Clar duduk di pinggiran ranjang tidurnya sembari membuka ponsel. Memang ada sinyal juga di sini, namun sifatnya hanya sekitaran rumah saja dan ini salah satu penemuan ayah Suez di mana rumah tersebut menciptakan sinyal sendiri sehingga hanya bercakup pada area yang diinginkan. Rumah ini bahkan dibatasi pagar di ada dinding kawat yang lebih besar lagi 200 meter dari area sana kecuali mendekati sungai besaran.
Sejenak Clar mengingat pertama kali ia datang ke dalam rumah dan keluarga kecil Suez dan Mega. Mereka begitu ramah selayaknya suami istri pada umumnya. Clar pikir Suez adalah seorang petani biasa karena area rumahnya dipenuhi dengan tanaman yang cocok untuk dibudidayakan, ternyata dirinya salah besar. Suez adalah seorang ilmuan.
Bagaimana di dalam rumah tersebut yang dari luar nampak seperti rumah biasa namun di dalamnya penuh ciptaan dan pemandangan tak biasa. Clar tau bahwa memang teknologi dunia semakin canggih, namun keterkejutannya terhadap penemuan penemuan milih Suez sudah sampai ke tahap ia sendiri berdecak kagum olehnya.
"Basic-ku hanyalah sebatas membantu Professor Suez saja, karena pada dasarnya kemampuanku hanya mengendalikan perlengkapan terjun payung saja," gumam Clar mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit. "Coba kalai gue berani, pasti mungkin bisa sehebat itu. Sayangnya nih Professor kayak terlalu sibuk. Penasaran, kalau penemuannya berhasil apa imbalannya ya? Kayaknya gede sih, selain bakalan bikin nama dia terdaftar hak cipta, dia bakal diakui sama Raja dan Presiden di dunia sebagai pahlawan penyelamat dunia. Dunia sudah semakin parah, robot sudah tidak bisa menggantikan peran karena mereka tidak bisa melahirkan bayi manusia."
Kalau disebut melawan takdir alam, karena yang namanya makhluk hidup harus melestarikan keturunannya supaya tidak punah. Manusia merupakan makhluk hidup, mereka pantas untuk bertahan sampai dunia memang hancur karena dasyatnya bencana alam.
Sejujurnya saat ini Clar merindukan keluarganya walaupun ia mendapatkan kabar tidak mengenakan tiga tahun yang lalu bahwa mereka semua harus mendapatkan kenyataan pahit— ditembak secara brutal oleh oknum salah sasaran. Mati mengenaskan di dalam rumah yang bersimbah darah. Clar mengenali mereka semua dari berita karena wajah dan nama yang terpampang pada berita media televisi begitu jelas. Padahal, saat itu ia bertekad akan pulang karena sudah menghilang selama satu tahun lebih lamanya.
Ia rindu ayahnya.
Ia rindu ibunya.
Ia rindu adiknya.
Semuanya sudah pergi ke surga, kini Clar sudah sebatang kara tanpa siapapun. Kalau kembali lagi menjadi atlet terjun payung juga dirasa percuma, pasti akan ada pengganti yang lebih handal daripadanya. Ia kembali hanya untuk diwawancarai, sedangkan Suez memintanya untuk menjaga rahasia mengenai tempat ini usai bersusah payah menyembunyikan lokasi dan pelacakan sinyal.
Tunggu dulu ... Clar tidak bisa kembali jika hanya menjelaskan kehilangannya saja, ia bisa membuat suatu alasan yang tepat dan masuk akal sekaligus menguntungkan untuk dirinya sendiri. Ini hanya butuh waktu, yang pastinya bukan tahun sekarang karena dirinya benar-benar ingin membuat perubahan juga. Pada akhirnya, ia berpikir Suez akan membantunya kali ini. Waktu memang mengubah segalanya.
"Ide itu.. apakah berhasil? Gue bakal coba dulu, Professor Suez, kali ini gue bakal bener bener butuh bantuan lo, karena ini mencakup kehidupan gue. Keluarga gue pasti bangga kalau rencana ini berhasil dengan sempurna," Clar tersenyum tipis dengan senyum bahagia tak terkira.
Mulai malam itu, ia mulai mengetik perencananya untuk kedepannya nanti. Supaya ia tahu bahwa memang ada kesempatan dirinya berubah, benar-benar berubah sesungguhnya seperti kepompong menjadi seekor kupu-kupu cantik.
***
Raja Rhageo gugup ketika berita mengenai kelahiran pangerannya sudah sampai ke telinga rakyat. Beruntung tidak ada berita yang mengenai bahwa kelahiran anaknya adalah ganda atau kembar. Karenanya bisa menimbulkan kegaduhan. Apa yang akan mereka pikirkan jika kerajaan sendiri kembali menghasilkan gen XY sebelum tepat ratu meninggal karena melahirkan. Rakyat masih menerima, namun katanya ini menjadi kesempatan terakhir karena mereka tidak mau hidup dalam kegelisahan.
Berapa kali unjuk rasa dilakukan karena menginginkan bahwa anggota kerajaan saat ini haruslah perempuan? Kenapa kembali laki-laki?
Mereka tidak mempermasalahkan ratu yang dirumorkan keguguran setiap hari, namun apakah memang kerajaan tidak bisa bekerja sama lebih dalam dengan pata peneliti mengenai hal ini? Daripada harus pasrah mati dalam kesengsaraan karena mereka tidak bisa menghasilkan keturunan, lebih baik rakyat bunuh diri secara masal jika sisa wanita di dunia ini sudah meninggal dan sama sekali tidak ada bayi perempuan lagi.
Usia Pangeran Seo sudah menginjak usia 8 bulan lebih beberapa hari. Pangeran Seo diasuh oleh robot wanita yang selalu dikirim ke kerajaan untuk melayani dan melaksanakan tugas-tugas pada umumnya seorang pelayanan. Bayi itu selalu menurut setiap diberi s**u ataupun makanan oleh sang robot. Ada batasan Pangeran Seo harus berinteraksi dengan para robot karena menghindari bayi tersebut terpikat oleh bukan yang seharusnya dilakukan oleh manusia.
Tentu saja Raja Rhegeo juga tidak mau anaknya memiliki ketertarikan sejenis jika sudah besar. Kelak, Pangeran Seo akan diajarkan perbedaan laki-laki dan perempuan, melarang ketertarikan pada sejenis dengan sesekali membiarkannya bergaul dengan robot anak seusia yang sifatnya akan dibuat betulan layaknya anak perempuan asli.
"Raja, mengenai tindak lanjut suara rakyat. Apakah ada kemungkinan pangeran bisa menemukan pasangan yang tepat? Maksudku, kita tahu bahwa katanya hanya ada tiga yang tersisa. Tidak mungkin, kan, kalau menjodohkan pangeran yang masih sangat belia dengan perempuan berusia 50 tahun ke atas dari benua seberang?" tanya sang Perdana Menteri yang merangkap sebagai Duke.
"Saya tidak mungkin membiarkan pangeran hidup bersama orang yang memiliki perbedaan usia yang sangat jauh. Harapan kita hanyalah tiga wanita tersisa, mereka bisa melahirkan bayi perempuan. Yang kelak nantinya bisa meneruskan pewaris kerajaan ini," jelas Raja Rhageo. "Percuma juga kalau saya menyerahkan tahta ke keluarga lain, karena mereka pun sudah tidak mengincar kedudukan atàu posisi penting seperti orang dulu dulu, tapi mereka juga menginginkan sebuah keturunan yang layak. Saya sedih sekaligus senang mendengarnya. Di satu sisi, ibu saya meninggalkan semua anak laki-laki, di satu sisi lainnya ini akan menjadi beban saya sebagai raja dan saudara tertua oleh saudara lainnya dalam memenuhi harapan semua orang."
Duke paham, berat menjabat di tahta tertinggi di salam sebuah pemerintahan. Menanggung beban yang sangat berat, karena harapan yang tidak mungkin terpenuhi akan menimbulkan keprotesan yang lebih parah daripada sebelumnya.
Tapi, memang benar yang dikatakan rajanya. Tidak mungkin membiarkan sang pangeran hidup dengan seseorang yang memiliki perbedaan sangat jauh dengan pangeran. "Raja, kalau kemungkinan terburuk terjadi ... apakah ada kemungkinan kalau ratu masa depan akan terganti dari ratu manusia asli dengan ratu robot? Seorang raja tidak mungkin berkuasa sendirian sekalipun sistem kerajaan ini adalah kekuasaan mutlak." Duke memberi sebuah saran, dimana saran tersebut diambil dari resiko pahit di masa depan negara ini.
"Robot ya ....," janggut tipis itu diusap pelan. "Sebenarnya saya ada pikiran seperti ini, namun alangkah lebih baik jika ini dilakukan menjelang akhiran sebuah pemerintahan Seo kelak. Saya tidak mau terburu-buru dalam memutuskan hal penting semacam ini. Bagaimana pun, masa depan Seo pun harus cerah, jangan berakhir cerah di masa pemerintahan saya saat ini." Raja Rhageo berusaha untuk tidak terlihat tertekan dalam menyampaikan pendapatnya tersebut.
Ia seorang raja, ia harus memiliki sikap yang tenang dalam berbicara. Apalagi usianya yang tidak lagi muda saat ini, kategori raja yang justru harus segera turun tahta karena memerintah lebih dari batasan waktu yang sudah ditentukan.
Pangeran Seo tiba-tiba menangis, suara kencang seorang bayi laki-laki itu terdengar dari pintu luar ruangan milik Raja Rhageo. Sepertinya, sang putra mengalami kegelisahan yang luar biasa. Robot pengasuh sampai menyerahkan sang pangeran ke ayahnya untuk ditenangkan. Duke melihat bahwa pangeran sudah dipeluk dan diusap kepalanya, namun tetap saja menangis.
Apakah Pangeran Seo memerlukan kasih sayang seorang ibu yang sebenar-benarnya? Ratu Marabella yang meninggal pasca melahirkan pangeran kembarnya tidak bisa memberikan kasih sayang dalam wujud roh sekalipun.
Ada kemungkinan lain. "Apa mungkin kalau kembarannya pangeran juga sedang mengalami hal yang sama? Bukankah dia sudah dibuang di hutan yang gelap di mana tak ada seorang pun yang berani mendatangi hutan itu sendirian. Bahkan jika masuk sekalipun akan mustahil keluar hidup-hidup kecuali jika memang datang dalam keberanian dan pasukan seperti yang dilakukan penasehat kemarin." Ia berguman, memikirkan hal yang masuk akal.
Iya, bisa jadi. Kembaran Pangeran Seo mungkin masih hidup saat ini? Mungkin, iya mungkin saja. Duke menutup mulutnya untuk menyimpan pendapatnya itu sendiri. Setelahnya, ia pamit undur diri daripada semakin membuat Raja Rhageo pusing karena Pangeran Seo semakin tidak bisa tenang.
Dengan pakaian gagahnya, Duke berjalan dengan penuh aura kebangsawanannya melewati setiap prajurit dan pelayan yang lewat. Ia berjalan masih memikirkan bayang-bayang anak raja yang dibuang ke dalam hutan.
Sebaiknya jika benar kembaran Pangeran Seo masih hidup sampai saat ini, aku harus mencari tahu. Tapi, akan sulit menemukan di mana dia berada, tidak mungkin memasuki hutan itu. Satu-satunya cara adalah mencoba bekerja sama dengan salah satu makhluk imortal yang kupercaya.