“Lihat apa yang diperbuat olehnya!?” sebuah foto dibanting Yunda di atas meja, dan dengan santai Oza mendongakkan kepala untuk melihatnya. Setelah mengetahui apa yang tertera di sana, satu alis Oza terangkat.
“Oh,” responnya.
“Oza, ini bukanlah hal yang sepele. Anak itu bisa membunuh seseorang.” Wajah Yunda sama sekali tidak santai, dia mendapatkan laporan yang disembunyikan Oza dan itu membuatnya kesal.
“Dan kau menjadikannya mesin pembunuh. Ayolah, Yunda, kau itu double standard,” tunjuk Oza dengan percaya diri. Dia tak menerima logika mereka jika berbicara dengan logika mereka, maka Oza akan mengembalikannya.
“Itu hal yang berbeda, Oza. Apa kau tak tahu perbedaannya?”
“Apa?” tantang Oza langsung.
Napas Yunda masih tak stabil, adiknya itu selalu keras kepala. Dia ingat bagaimana adiknya dulu berani kabur dari rumah karena janji yang tak ditepati oleh kedua orang tua mereka. Oza adalah anak yang mempunyai banyak teman, dan dia memahami banyak hal. Pendiriannya juga cukup kuat walaupun di tengah lingkungan yang tak baik.
“Catra melukai masyarakat umum, bukanlah seorang penjahat.”
Mendengar itu, Oza duduk sambil tertawa, dia mengusap matanya yang sedikit berair karena tawa yang menurutnya lucu.
“Bagaimanapun seorang penjahat tetaplah penjahat walaupun umur mereka masih muda, Yunda. Mereka tak melaporkan padamu siapa anak-anak itu? Atau kau mengabaikan hal itu begitu saja? Membuat semuanya seolah aku yang tak becus?” Oza menggaruk sedikit kepalanya.
“Kalian berniat mengambil Catra?” Oza menatap Yunda dengan tajam, apa yang dia tuduhkan tidak bisa di anggap seperti dunia politik, dunia militer memiliki banyak intrik di dalamnya.
“Kalau seperti itu, aku permisi dulu, Ketua.” Oza meninggalkan Yunda begitu saja, wajahnya sangat masam. Jika dia berjalan bersama dengan Catra sekarang, mereka akan menganggao mereka berdua ingin bertarung sampai mati.
Oza tiba di kantin, dan wajahnya kusut.
“Apa kau sudah menemui kakakmu?” tanya Catra yang masih mengunyah makanannya, ini piring kedelapannya. Makan di kantin SSU secara gratis adalah sebuah nikmat tak terkira. Apalagi Catra makan sangat banyak.
Jika semua anggota SSU makan sebanyak dia, maka bisa saja SSU mengalami kerugian hanya karena makanan.
Oza duduk, dia terlihat sangat lesu. Menghadapi Yunda yang terlihat lebih lemah darinya bukanlah hal yang mudah, apalagi Yunda mempunyai seribu cara untuk melakukan apa yang dia inginkan.
“Ah, kau makan itu semua?” Oza menunjuk semua piring yang telah menjadi tumpukan piring. Dia menggelengkan kepala.
“Ya.” Catra memandangnya dengan tajam. “Kau tak menjawab pertanyaanku, Oza.”
Oza mengetuk-ngetukkan kotak rokoknya sambil memandang Catra.
“Apa kau tak melihat wajahku yang kusut, Catra?” Oza menunjuk wajahnya, wajah yang dihias dengan rambut lepeknya dan wajah lelah.
Catra berdiri, matanya melirik vending machine di sebelah kirinya, segelas air minum memang tak cukup membuat dahaga hilang.
“Wajahmu memang selalu begitu, Oza. Apalagi saat kau insomnia.”
Perkataan Catra itu membuatnya kesal, tapi itu benar, bahwa dirinya jarang sekali terlihat segar. Dia menyerah sekarang, selain menjawab pertanyaan Catra.
“Aku sudah menemui kakakku, dan dia membuat kepalaku pusing.”
Catra memandang Oza dalam, dan kemudian dia berlalu begitu saja ke vending machine. Langkah besarnya membuat dia sampai dengan cepat ke vending machine, dia menekan dan mengeluarkan 4 kaleng minuman.
Oza tersenyum tipis.
“Anak itu selalu seperti itu,” katanya dengan menggelengkan kepala. Oza melihat kotak rokok yang sedang dia ketuk-ketukkan di atas meja, memikirkan apakah dia harus merokok sekarang.
SSU melarang semua orang untuk merokok di dalam gedung, dan jika dia ingin melakukan kegiatan itu, dia harus keluar dari gedung. Itu membuatnya malas untuk berjalan.
Dia menghela napas panjang.
“Nih, untukmu.”
Catra meletakkan sekaleng minuman di depan Oza dengan cukup keras. Suara yang dihasilkannya membuat semua orang melihat mereka. Semua yang ada di sana sudah mengenal tentang keduanya, Oza dan Catra, adalah pasangan yang suka membuat ulah.
Oza mengambil minuman tersebut, memperhatikannya dengan teliti. Minuman kopi macchiato yang membuatnya tersenyum, Catra memang terlihat kasar, tapi dia cukup perhatian juga dengan caranya sendiri.
“Terima kasih,” ucap Oza dengan tersenyum secerah matahari.
Di tempat yang lain, tempat yang selalu sibuk dengan jadwal yang padat.
Dia sibuk membuka berkas berulang-ulang membacanya dengan teliti agar satu informasi pun tak terlewatkan. Di dalam kariernya, melewatkan informasi sedikit saja bisa menjadi berbahaya.
Ketidaklengkapan informasi adalah hal yang mematikan.
“Pak Wiga,” ucap seseorang sambil mengetuk pintunya berulang kali. Dia menaikkan wajahnya, melihat arah suara.
“Masuklah,” jawabnya membuat orang tersebut masuk.
Dia adalah anggota bagian data, berumur cukup muda, 27 tahun dan dia telah bisa mengelola data dengan sangat baik.
“Fuon, ada apa?”
Fuon berjalan mendekatinya, memberikan Wiga dokumen lainnya yang penuh data satu orang yang telah mereka amati selama ini.
“Anggota yang Anda perintahkan telah berjalan untuk melakukan perintah anda.”
Wiga mendengarkan laporannya sambil membaca data Catra.
“Mereka akan sampai sebentar lagi, dan akan melapor pada anda sisanya. Kemudian, sel Catra yang di aplikasikan ke percobaan mengalami perkembangan.”
Mendengar laporan itu, tubuh Wiga menjadi lebih condong. Dia sangat antusias untuk perkembangan ini, jika berhasil maka kekuatan militer akan semakin hebat.
“Pak Wiga, semuanya ada di laporan yang saya kirimkan tadi.” Fuon tersenyum, matanya terlihat sangat kecil dia memiliki sisi wajah yang membuat wanita menarik. Satu lesung pipi di wajahnya, membuat kesan manis yang mematikan.
Di waktu yang berbeda, dan rumah Catra
Lampu itu berkedip-kedip.
Berulang kali, warna merah menyala, dan redup kembali.
Jam weker yang dia beli dan diletakan di atas meja kecilnya berulang kali berbunyi. Membuat lampu kecil di sudut kanannya berkedip-kedip.
Dia mendengar sejak tadi bawah jam itu berbunyi, tapi dia tak ingin membuka mata. Seakan ada sesuatu yang bertanya hingga beribu-ribu kali, menyangga pelupuk matanya agar tak akan terbuka.
Dia berguling kembali, mencoba menghilangkan suaranya jam weker yang telah di setel oleh pria yang tinggal bersamanya selama beberapa tahun ini.
Namun, usaha itu gagal. Jam weker itu seolah mempunyai nyawanya sendiri, semakin lama, suaranya semakin tinggi seolah dia berteriak di telinganya yang peka.
“Oza!”
Catra berteriak memanggil nama Oza, dan memukul jam weker itu hingga hancur. Dia tahu ada yang aneh dengan jam wecker itu, pasti Oza lagi-lagi meminta para mekanik SSU membuatkan benda yang dapat mengganggu tidurnya.
Keningnya berkerut dengan sangat kasar, remukkan kerangka jam weker tadi menempel di telapak tangannya, dan Catra membersihkannya dengan wajah yang dingin.
Oza datang ke kamar Catra, dia menarik sedikit baju di bagian perutnya menggaruk dengan santai saat dia menguap dan memandang Catra dengan satu mata.
“Ada apa?”
Catra menatapnya tajam, dia sangat kesal.
“Kau meletakkan benda apa lagi di sini!? Menggangguku tidur, dan dia bisa membuat gendang telingaku pecah!” Suara Catra meninggi, jika itu bukanlah Oza, maka mereka akan mundur ketakutan.
Tapi, Oza malah tertawa kecil.
“Ah, iya ... jadi itu berhasil membangunkanmu?” Dia tersenyum manis.
Melihat senyum itu, perasaan Catra bertambah kesal, dia mengambil bantal dan melemparkannya tepat di wajah Oza. Dengan tenaganya yang cukup kuat, Oza terjatuh dengan kuat.
“Auh!” teriak Oza sambil mengusap pantatnya, sakit sekali hingga rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuhnya.
Catra masih memandangi dirinya, Oza mencoba berdiri perlahan, dan dia hampir jatuh. Sedangkan Catra saat melihat itu, tubuhnya bereaksi dan berhenti ketika Oza telah berdiri dengan benar.
Oza menggaruk kepalanya, wajahnya masih tak ramah. “Besok akan kuminta mesin yang lebih dari ini. Membuatmu terbangun lebih cepat untuk ke kampus akan lebih baik.”
Catra tak membalas ucapannya, wajahnya hanya ditekuk dengan sangat kuat.
Menakutkan, itulah deskripsi wajahnya.
Bel rumah mereka berbunyi tiba-tiba, perdebatan mereka tentang jam weker ini terhenti, Oza berjalan untuk mengecek siapa yang mendatangi mereka sepagi ini. Mungkin Adlan lagi, yang menumpang untuk mandi atau sarapan.
Tapi tak seperti biasanya, Catra ikut menuju ke pintu untuk menyambut Adlan. Ada hal yang tak diketahui Oza, bahwa langkah kaki itu milik dua orang, bukan satu. Secara alami, bahkan Catra bisa mengingat irama langkah kaki Adlan.
Tentu saja, apa yang ada di depan itu bukanlah Adlan. Dia waspada.
Pintu terbuka, menampilkan kenyataan. Dua orang SSU yang dikenal Oza muncul. Jika ada SSU pusat, maka ada yang namanya SSU HIVE, mereka adalah yang tertinggi.
Satu orang sedang membuat balon dari permen karet yang dia kunyah, dan satu lagi sedang memainkan game-nya di handphone.
“Oza, Catra, ikut kami.” Yang mengunyah permen karet tersenyum pada mereka.