“Terorisnya menyerang!”
Tembakan beruntun terdengar, sangat memekakkan telinganya. Para barisan wartawan sudah diperintahkan untuk mundur, mereka sangat keras kepala, hingga berusaha menerobos pengamanan pasukan anti teroris.
Dibalik penutup wajahnya, dia sedang menggerutu dengan kesal.
Bukankah ini terasa menyebalkan?
Dia memiringkan kepalanya dengan enteng.
Padahal tadi dia baru saja mau bertemu dengan Oza, setidaknya untuk marah pada Oza yang telah membuang semua baju kesukaannya. Tapi dua puluh menit kemudian, sebuah telepon dari Yunda mengacaukan semuanya.
Catra tak pernah sekali pun bersikap sopan pada Yunda, tapi dia tahu bahwa Yunda adalah atasannya.
Ya, tentu saja SSU tidak akan melepaskan Catra begitu saja. Sesuai perjanjian yang dia lakukan pada Oza, Yunda benar-benar memanfaatkan Catra untuk kepentingan negara.
Suara tembakan terdengar di mana pun. Dan dia dengan santai berjalan seolah tak ada yang masalah. Semua yang tak tahu tentangnya menjadi ketakutan bahwa dia akan kehilangan nyawanya, berjalan santai ke arah teroris, tanpa pengaman di tubuhnya. Hanya seragam hitam dan penutup mata.
Dia ingin menyelesaikan tugas ini dengan cepat, saat dia melihat ada tawanan, Catra memutar bola matanya dengan malas. Di pusat para teroris itu berada, Catra berulang kali ditembak, hingga baju yang dia pakai menjadi sobek dan tak berbentuk.
Setelah asap meredah, mereka baru melihat bawah otot keras Catra yang besar dan terlihat sangat kuat itu tak tergores sedikit pun.
Mereka menjadi aneh sendiri, menelan saliva dengan ragu.
“Ah, manusia menyebalkan!” Suara Catra berat, dia menepuk badannya yang terasa sangat berdebu karena asap itu.
Dia menatap tajam ke arah mereka semua, saat mereka hendak menembak lagi. Catra telah menghilang dari pandangan mereka.
“Satu,” kata Catra saat melempar teroris yang paling dekat. Dipastikan dilempar keras seperti itu, tulangnya patah.
“Dua, tiga, lima—.”
“”Tujuh.”
Catra berhenti bergerak setelah menjatuhkan tujuh orang teroris. Mereka semua meliuk kesakitan. Catra melihat mereka tak acuh.
Sekarang tugas menyebalkan ya telah dia lakukan, dia harus bertemu Oza sekarang.
“Te-terima kasih ... telah menolong kami.” seorang wanita memblokir jalan Catra, dia tak mengerti kenapa wanita itu menangis?
Dia hanya merasa kesal karena wanita itu telah menghalangi jalannya, karena itulah, tanpa mengucapkan apa pun, Catra mendorong tubuh perempuan itu hingga jatuh.
“Ahg!” teriaknya keras, karena dorongan itu tampaknya menyebabkan tangannya patah. Dan Catra berjalan begitu saja, tak peduli dengan tangisannya yang semakin membesar.
Tak berapa lama, Orang-orang yang berseragam hitam masuk dengan buru-buru, merekalah yang akan menyelesaikan sisanya. Sedang aksi Catra tadi, tak sengaja ditangkap oleh para wartawan.
Bahkan saat dia keluar, dia masih sempat menatap mereka dengan tatapan tak bersahabat.
Catra telah sampai di rumahnya.
“Kau belum mandi? Kau berbau busuk seperti mayat, Oza.” Catra menatapnya tajam, baginya yang mempunyai kekuatan lebih dibandingkan manusia lain, dia bisa mencium bau lebih kuat dibandingkan yang lainnya.
Oza tertawa kecil, dia meletakkan makanan yang dia bawa ke depan Catra.
“Kau benar sekali, aku habis bersama mayat seharian. Huh, mayat itu telah membusuk, dan sangat brutal.”
Catra menatapnya dingin, jika Catra adalah orang biasa, pembicaraan yang baru saja terjadi pasti terasa sangat menyebalkan. Mereka bisa kehilangan selera makan.
“Aku hanya membeli nasi uduk. Kau tahu, aku tak bisa makan daging setelah mengubek-ubek mayat.”
Oza menyandarkan tubuhnya ke sofa langsung saat dia duduk dengan kasar. Setelah itu dia menghela napas panjang, dan merasa sedikit hidup.
“Lebih baik kau tak usah makan, Oza.”
Catra langsung mengambil makanan yang dibawa Oza, membukanya dan melahap satu lauk dengan lahap.
“Aku dengar dari Yunda, kau telah melakukan hal hebat lagi kali ini, Catra.”
Oza memuji Catra dengan tulus, dia sangat mengagumi Catra perkembangan Catra. Bahkan dia selalu membanggakan Catra di SSU. Menurutnya, Orang-orang SSU iri padanya, yang bisa dekat dengan Catra
Sebagai Wali Catra, dia juga kerap kali memberikan pelajaran pada Catra, mengarahkannya agar bisa menjadi lebih baik.
Saat awal, adalah hal yang sangat berat. Catra kerap kali melukai Oza. Bahkan Oza sampai harus masuk ke dalam rumah sakit karena kelakuan Catra.
Tapi tak pernah sekali pun Oza pernah memarahi Catra, setiap kali dia terluka, Oza mengatakan pada Catra bahwa akan selalu ada dirinya di sisi Catra. Setahun berlalu, dan Catra perlahan mau membuka dirinya pada Oza.
Catra adalah anak yang tak bisa mengekspresikan emosinya, dia hanya bisa marah dan menatap dingin. Tak ada bagian dari ekspresi yang dia bisa, yang merupakan ekspresi persahabatan.
Orang lain sering kali salah paham dengannya.
Catra terus memakan makanannya, melihat Catra makan dengan lahap. Oza mulai memakan makanannya juga.
Mereka tak makan di ruang makan dibandingkan makan di tempat terlihat sepi, mereka lebih menyukai makan di depan televisi. Oza menghidupkan televisi, di layar lebar 41 inchi itu, berita tentang penyerangan teroris sedang berlangsung.
Dia melihat berita tentang Catra dengan bangga, di sana di perlihatkan semua, dari Catra masuk dan menyelesaikan masalah.
Tapi setelah beberapa potong cuplikan itu terlihat, seorang pembawa berita mulai berbicara mengenai kasus ini.
“Pihak pemerintah menutupi identitas orang ini. Setahun yang lalu pemerintah bilang bahwa dia adalah bantuan yang sangat besar untuk negara kita, dia adalah pahlawan negara kita. Dengan kekuatan yang besar dia bisa menyelesaikan semua kasus.”
Oza tersenyum cerah, dia mengangguk menyetujui ucapan pembawa berita. Dia melirik bangga pada Catra yang masih sibuk memakan nasi ketiganya.
“Tapi apa benar dia seorang pahlawan?"
Sebuah cuplikan berganti saat Catra mendorong tubuh seorang wanita. Di sana terlihat sangat dramatis, di mana wanita itu teriak sangat kesakitan. Dan cuplikan berganti lagi, saat wanita itu di rawat di rumah sakit dengan perban di tangannya.
“Aku rasa dia itu bukanlah seorang pahlawan. Tak ada pahlawan gila yang sepertinya. Dia hanya psikopat. Bagaimana cara kerja pemerintah!?” teriaknya dengan raut wajah marah.
Wanita itu sangat benci pada penyelamatnya tadi. Oza mematikan televisi, memandang Catra yang masih tak peduli.
Apa yang disiarkan tadi, tentu saja membuat Oza sangat khawatir. Catra, dia mematuhi perintah, tapi dia belum paham mengenai sisi manusia. Dia sering salah tanggap oleh emosi manusia, dia tak bisa memahami emosi itu.
Oza menghela napas panjang.
Malam ini akan menjadi malam yang cukup panjang untuk mereka. Belum lagi telepon dari Yunda yang akan membombardirnya nanti.
Ini bukanlah salah Catra. Semua butuh proses.
“Catra, kau mendorong seorang wanita saat aksi penyelamatan tadi?” oza menatapnya dengan lembut. Mendiamkan apa yang dilakukan Catra juga tidaklah baik, anak itu, bisa saja membunuh manusia secara tak sengaja karena kekuatannya.
“Seperti yang kau lihat di berita tadi.”
Catra tak menyanggahnya, dia sangat jujur.
“Catra, kau tak boleh melakukan hal itu padanya. Pada para korban atau manusia lainnya. Jika dia adalah penjahat, maka kau bisa melakukan itu.”
Oza memberikan penjelasan pada Catra. Sekarang Catra memandangnya, tatapannya yang dingin masih tak memahami ucapan Oza
“Manusia mudah sekali terluka, Catra. Dan jika kau terus melakukan hal seperti itu, maka publik akan berbalik menjadi musuhmu.”
“Itu hal yang buruk, kah?” Catra menggaruk kepalanya sekali, setelah makanannya benar-benar habis dia melipat bungkus dan meremasnya
Oza memperhatikan tingkahnya yang terlihat sangat tak peduli.
“Tentu saja buruk. Aku ingin kau menjadi orang yang dihargai, dan mereka mengakuimu.”
Bahkan d SSU, keberadaan Catra sering kali menjadi perdebatan besar di antara mereka. Mereka menganggap Catra sebagai monster, mereka tak bisa menghadapi atau mengendalikan Catra. Manusia memang cenderung takut pada sesuatu yang berbeda.
Dia tak ingin Catra mendengar ucapan jelek yang menunjuknya tak pantas ada di dunia.
“Aku tak memahaminya, Oza. Wanita itu menghalangiku, kupikir dia adalah bagian dari mereka.”
Oza mengangguk, Catra memang diajarkan untuk menyingkirkan semua hal yang menghalanginya. Tapi pada Wanita itu, dia salah menghadapinya.
“Dia adalah korban, kau harus menghadapinya dengan baik. Berikan sedikit rasa simpatimu padanya.”
Catra memandang Oza dengan mata bergetar, dia tahu maksud perkataan Oza, tapi dia tak tahu kenapa dia harus bersikap seperti itu.
Untuk sekarang, Oza menyerah terlebih dahulu. Ini membutuhkan waktu yang lama.
“Kau ingat apa yang kukatakan lewat telepon tadi?”
Catra langsung mengangguk.
“Aku hanya mau memberimu hadiah karena berhasil berkuliah,” ucapnya dengan gembira.
“Selamat menjalani masa mudamu, Catra!” teriak Oza sambil memberikan sekotak kado berukuran kecil.