Anak yang Koma

1267 Words
Suara detak jantung terdengar dari mesin yang terpasang di tubuhnya. Sudah seminggu sejak dia di rawat, dia mengalami penyembuhan yang luar biasa, tapi dia belum juga sadar. Mungkin tubuhnya mengalami syok, sehingga menolak semua hal walaupun dia dalam keadaan fisik yang sekarang membaik. Tapi orang-orang telah bicarakan anak yang dia selamatkan sebagai anak yang ajaib, yang memiliki kemampuan hebat. “Bagaimana keadaannya?” tanya Oza pada dokter, dia tak bisa lepas tangan begitu saja. Bersimpati terhati orang yang terbaring di atas kasur dengan alat bantu yang banyak. Dia tampak mati walaupun tubuhnya membaik, entah sampai kapan dia akan terbaring di atas kasur dengan alat bantu yang banyak. “Kesehatannya semakin hari semakin meningkat. Bahkan ini diluar dugaan anda ingat tentang setengah tubuhnya yang terbakar hebat saat anda membawanya ke sini?” Pertanyaan dokter tentu saja mendapatkan jawaban anggukan dari Oza dengan cepat. Dia sangat ingat saat dia ditemukan dia dalam keadaan tak baik-baik saja setengah dari wajahnya terbakar, tapi lihatlah dia sekarang, dia mempunyai wajah yang hanya terlihat seperti terkena luka gores. Semua orang terkejut dengan apa yang mereka temukan, dia adalah pria muda yang seharusnya sibuk di sekolahnya. Tapi dia mengalami hal mengerikan. Hal yang Oza ketahui, bahwa gedung itu dibuat oleh dua orang kembar keluarga Haratana, dua pria yang berprofesi sebagai ilmuwan. Dan catatan lainnya, kemungkinan yang mereka temukan, mengatakan bahwa anak laki-laki yang mereka selamatkan adalah keponakan mereka. Namun hal paling mengejutkan lainnya, saat Oza melihat laporan penelitian mereka, hati Oza rasanya sangat teriris, Catra Haratana, sejak berumur 12 tahun telah menjadi subyek penelitian gila pamannya sendiri. Mata Oza bersimpati pada Catra. Dia tak tahu betapa sakit yang Catra rasakan, selama bertahun-tahun menjadi bahan penelitian gila kedua pamannya yang seharusnya mengasihinya. Sebuah keajaiban untuk Catra bisa selamat dari ledakan dahsyat itu. “Jika dia manusia biasa seperti umumnya dan tak memiliki keberuntungan, aku yakin anak itu pasti telah mati. Tapi lihatlah kondisinya sekarang, luar biasa. Bahkan seluruh sel tubuhnya sekarang membaik.” Oza mengikuti pembicaraan yang dilakukan dokter di sebelahnya, matanya memandangi Catra dari dinding kaca yang memang dipasang. Dia tampak sangat lemah, namun Oza bersyukur. Catra, seorang anak yatim piatu yang mendapatkan perhatiannya sejak dia menemukan Catra. Tubuh Catra dibandingkan anak 17 tahun sangatlah kurus, mungkin karena dia mengalami percobaan berkali-kali pada tubuhnya. “Apa kau mau menelitinya juga?” Oza akhirnya memandang dokter di sebelahnya. Mendapatkan pandangan yang sedikit tajam itu secara tiba-tiba, sang dokter menelan salivanya. “Te-tentu saja tidak ....” Bukanlah rahasia umum jika mendapatkan sesuatu yang berbeda dan menarik kita cenderung penasaran dan ingin menguliknya lebih dalam. “Tapi entahlah dengan SSU,” ucapannya membuat Oza tersadar. Ya, bagi SSU, Catra juga merupakan subyek yang berharga, selain sebagai saksi, tampaknya sekarang mereka menaruh perhatian pada kemampuan penyembuhan dirinya. Oza tak bisa memikirkannya, jika anak di depannya kembali menjadi bahan penelitian, tubuhnya di otak-atik lagi, apa dia akan menjadi debu? Karena sungguh dia telah melewatkan banyak hal kejam tanpa kasih sayang di sisinya yang melindungi dirinya. Oza kembali mengernyitkan keningnya, apa yang bisa dia perbuat? Dia kembali menghidupkan sebatang rokok, sebelum dokter menyelanya untuk menghentikan kegiatan merokoknya, Oza mengangkat tangan kirinya dan berjalan keluar untuk menenangkan diri. Langkah kakinya sedikit melemah dengan tubuh yang kekurangan oksigen. Dia menguap. ** “Oza, kau lagi-lagi ada di pusat rehabilitasi?” Suara Adlan terdengar tergesa-gesa dari sambungan telepon, dia masih ada di tempat kasus lain. Sedangkan Oza, setiap kali dia senggang, dia menyempatkan diri untuk ada di pusat rehabilitasi kesehatan yang dimiliki oleh SSU. Dia ingin memastikan sendiri bahwa Catra mengalami perkembangan. Para rekan Oza mengatakan bahwa sikap Oza seperti sedang memperhatikan anaknya sendiri. Bahkan lamaran yang Oza ingin lakukan menjadi tertunda karena Catra. “Ya, apa ada sesuatu yang kau temukan?” Setelah menanyakan sesuatu pada Adlan, Oza kembali menyesap rokoknya yang telah memendek. Dia memperhatikan pemandangan di depannya, gedung pencakar langis sangatlah banyak, yang membuat pemandangan membosankan, di mana pun selalu ada gedung dan gedung, jika dia melihat ke bawah, kendaraan yang banyak akan hilir mudik. Udara hari ini sedikit dingin karena sedang mendung, dia sedikit merasakan dingin di wajahmu dan ujung tangannya, tapi dia tak ingin mengambil jaket ataupun menggunakannya. Saat ini, tubuhnya terasa sangat lelah, dia sangat menginginkan tidur tapi matanya tak kunjung bisa tertidur walaupun dia ingin. “Ah, tidak, aku cuma menanyakan kesibukanmu untuk mengajakmu ke vila mereka.” Kedua alis Oza langsung bertautan mendengar ucapan Adlan. Penasaran muncul di dalam hatinya, dia menduga ini pasti berhubungan dengan Catra. “vila?” jawabnya langsung. “Vila Bima dan Bimo Haratana. Mungkin di sana ada sesuatu yang akan memberi tahu kita tentang apa yang mereka inginkan,” jelas Adlan. Mendengar penjelasan Adlan, hati Oza menjadi membara, jemarinya yang berkerut di genggamnya dengan erat. “Baiklah. Kita bertemu di sub markas sejam lagi.” Oza melemparkan rokoknya ke lantai, lalu menginjaknya hingga mati. Bima dan Bimo adalah ilmuwan yang sangat hebat, mereka pernah memenangkan penghargaan Nasional, itulah yang membuat mereka tak mengerti, kenapa mereka melakukan hal kejam pada keponakannya. Melihat dari besarnya laboratorium dan banyaknya orang yang ada di sana, ini tampaknya mempunyai tujuan lain yang sangat besar. Hanya mengorek dari beberapa laporan yang berhasil selamat dari ledakan, tidak membuat mereka menemukan informasi yang banyak. Hanya tentang Catra, yang bahkan tak mendetail. **. Oza menguap lagi untuk ke empat kalinya. Matanya sampai berair karena uapan yang tak hentinya. Dia mengusap matanya menghapus buliran air yang mengaburkan penglihatannya. Sangat merepotkan memandang dengan pandangan kabur, dia membutuhkan pandangan tajam yang sangat cerah. “Tampaknya kau harus meminta obat tidur jika begini. Mengantuk tapi tak bisa tidur. Hari ke berapa?” sebagai rekan Oza, Adlan sering kali memergoki Adlan yang mengalami insomnia parah. Sudah sering dia mengetahui Oza akan mengalami insomnia jika sedang menjalani tugas yang membuatnya penasaran. Kali ini, Adlan tahu bahwa Oza memiliki rasa peduli yang besar pada Catra, dan dia ingin mengetahui hal sebenarnya yang terjadi. “Ke lima,” ucap Oza dengan tersenyum kecil. Dia tak menyukai konsumsi obat, karena bisa menghancurkan tubuhnya, tapi tak tidur juga mampu menghancurkan tubuh manusia. Berulang kali Adlan telah menceramahi Oza, tapi Oza tetap tak mau mendengarkannya. Dia mempunyai pilihan yang sendiri. Vila di depan mereka terlihat mewah. Setelah perjalanan selama sejak ke vila, mereka akhirnya sampai. Vila yang ada di pinggiran kota, dengan di d******i kayu dibandingkan beton yang kokoh, tapi mereka tahu, bahwa kayu yang mereka gunakan bukanlah murah. Vilanya sedikit terpinggir dibandingkan vila lain yang ada di sana dia mempunyai halaman yang luas yang membuat jarak dari vila lainnya menjauh. Keduanya turun dari mobil dengan tenang. Tak menunggu lama untuk keduanya mendobrak masuk ke dalam Vila, hanya bermodalkan dengan satu alat, mereka masuk dengan tenang. Setelah mereka masuk, mata mereka membulat, napas menjadi lebih berat. Seharusnya mereka bisa menemukan vila ini dengan lebih cepat. Vila yang mereka datangi tampaknya telah didatangi oleh orang lain terlebih dahulu. Mereka membongkar isi vila, mengambil sesuatu yang mereka tak ketahui dan ingin mereka sembunyikan. “Ini lebih besar dari dugaan awal kita,” kata Adlan sesaat setelah menunduk, dia memperhatikan lantai yang penuh dengan jejak kaki. Oza menyeringai saat menyentuh dagunya, “Dan mereka menantang kita.” Adlan melihat Oza dengan terkejut, pikiran yang tajam selalu datang pada Oza, dia selalu bisa mengendus hal lainnya. Yang terkadang luput dari perhatian orang lain. “Jika mereka ingin merahasiakan diri mereka, mereka tak akan meninggalkan jejak sebanyak ini. Dengan waktu yang cukup banyak, mereka bisa membersihkan ini semua dengan sangat rapi agar tak terendus, kalau begini, mereka seolah mengatakan.” Oza menatap ke arah lain, tepat di tempat yang dia lihat, terdapat gambar lingkaran berwarna abu-abu. “Tangkaplah aku jika kalian bisa.” Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD