bc

Jatuh Cinta Kepada Istri

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
love after marriage
fated
friends to lovers
arranged marriage
boss
mafia
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
kicking
witty
city
office/work place
childhood crush
like
intro-logo
Blurb

“Kami menikah karena perjodohan, tapi aku tidak pernah menyangka akan jatuh cinta pada istriku sendiri.”

chap-preview
Free preview
Pernikahan
Hari Pernikahan yang Dingin “Saya terima nikahnya dan kawinnya Alya Kirana binti Hasan…” Suara El terdengar tegas, lancar, tanpa jeda, dan tanpa sedikit pun rasa gugup. Namun justru ketenangan itulah yang membuat d**a Alya terasa semakin sesak. Akad telah sah. Seluruh hadirin langsung mengucap syukur, disusul suara tepuk tangan yang memenuhi ruangan yang dihias bunga berwarna putih dan emas. Ibunya Alya terlihat menangis haru, sementara beberapa kerabat berdiri memberi ucapan selamat. Namun di tengah suasana itu, Alya hanya duduk diam tangannya terasa dingin, dan jantungnya berdebar tidak menentu. Hari ini, ia resmi menjadi istri dari pria yang nyaris tidak ia kenal: El Adrian, putra tunggal keluarga kaya raya yang bersikap dingin dan dipilihkan langsung oleh kedua orang tua mereka. Sebuah perjodohan—kata yang terdengar kuno, namun nyata terjadi dalam hidupnya. “Alya… tersenyumlah, Nak,” bisik ibunya pelan sambil mengusap punggung tangannya. Alya segera mengulas senyum tipis, meski bibirnya terasa sangat berat. Sejak tadi, El bahkan belum pernah benar-benar menatapnya. Begitu upacara akad selesai, pria itu langsung berdiri. “Permisi, saya angkat telepon sebentar.” Nadanya datar dan formal, seolah ia sedang menghadiri rapat bisnis, bukan hari pernikahannya sendiri. Alya hanya terdiam. “Wah, sudah sibuk lagi?” bisik salah satu bibinya. “Baru saja sah menjadi suami istri.” “Katanya El memang terkenal gila kerja. Tapi kasihan juga Alya…” Bisikan-bisikan kecil itu terdengar samar. Alya berpura-pura tidak mendengar, meski telinganya terasa panas. Di sudut ruangan, El berdiri membelakangi semua orang. Satu tangannya diselipkan di saku celana, sementara tangan satunya memegang ponsel. “Kesepakatan itu harus selesai hari ini. Saya tidak peduli caranya,” ucapnya dengan nada dingin dan tegas—seolah hari ini bukanlah hari yang istimewa, seolah tidak ada seorang istri yang sedang menunggunya. “Mau kubawakan minum?” Suara lembut terdengar di sampingnya. Alya menoleh. Itu Nisa, sepupunya, yang tampak prihatin. “Kamu tidak apa-apa?” Alya tersenyum tipis. “Tidak apa-apa.” “Yakin?” “Iya…” Padahal itu bohong. Sangat bohong. Sejak pagi, El tidak pernah bertanya apakah ia merasa gugup, tidak pernah memuji penampilannya, tidak pernah tersenyum tulus, tidak pernah memberikan tatapan hangat, dan tidak ada perhatian sedikit pun. Yang ada hanyalah jarak—jarak yang terasa sangat dingin. Acara resepsi pun dimulai. Lampu di aula pesta memancarkan cahaya mewah, diiringi alunan musik lembut. Tamu undangan datang silih berganti. Alya berdiri di samping El di atas pelaminan, tampak cantik dan anggun dalam balutan gaun pengantin putihnya. “Masya Allah, pengantinnya sangat cantik.” “Kelihatannya serasi, ya.” “Tapi kenapa El terlihat sangat dingin ya?” “Sepertinya ini perjodohan, bukan?” Alya menggenggam tangannya erat-erat, berusaha tegar dan tidak memedulikan perkataan orang lain. Namun seiring berjalannya waktu, kenyataan itu semakin terasa jelas: El benar-benar menjaga jarak. Saat berfoto bersama keluarga? Sikapnya sangat formal. Saat menerima ucapan selamat? Tetap sopan namun kaku. Ketika ada yang melontarkan candaan tentang kehidupan baru mereka? Ia hanya tersenyum tipis. Bahkan berkali-kali, ia lebih sibuk mengetik pesan di ponselnya. Hingga akhirnya, seorang bibi tertawa kecil dan berkata, “El, ini hari pernikahanmu, lho. Simpan dulu ponselnya.” Hadirin lain pun ikut tertawa kecil, namun El hanya menjawab dengan tenang, “Ini urusan penting, Bibi.” Setelah itu, ia kembali menatap layar ponselnya. Hati Alya terasa semakin perih. Ia memandang ke depan, berusaha tetap tersenyum kepada tamu, meski rasanya ia ingin segera pulang dan menangis. Mengapa rasanya ia menikah sendirian? Malam pun tiba. Acara telah selesai sepenuhnya. Tubuh Alya terasa sangat lelah. Riasannya masih menempel rapi, namun perasaannya sudah berantakan. Sebuah mobil mewah mengantar mereka menuju kediaman El. Sepanjang perjalanan, suasana hening tanpa percakapan—hanya terdengar suara pendingin ruangan. Alya beberapa kali ingin membuka suara, namun selalu mengurungkan niatnya karena takut mengganggu atau berkata salah. Hingga akhirnya, suara El terdengar memecah keheningan. “Lelah?” Alya sedikit terkejut. “Eh… iya, sedikit.” “Kalau begitu tidurlah.” Setelah itu, hening kembali menyelimuti mereka. Alya menunduk. Ternyata begini rasanya. Rumah tempat tinggal El sangat besar—bahkan terasa terlalu luas. Bergaya minimalis dan mewah, namun anehnya tidak memberikan kesan hangat. Ia lebih mirip sebuah hotel mahal daripada tempat tinggal. El berjalan lebih dulu. “Aku tunjukkan kamarmu.” Alya mengikuti dari belakang, jantungnya berdebar tidak menentu. Kamar pengantin, malam pertama—hal-hal yang sejak kecil selalu dibayangkan oleh setiap perempuan dengan perasaan malu, deg-degan, dan bahagia. Namun sekarang, yang Alya rasakan justru ketakutan. El membuka pintu kamar. Ruangan itu luas dan elegan, dengan tempat tidur berukuran besar serta pemandangan kota yang terlihat jelas dari jendela kaca. “Kamarmu di sini.” Kamarmu, bukan kamar kita. Alya berusaha mengabaikan hal itu. “Oh… baiklah.” El melepaskan jasnya, lalu berdiri diam selama beberapa detik seolah sedang memikirkan sesuatu. Hingga akhirnya ia berbicara—dan kalimat itulah yang menghancurkan semua harapan kecilnya. “Alya.” Perempuan itu mengangkat wajahnya. “Iya?” El menarik napas pendek, tatapannya terlihat tenang—terlalu tenang. “Jangan berharap lebih dari pernikahan ini.” Deg. Jantung Alya terasa seperti jatuh bebas. “Aku menikah karena permintaan keluarga.” Suasana menjadi sunyi senyap, hingga Alya bisa mendengar suara napasnya sendiri. El melanjutkan, “Aku tidak mau memberikan harapan palsu.” Nadanya tetap datar. “Aku akan tetap bertanggung jawab. Kamu tidak akan kekurangan apa pun.” Setelah jeda sebentar, ia berkata lagi, “Tapi untuk perasaan…” Kalimat itu menggantung di udara. Dan anehnya, Alya langsung mengerti maksudnya. Air matanya hampir jatuh, namun ia berusaha mati-matian menahannya. “Oh…” Hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya. El terlihat sedikit merasa tidak nyaman. “Maksudku…” “Tidak apa-apa.” Alya segera memotong pembicaraan, lalu tersenyum tipis—senyum paling dipaksakan yang pernah ia buat. “Aku mengerti kok.” Padahal, tidak. Ia tidak mengerti. Ia tidak mengerti mengapa rasanya begitu menyakitkan, padahal mereka bahkan belum saling mencintai. Tapi mengapa rasanya seperti ditolak mentah-mentah? El mengangguk kecil. “Terima kasih.” Lalu pria itu mengambil sebuah bantal. Alya mengernyit bingung. “Kamu mau ke mana?” El menunjuk ke arah sofa panjang di dekat jendela. “Aku tidur di sana. Mungkin lebih nyaman untuk sementara.” Sementara—kata yang terasa begitu menyakitkan. Alya hanya mengangguk pelan. “Baiklah…” El mematikan sebagian lampu kamar. “Selamat beristirahat.” Dan benar saja, pria itu berbaring di atas sofa, membelakanginya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, tanpa menoleh sedikit pun. Alya duduk diam di atas tempat tidur yang luas itu, sendirian dan masih mengenakan gaun pengantinnya. Malam pertama yang seharusnya menjadi momen indah dalam hidupnya justru berubah menjadi malam terdingin yang pernah ia rasakan. Matanya perlahan terasa panas, lalu air matanya jatuh satu, dua, tiga diam-diam tanpa suara. Karena ternyata… menikah dengan orang yang tidak mencintaimu, sesakit ini.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
723.0K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
959.7K
bc

A Warrior's Second Chance

read
347.2K
bc

Not just, the Beta

read
342.5K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook