Sebuah Hadiah

1422 Words
Catra memperhatikan pergelangan kananya sejak tadi. Terdapat jam tangan berwarna hitam yang melingkar, tali jamnya menggunakan bahan kain, dan desainnya sporty. Cocok untuknya yang tampak sangat karismatik. “Bagaimana? Apa kau menyukainya?” Dia ingat percakapannya kemarin bersama Oza. Saat Oza membuka kotak kecil pemberiannya di depan Catra, jam itu langsung terlihat. Wajah Catra datar seperti biasa, dan kebalikannya, Oza berwajah sangat ekspresif. Dengan senyumnya yang lebar, dia memamerkan jam yang dia berikan pada Catra. “Kau tahu, aku mendapatkan jam ini cukup sulit. Aku mengumpulkan dua bulan gajiku,” jelas Oza sambil terkekeh kecil. “Sini aku pakaikan.” Oza menarik tangan Catra, sebelum dia memakaikannya dia berhenti sejenak. “Oh, aku hampir lupa.” Oza membalik jam tangannya. “Lihat ini ada lambang C.O, diukir dengan sangat cantik. Kau tahu kan ini singkatan dari apa?” oza menatapnya sangat antusias, menunggu jawaban mudah yang akan keluar dari mulut Catra. “Catra Oza,” ucapnya datar. Baginya hal jelas seperti itu tak usah dipertanyakan lagi. Tapi Oza masih saja mempertanyakannya “Kau tahu kenapa ada tanda titik di tengahnya?” Lagi-lagi Oza mengajukan pertanyaan, yang membuat Catra sekarang menaikkan satu alisnya. Memangnya satu titik ada artinya? Catra tak mengerti maksud Oza. “Kau tahu fungsi dari titik?” Oza menunggu jawabannya, tapi Catra tak menjawabnya juga. Akhirnya, Oza menjawabnya sendiri. “Titik adalah sebagai penanda berhenti, itu tanda yang sangat penting untuk menandakan kalimat. Tapi kau tahu kenapa di antara nama kita tak ada spasi?” Dia diam selama dua detik. “Aku berharap, kita berdua sebagai titik dalam hubungan ini. Aku yang bisa membuatmu berhenti melakukan sesuatu yang salah, dan kau juga bisa menghentikanku. Dan tanpa spasi, kuharap hubungan kita sangat dekat dan saling menjaga.” Catra sebenarnya tak terlalu memahami maksud dari Oza, tapi melihat wajahnya yang tersenyum lebar, entah kenapa dia mendiamkan Oza. Dia tak bergeming, membiarkan Oza dengan omong kosongnya. Tangannya yang besar di pegang oleh Oza, kali ini, Oza memasangkan jam berwarna hitam mengkilap itu, memandangnya dengan bangga. Jam seharga dua bulan gaji Oza. Catra memandangnya lagi, di tengah jalan melewati lorong kampusnya, Orang-orang heran melihat dirinya yang sibuk melihat jam tangan yang tampak mahal. Sampai sekarang, Catra belum mempunyai teman. Orang-orang cenderung menjauhinya. Wajahnya yang sangat seram itu, terlihat seperti pembunuh. Dia menjatuhkan buku yang dia pegang, dibandingkan dengan tubuhnya, buku itu terlihat sangat kecil. Kuliah tak segampang dugaannya, dan tentu saja Oza yang memaksanya kuliah. Hanya karena Oza ingin Catra mempunyai teman lain selain Oza. Dia menekuk wajahnya, membuka lembar per lembar buku yang dia ambil tadi. Membacanya dalam diam dan serius. Tapi keseriusannya itu selalu menyebarkan teror. Tak ada satu pun orang yang duduk di sekitarnya, perpustakaan yang biasanya ramai, menjadi sepi karena kedatangan Catra. Dua orang wanita terlihat ragu dan ketakutan, mereka saling mendorong untuk mengorbankan siapa yang harus menghadapi Catra. “Kau saja." “Tidak, kau saja.” Dia gemetar. Dan seseorang mendorongnya dengan kuat, sehingga tepat ada di depan Catra. Catra melihatnya, menatapnya dengan serius, karena kata Oza, manusia suka sekali di tatapan saat bicara, jadi dia melakukan itu. Tapi kaki wanita itu menjadi sangat gemetar. “Ada apa?” tanya Oza dengan suara beratnya. “Bisakah ... kau meminjam saja bukunya dan membaca di tempat lain?” Suaranya sangat pelan, nyaris tak terdengar, tapi Catra mendengar suara pelan gemetar itu. Catra berdiri, tubuhnya yang besar terlihat seperti monster. “Ya Tuhan,” katanya dengan sangat gemetar. Bayangan Catra seolah melahap dirinya. Tanpa melihat pada wanita itu lagi, Catra membawa buku yang dia baca, meletakkannya di tempat sebelumnya, dan keluar begitu saja. Wanita tadi bernapas lega, dia terjatuh dilantai karena kakinya tak memiliki kekuatan lagi. Dia rasanya ingin sekali menangis. Kenapa dia yang harus menghadapi orang seperti Catra? Rekan kerjanya tadi mendatanginya, mencoba untuk menenangkannya yang masih kesulitan bernapas. Bagi Catra yang sejak dulu terkurung di ruangan sebagai bahan percobaan, dia hanya melihat kekejaman di matanya, amarah yang sering kali membuatnya terluka. Hal-hal penuh egois milik manusia yang membuatnya menderita. Dan hal itu masih berlanjut hingga sekarang, tatapan orang-orang pada dirinya yang menatap sinis, menatap takut, dan penuh praduga buruk. Dia mendapatkannya sampai sekarang. Dia berjalan menjauhi keramaian, di bagian sudut kampusnya. Terdapat lapangan basket, banyak mahasiswa yang sedang bermain di sana, suara pantulan bola basket dan suara decitan sepatu terdengar dengan jelas di telinganya, dan itu membuatnya tenang. Dia duduk di bawah pohon besar, tajuknya sangat lebar, menutupi sinar matahari yang ingin menembus. Telinga Catra berkedut, dia mendengar beberapa langkah orang lain yang mendatanginya. Setiap manusia mempunyai langkah kaki yang berbeda, secara garis besar, langkah kaki itu bisa mencerminkan emosi pemiliknya. Dan orang-orang yang mendekatinya ini memiliki langkah santai yang berat pada bagian ujungnya, seorang yang menganggap dirinya berkuasa. “Hmm.” Catra berdehem sekali. Orang tersebut menutupi sinar matahari dari depan, membuat Catra dapat melihat wajahnya dengan jelas. “Kau Catra?” tanyanya dengan nada sombong. Angin mengibaskan rambut mereka, tubuh mereka semua terasa sangat segar karena itu. “Ya, dan kau siapa?” tanya Catra tak acuh. “Ah, dia tak tahu tentangmu,” ucap seorang di belakang pria bertubuh besar yang bertanya pada Catra tadi. Pria tersebut mengangkat tangannya, membuat pria tadi diam. “Aku Beni, penguasa di kampus ini.” Dia memperkenalkan dirinya sendiri, memegang dadanya dengan hidung yang terangkat. Mata Catra melirik rendah. “Oh,” ucapnya malas. Respons itu membuat Beni menjadi memanas, dia merasa harga dirinya diinjak oleh anak baru bernama Catra. Wajahnya terlihat sangat berani, dan menyeramkan. Catra mempunyai aura penekan yang sangat kuat, tubuhnya besar dan tampak kekar. Karena itulah Beni mendatangi Catra, dia ingin merekrut Catra sebagai anak buahnya. Namun, respons Catra melukai dirinya. Sebagai pemimpin dia menjadi emosi karena itu. “Kau tahu, kau seharusnya merasa beruntung karena didatangi olehku.” Catra menunduk, dia ingat ucapan Oza, bahwa dia harus memiliki teman. Bahwa hidup itu tak bisa sendirian, tapi saat dia melihat orang-orang di depannya ini, dia menyadari satu hal. Bahwa mereka memiliki ekspresi seperti dirinya, dingin, dan mengintimidasi. Catra berdiri, gerakan cepat itu membuat mereka semua terkejut. “Kau mengabaikanku?” Catra meliriknya. “Aku tahu namamu Beni. Lalu apa ada lagi?” Catra tak mengerti tentang sosialisasi, dia tak memahami tentang tingkatan dalam kehidupan bersosialisasi, dia bahkan tak paham cara berinteraksi. Jadi, dia tak memahami semua omong kosong yang dikatakan Beni padanya. “Ah, anak baru ini harus diberi pelajaran, Ben!” dengkus orang di belakang Beni. Catra sedikit memiringkan kepalanya. Apa sekarang dia harus mempelajari rumus lagi? Kepalanya berdenyut. “Lihatlah wajahnya, dia sangat sombong, seolah dia sangat kuat. Setelah kita beri pelajaran, dia akan tahu siapa rajanya.” Ucapan itu memprovokasi Beni. Dia menjadi sangat marah sekarang. “Kau, ikut aku!” katanya dengan marah. Catra mengikuti Beni begitu saja, dia terlihat seperti anak patuh yang siang dilumat oleh para seniornya. Orang-orang sudah menduga bagaimana nasibnya nanti. Di belakang kampus yang tak ada orang, mereka berhenti, semuanya mengelilingi Catra. “Kau tahu kesalahanmu?” Catra berpikir, dia mengingat ucapan Oza lagi. “Oza bilang karena aku tak paham dengan emosi manusia.” Jawaban itu membuat mereka semua bingung, dan tertawa besar. Mereka tertawa cukup lama, hingga Catra melirik mereka dengan tatapan tajam. “Kesalahanmu itu karena tak sadar tempatmu!” Dia membentak dengan besar, lalu menyerang Catra dengan tinjunya. Berulang kali tinju dia layangkan, tapi satu pun tak mengenai Catra. Catra menjadi lebih serius, tatapannya marah, dia sekarang paham bahwa orang di depannya bukanlah orang baik. Dia melayangkan tinju selanjutnya, Catra menangkap tangan Beni dan mematahkannya begitu saja. “ARGH!” teriaknya sangat kesakitan, semua yang ada di sana memandang dengan terkejut. Tubuh mereka gemetar. “Kalian menunggu apa!? Serang dia dengan kayu atau apa pun secara bersamaan!” teriakan itu membuat mereka langsung mencari barang yang bisa digunakan untuk memukuli Catra. Botol, balok kayu, kursi, bahkan batu, semuanya tak bisa melukai Catra. Semuanya hancur dan membuat mereka semakin ketakutan. “Kata Oza, orang jahat memang harus diberi hukuman. Jadi, terimalah hukuman kalian.” Setelah mengatakan itu, suara teriakan besar dari mereka terdengar sangat jelas, orang-orang bahkan sangat ketakutan untuk melihat apa yang terjadi di sana. Mereka tak bisa membayangkan bagaimana anak bernama Catra akan berlumuran darah karena disiksa oleh geng kampus mereka yang terkenal kejam. Tak lama kemudian, Catra keluar dari sana, berjalan dengan santai seolah tak terjadi apa pun. Dia melihat jam tangannya. “ Untunglah tak tergores,” ucapnya tak mempedulikan kerumunan orang di sana. Setelah dia menjauh, mereka baru berani melihat apa yang terjadi. Tubuh mereka gemetar, pemandangan di depan mereka sangatlah sadis. “Ya Tuhan ... ini sangat brutal.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD