Manusia Egois

1104 Words
“Aku sudah bilang padamu, jangan melakukan hal seperti itu padanya. Dia manusia.” Oza berteriak, menatap tajam Yunda yang memandang tajam padanya. Sebuah luka yang menggores wajahnya sudah diobati dengan baik. Oza takut hal seperti ini terjadi, yang namanya pemerintahan, mereka ingin sesuatu yang menguntungkan untuk mereka. Dia memahami itu, dan membencinya. Dan Catra tampaknya adalah sesuatu yang menguntungkan untuk mereka. Dengan sel Catra, mereka bisa membuat pasukan super. Tak ada bedanya mereka dengan kedua paman Catra. “Bagaimanapun, kita harus mendapatkan sampel,” balas Yunda tenang. “Kau perlu memaksanya seperti itu? Dia baru saja sadar, tapi kalian ingin melakukan ini itu dengan pemaksaan. Dan ini akibatnya!” Oza sangat marah, walaupun dia juga terkejut dengan apa yang terjadi di depan matanya Catra bukan anak biasa. Dia mempunyai kekuatan yang bisa menghancurkan kaca lapis anti peluru. Itu bukanlah kekuatan manusia biasa, apa pun yang kedua pamannya lakukan pada Catra, tampaknya membuat kekuatan itu muncul. “Haa.” Akhirnya Yunda menghela napas panjang dia sasar telah melakukan kesalahan. Dan Oza tidak membiarkan ini lepas begitu saja. “Kau hanya harus mempercayakan dia padaku. Dia itu anak remaja yang terluka karena perlakuan kedua Pamannya, dia tidak percaya orang lain. Karenamu, dia semakin tidak percaya. Semuanya menjadi rumit, dan membutuhkan waktu yang lama.” Yunda memperhatikan Oza yang emosinya meluap, sorot mata dan gerakannya sangat menggambarkan betapa kesalnya Oza. Padahal Oza dikenal sebagai orang yang ramah. “Jadi, bagaimana menurutmu yang harus SSU lakukan? SSU bukan buatanmu, Oza.” Mendengar ucapan Yunda, Oza menyeringai. Tentu saja SSU adalah buatan pemerintah, yang kadang membuatnya kesal. Semua harus dari atasan, atasan, dan atasan. Tapi dia bisa menekan mereka, Oza adalah yang terbaik. Dia memegang apa yang diinginkan SSU. Pendapatnya selalu menjadi perhitungan. “Biar aku yang mengarahkannya kalian harus percaya denganku, aku yakin dia anak yang baik, dia bisa diarahkan pada jalan yang benar kekhawatiran kalian, itu tak akan terjadi. Aku berjanji.” Oza sangat bersungguh-sungguh, dia yakin dengan kemampuannya Catra bisa melewati ini semua dan jadi manusia yang berguna. Yang bisa membantu manusia. Mereka sudah seharusnya memanusiakan Catra, apalagi Catra masih dalam masa pertumbuhan. Dia membutuhkan kasih sayang untuk bertumbuh yang baik. Setelah pertemuannya dengan Yunda. “Haa.” Oza menunduk dengan kedua kaki yang terbuka lebar. Mengeluarkan emosinya ternyata membutuhkan tenaga yang banyak. Tubuhnya terasa lemah, karena luka yang terjadi tadi, dan semua kemarahannya pada SSU. Tangannya yang menyentuh kepala terasa hangat seketika, dia melihat penyebabnya, itu karena Adlan yang menyentuhkan segelas kopi hangat di tangannya. “Minumlah. Kau membutuhkannya,” ujar Adlan sambil menggerakkan tangannya. Dia ingin rekan kerjanya bersemangat, luka-luka yang ada di tubuhnya memang sangat di sayangkan. Untung saja Oza tidak meninggal karena insiden itu. Sedangkan dirinya, karena dia tidak sedekat Oza, dia hanya tergores sedikit di telapak tangannya. “Terima kasih, Adlan.” Oza mengambil kopinya, meminum dengan lesu. “Bagaimana?” “Kali ini dia bilang akan percaya padaku, tidak akan melakukan apa pun tanpa persetujuanku, tapi dia ingin Catra bisa berguna bagi umat manusia.” Suara Oza berat, pada bagian kalimat terakhir nya, dia merasa kesal seolah Catra adalah sebuah alat. Adlan bersimpati pada Oza, ekspresi Oza terlihat sangat sedih. Dia membuka mulutnya. “Aku menanyakan tentang rasa kopinya, Oza. Tapi Terima kasih sudah menjelaskannya,” ucapnya dengan tersenyum kecil, membuat malu Oza. Dia menggaruk tengkuknya, merasa malu dengan apa yang terjadi barusan. Walaupun Adlan berusaha tidak tertawa, tapi tawa tertahannya itu masih saja terlihat oleh Oza. “Kau boleh tertawa,” ucap Oza kesal. Adlan menggeleng dia melempar cup kopinya tepat ke tempat sampah. “Ayo sarapan. Setelah kita sarapan, kita akan ke pusat rehabilitasi. Kau juga mau melihat laporan dari dokter Ruda, 'kan?” Oza mengangguk, mengamati Catra adalah keharusan baginya dia harus tahu setiap detail Catra yang sekarang pingsan kembali. Dia berdiri dengan gontai, setelah beberapa kali melangkah, akhirnya dia berjalan dengan tegap. Dia menguatkan dirinya sendiri. “Aku mau makan sesuatu yang pedas. Bakso sepertinya enak,” ucap Oza sambil merenggangkan tubuhnya. “Ya, pesanlah apa yang kau mau. Akan ku traktir. Tampaknya aku gagal untuk berlibur, dan uang yang telah kusimpan telah merengek untuk minta digunakan,” tawa Adlan dengan garing. Dia masih kecewa dengan kegagalan liburannya. “Kita akan berlibur bersama. Di tengah hutan,” potong Oza dengan menggerakkan tangannya di depan Adlan. Agar Adlan bisa menggambarkan penampakan liburan mereka di hutan, membuat wajahnya semakin masam dan Oza tertawa di sampingnya. Liburan adalah sebuah lagu dengan instrumen kacau bagi anggota SSU. Oza sedang bertemu dengan dokter Ruda. “Detak jantungnya stabil, jumlah trombosit aman. Hmm,” gumam dokter Ruda pada dirinya sendiri. Dia mengusap dagunya. Berpikir kembali apa dia melewatkan sesuatu. Apalagi pengamatan yang dilakukan tak boleh dianggap sepele Kali ini dia memicingkan matanya, menatap laporannya kembali. “Dia mempunyai sel yang sangat aktif. sel-sel itu mampu menyembuhkan dirinya dengan cepat, seperti ubur-ubur. Lalu, dia mempunyai kulit yang cukup keras. Jarum suntik biasa tak bisa menembusnya.” Dia mengangguk. “Bagaimana?” Dokter Ruda menatap Oza. Kali ini, Oza tak ingin terjebak dengan pertanyaan ‘bagaimana' lagi. “Bagaimana apa?” Oza mengingat tentang tawa tertahan rekan setimnya, terasa menyebalkan dan membuatnya malu. “Menurutmu tentang laporanku,” ucapnya dengan menekankan, dia ingin Oza fokus padanya, dia paham bahwa jiwanya sekarang sedikit terganggu. “Sel-selnya berkembang dengan cepat leukosit menyerang benda asing dengan cepat, walaupun begitu, eritrosit tak kalah hebat. Dia mempunyai kekebalan untuk mengantisipasi serangan leukosit.” Oza mengangguk mendengarnya, sedangkan Adlan, sibuk memilin kertas pembayaran kopinya tadi. “Kalau begitu kita harus menunggunya sadar kembali. Kau juga istirahatlah Dokter Ruda, dibandingkan kami, luka pada dirimu begitu parah.” “Dan insomniamu kuyakin muncul kembali, Oza.” Mendapatkan tuduhan seperti itu, Oza tersenyum Oza dan Adlan berdiri, mereka meninggalkan ruangan Dokter Ruda, menuju ruangan baru Catra. Kali ini, entah apa yang akan mereka lihat, keduanya berharap tak ada luka pada Catra. Hal yang masih membingungkan Oza, bagaimana bisa Catra mengeluarkan kekuatan sebesar itu? “Lihatlah dia dengan alat bantu si tubuhnya,” ujar Oza memandangi Catra dari balik ruang kaca. “Manusia begitu egois, mereka selalu ingin hal menguntungkan untuk mereka.” Oza melirik Adlan. “Kau harus tahu, Oza, di dunia ini tak ada yang benar-benar seimbang, satu sisi harus menahan beban lebih berat agar mampu bertahan. Dan anak di depan kita, sebagai balasan atas kekuatannya yang besar, dia menerima perhatian lebih yang buruk untuk dirinya.” Adlan membalas lirikan Oza, menatapnya dalam. Tak ada keadilan yang sempurna, manusia selalu mencarinya, agar keadilan sempurna itu tercapai. Bahkan jika keadilan itu sempurna, manusia sering mendorong hal tersebut seolah tak sempurna. Seperti hukum Tuhan yang berani mereka tentang. Oza mengangguk, karena manusia egois.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD