SB-18

2187 Words
“Nggak ya!! Pokoknya aku nggak mau!!” teriak Keisha. Kali ini mereka berada di dalam satu ruangan khusus milik Gifard. Katanya, kalau dia lagi bertugas memantau cafe miliknya Giffard lebih memilih menghabiskan waktu di ruangan ini, hanya sekedar makan, minum atau bahkan tidur. Atau tidak, dia akan mengundang Aiden untuk menemaninya di ruangan ini hingga sore hari. Sampai Kenzo atau mungkin Leo datang dan menggantikan dirinya. Tapi kali ini Giffard mengajak Keisha di ruangan ini untuk membahas apa yang ibu dan kakeknya katakan. Dan nyatanya Giffard mendapat penolakan khusus dari perempuan di hadapannya. “Pokoknya nggak mau!! Gila apa bahas nikah-nikah, sekolah yang bener dulu dong baru bahas nikah!! Lulus SMA aja belum udah mikirin hamilin anak orang!! kalau nggak gila apa namanya!!” omel Keisha. Giffard hanya diam saja sambil memijit pelipisnya, ini hanya sandiwara. lagian Giffard juga tidak mau menikah dengan perempuan tepos yang tak memiliki apapun. d**a datar, p****t tak ada seksi-seksinya seperti perempuan pada umumnya, yang ada Giffard akan merasa bercinta dengan pelepah pisang yang tipis dan kaku. Pernyataan itu nyatanya membuat Keisha kesal, reflek dia pun memukul Giffard dengan kedua tangannya. Tanpa memperdulikan teriakan ampun yang keluar dari bibir Giffard berkali-kali. Peduli setan jika laki-laki itu akan mengadu pada ibu atau opanya, atau perlu Keisha akan membuat teriakan Giffard itu menggema di seluruh penjuru cafe ini. Biar mereka tahu jika Keisha tidak akan menikah atau bahkan hidup bersama dengan Giffard. Menyadari hal itu, menyadari akan hidup bersama … bukannya setelah ini Keisha akan hidup bersama Giffard? Tinggal dalam satu rumah, tidur dalam satu kamar, satu selimut, satu ranjang dan juga … “Heh gila!!” pekik keisha tanpa sadar. Giffard menatap Keisha bingung, walaupun perempuan itu masih ada di sampingnya. Dengan satu kaki yang terasa di atas sofa, sedangkan satu kakinya di lantai. Giffard malah lebih tertarik menendang satu kaki yang di lantai, hingga membuat Keisha jatuh dalam pelukan Giffard. Mata perempuan itu mendelik sempurna, dia pun memukul d**a bidang Giffard. “Lepaskan aku!!” “Harusnya kamu itu berterima kasih padaku, karena aku yang menahanmu. Kalau nggak kamu udah nyungsep!!” ucap Giffard panjang lebar. Keisha tak setuju, dia pun melepas kedua tangan Giffard yang ada di tubuhnya. Tapi tak bangkit dari pangkuan Giffard. “Apa!! Terimakasih sama kamu? Heh … perlu kamu ingat, kalau kamu amnesia beberapa detik. Kamu yang menendang kakiku, Giffard!!!” Dan nyatanya Giffard tak peduli dengan hal itu, dia tidak peduli siapa yang menendang kaki Keisha hingga dia terjatuh dengan posisi yang saat ini duduk di pangkuan Giffard. Yang ada di dalam pikiran Giffard hanya satu, dimana Keisha yang mulai menggodanya, mengalungkan kedua tangannya di leher Giffard dan mulai berkata manis. Sayangnya itu hanya bayangan Giffard saja … bukan dengan kenyataannya yang menyebalkan menurut Giffard. Mendorong tubuh Keisha untuk pergi dari pangkuannya, kali ini Keisha benar-benar merasakan nyungsep di bawah sofa dengan perasaan dongkol. Bahkan Keisha sampai melempar Giffard dengan bantal sofa dan juga majalah yang langsung mengenai punggung Giffard. Maklum saja, bocah sialan itu setelah mendorong tubuh Keisha langsung bangkit dari duduknya dan menjauh dari Keisha. Dalam bibirnya yang tipis dan mungil, Keisha terus merapalkan kata sabar. Hari ini dia tidak mau tensi darahnya naik hanya karena Giffard, kalau saja boleh memilih bisa tidak Giffardnya digantu dulu? Diganti yang lebih pengertian mungkin, atau yang lebih baik dan baguslah. Masalah wajah memang Keisha akui dia tampan dan memiliki tubuh yang diidamkan Keisha, tapi sikapnya … “Jangan sampai mati muda hanya karena dia, Ya Tuhan.” gumam Keisha yang masih bisa didengar oleh Giffard. Membalik badannya dan mendekati Keisha, Giffard malah berjongkok di depan Keisha sambil menggenggam tangan Keisha dengan lembut. “Kei … ayo kita menikah.” Seketika itu juga, Keisha ingin sekali melempari Giffard dengan batu besar, agar isi otaknya keluar dan tidak membahas hal yang membuat Keisha ingin mual!! **** Menjelang sore, Keisha memutuskan untuk pulang lebih awal. Ucapan Giffard bahkan mampu membuat dirinya pusing. Dengan gampangnya dia malah mengajak Keisha menikah, tanpa peduli masa depannya yang masih panjang. Bahkan jika dipikir, akan ada banyak perempuan cantik dan lebih dari Keisha di masa mendatang. Tapi bocah sinting itu bahkan mengulang ucapannya sebanyak sepuluh kali. Dan sialnya, sore ini Keisha ada jadwal mengajari Giffard di rumah ibu Giffard. Mau tidak mau Keisha harus kembali lagi bertemu dengan Giffard, padahal awalnya dia ingin sekali menjauh dari Giffard karena pertanyaan konyol laki-laki itu. “Kita belajar bab 10 ya, ini kayaknya punyamu masih kosong.” kata Keisha. Giffard tak memperdulikan hal itu, dia malah lebih sibuk bermain games di ponselnya dan mengabaikan Keisha. Tentu hal itu membuat Keisha kesal, hingga menutup buku fisika milik Giffard. Melemparnya ke sofa menandakan jika dirinya tengah marah dengan Giffard yang mengabaikan dirinya. Memilih untuk pergi, Giffard malah menarik satu kaki Keisha untuk berada di atas kakinya. Lalu menarik tangan kanan Keisha dan menggenggamnya. Disini Keisha nampak terkejut, dia menarik kakinya karena menganggap ini sungguh tidak sopan. Tapi lagi-lagi Giffard malah menarik kaki Keisha untuk tetap berada di atas kakinya. kalau masalah tangan masih bisa dimaklumi, tapi kalau kaki? “Gif–” “Begini dulu.” dua kata yang keluar dari bibir Giffard, mampu membuat Keisha bingung. Giffard melempar ponselnya hingga menyentuh kaki meja. “Begini dulu.” katanya kembali dengan kata yang sama. “Jangan kemana-mana, jangan pergi, jangan berpaling, jangan cari yang lain, pokoknya jangan.” lanjutnya Keisha bingung dengan ucapan Giffard. Hingga yang bisa dilakukan hanya satu menarik tangan dan juga kakinya dari cengkraman Giffard. “Nggak ngerti, nggak paham.” “Aku cuma pengen kamu, bukan yang lain. Ayo nikah.” “segampang itu?” kata Keisha tak percaya, dia sudah cukup pusing dengan kata menikah yang terus keluar dari bibir GIffard. “Gif kamu tau nggak sih pernikahan itu apa?” Giffard mengangguk, tentu saja dia tahu. Kalau dia tidak tahu mana mungkin Giffard mengajak Keisha menikah. Dia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan Keisha, menua bersama, bahkan Giffard ingin berkeliling dunia bersama dengan Keisha. Kalau perlu nanti setelah menikah, mereka harus pesan rumah masa depan mereka. Karena Giffard memiliki keinginan untuk satu liang bersama dengan Keisha juga. Entah nanti siapa yang mati duluan, tapi giffard berharap dia dulu yang mati dibanding Keisha. “Kenapa begitu?” “Ya karena aku nggak bisa hidup tanpa kamu. jadinya, kalau boleh milih, aku dulu aja yang mati besoknya kamu.” Bocah seusia Giffard memang lagi lucu-lucunya. Dia melihat orang menikah mungkin bahagia terus menerus. Tanpa dia tahu jika pernikahan bukanlah hal yang bisa dimainkan sesuka hatinya. Pernikah ini cukup berat, memiliki tanggung jawab yang besar. Dan bahkan Keisha berharap dia hanya menikah satu kali seumur hidupnya. Jika dia menikah dengan Giffard, mungkin sebuah kebutuhan dia bisa menanggungnya, Giffard anak orang kaya, memiliki warisan yang bahkan tujuh turunan pun tidak akan habis. Tapi di umur Giffard yang masih belasan tahun ini membuat Keisha berpikir dua kali, bocah itu akan gampang bosan. Apalagi Keisha yang pemarah dan Giffard yang jika melihat Keisha marah malah pergi. Bukannya menyelesaikannya dengan baik, yang ada masalah mereka akan tambah banyak dan menumpuk. Keisha bukan tipe perempuan yang lari dari masalah. Dan lagi, “Gif tolong ya jangan bahas ini. Ini bukan mainana, yangs ekali bilang bisa langsung jadi.” kata Keisha lelah. “Kamu ragu sama aku? Atau karena Aldo?” “Jangan libatkan orang lain dalam masalah kita Gif.” ucap Keisha. “Ini masalah kita berdua, harusnya kita yang selesaikan semuanya.” lanjutnya selembut mungkin, dengan harapan Giffard akan mengerti dengan apa yang Keisha katakan. “da banyak hal yang tidak cocok di kita Gif, jadi jangan harap aku mau menikah sama kamu.” “Apa? Umur? Cinta nggak memandang umur, Kei.” kekeh Giffard. “Aku tau. Tapi kamu nggak cinta sama aku.” “Aku akan buat kamu cinta sama aku!!” Keisha diam, dia bahkan tidak menolak jika Giffard mau menyakinkan diirnya akan hal itu. Tapi masalahnya, usia Keisha itu sudah kepala dua. Sedangkan Giffard masih belasan tahun di bawah Keisha. Usia mereka terpaut empat tahun, dan Keisha lebih tua dari Giffard. Nanti jika mereka menikah apa kata orang kalau Keisha menikah dengan brondong, anak didiknya sendiri lagi. Belum lagi keluarga Giffard, juga belum tentu mau menerima perbedaan ini, selain umur, Keisha juga memikirkan kasta dirinya yang tak sebanding dengan Giffard. Apa mungkin mereka bisa menerima Keisha dengan lapang d**a tanpa membedakan semuanya? “Setelah menikah kita tinggal sendiri, aku beliin kamu rumah, mobil, kamu nggak perlu kerja aku aja yang kerja. Aku nggak mau wanitaku bekerja keras untukku, jadi biar aku aja.” Keisha mulai goyah, ucapan Giffard bahkan mampu mempengaruhinya. Keisha benar-benar bingung harus menolak laki-laki itu dengan cara apa. Keheningan mulai menyelimuti mereka, Giffard yang diam mencoba menunggu tanggapan Keisha. Sedangkan wanita itu masih menggigit jempolnya untuk memikirkan cara yang bagus agar Giffard mau berubah pikiran dan tidak menikahinya. Mereka hanya terlihat utang bihutang atas ibu Keisha untuk pengobatan ayahnya. Dan entah atas alasan apa, Giffard meminta Keisha untuk tinggal bersama dengan Giffard. Padahal kalau dipikir, dia bekerja sebagai guru paruh waktu untuk mengajari Giffard tanpa digaji pun tidak masalah. Ide gila terlintas dipikiran Keisha, dia yakin jika Giffard akan menolaknya dan tidak akan membahas pernikahan lagi dengan Keisha. Tersenyum kecil, Keisha pun memutar tubuhnya menatap Giffard. Perempuan itu bahkan masih bisa menyibakkan rambutnya ke arah samping dengan lucunya. “Aku ada ide.” kata Keisha, Giffard bingung tapi dia masih menunggu Keisha mengutarakan idenya. “Selama inikan kita tinggal dalam satu rumah, kamu terlalu menikmati fasilitas kedua orang tuamu dan juga opamu. Bagaimana kalau kita main rumah tangga-rumah tanggaan? Kamu setuju nggak?” lanjutnya dan semakin membuat Giffard bingung. “Maksudnya?” “Ya kita berperan sebagai suami istri untuk belajar sebelum kita menikah. Kamu kerja, tapi bukan di perusahaan atau fasilitas kedua orang tuamu. Kamu harus bekerja ditempat lain untuk menghasilkan uang. Aku juga begitu, aku akan memasak, mencuci bajumu, dan bekerja juga. Kita memiliki peran masing-masing, sampai kamu bisa menyakinkan aku untuk bisa menikah denganmu. Dan … kalaupun kita menikah, harus pakai duit kerja keras kamu sendiri, bukan uang kedua orang tuamu atau opamu. Uang dari jerih keringatmu sendiri, biar kamu tau perjuangan pernikahan itu bukan main-main.” jelas Keisha. Setelah ini pasti dia nolak, mana mungkin Giffard mau menuruti apa yang aku katakan. Pikir Keisha bangga diri. Giffard mengusap dagunya sejenak, lalu mengulurkan tangannya. “Deal!!” ***** “Aaaaaa …. Mbak Bertha … Tika … pengen nangis.” rengek Keisha layaknya bayi. Tika dan Bertha yang masih bingung dengan kedatangan Keisha malam ini hanya diam saja. Mereka malah menikmati ekspresi Keisha yang menurut mereka jarang sekali di spill. “Kenapa sih??” kata Tika akhirnya. Keisha mengusap air mata bohongannya yang dari obat mata. “Gif ngajakin nikah.” Bertha terbatuk ketika selada di burgernya masuk lebih dulu dan belum dikunyah. Belum lagi Tika yang langsung memiringkan kepalanya dan tertawa. “Ada yang lucu?” tanya Keisha bingung. Tentu saja ada yang lucu jika Tika sudah tertawa. Ini masalah bocah SMA yang mau menikah? Tika tau jika Giffard itu kaya, dia tahu jika Giffard itu punya segalanya. Tapi kalau masa depan Tika rasa tidak akan main-main. Ayahnya begitu keras dan tegas, mana mungkin dia menikah di usianya saja belum genap delapan belas tahun? Yang ada Keisha yang di usir dan di keluarkan dari muka bumi ini oleh ayah Giffard. Mendengar hal itu Keisha pun langsung diam. Tadi, Giffard berusaha menyakinkan Keisha jika laki-laki itu bisa membuat Keisha percaya, jika dia ingin hidup bersama dengan Keisha selamanya. Tapi kenapa Keisha tidak berpikir tentang ayah Giffard? Jika ibunya saja setuju dengan keputusan Giffard bukan berarti ayah Giffard juga setuju dengan keputusan konyol ini kan? Menyadari sesuatu, Keisha pun langsung mengambil tasnya dan pergi. Tentu hal itu membuat Tika dan juga Bertha saling pandang. Dia datang dengan wajah panik dan sekarang dia pergi dengan wajah yang sangat sulit diartikan. Berlari hingga pinggiran jalan raya, Keisha melihat mobil Giffard yang ternyata masih menunggunya di pinggiran jalan. Kaca mobil yang turun dan menunjukkan wajah Giffard yang cukup ketara dimata Keisha. Perempuan itu menghampirinya, masuk di tanpa dipersilahkan oleh sang pemilik mobil. “Udah selesai urusannya sama tika sama Bertha?” tanya Giffard malahan. Keisha mengangguk kecil. “Udah. Kamu dari mana?” “Habis ketemu Daddy, kenapa?” “Bahas apa? Kamu nggak bilang papa mu kalau kamu ngajakin aku nikah kan?” “Nyatanya aku bilang begitu sama papa.” jawaban itu membuat jantung Keisha berdetak kencang. Dia juga takut jika ayah Giffard tahu kalau Keisha memberi tantangan aneh pada Giffard, agar pernikahan ini tidak terjadi. “Papa bilang kalau aku melakukan hal konyol, aku akan dikirim ke belanda.” lanjutnya. deg … Nafas Keisha sempat terhenti karena hal itu. Dia pun menatap Giffard yang sibuk mengemudi. Menatap jalanan yang cukup ramai. “Tapi … aku akan tetap menikah sama kamu, dapat atau tidak restu papa aku nggak peduli.” kekeh Giffard. “Sebenarnya apa sih yang membuat kamu pengen nikah sama aku!!” pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Keisha tanpa di filter. tapi dia juga cukup penasaran dengan Giffard selama ini. Laki-laki itu menoleh sejenak, sebelum kembali fokus pada jalanan ibukota. “Dan kamu nggak perlu tahu alasannya apa!!” -SugarBaby-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD