Matanya yang tak ramah itu memandang ke arah jendela, tak peduli dengan orang yang ada di sekitarnya.
Mobil yang sedang dia naiki berkendara dengan cepat, jalanan tanpa kendaraan lainnya membuat mobil berjalan dengan mulus. Jalanan panjang yang sepi membuat ketenangan yang bisa membuatnya tenang untuk sementara.
Tak lama kemudian, suara mesin pesawat terdengar, matanya beralih melihat ke depannya. Pesawat jet dengan warna putih tulang, matanya sekarang bergerak malas ke atas.
Karena kedua orang dari SSU HIVE yang mendatangi mereka pagi-pagi Catra dan Oza harus melakukan perjalanan panjang menggunakan mobil, dan tak hanya sampai sana, ternyata mereka harus menaiki jet juga.
Dia melirik Oza, yang tersenyum canggung padanya. Jika dia tahu ini akan terjadi, Catra tak akan mengikuti mereka dan memilih kabur.
Ingatan tentang SSU HIVE tak menyenangkan, di sana mereka memiliki tipu daya yang lebih besar.
“Ayo turun, Catra,” ajak Oza dengan tersenyum, dia berharap dengan senyum manisnya itu Catra melunak pada dirinya, tapi Catra tak melunak. Kedua alisnya bertautan, wajahnya sangat masam. Oza tahu betapa buruknya suasana hatinya itu.
Oza turun lebih dulu, dia menunggu Catra, dengan malas Catra turun. Dia menghela napas cukup lama memperhatikan semuanya, pesawat putih itu saat terkena sinar matahari menjadi terlihat menyilaukan mata.
“Aku ingin menghajar mereka berdua.” Catra menunjuk keduanya dengan santai, melihat senyum keduanya yang membuat hatinya jengkel. “Atau kuhancurkan saja pesawat ini.” Catra memperhatikan lagi pesawat jet di depannya, dia merasa untuk menghancurkan itu bukanlah masalah baginya.
“Catra, jangan melakukan hal seperti itu. Mereka bukan orang jahat.”
Catra langsung melirik Oza dengan tajam, ya SSU HIVE bukanlah orang jahat, tapi mereka sangat pandai memanfaatkan sesuatu dan membuat lainnya menderita. Jika bukan karena Oza yang selalu menenangkannya, Catra bisa saja menghancurkan mereka dan berakhir dengan mati.
Catra berjalan meninggalkan Oza, menaiki pesawat jet sebagai yang pertama, di belakang, Oza mengikutinya dengan perasaan bersalah.
Di saat mereka berdua berjalan, Oza mengingat percakapannya dengan Yunda.
Tentu saja, bahwa hal seperti ini tak akan bisa dihindari. Beruntung bagi Oza, Catra tak dibedah oleh mereka.
Catra duduk, dan menyelonjorkan kakinya begitu saja dengan wajahnya yang marah, orang akan mengira bahwa dialah bosnya di sini. Oza duduk tak jauh darinya, kedua orang tadi menyusul.
Melihat catra dengan senyum yang sedikit mengganggu, dan kemudian melihat Oza.
“Pak Oza, Anda tahu kenapa mereka memanggil kalian berdua?”
Oza tersenyum kecil, dia sangat tahu, pasti berita itu mengganggu telinga mereka. Dengan tetap tenang dan mata yang tak bergetar, Oza membuka mulutnya.
“Tentu saja, apakah perlu aku mengatakan pikiranku di sini?”
Rick menggeleng, dia adalah pria yang memakan permen tadi. Setelah mengetahui Oza tahu maksud mereka, Rick menarik pria yang masih sibuk memainkan game bernama Erlan.
Mereka semua bersiap, tak lama jet terbang tinggi dan melaju cepat. Mata Oza terpejam, menikmati waktu yang sebentar lagi menjadi tak santai.
Merek sudah tidba di SSU Hive.
Sama seperti kantor SSU pusat, SSU HIVE bertempat di sebuah pulau yang sangat jauh dari keramaian. Banyak hal yang mereka lakukan di sana, menjauhkan diri dari masyarakat adalah yang terbaik.
“Selamat datang Oza dan Catra.” Senyumnya masih selebar yang mereka ingat terakhir kali dulu.
Wiga bahkan berdiri dari kursinya untuk menyambut mereka berdua. Tangan kanan Wiga yang mempunyai luka gores panjang, menyalami tangan Oza dengan hangat. Wajah tersenyum dari atasannya membuat Oza membalas senyum itu. Wiga bukanlah Yunda, berkonfrontasi dengan dia sangat tidak baik terutama di kandang SSU.
“Ah, Catra, kau masih tampak luar biasa seperti terakhir kali aku melihatmu.” Dia memeluk Catra dengan hangat, yang dilakukan Catra, dia membalas pelukan itu dengan sedikit kekuatan.
“Tenagamu masih begitu besar.” Wiga langsung menjauhkan dirinya, dia mengusap punggungnya seolah dia sangat kesakitan.
Catra tahu bahwa maksud kata luar biasa lebih kepada kekuatan yang dia miliki. Wiga mempersilakan mereka duduk, dan ketiganya duduk dengan santai di sofa ruangan Wiga.
Oza sedikit cemas, dengan hal apa yang akan terjadi pada mereka. Membawa mereka ke sini dengan di jemput, artinya Wiga tak ingin keduanya lari.
“Aku sudah mendengar laporan tentang perkelahian kecilmu,” ucap Wiga yang membuat Oza lebih cemas. Kata kecil itu bisa berarti negatif, yang seharusnya Catra tak menggunakan kekuatannya pada mereka.
“Pak—“
Wiga langsung memiting Oza, dia tak mempersilakan Oza untuk berbicara sekarang.
“Apa alasanmu melakukannya Catra?” Pertanyaan itu sangat membuat Oza menjadi sangat cemas, kali ini, apa mereka akan berakhir di sel untuk merenungkan diri? Senyum kecil Oza mekar di wajahnya dengan tak tenang.
“karena aku mengingat perkataan Oza, bahwa orang jahat tentu saja harus dihukum.” Catra langsung mengatakan hal sebenarnya, dia tak menyaring apa yang akan dia katakan di otaknya, di dalam hati Oza, dia berteriak dengan sangat panik.
“Hahaha,” tawa Wiga pecah, dia terlihat seperti habis mendengarkan sebuah lelucon. Oza tegang, dan Catra berwajah tak santai, kombinasi orang yang ada di ruangan ini sangat aneh.
“Ya, memang seharusnya seperti itulah Catra. Tapi kontrol kekuatanmu.” Matanya melirik tajam ke Catra beberapa detik, kemudian, mata itu membentuk bulan sabit terbalik lagi.
“Sudah seharusnya orang jahat diberi hukuman, dan di negara kita, orang jahat itu sangat banyak. Kau telah menjadi bagian SSU dan tentu kau juga sering menyelamatkan banyak orang.”
Catra mengangguk, dia tahu hal itu, dia yang melakukannya.
“Kita hanya perlu memolesmu sedikit lagi. Kau akan menjadi pahlawan yang diakui.”
“Tapi aku tak ingin jadi pahlawan, aku hanya melakukannya karena aku ingin,” potong Oza yang membuat Wiga tersenyum tipis. Dia mengusap dagunya sekali.
“Tak masalah, tujuan kita sama. Kalian akan bertemu dengan Fuon di depan, ikuti dia.” Wiga berdiri, Oza dan Catra juga ikut berdiri.
“Kalian berdua akan menjadi sangat sibuk sekarang, dan kuharap kalian menikmati waktu di sini.”
Wiga berjalan ke arah mejanya, tak ingin mengantar atau membukakan mereka pintu.
“Laporan Catra akan dievaluasi seminggu lagi. Berusahalah.”
Oza menelan salivanya dan pintu itu tertutup kembali. Seperti ucapan Wiga, Fuon telah ada di samping pintu berdiri dengan beberapa dokumen di tangannya.
“Pak Oza dan Catra, tolong ikuti aku sekarang.” Fuon telah bersiap melangkah ke tempat tujuan yang telah ditentukan.
Catra menguap dengan santai, suaranya itu terdengar oleh Fuon.
Bahkan Fuon melirik ke arah Catra, dengan senyumnya yang terlihat manis, Oza menyadari ada perselisihan dingin di sini.
“Aku ke sini belum sarapan, bisakah kalian membiarkanku dan Oza untuk makan dulu? Kau tahu, lapar itu sungguh menyiksa.” Catra memandangnya dengan sedikit melihat ke arah bawah, Fuon lebih pendek dari sepuluh sentimeter darinya.
Fuon tersenyum, dia tak marah dengan sikap terus terang Catra.
“Itu sangat bagus. Anda tak perlu mengalami efek menyebalkan karena belum makan.”
Oza langsung menatap Fuon dengan kasar, dia tak suka percakapan ini sekarang.
“Apa maksudmu?”
“Catra tak akan bisa makan sampai dua jam kemudian, karena dia harus check up.”
Mata Catra dan Oza menajam, check up adalah kata lain dari pengambilan darah, sel, dan hal lainnya yang menyebalkan Catra.
“Lakukan dengan cepat. Kau tahu, aku bisa mengamuk hanya karena makanan.”
Suaranya sangat ketus, tatapannya matanya yang marah dan wajah yang sedikit menunduk, seolah dia telah siap melahap Fuon. Bahkan dengan sengaja, dia melangkah lebih dulu, dengan langkah kaki berat yang membuat bunyi orang berjalan begitu jelas.
Fuon masih tersenyum, tapi tangannya meremas dokumen, dan Oza mengetahui hal itu, lirikan matanya yang waspada selalu membuatnya selamat.