SB-19

2113 Words
Sebenarnya, Keisha juga tidak mau tau alasannya apa. Tapi disini, Keisha juga penasaran dengan alasan Giffard itu apa. Kalau doa cari tahu sendiri yang ada Giffard pasti ngamuk. Turun dari mimik Giffard, Keisha pun menatap satu tempat makan yang ramai. Kesian mendesah, dia berpikir jika Giffard akan membawanya pulang ke apartemen laki-laki itu. Tapi yang ada Giffard malah mengajak Keisha pergi ke tempat makan. "Ini kenapa disini? Kita nggak pulang aja apa?" tanya Keisha heran. Giffard menoleh sejenak, lalu menatap banyak orang yang baru saja keluar dari tempat makan ini. "Aku lapar. Kamu sebagai istri nggak pernah tuh masakin aku." "Memangnya kamu ngasih jatah belanja apa!!" Giffard menggeleng, dia tidak punya uang untuk diberikan pada Keisha. Lagian, dia juga belum bekerja, dia masih sekolah tapi punya cita-cita nikah muda. Giffard ingin seperti ibu dan juga ayah. Setiap pagi Giffard melihat ayahnya memeluk ibunya dengan hangat, mengecup pipi dan juga kening sangat ibu dengan mesra. Bahkan Giffard juga bisa melihat ayahnya mengganggu ibunya memasak di dapur. Memeluk ibunya dengan hangat, dan sesekali bercanda tawa dengan ayahnya. Itulah kenapa Giffard ingin menikah muda. Dia ingin menikmati tanggung jawab untuk menghidupi dan juga memberikan kasih sayang sepenuhnya pada isinya. "Nggak. Kan nggak ada duit." jawab Giffard tanpa merasa bersalah. "Kalau begitu ngapain ke tempat makan ini, kalau belum ada duit. Pulang aja lah!!" Giffard menggeleng, dia tidak akan pergi dari tempat makan ini sebelum perutnya diisi. Giffard sangat lapar, dia ingin makan apapun yang dia inginkan. Masalah duit bisa di urus nanti. Menggandeng tangan Keisha, Giffard pun langsung masuk ke tempat makan ini. Untung saja masih ada satu meja makan yang kosong. Buku-buku Giffard meminta Keisha untuk duduk lebih dulu, dia akan memanggilnya waiters untuk datang ke meja mereka. "Gif, aku nggak mau cuci piring ya. Cuma karena makan di sini, tapi gak bayar." kata Keisha kesal. Giffard hanya diam awalnya. Sampai akhirnya dia pun ingin membuka mulutnya, ingin menjawab ucapan Giffard. Tapi yang ada laki-laki itu kembali diam, ketika ponsel Keisha berdering. "Halo Bu … " Keisha nampak memegangi keningnya, yang terasa pusing mendadak. Katanya, ibunya meminta sedikit uang lagi untuk membayar hutang ayahnya. Tapi masalahnya Keisha tak memiliki uang sama sekali. Dia hanya mengandalkan gaji di cafe untuk hidup selama satu bulan. Jika nanti dia memiliki uang, sudah dipastikan jika Keisha akan mengirim uangnya pada ibunya. "Nanti Kei usahanya ya Bun. Kalau nggak ada tunggu sebentar lagi, Kei masih nyari duit belum di gaji sama majikan." Alis Giffard terangkat sebelah. Dia pun menatap Keisha yang berbicara dengan suara pelan, tapi tatapan matanya pada Giffard. Mengeluarkan ponselnya, dan melihat Keisha meletakkan ponselnya. Giffard pun melempar ponselnya pada Keisha. "Tulis berapa yang ibumu butuhkan." katanya, "Nggak deh, hutang kemarin juga belum aku bayar ke kamu, Gif. Aku nggak mau lagi ngerepotin kamu." tolak Keisha. "Makanya, kalau gak mau dianggap hutang ya nikah sama aku." "Kita makan!!" sarkas Keisha. Giffard langsung diam, menatap makanan yang baru saja datang. Laki-laki itu memutuskan untuk menikmati makananya. Apalagi Keisha yang sudah makan lebih dulu daripada dirinya. Akhirnya mereka memilih diam dan menikmati makanan mereka. Sejujurnya ini adalah hal yang paling dibenci Keisha. Dulu, jika dia makan seperti ini selalu saja ada tawaan lepas dari Keisha, Tika dan juga Bertha. Apalagi mendengar cerita masing-masing yang sama-sama kerja part time. Dan kali ini Keisha begitu merindukan sahabatnya. Meletakkan sendok dan juga garpu secara rapi. Keisha pun menatap Giffard yang sepertinya ogah makan. Sejak tadi dia hanya menyuapkan beberapa sendok saja ke mulut, sisanya dia buat mainan. Seolah dia tidak mau makan, tapi ngeyel ngajakin Keisha makan di tempat ini. “Kenapa nggak dimakan? Rasanya nggak enak?” Giffard menggeleng, makanan ini sangat enak bahkan jika Giffard mau dia ingin memesan nya kembali. Tapi nyatanya Giffard memikirkan hal lain yang berhubungan dengan Keisha. “Apalagi!! Jangan macam-macam ya, kita lagi pura-pura menjadi peran suami istri.” kata Keisha mengingatkan. “Aku lagi punya pikiran … ,” Giffard menghentikan ucapannya sambil mengusap dagunya. “Gimana kalau kita pulang, dan kamu masakin aku?” lanjutnya. Keisha ingin protes dengan ucapan Giffard, tapi yang ada Giffard lebih dulu mengangkat tangannya dan membuat Keisha kembali diam. “Kita lagi latihan, kamu sendiri yang bilang kalau kita harus latihan. Kenapa kamu protes waktu aku minta di masakin?” lanjutnya. Keisha kalah telak. Tapi dia juga merasa kesal dengan Giffard, kalau dia minta di masakin lalu untuk apa juga dia datang ke tempat makan ini? “Buang-buang duit, mentang-mentang orang kaya.” cibir Keisha. Giffard tertawa. “Hasil tabungan aku ya, waktu masih hidup ke luar negeri.” Memutar bola matanya malas, Keisha meminta Giffard untuk membayar tagihan makanan mereka. Bahkan Keisha juga meminta Giffard untuk membungkus makanan ini. sayang kalau ditinggal atau tidak dihabiskan. Selain rasanya enak dan Keisha ingin lagi, harganya satu porsi yang tak pernah penuh itu mencekik leher Keisha. Giffard menurut, dia pun memanggil waiters untuk mengambil kartu platinum warna merah, lalu meminta waiter lainnya untuk membungkus makanan itu. Menunggu hampir sepuluh menit, barulah Giffard menggenggam tangan Keisha keluar dari tempat makan. ada banyak orang yang bersorak melihat mereka, dan ada juga yang mencibir Keisha yang tidak pantas bersanding dengan laki-laki sempurna macam Giffard. “Dih mulutnya pengen aku jahit!!” dengus Keisha. “Kamu nggak perlu mendengarkan apa yang orang lain katakan. Cukup fokus pada dirimu dan juga aku, itu sudah lebih dari cukup. Mereka hanya mampu mencibir dan juga mencela. Tapi mereka tidak mampu dan tidak bisa menilai dirinya sendiri, sudah sempurna dan benar atau belum.” Keisha menatap punggung Giffard yang lebar. Sungguh, baru kali ini dia menemukan laki-laki yang bahkan pemikirannya tidak seperti Keisha. Dimana Keisha gampang sekali marah dan mencaci maki orang lain karena ucapannya. sedangkan Giffard, dia benar-benar tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan tentang dirinya. “Yang hidup itu kita, yang menjalani juga kita, yang tahu kita kayak apa yang kita sendiri. Orang lain gampang, tinggal mengoreksi kebusukannya bukan kebaikannya.” kata Giffard kembali. “Masuk, kita pulang.” sambungnya. **** Sesuai apa yang Giffard inginkan, setelah mandi karena memang sudah bau keringat. Apalagi tadi Keisha juga sempat bekerja dan diculik oleh Giffard. Wanita itu langsung berkutat di dapur untuk membuat sesuatu. sayuran dan juga nasi hangat untuk makan mereka. tak lupa juga Keisha menyeduh s**u vanilla hangat untuk Giffard. kata ibu Giffard, sejak dulu Giffard sangat menyukai s**u, dia tidak bisa makan pedas dan juga kopi. Tapi dasarnya Giffard itu keras kepala, Keisha pernah melihat dia minum kopi. Contohnya siang tadi. Usai masak, Keisha menatap masakannya di atas meja. Lalu memanggil Giffard yang masih ada di dalam kamar. Bocah sialan itu pasti sibuk bermain game dibanding harus keluar makan, atau menemani Keisha memasak. Setidaknya Keisha ada teman berbicara, walaupun ujungnya juga akan bertengkar kecil dengan Giffard. Dan benar saja, Giffard sedang memiringkan ponselnya. “Makan!!” perintah Keisha. Giffard mengangkat kepalanya menatap Keisha yang ada di ambang pintu. Lalu meletakkan ponselnya dan berjalan pelan keluar kamar. “Masak apa?” tanya Giffard. “Tumis batu sama sayur rumput!!” jawab Keisha asal. “Awet dong selama satu tahun kedepan.” Keisha mengangguk kecil dan meninggalkan Giffard di ambang pintu. Hingga akhirnya mereka pun secara bersamaan sampai di meja makan. Giffard bisa melihat satu piring ayam bumbu dan juga sayur wortel. Giffard duduk, dia lebih dulu mengendus makanan itu sebelum dimakan. “Awas ada racunnya, kalau mati jalan sendiri ke kuburan!!” sinisnya. Alis Giffard terangkat sebelah. “Cuma pengen tau aromanya sama apa nggak sama masakan mama ku.” “Kenapa nggak minta mama mu aja yang masak?” kata Keisha kesal. Giffard menggeleng, jika dia minta mama nya yang jelas Giffard tidak bisa kembali ke apartemen ini lagi. Dan tentunya Giffard tidak menyukai hal itu, dia lebih suka jika harus hidup bersama dengan Keisha. “Ya udah kalau mau hidup sama aku, makan apa adanya. Nggak usah banyak protes sama banyak cingcong. Aku masak juga capek tau, tanganku sampai kena pisau. Sekali jadi … kamu komen terus gak capek apa itu mulut ngomong terus!!” Dan jika Keisha lupa, dia adalah orang yang cerewet dan banyak bicara dari pertama kali Giffard bertemu dengan Keisha. Bisa-bisanya dia bilang jika Giffard yang cerewet? Tidak mau berdebat dengan Keisha, Giffard memutuskan untuk mencicipi lebih dulu masakan Keisha. Siap tah saja dia sengaja meracuni, atau memasak masakan lainnya yang membuat Giffard sakit. “Kalau rasanya asin, kemanisan atau kurang pas. Jangan protes, aku nggak ahli masak dan aku lihat reset di internet!!” ucap Keisha kembali sebelum di ulti oleh Giffard. Giffard mendengus dan mengalah, dia tidak akan berkomentar apapun tentang masakan Keisha Meskipun masakan itu ada rasa asinnya, tapi sebisa mungkin Giffard memakannya. Itung-itung untuk menghargai usaha Keisha ketika dia memasak. Rasa asin tidak begitu buruk bagi Giffard. Yang penting tekanan darahnya tidak naik saja aman. Disini Keisha mencoba untuk menahan tawanya. Dia sengaja membuat makanan itu sedikit asin, agar Giffard tidak memintanya untuk memasak kembali. tapi disini Keisha benar-benar dibuat kagum oleh Giffard yang tak mengeluarkan makanan yang ada dalam mulutnya. Sedangkan Keisha sedang menunggu hal itu terjadi. “Enak?” tanya Keisha akhirnya. “Enak. Mau?” Keisha menggeleng, dia masak hanya untuk Giffard, dan yang jelas Giffard harus menghabiskan masakan Keisha tanpa sisa. Lagian Keisha masih kenyang, perutnya tidak muat untuk menampung makanan lainnya lagi. “Yaudah.” hanya kata itu yang keluar dari bibir Giffard. Harusnya dia memuntahkan makanan itu, tapi kenapa Giffard makannya lahap banget!! Keisha semakin bingung, jika masakan bagi Giffard tidak apa-apa. Itu tandanya Keisha harus mencari ide lainnya, agar Giffard mau berubah pikiran. Usai makan, Keisha langsung membawa piring kotor ke dapur. Mencucinya dan juga menatanya dengan rapi. Tak hanya itu juga, Keisha yang langsung terkejut ketika Giffard tiba-tiba saja memeluknya dari belakang. Untung sponge sabun tidak melayang dan mengenai wajahnya Giffard. "Heh bocah lepasin!!" teriak Keisha. "Nggak!!" "Heh apa air!!" Keisha melepaskan diri dari pelukan itu dan menjaga jarak dengan Giffard. "Ngapain peluk-pekuk!!" cetus Keisha. "Loh bukannya ini juga termasuk dalam acting suami istri?" Keisha menggeleng tidak ada scene dimana Giffard memeluk Keisha dari belakang. Lagian, Keisha itu sedang beres-beres jika Giffard begitu terus yang ada urusan dapur tidak akan kelar. Jadi, dengan rasa hormat Keisha meminta Giffard untuk tidak mengganggu nya ketika wanita itu di dapur. Selain ada pisau, di dapur juga ada gas dan juga korek api. Tau kan kalau Keisha kesal dia bisa membakar apartemen ini dengan sekejap. "Hah … di drama yang kamu lihat kemarin scene pekik dari belakang. Kamu juga kayaknya seneng banget pas lihat itu. Terus kenapa pas aku praktek kamunya marah? Ada yang salah apa?" ucap Giffard. Keisha menarik nafasnya dalam. "Itu hanya film Giffard, nggak mungkin juga ada di dunia nyata yang menyakitkan ini. Jangan disamakan dong, kalau kemarin itu memang bagus kok." "Emangnya waktu aku peluk scenenya nggak bagus apa?" Keisha menyalahkan dirinya sendiri dalam hal ini. Dia pun melanjutkan pekerjaannya dengan cepat, dan segera pergi. Jangan sampai bocah itu banyak tanya tentang film apa yang dia lihat kemarin. Masuk ke dalam kamarnya dengan bingung, Keisha pun mengambil satu piyama tidur. Kalau dulu di kos, dia tidur dengan baju seksi atau bahkan tidak menggunakan baju sekalipun. Kali ini tidak mungkin jika Keisha melakukan hal ini, dia tidak mau Giffard menodainya malam ini juga. Menyusul Keisha ke kamar, Giffard malah mengunci pintu kamar ini dan membuat Keisha gugup. Dia kembali berkeringat, dan membayangkan hal yang tak seharusnya dia bayangkan. Giffard di atasnya, Giffard memeluknya kembali dari belakang, Giffard yang mencium kening, hidung hingga bibir, tangan Giffard yang jalan-jalan kemana, menelusuri jalan tol tanpa hambatan apapun. Sialan!! Benar kata Tika, jika iman Keisha akan diuji ketika dia bersama dengan Giffard. Apalagi Keisha itu terbilang dan terkenal pecinta cogan, yang jelas godaan terberat Keisha adalah rahang dan juga hidung mancung Giffard. "Gif, minggir!!" lirih Keisha. Mendadak dia juga ketakutan, ketika Giffard melangkah mendekat dan dirinya melangkah mundur. "Jangan macam-macam ya!! Awas aja kalau kamu sampai menyentuh aku. Jangan harap aku--aaaaa." Keisha berteriak ketika Giffard dengan tidak sopannya menarik tangan Keisha. Melempar wanita itu sampai terlentang bebas di atas tempat tidur. Belum lagi, Giffard yang langsung mengunci tubuh Keisha dengan kedua tangannya. Dengan posisi Keisha berada dibawah, menyentuh d**a bidang Giffard agar tidak menidihnya. Belum lagi kedua tangan Giffard yang sejajar dengan kepala Keisha. "Heh bocah m***m, minggir!!" kata Keisha mencoba untuk mengendalikan dirinya. Bukannya pergi, Giffard malah lebih memilih menurunkan satu tingkat tubuhnya di atas Keisha. Tentu saja hal itu langsung membuat Keisha nampak panik dan berkeringat dingin. "Gif nggak lucu ya!! Ayo pergi." "Scene ini … aku lihat waktu kamu nonton juga. Waktu itu kamu begitu bahagia, terus pas praktek denganku kenapa kamu gugup dan ketakutan?" Masalahnya itu dunia halusinasi, dimana Keisha bisa berimajinasi dengan pikiran liarnya. Bukan berarti dia juga harus melakukan itu dengan Giffard!! Bodoh!! To Be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD