Wajah Oza terlihat sangat kusut, dia terpaksa ke kampus Catra untuk menyelesaikan masalah Catra.
Di tengah tugasnya mengejar psikopat gila yang menggunakan obat-obatan baru, telepon masuk mengganggu konsentrasinya.
Bisa tambah sulit urusannya jika pihak kepolisian dilibatkan. Dia tak ingin sedikit celah pun orang bisa menemukan identitas tentang Catra. Dia ingin Catra menjalani hidup perkuliahan yang tenang, walaupun hal seperti ini dengan wajah seperti Catra sulit untuk dihindari.
Dia menghidupkan rokoknya sebelum berangkat ke kampus Catra, menghisapnya dengan sangat kuat hingga hanya butuh tiga kali isapan untuk rokok itu habis.
Setelah menikmati rokoknya dengan cepat, Oza memacu mobilnya dengan cepat juga. Dia tak ingin anak itu menjadi lebih dihindari karena ketidakbisaannya berekspresi lain selain marah, dan dia membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mencapai kampus Catra.
“Catra, kau duduk tenang saja di sana,” ucapnya dengan cepat, matanya dengan fokus memperhatikan jalanan, dan otaknya kembali berpikir dengan cepat. “Ya, kau lebih baik baca komik. Kau tahu komik kesukaanmu 'kan bisa dibaca melalui handphone.”
Dia tak tahu hal apalagi yang harus dia katakan untuk membuat Catra tenang, jika orang-orang malah menekan Catra, bisa saja anak itu menghajar orang lain lagi.
“Oza, tutup saja mulutmu dan cepat ke sini. Aku bosan sekali di sini.”
Mendengar ucapan Catra, Oza semakin menjadi panik. Dia memacu mobilnya bagaikan pembalap di jalanan yang padat. Berkali-kali suara ban berdecit terdengar karena dia mengerem dengan cepat.
Jika ada orang yang menumpang dengannya, mereka pasti memiliki detak jantung yang sangat cepat karena ketakutan.
Setelah melakukan perjalanan 40 menit, Oza turun dari mobilnya dengan tergesa-gesa. Ini kali ketiga dia harus datang ke kampus Catra kembali, dia hampir saja lupa tentang denah kampus ini. Dengan wajahnya yang kusut, dia mendatangi kantor rektor.
Di depan kantor Rektor, Catra sedang duduk dengan wajahnya yang ditekuk dengan seram.
“Aku masuk dulu, kau tenang saja di sini.”
Catra menatapnya dingin.
“Kau memperlakukanku seperti bocah, Oza.”
Oza tersenyum lebar, baginya, Catra akan selalu menjadi bocah yang dia urus. Banyak hal yang harus dipelajari Catra.
Oza masuk ke dalam ruang dekat, di sana, dia menatap wajah para guru besar yang suram. Atmosfer yang berat dan tidak baik, Oza menduga ada hal besar yang terjadi.
“Anda wali Catra?”
Oza duduk dengan tenang di sofa, pengendalian dirinya itu luar biasa. Lima orang yang ada di sana tak akan menduga bahwa di dalam diri Catra sendiri, dia sedikit merasa gelisah.
“Kita sudah bertemu tiga kali dengan ini, Pak Rektor.” Oza tersenyum manis, membuat wajah ke lima guru besar itu menjadi lebih gelisah. Sedikit keringat terlihat muncul di wajah mereka.
Mereka sedang berhati-hati dalam bertindak.
“Ada masalah apa dengan Catra, Pak?”
Mereka saling berhadapan, dan menunggu seseorang membuka mulut untuk menjelaskan semua hal yang terjadi.
“Catra menghajar mahasiswa lain.”
Mendengar perkataan itu dari Rektor kampus Catra, tentu saja jantung Oza berdebar. Tapi dia bersikap dengan sangat tenang.
Dia tersenyum tipis.
“Bagaimana kondisi mereka, Pak Rektor?” tanyanya dengan sopan. Oza mengetukkan jarinya di atas sofa, menunggu jawaban untuk menimbang tindakan apa yang akan dia lakukan.
“Mereka semua masuk ke rumah sakit,” jawab pak Rektor. “Mereka berenam,” tambahnya.
Mengalahkan orang sebanyak itu tentu saja sangat mudah bagi Catra, karena kekuatannya tak masuk akal.
“Catra memiliki wajah yang menyeramkan, Orang-orang takut mendekati dirinya,” tambah seorang guru besar di sebelah Rektor.
Oza tersenyum, dia menyentuh keningnya dengan jari yang bertumpu, dia mendengarkan semua ucapan mereka yang semakin lama, semakin memojokkan Catra.
“Boleh aku tahu tentang mereka berenam?” Oza mengucapkannya dengan tenang, walaupun tenang, tapi auranya yang menekan sangat terasa.
Mereka menyadari sesuatu, bahwa mereka sudah keterlaluan menjelekkan Catra.
“Bo-boleh.”
Seseorang memberikan berkas tentang mereka semua, Oza membacanya. Mereka semua dikenal sebagai geng yang meresahkan, para mahasiswa yang tak berprestasi dan menyebarkan teror.
“Haruskah Catra memohon maaf pada mereka?” Oza menutup berkas mereka semua, memandang ke arah lima guru besar di depannya.
Umurnya mungkin baru setengah lebih sedikit dari mereka semua, tapi Catra lebih berpengalaman menghadapi hal seperti ini dibandingkan mereka.
“Atau Catra harus keluar dari kampus demi mereka yang sering membuat masalah?”
Oza mencondongkan tubuhnya, dia menatap mereka semua. Seakan sesuatu merayap di tubuh mereka dan menekan mereka untuk berucap lebih hati-hati.
“K-Kurasa itu tidak perlu. Catra mempunyai nilai yang sangat tinggi, dia adalah mahasiswa yang bisa dikatakan jenius.”
Suaranya terdengar tak meyakinkan, tapi itu tidak masalah bagi Oza.
“Apa ada yang mengatakan melihat Catra yang memukuli mereka pertama kali?”
Semuanya menggeleng mendengar pertanyaan Oza. Semuanya mengatakan bahwa Beni dan kelompoknya yang membawa Catra ke tempat sepi. Mereka berpikir bahwa Catra yang akan terluka parah, dan ketika mereka melihat hasilnya, semuanya terdiam.
Catra saat itu hampir saja keluar dari kampus, jika saja tiga satpam tidak mencegahnya. Itu pun dengan tubuh yang ketakutan.
Tapi mereka tak pernah melihat kejadian sebrutal itu di kampus mereka.
“Jika kalian ingin mengeluarkan Catra, menurutku itu tidak bisa. Kalian melakukan kesalahan di sini. Catra hanya melindungi dirinya sendiri.”
Mereka terdiam, itu benar, enam lawan satu, tentu saja itu sebuah pengeroyokan. Hanya saja Catra yang begitu hebat, membuat mereka semua menderita dengan sangat tragis.
“Keluarkan saja mereka jika perlu.” Oza menekan keningnya, tak ada yang diharapkan dari 6 orang yang menyebarkan teror itu.
“Tapi bagaimana dengan pendapat publik?”
Oza tersenyum lebar, sudah menjadi hal biasa bahwa penilaian publik adalah hal yang penting. Demi pandangan publik, orang lain sering kali menipu.
“Oh, jadi harus mengeluarkan orang yang tak bersalah di sini? Atau ....” Oza sengaja membuatnya terjeda, membuat mereka semua tegang dan pemasaran.
“Bagaimana kalau kita ganti saja sistem kampus ini? Dari atas hingga dasarnya.” Oza menyeringai.
Perkataannya yang halus itu terdengar sebagai ancaman di telinga mereka. Mereka tahu siapa Oza, seorang pekerjaan pemerintahan yang mempunyai kekuatan untuk menyingkirkan mereka.
Walaupun mereka tak tahu Oza bekerja di bagian apa, tapi mereka sadar bahwa Oza bekerja di bidang yang sangat rahasia.
Mereka sangat gelisah, perlahan wajah mereka memutih karena masalah ini.
“Ba-baiklah.”
Akhirnya Rektor membuka mulutnya.
Setelah pertemuan untuk mengurus masalah Catra selesai, Oza mendatangi Catra.
“Ayo, pulang Catra,” ajak Oza sesaat setelah keluar dari ruangan Rektor.
Dari celah pintu yang terbuka, Catra bisa melihat wajah semua orang yang ada di dalam ruangan sangat gelisah. Catra melirik ke Oza, entah apa yang dilakukan Oza pada mereka.
Catra tak bisa menemukan jawabannya, karena menurutnya, Oza selalu bersikap ramah.
Catra berdiri mengikuti Oza.
“Apa yang Mereka katakan?” Catra tak melihat Oza saat berbicara, dia hanya merasa kesal karena situasi ini menahan jam makan siangnya.
“Katanya kau memukuli enam orang mahasiswa hingga mereka masuk ke rumah sakit.” Oza terus berjalan untuk menuju mobilnya yang terparkir di depan gedung.
Dia berhenti di depan pintu, memandang Catra yang selalu memiliki ekspresi sama.
“Aku memang melakukannya.”
“Tak ada penyesalan?” Oza memiringkan kepalanya, melihat lebih jauh apakah di dalam lubuk hati Catra dia sedikit menyesal dengan apa yang dia lakukan.
“Untuk apa aku menyesal?” Catra masuk ke dalam mobil Oza, dan duduk dengan tenang. Ekspresinya keras dan dingin.
“Apa kau ingat perkataanmu sendiri?”
Oza menautkan kedua alisnya sekarang, mengingat hal apa yang telah dia katakan pada Catra.
“Orang jahat harus diberi hukuman, dan mereka semua adalah orang jahat. Kurasa memberikan hukuman ringan seperti itu, sudah sepantasnya. Untuk apa aku menyesal? Itu adalah pertanyaan aneh, Oza,” kata Catra yang kembali membuka handphone-nya.
Di sebelahnya, kepala Oza sedang berdenyut cukup intens. Ya, dia ingat, dia pernah mengatakan hal seperti itu pada Catra. Dan itulah kesalahannya, tak menjelaskan lebih detail bagaimana Catra bersikap.
“Baiklah, Catra. Kau tak perlu menyesal untuk itu, asal kau tak membunuh mereka. Lain kali, jangan melakukan hal sekejam itu, membuat preman kampus seperti mereka ketakutan saja itu sudah cukup.” Oza menatap dalam Catra, dia sama sekali tak ingin Catra menjadi seorang pembunuh tanpa sengaja.
“Dengarkan aku, kekuatanmu dan manusia lain itu perbedaannya sangat besar. Jangan lakukan dengan seluruh kekuatanmu, oke?” Oza menunggu jawaban Catra, dan Catra hanya mengangguk sebagai jawabannya.
“Tidak, bahkan seperempatnya saja masih sangat besar. Lima persen saja kau menggunakan kekuatanmu.”
Catra mengangguk kembali.