan B saat ini,"]
Bryan yang mengenali si pemilik suara langsung mendengkus sebal.
"Kevlar! Kau disana rupanya," ucap Bryan.
["Sure baby ... aku tidak akan meninggalkanmu."]
"Shut up!" ucap Bryan sambil terkekeh.
Mereka kemudian berjalan keluar dari kamar dan mulai berbaur dengan penghuni lainnya yang ternyata sudah bersiapjuga menuju ruangan makan malam.
"Baiklah, istriku ... ayo kita menikmati makan malam bersama tetangga baru kita," ucap Bryan sambil mengalengkan tangan Kate di lengan kirinya.
Kalimat Bryan tersebut langsung menarikperhatian para penghuni lain yang berada di dekatnya.
"Sepertinya, kalian penghuni baru sekaligus pasangan baru," sapa seorang wanita dengan gaya berkelas dan juga OOTD yang sangat luar biasa waw itu kepada Bryan dan juga Kate.
"Benar sekali, salam kenal," ucap Kate berusaha ramah.
"Hai,kau punya suami yang sanagt menarik. Be careful! Banyak wanita yang kesepian tapi memiliki segalanya di tempat ini," bisik wanita parlente itu kepada Kate.
"Benarkah?" sahut Kate dengan sangat terkejut.
"Benar sekali," ucapnya sambil terus menatap Bryan.
Bryan yang sedari tadi merasa jika wanita itu terus memperhatikannya, mulai jengah.
"Sayang, ayokita ke sebelah sana dulu. Aku melihat loket penjual bunga kesukaanmu," ucap Bryan sambil berpamitan wanita tersebut dan terus menggandeng Kate ke arah both bunga segar yang berada di dekat pintu menuju balkon di lantai tujuh ini.
"Pak, aku ... tidak terlalu suka bunga," bisik Kate.
"Aku tahu, ini hanya pengalihan," jawab Bryan sambil tetap membeli setangkai bunga mawar merah untuk Kate.
Selesai dengan bunga itu, Bryan kemudian mengajak Kate masuk ke dalam.
Sebuah meja melingkar sangat besar menjadi central cara invitated night ini. Sepertinya, ini emmang menjadi sebuah ritual yang tidak bisa ditolak oleh semua penghuni di tempat ini.
["B, maju lebih ke arah kanan. Ada banyak identitas muncul dan bisa kami dapatkan."]
"Baiklah, sayang ... ayo kita mengambil buah," ucap Bryan sambil terus menggandeng Kate di sebelahnya.
Bryan tidak ingin berjauhan. Bukan hanya karena ini adalah misi pertama Kate, tapi juga karena sejumlah nama lama ternyata berada di tempat ini.
"B, bukankah itu tanda seorang agen EYES?" tanya Kate.
"Apa? Dimana? Oh tidak, bagaimana bisa?" sahut Bryan sambil memperhatikan seseorang di depannya yang tengah berbincang dengan seorang pria yang menjadi target misi keduanya.
["Tidak ada lagi agent yang diaktifkan! Bagaimana dia bisa berada di sana?"]
"Aku juga tidak tahu, tapi ... apa dia terverifikasi?" ucap Bryan sambil mengamati sekelilingnya.
["Data dia terblok! Dan ID agent OFFLINE!"]
"Baiklah, terus awasi di sekeliling kami," ucap Bryan menambahkan.
"Hai, ayo ... di sebelahku ini masih kosong," ucap wanita yang tadi berpapasan di koridor kepada Bryan.
Langkah Kate dan Bryan sangat malas, tapi mereka tak memiliki pilihan mengingat di kursilainnya pun sudah mulai penuh.
"Baiklah, ayo bergabung," ucap Kate mencoba menengahi situasimeski dia sudah melihat Bryan sangat kesal.
Acara makan malam ini menjadi semakin meriah karena memang semua penghuni diwajibkan hadir dalam makan malam ini.
"Kau masih sangat baru bukan, jadi sebaiknya ... jangan pernah melewatkan makan malam dengan Invitated Night seperti ini jika kau tidak ingin terjadi sesuatu yang kacau dalam hidupmu," ucap wanita itu kembali memebrikan informasi kepada Kate.
"Begitu ya, apakah Anda sudah lama berada di sini?" tanya Kate semakin intens mencari informasi.
Wanita itu mengangguk.
"Andai bisa, aku ingin pergi jauh dari griya tawang mengerikan ini," ucapnya dengan sorot yang ,mendadak sangat putus asa.
Kate mengeratkan genggamannya di tangan Bryan. Dia tengah meminta bantuan.
"Sebelum malam seperti ini tujuh tahun lalu, aku memiliki hidup yang sangat keren," bisik wanita tadi kembali membuat Kate bingung.
"Tuan dan Nyonya, undangan platinum untuk Anda, silahkan masuk dengan para VVIP di meja utama," ucap seorang pramusaji kepada Bryan sambil menunjuk ke arah kejauhan di mana beberapa orang tengah menatap kearahnya.
"Kate, tetap bersamaku," bisik Bryan sambil melingkarkan lengan kanannya di pinggang wanita itu.