Dengarkan Aku

1285 Words
Teriakan yang memekakkan telinga dengan wajah panik yang sulit dideskripsikan. Saat dia melihat wajah tanpa semangat sedang memandang ke depan dengan tak fokus, perasaan Oza sangat meluap. Hatinya bergetar, dan matanya berkaca, anak itu telah duduk. Saat Oza masuk dengan langka kaki yang tenang anak itu menyadarinya. Dia melihat Oza dengan tatapan dingin yang terlihat seperti mati. Oza mendekatinya perlahan, dia memasang wajah tersenyum walaupun hampir menangis. “Bagaimana keadaanmu?” Pertanyaan bodoh keluar dari mulut Oza, yang paling tahu tentang keadaannya tentu saja dokter. Namun, Catra mengabaikan Oza, dia tak membuka mulutnya ataupun menatap Oza. “Catra, sekarang kau bebas dari kedua Pamanmu,” ucap Oza dengan lembut, tapi siapa yang menyangka bahwa ucapannya baru dan membuat Catra merespons. Tatapannya sangat marah, melihat Oza dengan tak bersahabat. Dengan gerakan cepat, Catra melemparkan tiang infusnya pada Oza. Untuk nya Oza menghindar, tapi dia tak menyangka bahwa Catra mempunyai kekuatan sebesar itu. “Apa mereka mati?” tanyanya dengan tatapan yang tajam. Dia siap bertarung dan meletakkan pisau di leher orang lain jika sedang memegangnya sekarang. Oza dapat merasakan emosi Catra yang meluap, dia perlahan mencoba mendekat pada Catra yang telah mengalami penyiksaan sejak lama. Dia mengerti kenapa sikapnya sangat waspada. “Aku Oza, dari SSU,” ucapnya perlahan sambil memperhatikan Catra. Mata Catra bahkan tak bergeming sedikitpun mendengar ucapannya. “Aku yang menolongmu. Dan tentu saja kedua pamanmu telah mati, hanya kau sendirian yang berhasil selamat dari sana.” Mendengar penjelasan Oza, Catra menyeringai, sorot matanya menyeramkan. Dendam besar pasti ada dalam dirinya, tapi setelah sedetik berekspresi penuh emosi, Catra kembali mendiam. Oza mencoba duduk di dekat Catra, sesuai dugaannya, saat Oza disukai disebelahnya, Catra langsung menatapnya dengan marah. “Tenanglah. Aku tak akan melakukan apa pun padamu, kami hanya ingin kau sehat.” Catra tak menjawab, dia masih mempertahankan kewaspadaannya. Saat Oza memberi isyarat pada dokter Ruda untuk memeriksa Catra, satu tangan Catra telah mengepal kuat dan siap melayangkan tinjunya. Bugh! Oza berusaha menghalau tinju itu, anak yang terlihat lebih kurus darinya mampu membuat tubuh terlatihnya terasa sakit. Matanya bergetar sekarang, walaupun dia kesakitan, Oza berusaha keras tak menampilkan apa yang dia alami. “Catra, tenanglah. Kami tak akan melakukan apa pun padamu,” ujar Oza dengan tenang, dia bersikap se tenang mungkin untuk menghadapi Catra. Catra memperhatikan Oza, melihat tubuhnya, matanya dan sikapnya, semuanya sesuai dengan apa yang dia katakan, tak tampak maksud tersembunyi seperti yang kedua pamannya lakukan padanya. Catra diam, walaupun dengan sorot mata yang masih tak ramah. Dia membiarkan dokter Ruda memeriksanya. Dengan memperhatikan Catra, Oza tahu betapa tak percayanya Catra pada orang lain. Dia memiliki kewaspadaan tinggi, yang berdasarkan apa yang dia alami dulu. Sebuah rasa sakit yang membuat dia mempertahankan dirinya sendiri. Setelah beberapa waktu terlewatkan, Oza sedang memberikan laporan pada Yunda. “Ya, aku baru sempat melaporkan ini padamu, Yunda.” Oza menyesap rokoknya lagi, telepon genggam di tangannya dia tempelkan di telinganya. Suara Yuda dia dengar cukup baik, tapi dari sedikit malas dengan ocehannya. “Aku tak berpura-pura. Aku memang sibuk mengurusnya hingga lupa memberimu kabar.” Setelah memastikan rokoknya mati, Oza dengan enteng membuang puntung rokok di tangannya ke bawah, melayang ditiup angin. Dia menekan lehernya dengan kuat. “Dia sangat waspada pada orang lain. Kuminta kau jangan bertindak sesukamu.” Oza memberikan peringatan, menurut pengamatannya, Catra akan lebih terluka jika mendapatkan perlakuan yang sama seperti dirinya dulu. “Baiklah. Itu saja laporanku,” ucap Oza dan menekan layar dengan simbol telepon berwarna merah. Dia lagi-lagi melihat ke arah gedung. Entah berapa lama dia berdiri di luar, hingga telapak tangannya terasa membeku. Setelah menghela napas berat dari mulutnya sekali, Oza kembali masuk ke dalam gedung pusat rehabilitasi. Dia bersyukur bahwa Catra kembali tidur saat dia kembali masuk ke dalam ruangan Catra. Dengan sengaja dia meminta kasur tambahan untuknya, hari ini, dia merasa akan bisa tertidur jika bersama Catra yang telah sadar. Tak membutuhkan waktu yang lama baginya untuk terlelap sesaat tubuhnya menyentuh kasur. Telah sangat lama, dia tak merasakan kelembutan kasur. Dingin kasur menyentuh kulitnya, membuat sensasi dingin yang dia sukai. Napasnya memelan, sangat halus dengan ketenangan yang luar biasa. “Ah!” Napasnya secara tiba-tiba seperti terhalang dan tersentak. Dia terbangun dengan kesulitan bernapas. Oza berpikir sedetik bahwa dia sudah di ujung tanduk kematian, karena kesulitan bernafas ini membuat tubuhnya berkeringat. Kepalanya terasa dihantam sesuatu dengan sangat kuat. Matanya yang kabur melihat Catra telah berdiri di dekatnya, memandang dengan dingin tanpa ekspresi. “Ca-Catra,” panggilnya dengan sangat lemah. Suaranya tertahan di kerongkongannya, mencekik dan membuatnya sulit. Catra tak merespons, dia membalikkan badan dan kembali ke atas kasurnya. Tak lama setelah itu, napas Oza perlahan membaik, rasa tercekik itu menghilang. Dia memperhatikan Catra yang menatapnya dari tempat duduknya “Kau tidak ingin menanyakan sesuatu?” tanya Catra tanpa ekspresi. Oza menggeleng, dia berusaha untuk duduk, setelah berhasil dia menatap Catra kembali. Sepertinya dia harus cek kesehatan, selama tiga bulan ini, Oza mangkir dari cek kesehatan rutin dari SSU. “Apa kau tak bisa tidur, Catra?” Catra tak menjawab Ozat, dia membaringkan tubuhnya, dan memejamkan matanya. “Kurasa kau bisa tidur,” jawab Oza pada dirinya sendiri dengan tersenyum kecil yang dipaksakan Waktu berlalu hingga hari berganti. “Oza!” panggilnya cukup keras di lorong gedung pusat rehabilitasi, tampangnya terlihat kusut. Dia baru menangani kasus lainnya di saat Oza tertidur. “Ada apa?” jawab Oza dengan menguap. Tak disangka tidur selama 6 jam masih membuat tubuhnya mengantuk. “Aku dengar anak itu telah sadar. Aku ingin melihatnya sendiri.” Oza tersenyum pada rekannya, tangannya merangkul Adlan, mereka berjalan dengan gaya rangkulan yang terlihat seperti kera. Bekerja di SSU bukanlah hal yang mudah, selain itu menguras tenagamu, itu juga menguras waktu. Jadi wajar jika Adlan terkadang malas mengerjakan tugasnya. Selain gajinya yang besar, bekerja di SSU tak ada yang bisa terlalu dibanggakan. Semua orang yang bekerja di SSU harus menutupi tentang pekerjaan mereka sebenarnya. Termasuk Oza terhadap Liana—calon istrinya, Liana hanya tahu bahwa Oza bekerja pada pemerintahan. “Apa anak itu baik-baik saja?” Adlan kembali bertanya, dia ada bersama Oza saat itu. Melirik wajah Oza yang terlibat lebih cerah dibanding kemarin, Adlan tahu bahwa rekannya ini sudah tidur. Ada hal baik berarti. “Dia baik-baik saja. Hanya sikapnya saja yang dingin,” jelas Oza yang kemudian berhenti berjalan. Keduanya saling bertatapan, “Aku mengerti kenapa sikapnya seperti itu. Apa yang dia lalui, tidak bisa kita bayangkan.” Adlan mengangguk menyetujuinya. Jika Catra adalah dia, dia akan mengalami hal yang sama dengan Catra. Tanpa ekspresi dan tak percaya orang lain. “Apa Yunda tahu tentang Catra yang telah bangun?” Oza sedikit memiringkan kepalanya, dia melihat Adlan yang menatapnya dengan kasihan. Setelah mengambil napas dengan enteng, dia mulai bicara. “Tentu saja Yunda tahu. Dia adalah ketua kita.” “Pantas saja aku melihat anggota tim pusat ada di sini.” Perkataan Adlan membuat Oza waspada, memang benar apa pun yang terjadi dia harus melaporkannya pada Yunda yang merupakan ketua mereka. Tapi Yunda sendiri telah berjanji padanya, Oza mengenal Yunda. Seorang yang selalu serius dengan pekerjaannya. Yunda suka mengantisipasi apa pun. Dia mempercepat langkah kakinya. Jarak dari kamar Catra 10 meter, saat itulah Dia mendengar teriakan Catra. “Pergi kalian! Dasar kalian monster!” Catra berteriak. Teriakan itu terdengar sangat histeris, bahkan Dokter Ruda terlihat di dekat mulut pintu. Wajahnya panik dengan gelisah. “Pegangi dia! Kita harus mengambil sampelnya!” Oza semakin mempercepat langkahnya. Karena suara teriakan yang terdengar teriakan itu semakin ramai. Saat dia tiba di mulut pintu, sebuah ledakan muncul dari dalam. Membuat kaca yang melindungi ruangan itu sebelumnya pecah menjadi pecahan yang melukai tubuh mereka. “Arg.” Suara rintihan terdengar. “Oza!” Pandangan oza tidak fokus, tapi dia melihat banyak anggota SSU yang terbaring di lantai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD