Dia menguap sekali dengan sangat lebar. Tubuhnya yang berotot terekspos saat dia baru bangun dari tidur. Otot bisep, trisep yang sangat menawan.
Didapatkan dengan cara yang tidak mudah.
Dia melihat layar gawainya, kemudian meletakkannya begitu saja. Walaupun orang itu tak bersama dengannya hari ini, tapi dia masih bisa mendengar ocehannya.
“Kau bisa telat kalau begini.”
“Jangan lupa untuk tersenyum.”
Suara orang tersebut selalu mengisi kepalanya, dia mengingat cara bicara dan ekspresi orang itu. Membuat keningnya berkerut.
“Menyebalkan,” ucapnya sambil melihat cermin di depannya. Wajah basah oleh air, karena sebelumnya dia membasuh wajahnya.
Sorot matanya tajam, bagaikan hewan buat yang siap menerkam. Wajahnya dingin, yang memiliki aura mengancam. Wajahnya sangat tak ramah, Orang-orang akan memilih untuk menghindarinya.
Setelah melepaskan bajunya, dia berjalan santai kembali ke dalam kamarnya, dan melihat baju apa yang akan dia gunakan.
“Dasar, Oza sialan.” Dia meremas rambutnya sendiri, kesal dengan baju berwarna cerah yang hanya ada di dalam lemarinya.
Seharusnya dia menyadari bahwa tingkah Oza kemarin sangatlah aneh. Padahal dia paham, setiap kali Oza bersikap aneh, pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan.
Dia berdecak kecil.
Kesal dengan pemandangan yang ada di depannya.
“Kau buang ke mana semua bajuku, Oza!?” Dia mematahkan lagi pintu lemarinya. Sudah 5 kali ditambah dengan ini, dia membuang sembarangan pintu yang rusak karena kekuatannya.
Di tempat lain.
“Kau kenapa senyum-senyum seperti itu, Oza?” Adlan menyenggol tangan Oza yang sibuk dengan dunianya sendiri.
Seharusnya, mereka sarapan dengan tenang. Tapi sekarang, mereka malah mengurusi mayat dengan bau busuk yang memualkan, dan Oza malahan tersenyum sendiri seperti orang gila.
“Aku mengingat tentangnya, hari ini dia akan menjalani hidup yang baru.” Dia mengangkat tangan mayat di depannya dengan santai, beberapa daging busuk terkelupas. Ekspresinya masih rak berubah, sangat tenang.
“Oh, dia sudah masuk kuliah, ya. Pasti berat untuknya berteman.” Adlan tertawa kecil.
“Pak, di sini kita menemukan potongan tubuh lain!”
Suara teriakan membuat mereka langsung menoleh, hari ini akan menjadi hari yang berat dan mereka harus menghindari memakan daging selama beberapa hari.
“Padahal aku mau mengajakmu memakan daging bersama.” Oza menggeleng, sarung tangannya masih penuh dengan noda kecoklatan dari daging membusuk yang dia sentuh.
“Minggu depan saja. Kau mau membuatku sakit, ya?” Adlan mengusap lengannya sendiri. Isi perutnya bisa keluar semua jika memakan daging sekarang.
Mereka berdua berhenti di tempat seorang bawahan mereka yang memanggil tadi. Memperhatikan dengan saksama.
“Tahan muntahmu. Kau sudah bekerja selama delapan tahun di bidang ini,” ucap Oza yang sekarang menunduk agar bisa memperhatikan mayat di depannya dengan lebih detail lagi.
Di waktu lainnya, yang membuat kesibukan dengan caranya masing-masing,
Suara yang sangat mengganggunya, sejak tadi membuat wajahnya mengeras.
Orang mengagumi tubuhnya yang sangat bagus, dan wajahnya yang terlihat tampan. Tapi tatapan mata yang dingin dan tak bersahabat itu, membuat mereka hanya bisa diam.
Dia berjalan dengan langkah yang lebar.
Sangat berisik, itulah hal pertama yang dia dapatkan dari kampus. Dia sudah merasa lelah sendiri dengan semua ini, dan bajunya yang berwarna biru langit, sangat tidak cocok dia gunakan menurutnya.
Bruk!
Dia menabrak seseorang di depannya, orang itu berwajah sedikit kesal, namun ketika melihat wajah Catra, dia memilih untuk menyudahinya begitu saja. Kabur dari sana lebih baik.
Naluri alaminya menyuruh agar dia kabur dengan segera, jika dia tak ingin menjadi tinggal nama.
Dari kejauhan, Catra masih memandangnya dengan lirikan yang bisa membuat orang membeku di tempat.
Tanpa suara, Catra masuk ke dalam kelasnya. Berulang kali dia melihat denah kampusnya agar tak salah masuk ke ruangan. Sebagai mahasiswa baru, yang seharusnya mempunyai teman atau mencari teman, Catra tak melakukan itu. Dia tak mengerti, kenapa dia harus melakukan itu? Orang lain seringkali menyusahkan.
Baru dua detik dia duduk di kursinya yang ada di barisan belakang, seorang dosen pria dengan wajah muram masuk. Setelah meletakkan bukunya, dia memakai kacamata yang baru saja dia ambil di dalam saku bajunya.
“Kau harus memperhatikan pelajaran dengan fokus. Berbaur bersama teman-teman.”
Lagi-lagi Catra mendengar suara Oza yang berbicara, dia mengerutkan keningnya. Oza tidak bisa lepas dari ingatannya, dan rasanya menyebalkan.
Karena itulah, dia tanpa sadar memperhatikan dosennya dengan sangat fokus. Kefokusannya itu menyebabkan teror di dalam kelasnya, bahkan pada dosennya sendiri. Tubuhnya berkeringat karena tatapan sangat serius milik Catra.
“Si-siapa namamu?” tanya dosen tersebut dengan ragu. Dia kembali mengelap keringat di keningnya.
“Catra. Dan kau sendiri, siapa namamu?” tanyanya dengan dingin. Dari suara dan tatapan matanya, dia seperti seorang musuh.
Seluruh orang yang ada di sana menelan ludah mereka dengan ragu, seorang mahasiswa berani tidak sopan pada dosennya, dia pasti akan terkena masalah.
Mata dosen itu sedikit bergetar, dia mengingat percakapan di ruang dekan tadi. Bahwa ada mahasiswa baru dengan penyokong sangat kuat, dan dia bernama Catra.
Dia menelan ludahnya.
“Daniel.”
Mendengar jawaban dari dosen mereka, mereka semua menjadi lebih kebingungan. Dosen mereka tampaknya sudah kalah dalam hal mendominasi, dan anak bernama Catra itulah pemimpinnya sekarang.
Mereka kembali menelan ludah.
“Baiklah, Daniel, kapan kau akan mulai mengajar kami?”
Daniel mengambil spidolnya dengan kesulitan, dia tak tahu kenapa anak yang baru berumur 20 tahun itu terlihat sangat menyeramkan. Walaupun dia ingin melawannya, dan menunjukkan siapa yang memimpin, nalurinya langsung menciut seketika.
Kenapa tubuhnya gemetar!? Dia kehilangan harga dirinya sekarang!
Setelah perkuliahan selesai.
“Dasar sialan!” serangnya langsung saat Oza menelepon dirinya.
Orang-orang melihatnya, karena suara berat dari mulutnya itu seperti siap menghabisi seseorang.
Di seberang telepon, Oza menjauhkan gawainya. Dia telah menduga apa yang akan dikatakan oleh Catra padanya. Anak itu selalu menyebutnya sialan, sialan, dan sialan. Selalu seperti itu.
Tapi, Oza merasa senang dengan perkataan mencaci itu. Dibandingkan dulu, saat Catra dan Oza bersama pertama kali, hanya kedinginan total yang ada di antara mereka berdua.
“Kau kenapa membuang semua bajuku?”
Oza memutar bola matanya, sedikit menyeringai dibalik gawai yang dia pegang.
“Apakah itu pantas disebut baju, Catra? Aku pikir itu semua adalah keset kaki.”
Ucapan Oza membuat Catra meradang, sekarang dia ingin berlari mendatangi Oza dan memukulnya.
“Baju yang kusediakan jauh lebih bagus untukmu. Apakah kau dapat teman?”
“Untuk apa? Mereka itu beban.”
Oza telah menduganya, di hari pertama mendapatkan teman adalah khayalan yang berlebihan.
“kalau perkuliahanmu, bagaimana?”
Oza masih tak ingin putus harapan, menunggu jawaban Catra dengan tak sabar.
“pelajarannya membosankan. Aku sudah bilang pada Daniel,” jawab Catra sambil berjalan. Orang-orang menghindarinya.
“Daniel?” tanyanya penasaran.
“Orang yang mengajarku. Dia pria yang lambat.”
Oza menelan salivanya, dia telah selesai menyimpulkan tentang siapa Daniel. Tapi dia ingin memastikannya lagi.
“Dia seorang dosen?”
“Tentu saja. Daniel tidak mempunyai kemampuan.”
Oza menekan batang hidungnya, Catra tampaknya memanggil dosennya dengan tidak hormat. Dia menggeleng, dia sudah tahu pasti ada masalah. Hatinya harus kuat.
“Nanti malam kita bertemu. Ada yang akan kuberikan padamu, Catra.”
“Baiklah.”
Tanpa basa basi lagi Catra langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia berjalan meninggalkan kampusnya dengan cukup cepat.