“Jadi, sudah sampai mana?”
Adlan melirik Oza yang sangat tenang, wajahnya menyengir pada pimpinan mereka yang berusia 10 tahun lebih tua dari Oza.
Mereka adalah kakak adik yang satu bersifat dingin, dan yang satunya bersifat hangat. Dua anak yang lahir dari rahim sama, namun berbeda karakternya.
“Yunda, kau kan mendengar penjelasan kami tadi. Kau ini suka menanyakan sesuatu lebih dari sekali.” Oza mengangkat santai kedua bahunya sekarang dia melirik Adlan yang terdiam melihat tingkah Oza. Walaupun mereka saudara, Yunda memiliki jabatan lebih tinggi darinya.
Dia adalah pimpinan dari SSU.
“Oza, aku tahu sifatmu. Kau pasti telah menemukan sesuatu.” Dia langsung mengungkapkan pikirannya, tentu saja dia mengenal sifat Oza yang suka bertingkah aneh saat menyembunyikan sesuatu.
“ya, baiklah. Menurutku mereka adalah sebuah organisasi yang terstruktur, dan mereka menantang kita.” Tatapan Oza menajam kedua saudara itu memiliki sorot mata yang sama sekarang.
“Lalu?”
Yunda masih menatap keras ke arah Oza yang sekarang menyengir kembali.
“Kau memang kakakku,” ucapnya santai.
Jika Oza bukanlah adiknya, mempunyai bawahan seperti Oza yang menyebalkan tentu akan membuat Yunda naik darah. Yunda menjadi lebih tak sabar menunggu jawaban dari adiknya, jari-jarinya dia mainkan di atas meja.
“Aku akan merawat Catra. Dia akan di bawah pengawasanku.”
Mendengar permintaan Oza, Yunda mencondongkan badanya, memperhatikan adiknya lebih lekat.
“Tidak bisa.”
Jawaban singkat yang membuat Oza cemberut, sedetik kemudian dia menguap dengan santai. Dia memberatkan suaranya yang tadi hampir saja berteriak membentak Oza.
“Jangan libatkan perasaanku dalam pekerjaan, Oza. Kau pergilah untuk ke dokter sana, insomniamu semakin parah.”
Oza maju selangkah, dia tak melembutkan tatapan matanya, dia menantang kakaknya dengan berani. Persis seperti mereka kecil dulu.
“Kalau begitu berikan dia padaku. Kau yang paling tahu penyebab insomniaku, Yunda. Jangan membuat alasan.”
Yunda menghela napas, bersitegang dengan Oza akan sangat melelahkan Oza pantang menyerah dia juga tak takut kehilangan pekerjaan ada banyak racun dari mulutnya.
“Aku yang paling hebat di SSU, kerjaku selalu bagus. Semua orang kenal denganku,” ucap Oza menyombongkan dirinya sendiri agar Yunda sadar siapa dia. Terkadang, manusia harus diingatkan kembali tentang apa yang pernah kita capai.
Yunda menguruk batang hidungnya, dia paling tahu tentang catatan hebat adiknya yang banyak tingkah ini. Dia tak akan menolak pernyataan Oza.
“Baiklah, baiklah. Aku akan menjadikanmu wakil Catra,” ucapnya dengan tenang, setelah melihat Oza tersenyum tipis, dia melanjutkan perkataannya lagi. “Tapi, kau harus membuat laporan tentang Catra, dan tentu saja dia masih di bawah SSU, kau tak akan bisa menghalangi SSU jika mereka ada urusan dengan Catra.”
Oza mengangguk kecil, dan dengan santai tanpa mengucapkan Terima kasih, Oza berbalik badan. “Tentu saja, aku akan memastikan Catra tak terkekang dengan namanya SSU.”
Belum sempat Yunda membalas ucapan Oza, pintu ruangan tertutup rapat. Langkah kaki Oza telah menjauh, dengan tangan yang meremas kota rokok kosong miliknya.
**
Kantor pusat mereka ada di salah satu kepulauan seribu, untuk ke sana, mereka harus menggunakan kapal ataupun helikopter.
Tentu saja kantor mereka adalah rahasia yang publik tak ketahui, mereka sering dianggap sebagai perusahaan asing. Padahal seluruh penghuninya adalah warna negara asli. Terkadang untuk menutupi jejak, kita harus membuat jejak lainnya walaupun jejak itu sangatlah jelek.
Oza memandangi makan siangnya yang sangat kesorean. Hanya ada tendang, kerupuk, sup, dan ayam goreng di nampan makannya.
“Hmm,” gumamnya sendiri memperhatikan lauk mana yang akan dia ambil lebih dulu.
Brak!
Sebuah nampan diletakkan secara kasar di depan Oza, dia duduk di depan Oza kemudian dengan wajah cemberut. Oza memperhatikan rekannya yang menurutnya aneh, jika dia memberikan kejutan pada orang lain, seharusnya orang itu yang berwajah cemberut, bukanlah dia.
“Kau mirip sekali penjual jeruk masam.” Oza mengambil ayam gorengnya, menggigitnya sekali dengan santai.
Wajah masam Adlan semakin menjadi, dia mendengus saat menyiapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Saat mengunyah, dia kembali berbicara.
“kau meninggalkanku sendirian di ruangan ketua Yunda. Akibat ulahmu aku diomeli olehnya.” Adlan menyentuh keningnya, menurutnya pelan seakan hal itu akan berhasil merendahkan sakit kepalanya. Secara bersamaan perutnya berbunyi karena belum diizinkan sejak tadi.
“Ah, kau tinggal kabur saja dari sana,” ucap Oza dengan tenang, senyum kecil berkembang di wajahnya. Dia menghabiskan ayam gorengnya tanpa nasi.
Adlan yang sedang mengangkat sendoknya berhenti mendengar ucapan Oza, dia menatap kesal ke arah Oza.
“Hei, ketua Yunda hanya sedikit lembut padamu, bukan berarti dia akan lembut juga padaku. Bisa-bisa aku dikirimnya ke daerah perbatasan dan harus menetap di sana selama setahun.”
Oza mengangguk, tentu saja itu benar. Tanpa hubungan keluarga, Oza yakin Yunda akan mendisiplinkannya dengan sangat keras.
“Makanlah ini, akan membuatmu bertenaga.” Oza memberikan sedikit rendang miliknya, untuk mengalihkan rasa kesal dari rekan yang telah menemaninya dua tahun.
Adlan tak memedulikan hal itu, dia mencondongkan tubuhnya, membuat jarak mereka semakin dekat.
“Hei, aku berhasil mendapatkan datanya.”
Bisikan itu membuat Oza menghentikan proses makannya, dia terlalu bersemangat hingga tak merasa lapar lagi.
“Berikan padaku. Biar aku yang menyeleksi mereka.”
Adlan memakan makanannya terlebih dahulu, membiarkan Oza yang menatapnya dengan tatapan ingin. Balasan kecil untuk Oza yang terkadang menyebalkan. Setelah menghabiskan setengah dari makan siang kesoreannya, dia baru mau menatap Oza kembali.
“Ikut ke kantorku nanti, kuyakin dia telah meletakkan laporan dengan baik. Data itu bisa kita gunakan untuk menangkap ekor mereka.”
Oza menyentuh dagunya, dia menggeleng omelan sesaat menatap Adlan. “Aku meragukannya, karena mereka ini pintar, dan dia tahu tentang kita sedangkan kita tidak tahu tentang mereka. Ini sama saja mencari koin di danau.”
Oza berdiri dari tempat duduknya setelah melihat Adlan telah menyelesaikan makannya, dia tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk membaca seluruh data yang akan dia gunakan untuk analisa.
“Ayo ke ruanganmu, Adlan.”
Adlan mengangguk, dia berjalan lebih dulu dibandingkan Oza yang mengebor padanya dengan wajah kantuk.
**
“Anda ke sini lagi,” ucap dokter dengan wajah yang ramah. Hari ini Oza sudah dua kali ke pusat rehabilitasi, tadi pagi dan malam ini.
Dia menggunakan mantel yang cukup tebal karena cuaca sedang hujan sangat lebat. Beberapa tetes air menetes dari mantelnya, dia langsung melepaskan mantel dan menggantungnya agar tak membasahi lorong pusat rehabilitasi dengan air.
“Anda sedang apa di sini, Dok?” tanya Oza dengan senyum kecil khas miliknya.
Dokter bernama Ruda menunjukkan segelas kopi yang baru saja dia beli dari kantin.
“Ini,” tunjuknya dengan ramah. “Anda mau menemui Catra lagi?”
Oza mengangguk dengan lemah.
Selama seminggu ini, Oza tak pernah sekali pun absen untuk menemui Catra yang belum juga sadarkan diri. Walaupun dia terlihat sangat kelelahan, tapi Oza tak pernah absen mengunjungi Catra.
“Tunggu sebentar di sini. Kita akan bersama ke tempat Catra,” pinta dokter Ruda pada Oza. Dia menuruti Ruda, duduk di kursi yang ada di Koridor dengan punggung yang menyandar ke dinding.
Dia menatap langit-langit gedung yang berwarna putih. Sepuluh menit kemudian, dokter Ruda muncul dengan gelas lain di tangannya.
“Ambillah ini. Bisa menenangkan sarafmu yang menegang karena kasus ini.” Dokter Ruda menyodorkan segelas minuman yang dia bawa.
“Terima kasih,” ucap Oza ramah. Setelah mengucapkan rasa Terima kasihnya Oza meneguk minuman hangatnya. “Coklat?”
Dokter Ruda tersenyum, dia memang sengaja memberikan coklat hangat untuk Oza, agar Oza bisa tertidur sebentar walaupun itu tak sesuai dengan kesan dirinya yang terlihat berkarisma.
“Kau bisa menenangkan pikiranmu dengan itu. Ayo ke tempat Catra.”
Oza berdiri, dia mengikuti dokter Ruda yang telah berjalan terlebih dahulu dengan pelan.
“Bagaimana dengan Catra?” Oza kembali meneguk coklat hangatnya setelah bertanya. Langkah kaki mereka selaras sekarang.
“Seluruh tubuhnya sekarang tanpa luka atau bekas lukanya. Kita hanya menunggu untuknya sadar.” Dokter aruda mengguncang gelas kopinya, menyadari isinya telah kosong, dia memasukkan gelas yang dia pegang ke tempat sampah.
Oza merenggangkan tubuhnya, ada kenikmatan dari apa yang barusan dia lakukan. Mereka semakin dekat ke ruangan Oza, dan secara tiba-tiba seorang berjas putih yang merupakan asisten dokter Oza muncul dari dalam ruangan dengan tergesa-gesa.
“Dokter Ruda, Catra telah sadar!” teriaknya dengan wajah yang panik.
“Dia telah sadar!” teriaknya sekali lagi membuat wajah keduanya sangat terkejut. Langkah mereka terburu-buru, hingga tak sadar bahwa minuman yang dia pegang telah terjatuh di lantai.