SEPARUH AKU BAB III

1016 Words
Asisten ayah Adam bekerja dengan sangat cepat, dia sudah menemukan banyak bukti skandal seorang Clarisa. Clarisa memang memiliki paras wajah yang cantik, dia selalu menjadi yang terbaik dalam setiap acting tidak di pungkiri setiap nominasi film kategori terbaik selalu di menangkannya. Bahkan para produser menginginkannya hanya one night stand untuk menaikan popularitasnya. Adam lelaki yang menutup mata akan hal itu, saat dulu dia berkenalan dengan Clarisa dia di kenalkan oleh rekan dan sahabatnya, Bryan yang menjadi salah satu produser di stasiun televisi. Dan pikir Adam Bryan sangat profesional karena dia sangat bisa memilih mana pekerjaan dan masalah pribadinya, sehingga siapa yang di kenalkan oleh Bryan pasti yang terbaik. Bryan memang sahabat Adam namun tidak sekaya Adam, Membuatnya merasa iri dengan apa yang dimiliki keluarga Mahendra, dengan mengenalkan Clarisa maka dia bisa menjadikan Clarisa sebagai pion dan bonekanya. Karena Bryan tahu Clarisa mencintainya bahkan di saat Bryan tidak memiliki uang Clarisa rela menjajakan tubuhnya demi memenuhi kebutuhan Bryan. Dan sikap Bryan yang lembut dan baik terkesan tidak memiliki niat buruk membuat Adam percaya begitu saja dengan dia. Bahkan di manfaatkanpun Adam tidak merasa. Tapi Adam masih di bilang sehat finansial. Karena memang kekayaannya tidak terhitung karena omset yang tidak bergerak sangat banyak, namun yang di berikan kepada Clarisa hanya bagian cuilan kecil saja. Bryan selalu menyuruh Clarisa untuk bisa mendapatkan status pernikahan dengan Adam, dengan iming-iming dia akan menikahi Clarisa suatu saat kelak. Flash back on " Clay, kamu sudah menjadi bintang yang terkenal akan mudah bagi mu mendapatkan lelaki kaya, apalah aku yang produser ini hanya memakan gaji ala kadarnya " ucap Bryan memelas. " kak, jangan bilang seperti itu aku bersinar karena kakak yang jadi penerang buat hidupku, di saat aku tak berdaya kakaklah yang menolong ku sampai di titik ini, aku akan melakukan apapun untuk membalas kebaikan kakak, aku harap film-film yang kakak produseri bisa booming dan kakak tidak tombok lagi " ucap Clarisa dengan senyum manjanya. " iya cantik, kamu tahukan film yang akan kakak produksi biayanya sangat mahal dan harus ambil gambar di luar negeri, dan kakak kekurangan sponsor untuk itu, kamu bisa kan bantu kakak sekali lagi " ucap Bryan. " baik kak apapun itu aku akan aku lakukan kak " ucap Clarisa. Bryan yang bahagia bisa memanfaatkan Clarisa hanya tersenyum tipis tanda kepuasannya, Senyum palsu yang sama sekali seorang tidak akan tahu. Dia bagai iblis yang menyamar menjadi malaikat terang. Bryan mencium Clarisa dan b******u dengannya di apartemen Bryan. Sesuai melakukan hubungan intim itu Bryan mencuci tubuhnya bersih sebersih-bersihnya. Sejujurnya jijik sekali dia melakukan dengan Clarisa yang biasa tidur dengan pria manapun. "jalang kecil selama kamu bisa memberikan apa yang aku mau, aku akan tetap mempertahankanmu, tapi jika kamu sudah tidak berguna lagi aku akan membuangmu , jijik aku melihat wajah cantikmu yang begitu banyak di nikmati semua orang, kamu hanya bagian kecil dari rencanaku, pion tidak berharga " guman Bryan sambil menatap tubuh Clarisa di bawah selimut tebal karena kelelahan akibat pergulatannya di ranjang tadi. FLASHBACK OFF *** Di Rumah Sakit, Sofia mondar - mandir menunggu para dokter yang sedang menanggani ibunya. 1 jam berlalu ahkirnya sang perawat keluar dari ruang IGD memberikan hasil observasi dari rumah sakit. " keluarga bu Maryatun " panggil sang perawat begitu keluar dari ruang IGD. " saya bu " ucap Sofia sambil berdiri dan berlari menghampiri sang tenaga Medis tersebut. " mari ikut saya untuk menyelesaikan administrasinya karena bu Maryatun masih harus di observasi dan rawat inap di sini " ucap tenaga medis mengarahkan Sofia ke tempat pendaftaran untuk mencari kamar untuk sang ibu. Sofia mengikuti petunjuk yang di berikan oleh sang perawat itu. Dia sudah mempersiapkan beberapa surat-surat yang biasa di bawa untuk mengklaim asuransi kesehatannya. Saat dalam pendaftaran rincian habisnya penanganan di IGD begitu terinci dan beberapa obat tidak bisa di cover dengan memakai Asuransi membuat tubuh Sofia lemas karena dia tidak memegang uang sama sekali. " mbk, ini rincian biaya yang harus mbk bayarkan " ucap tenaga medis tersebut. " sus, apa masih kami di berikan waktu untuk membayar rumah sakit ini karena kami saat ini hanya mempunyai kartu asuransi ini " ucap Sofia sambil menunjukan kartu Asuransi yang di bawanya. " iya mba, bisa tapi maaf sekali ada biaya yang tidak bisa di cover asuransi tersebut sehingga harus di tanggung oleh mba secara pribadi, sebisa mungkin tolong usahakan uang 10 juta untuk biaya ini, karena penyakit dalam ibu memang sudah akut, itu hanya biaya awal mba, masih ada biaya yang akan di tangguhkan lagi kepada mb, supaya ibu mb, mendapatkan perawatan yang lebih baik lagi " ucap sang suster. Bagi Sofia uang 10 juta sangatlah besar dapat dari mana dia uang sebanyak itu sambil melamun di depan suster tersebut. Sang suster yang melihat mata kebinggungan Sofia ahkirnya memberikan solusi untuk membayarnya dengan tenggang waktu. " mba, karena mungkin mba tidak ada biaya saat ini kami akan tunggu pembayaran mba sampai pemulihan ibu selesai, kami harap sebelum tindakan pengangkatan ginjal satu dari ibu mb, mba sudah dapat melunasi, observasi bisa di lakukan hanya 2 hari dari sekarang itu yang bisa di bayar lewat asuransi mb, jadi jika tidak ada pembayaran lebih lanjut maka ibu mb akan di pulangkan tanpa pengobatan " ucap Sang perawat itu. " baik sus, lakukan itu saya akan mencari uang tersebut terimakasih sus " ucap Sofia dan berlalu dari ruang pendaftaran di rumah sakit tersebut. Setidaknya hatinya lega karena ibunya bisa di rawat terlebih dahulu, dia mencari uang untuk biaya operasi pengangkatan ginjal yang tidak tercover oleh asuransi kesehatan. Sofia berjalan di lorong rumah sakit dan sampailah di pintu IGD dimana ibunya masih ada di sana. Dia menguatkan hatinya dan menghapus airmata yang telah lolos dari matanya dan menyegarkan wajahnya dengan basuhan air, lalu menuju brangkar dimana ibunya di baringkan di sana. Dia tersenyum kepada ibunya walau ibunya masih belum sadarkan diri " ibu, aku tidak tahu harus bagaimana, apa yang harus aku lakukan setelah ini aku tidak tahu ibu, tapi aku berharap Tuhan membukakan jalan supaya aku mampu membiayai rumah sakit ini, dan ibu di rawat dengan baik sampai ibu sembuh melihat ku sukses di kemudian hari bu" ucap Sofia lirih sambil menggenggam tangan ibunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD