bc

My Tetangga Is My Husband

book_age18+
6.2K
FOLLOW
77.9K
READ
contract marriage
love after marriage
goodgirl
sensitive
boss
drama
tragedy
comedy
sweet
humorous
like
intro-logo
Blurb

Warning cerita mengandung unsur 18+

"ASTAGA! KALIAN NGAPAIN, ITU?!" teriak salah satu tamu yang datang.

Anindira dan Evano terkesiap lalu berdiri, Anindira dibuat pucat, karena merasa kepergok.

"Tante, ini gak seperti apa yang Tante, lihat," jawab Anindira panik namun juga berusaha meyakinkan.

Sementara itu, laki-laki di sebelahnya justru berusaha menahan senyumnya. Entah itu bermaksud apa. Tapi yang jelas itu sangat menyebalkan.

Memang laki-laki itu harus berobat pada Anindira, saat seperti ini masih bisa-bisanya tersenyum. Padahal mereka berdua sedang dalam keadaan genting!

Bagaimana jadinya jika Anindira harus menikah dengan tetangga depan rumah yang super-super menyebalkan?

Mungkin auto dia yang akan ke Psikiater!

Cerita ini sudah tamat.

chap-preview
Free preview
PROLOG

PERINGATAN : DILARANG KERAS UNTUK MEMBAGIKAN ISI CERITA WALAU HANYA 1 EPISODE ATAU BAHKAN DUA PARAGRAF!! MEMBAGIKAN ISI CERITA KE TEMAN, SOSIAL MEDIA, KELUARGA ATAU KE SIAPAPUN SAMA SAJA MEMBAJAK CERITA INI YANG MANA AKAN DIKENAKAN PASAL PEMBAJAKAN!

LEBIH BAIK, AJAK TEMAN, SAUDARA, KELUARGA ATAU YANG LAINNYA MEMBACA CERITA INI DI APLIKASI INI.

Yang diperbolehkan adalah membagikan judul atau link cerita ini. Selain itu, sangat dilarang keras!!

SEKALI LAGI, PEMBAJAKAN ADALAH PELANGGARAN HUKUM YANG AKAN DIKENAKAN SANGSI APABILA DILANGGAR.

JADILAH PEMBACA YANG BIJAK, DAN TAAT SERTA TAKUT PADA HUKUM!

______________________________________

Anindira Maheswari perempuan yang terkenal cantik namun sedikit cuek dan manja, sedang  mengeram frustasi akibat kelakuan tetangga depan rumahnya itu. Ia selalu berfikiran kalau mungkin saja anak dari tetangga depan rumahnya itu mempunyai gangguan mental.

Ia tidak habis pikir, mengapa Evano, tetangganya  itu sangat terobsesi dengan musik? Yang semakin membuatnya tak habis pikir adalah laki-laki itu dengan santainya memutar musik di jam yang masih terbilang pagi, yakni pukul 6.01. 

Sungguh?! Masih pagi banget!

"Oli bekas, punya kuping gak sih!" geram Anindira sambil menendang selimut agar segera terlepas. Dengan perasaan kesalnya Anindira menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dengan kasar lalu ia berjalan dengan langkah  cepat menuju pintu utama rumahnya.

Di halaman depan rumahnya, Anindira berkacak pinggang sambil menatap sengit Evano di seberang sana yang justru asik dengan sepeda motornya. Laki-laki itu terlihat sedang mencuci transportasi beroda dua miliknya.

"Oli bekas! Matiin musiknya atau elo yang gue matiin!" ancam Anindira berteriak, hingga urat di lehernya terlihat jelas.

Evano tidak menggubris. Jelas lah, laki-laki itu memutar musik dengan volume keras. Evano hanya memperhatikan Anindira sekilas sebelum akhirnya fokus kembali pada motor besar berwarna merah miliknya.

Ayolah, Anindira hanya ingin bersantai di hari minggu yang tentram ini. Iya tentram, sebelum Evano membuyarkan mimpinya dengan musik sialan itu. 

"Eh, ada si tepos, tumben pagi-pagi udah stand by di depan rumah, mana masih pakai piama dan ... rambut lo abis kesetrum listrik?" ejek Evano setelah selesai mengelap motor kesayangannya.

Anindira mencibir, karena memang tidak dengar apa  yang laki-laki itu katakan. Mungkin jika dengar, Anindira akan marah-marah.

"Evano, tolong matiin tuh musik!" geram Anindira lagi. Ia sudah tak memusingkan bagaimana penampilannya pagi ini.

Evano Arion Mahaprana, seorang pemilik bengkel ternama menoleh ketika telinganya mendengar  geraman Anindira saat musik yang diputarnya mulai dipelankan volumenya.

"Oh, jadi elo mau gue matiin musiknya?" Evano menaikan satu alisnya.

Anindira mengangguk-angguk tanpa meninggalkan muka kesalnya. 

"Sini dong, matiin sendiri, elo gak liat gue lagi apa?"

Anindira berdecak sebal. Tidak akan mau, kalau ia harus ke rumah laki-laki itu. Lagi pula, Anindira sudah pernah bilang pada Evano kalau ia tidak akan menginjakan kakinya di rumah Evano kecuali jika Mita atau Prana--orang tua Evano--yang memanggil dan jika Kaswari, ibunya yang menyuruh.

Itu adalah bentuk proklamasi tak tertulis dari Anindira untuk Evano. Lebih tepatnya terkhusus untuk Evano.

Anindira cukup lega, ketika tanpa Evano sadari suara musik yang laki-laki itu putar tidak sekeras sebelumnya. Malas untuk berdebat lagi, Anindira hendak masuk ke dalam rumahnya namun saat kakinya sudah berada di ambang pintu laki-laki itu justru mengeraskan volume musiknya lagi. 

Mata Anindira membulat, kedua tangannya mengepal kuat-kuat. Tanpa memutar tubuhnya Anindira memutar kepalanya 90 derajat hingga mata bulatnya itu menatap sengit ke arah Evano. 

Laki-laki itu justru tertawa melihat Anindira yang kesal karenanya, memang enak mengerjai tetangga. 

Anindira menghentakan kakinya, merasa frustasi karena laki-laki gila di seberang rumahnya. Evano justru tertawa terbahak-bahak karena tingkah Anindira.

Namun, tiba-tiba Evano meringis saat tangan Mita, ibunya menjewer kuat telinganya. 

Mita seperti Anindira. Tidak suka kebisingan.

Anindira yang masih berada di ambang pintu tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Sepertinya karma untuk Evano sudah datang.

"Matiin musiknya Evano! Kamu pagi-pagi bikin tetangga sebelah jantungan!" omel Mita menyuruh Evano untuk mematikan musik yang diputarnya. Tidak wajar juga jika pagi-pagi begini memutar musik dengan suara keras, apalagi tetangga sebelah rumahnya ada anak bayi, bisa jantungan, 'kan.

"Iya, iya Ma. Tapi jangan dijewer juga, malu kan sama Anindira," kesal Evano setelah telinganya itu terlepas dari tarikan ibunya. Mita melirik Anindira sekilas dan tersenyum meminta maaf.

"Santai aja Tante," sahut Anindira, mencari muka, padahal sedari tadi yang musuh-musuh karena suara keras musik Evano adalah dirinya.

"Dih, kutil sapi pinter banget cari muka," gumam Evano pelan.

"Tuh, kamu juga harus minta maaf sama Anindira."

"Dih, ogah!"

Mita melirik Evano kesal, karena malas, ia masuk ke dalam rumah ketika musik sudah Evano matikan. Sedangkan Anindira masih tertawa hingga matanya yang bulat menyipit dan gigi gingsulnya terlihat.

Evano justru memasang wajah masamnya sambil mengelus telinga yang dijewer oleh Mita. 

"Mamam tuh telinga merah! Hahahah!"

Anindira mencoba menghentikan tawanya lalu masuk ke dalam rumah. Sepertinya, Evano memang harus berobat padanya. Sepertinya Evano menderita kelainan jiwa jadi berobat di Psikiater seperti Anindira ini salah satu solusinya, 'kan?

"Awas aja lo kutil sapi!"

****

Ini kisah seorang perempuan yang berprofesi jadi Psikiater di salah satu rumah sakit di kotanya, bertetanggaan dengan laki-laki seusianya yang berprofesi sebagai pemilik bengkel ternama di kotanya.

Dua orang yang tak pernah akur tapi karena sebuah kecelakaan kecil membuat mereka dijodohkan oleh kedua orang tua mereka.

Kira-kira gimana cerita selanjutnya ya?

#MyTetanggaIsMyHusband

#Zaynriz

#InnovelRomanceComedy

#BacaaanYangWajibDibaca!

Biar gak repot aku langsung kasih linknya : h****://m.dreame.com/novel/jvGRKnIw0gLYorEJx1pO4A==.html

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dear Pak Dosen

read
379.4K
bc

Ex My Boss

read
87.8K
bc

Merah Hitam Cinta

read
277.9K
bc

Pernikahan Sementara

read
229.3K
bc

CIA

read
72.9K
bc

Cici BenCi Uncle (Benar-benar Cinta)

read
172.0K
bc

Friend Sleep

read
427.0K