Chapter 08

1123 Words
Setelah selesai merapikan mukena nya, ia membereskan nya dengan menaruh kembali pada tempatnya. Sela habis sholat subuh, tadi Reyhan duluan yang bangun untuk sholat subuh. Tapi suami nya itu malah tidur lagi. Sela memaklumi nya, karena Reyhan baru tertidur pukul tiga pagi tadi. Ia ingin ikut tidur lagi, tapi ia malah memilih untuk turun ke bawah. Iya, ke dapur. Ini hari pertama nya akan berangkat kuliah. Sebenarnya bukan pertama sih, karena sudah seminggu yang lalu ospek berjalan. Karena Reyhan melarang, jadi ya, dia bisa berangkat sesukanya. Sela juga nggak tahu, gimana Reyhan ngurus itu semua. Pokok nya dia cuman terima jadi. Asik. Sebenarnya nggak seru, dia masa cuman denger cerita dari Ana dan Sabila yang satu kampus dengan nya. Kata Ana, banyak kakak tingkat yang ganteng. Sela bergegas menyiapkan makanan, tapi sebelum itu ia keluar dulu sebentar hanya untuk menghirup udara pagi. "Selamat pagi, anak bunaaa."kata Sela mengelus lembut perut nya. Lalu ia kembali ke dapur untuk membuat sarapan. Tiga puluh menit berlalu, Sela sudah selesai memasak. Lalu ia kembali ke kamar. Masih setengah enam, Sela memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, baru membangunkan Reyhan. Gak lama Sela keluar dari kamar mandi, ia memakai baju santai terlebih dahulu. "Kak, ayo bangun."kata Sela, menepuk pelan pipi Reyhan. Tapi Reyhan masih terlelap. Sebenarnya ia sudah sadar tapi masih enggan membuka mata. Jujur saja ia masih sangat mengantuk. "Kak Rey?"kali ini Sela mengelus lembut rambut Reyhan. Sela menghela nafas saat Reyhan nggak mau buka matanya. "Papa! Bangun!" Reyhan langsung membuka matanya dan tersenyum manis. "Di panggil gitu aja langsung melek!"ketus Sela. "Sini!"ucap Reyhan dengan suara serak nya. Ia berniat memeluk Sela. "Nggak mau! Aku udah mandi." "Saya tetep wangi. Ayo sini, kangen." Kangen? Sela tertawa mendengar nya. Akhirnya Sela naik ke tempat tidur, dan memeluk Reyhan. "Nggak mual lagi pagi ini?" Sela menggeleng kan kepala nya, "untuk sekarang sih belum." "Udah di minum s**u nya?" "Aku belum buat, baru bikin sarapan tadi. Makanya ayo kamu mandi, kak!"rengek Sela. "Kamu udah mandi?"tanya Reyhan, ia menciumi leher Sela. "Kan tadi aku bilang udah." "Kenapa?" Didalam pelukan Reyhan, Sela mengernyitkan dahinya. "Kenapa apanya?" "Kenapa udah mandi? Kenapa nggak nunggu saya?" "Dih! Nggak mau!" "Nggak mau apa?" "Nggak mau deket deket kamu. Udah sana mandi! Susah banget di suruh mandi doang."kata Sela, berusaha keluar dari kungkungan Reyhan. "Saya masih ngantuk." "Siapa suruh tidur jam 3?" "Siapa yang buat saya tidur jam segitu, hm?"tanya Reyhan. Untung sekarang Sela berada di dalam pelukan Reyhan. Kalau nggak, pasti muka nya yang memerah kaya kepiting rebus ini bakal ketauan. "Siapa emang?" "Kamu pasti tau orang nya."bisik Reyhan. "IHHH KAK! GELIIIII!" "Hari ini ke kampus baru ya?"tanya Reyhan, tidak mengindahkan ucapan Sela sebelumnya. Sela mengangguk kan kepalanya. "Jangan nakal, ga boleh tengok tengok mahasiswa ganteng. Karena kamu udah punya saya yang ganteng."kata Reyhan. Tinggal sama Sela, bikin Reyhan ikutan punya tingkat percaya diri yang tinggi ya? Sela terkekeh pelan. "Iya iya! Satu aja udah cukup kak." "Bagus. Udah, saya mau mandi! Kamu jangan nempel sama saya terus."kata Reyhan. Sedangkan Sela membelalakkan matanya, merasa tidak terima dengan apa yang Reyhan ucapkan. "ENAK AJA! YG NEMPEL NEMPEL JUGA KAMU KAN!"cibir Sela. Sela langsung melepaskan pelukan Reyhan dan menatap nya tajam. "Kamu jadi tambah galak ya sekarang?"kekeh Reyhan. Lalu Reyhan kembali memeluk Sela dari belakang. Dengan tangan yang ia eluskan pada perut Sela. "Selamat pagi, sayang." "Udah telat kak!" "Saya nyapa anak saya, bukan kamu." "Ngeselin, pokoknya aku ngambek 364 hari!"kata Sela dan bangkit dari tempat tidur meninggalkan Reyhan yang tertawa pelan. *** Setelah selesai mandi Reyhan langsung memakai pakaian yang telah di siapkan oleh Sela. Reyhan mengedarkan pandangannya, tidak ada Sela dikamar. Mungkin sudah turun duluan? Ia pun memutuskan untuk turun menyusul Sela. Saat di tangga Reyhan mendengar suara Sela. "Sela, kamu gapapa?" Reyhan menghampiri Sela yang tengah memuntahkan isi perutnya ke westafel di dapur. Reyhan memijat pelan tengkuk leher sang istri. "Mual lagi?" Sela mengangguk kan kepalanya, "Iya, tadi aku mau minum s**u. Tapi baru seteguk udah mual."kata nya sambil mengerucutkan bibirnya. Reyhan mengusap lembut perut Sela. "Jangan di paksa kalo mual. Kamu bisa minum itu nanti. Mending sekarang makan dulu ya? Nanti minum obat yang kemarin di kasih dokter." Sela mendengus kesal, "Boro boro aku mau makan. Ngeliat nya aja aku enek. Nggak mau." "Kamu harus sarapan, Sela." Sela tetap menggelengkan kepalanya. "Saya tau supaya kamu minum susu."kata Reyhan tiba tiba. Sela mengernyitkan dahi nya, sedetik setelahnya ia membelalakkan matanya saat melihat Reyhan meminum s**u nya. "KAK—"ucapan Sela terendam saat Reyhan menyatukan kedua bibir mereka. Menyalurkan s**u yang tadi Reyhan minum, ah, ralat, sebenarnya nggak di minum. Mau nggak mau Sela menelan s**u yang Reyhan beri melalui mulut. Aneh. Rasanya dia malah nggak enek kaya tadi pertama dia coba. Padahal kan harusnya dia muntah, REYHAN JOROK BANGET! "Sumpah, kamu jorok banget kak!"kata Sela saat Reyhan melepas ciuman nya. Eng, emang nya yang kaya tadi bisa di sebut ciuman? "Gimana?masih mual?"tanya Reyhan tanpa mengindahkan ucapan Sela barusan. Sela mengerucut kan bibirnya, masih kesal dan shock dengan kelakuan Reyhan barusan. "Jangan cemberut gitu." "Gimana ga mau cemberut, kamu pagi pagi bikin kesel aku!" Reyhan menggendikkan bahu nya, lalu berjalan ke arah meja makan. "Saya cuman ngelakuin tugas saya. Tadi anak saya bilang dia mau minum s**u dari mulut papa nya."kata Reyhan dengan santai. Sela semakin membelalakkan matanya, "Apaan sih, ngaco banget dasar." "Bukti nya sekarang kamu ga mual kan? Udah minum lagi, habisin. Kalo nggak mau, saya paksa pake cara yang tadi." Benar kata Reyhan, Sela jadi nggak mual lagi. Padahal tadi pas dia minum s**u perutnya langsung bergejolak. Tapi sekarang? Enggak. Masa sih anak nya bilang gitu ke Reyhan, gimana caranya, ya? Dan bodohnya Sela malah jadi mikirin itu. Sela mengusap perutnya yang rata, lalu menghabiskan s**u nya. Dari pada Reyhan bertindak kaya tadi lagi. **** "Jangan ceroboh, jangan pecicilan, jajan yang sehat. Makan siang jangan telat. Kabarin kalau udah selesai, nanti saya jemput." Sela menarik kedua pipi Reyhan, karena merasa gemas. "Bawel banget suami aku." "Buat kamu, Sela." Sekarang mereka udah sampai di depan kampus baru nya Sela. Sebelum pergi kerja, Reyhan menyempatkan untuk mengantar Sela terlebih dahulu. "Kamu juga jangan telat makan ya? Semangat ngajar nya, pak guru!"kata Sela sambil terkekeh pelan. Reyhan mengelus lembut rambut Sela. "Yaudah kak, itu udah ada Ana nunggu aku disana."kata Sela menunjuk keluar mobil. Reyhan memajukan tubuhnya, berniat mengecup kening Sela. Sela memejamkan matanya sambil tersenyum. "Hati hati ya, jangan ceroboh." "Iya sayanggg. Kamu juga hati hati."balas Sela. Ia menyalimi tangan Reyhan. Lalu keluar dari mobil. Namun Sela kembali membuka pintu mobil, membuat Reyhan bingung. "Ada yang ketinggalan?" Sela mengangguk kan kepalanya. "Apa?" Sela mencondongkan tubuhnya, lalu mengecup singkat bibir Reyhan. "Hehehe, belum di kiss yang ini."kekeh Sela. Lalu langsung menutup pintu mobil. Meninggalkan Reyhan. Reyhan yang melihatnya tertawa. Ada ada saja kelakuan istri kecil nya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD