"Mas Bay … " panggil Keisha tersenyum.
Bayu menoleh cepat dan tersenyum manis ketika namanya dipanggil. Apalagi Keisha yang langsung mendekatinya dan berdiri tepat di sampingnya. "Udah enakan?"
Beberapa hari Keisha memutuskan untuk tidak masuk bekerja. Selain dia stres dengan tugas kuliah dan menyiapkan skripsi. Jangan lupakan Giffard yang terus mengganggu dirinya sepanjang masa. Itu sebabnya, baru kali ini Keisha masuk kerja, setelah libur beberapa hari. Untung saja tempatnya bekerja ini masih milik keluarga Giffard, dan tentunya bocah itu memberi keringanan untuk Keisha.
"Udah dong." kata Keisha bangga. "Lagian, capek tau Mas kalau di rumah terus, nggak ngapa-ngapain lagi." lanjutnya.
Bayu tertawa kecil, "Ini kopi antar ke meja sembilan ya."
Keisha mengangguk, dia pun membawa kopi ke meja delapan. Dan berasal terkejutnya Keisha ketika melihat siapa yang duduk di meja sembilan. Siapa lagi jika bukan Giffard. Bocah sialan itu mengikutinya sampai sini!!
Wanita itu mencoba untuk tersenyum meskipun terpaksa. "Selamat menikmati."
Giffard hanya diam saja menatap kopinya dengan dengan, lalu berkata, “Yang nyuruh kamu pergi siapa?”
Pertanyaan itu langsung menghentikan langkah kaki Keisha, wanita itu memutar tubuhnya dan menatap Giffard. menahan amarahnya dan berkata, “Mau tambah sesuatu?”
“Duduk!!”
“Saya lagi–”
“Duduk atau kamu saya pecat!!” ancam Giffard.
Dengan amat terpaksa, Keisha pun duduk di hadapan Giffard. Namun, laki-laki itu malah meminta Keisha untuk duduk di sampingnya. Dia tidak suka jika melihat Keisha di hadapannya, sangat mengganggu pemandangan Giffard. Dan dia lebih suka jika melihat Keisha duduk di sampingnya.
“Gif aku lagi kerja ya, tolong jangan ganggu aku!!” bisik Keisha. Selain tidak mau salah paham dengan yang lainnya, Keisha juga tidak mau menjadi bahan gosip atau omongan yang lainnya.
Dan nyatanya Giffard tak peduli dengan itu semua. Dia tidak peduli jika Keisha lagi kerja atau tidak, yang dia butuhkan hanya teman minum kopi saja. “Kamu juga tau kan kalau aku nggak suka minum kopi sendirian.”
“Ralat!!” ucap Keisha. “Kamu nggak boleh minum kopi sama mama kamu, tapi kamu ngeyel minum kopi. Ingat Gif kamu punya GERD!!”
Giffard hanya melirik, dia mencicipi sedikit kopi s**u hangat di depannya dengan kesal. Dia tahu itu, tapi apa iya perlu harus diingatkan? Dia hanya ingin seperti pemuda pada umumnya, yang minum kopi, menikmati sebatang rokok dan juga berbicara banyak hal tentang perempuan. Entah pantatnya yang seksi, d**a yang besar dan menonjol, wajah yang cantik hingga jelek, atau mungkin memiliki badan goals yang bagus dan diidamkan banyak laki-laki seperti Giffard.
Helaan nafas keluar dari bibir Giffard, dia pun kembali menikmati kopi itu hingga setengah. Tiba-tiba …
“Heh Keisha … kamu kok enak banget sih malah duduk didepan yang punya cafe. Kamu itu pelayan, ngapain disini!! Kerja sana!!” ucap Ayu salah satu orang kepercayaan Leo, kakek Giffard.
Keisha menunduk, dia pun meminta maaf pada Ayu dan memilih pergi. Melihat hal itu Giffard pun menyipitkan mata nya dan lebih menikmati kopinya dibanding harus membela Keisha. Nyatanya … hal itu langsung membuat Keisha kesal.
Ayu duduk di depan Giffard, dia menyodorkan menu makanan pada Giffard. Dan jika Giffard mau makan, dia akan membuatkan satu makanan spesial untuk Giffard.
Dan nyatanya Giffard sama sekali tidak tertarik dengan tawaran Ayu, dan lebih memilih meminta Ayu untuk pergi dari hadapannya. Ayu mengganggu pemandangan yang ada di hadapan Giffard.
“Saya tidak suka kamu duduk di depan saya, mengganggu pemandangan saya untuk memantau karyawan saya.” cetus Giffard.
Ayu mencoba tersenyum. “Saya bisa pindah di samping kamu, Gif.”
“Saya tidak membutuhkan itu. Saya hanya meminta kamu untuk pergi dari hadapan saya!!”
Dengan perasaan malu dan jengkel, akhirnya Ayu pun pergi setelah menghentakkan kakinya. Ayu memilih pergi ke dapur dan melempari Keisha dengan celemek setengah basah. Dia marah, dia kesal karena Giffard baru saja menolaknya dan mengusirnya. Sedangkan Keisha … wanita itu malah dibiarkan duduk santai di samping Giffard tanpa mendapatkan ucapan yang pedas dan penolakan. kalau dibandingkan Ayu dan juga Keisha, tentu saja lebih cantik Ayu dan juga lebih modis Ayu. Jabatan Ayu juga lebih tinggi dari jabatan Keisha yang hanya sebatas pelayan cafe. Tapi nyatanya kenapa Ayu selalu kalah dari Keisha. Dulu Bayu sekarang Giffard, apa perlu Ayu membuat cara untuk menyingkirkan Keisha dari pandangan matanya!!
“Ini kenapa sih Bu, kok malah saya yang dilempari celemek basah.” kata Keisha bingung.
“Semua itu karena kamu!! Kalau kamu nggak datang, yang duduk di samping Giffard itu aku, bukan kamu!!” kata Ayu marah.
Keisha mendesah. “Bu … saya juga nggak berharap mau duduk disamping atau didepan Giffard. Saya nggak minat sama bocah tengil macam Giffard. Lagian, usia Ibu sama Gif itu berbeda jauh. Tapi kalau Ibu mau sama brondong ambil aja Bu, saya nggak minat!!”
Ayu semakin kesal dengan ucapan Keisha, dia seolah tengah merendahkan Giffard kali ini. Perlu Keisha tahu, jika cafe ini adalah milik keluarga Giffard, dan sebentar lagi Giffard yang akan memegang kendali atas cafe dan juga aset kekayaan Leo. Harusnya Keisha itu lebih sopan dan lebih menghargai Giffard sebagai atasan, bukan malah menjelekkan Giffard tepat di hadapan Ayu.
“Kamu mau saya pecat!!”
“Ibu mau pecat saya? Boleh Bu silahkan. Kita lihat siapa yang akan dipecat, Ibu atau saya!!”
Sudah cukup!! Keisha sudah berusaha sabar setiap kali berhadapan dengan Ayu. Dan kali ini jika Ayu ingin memecatnya, maka Keisha akan menerimanya dengan senang hati. Dia akan mencari pekerjaan lainnya yang tidak ada Ayu. Lagian siapa dia, beraninya mengancam. Keluar dari dapur, tak sengaja Keisha pun menabrak Giffard hingga jatuh. Bangkit sendiri, karena memang Giffard itu bukan manusia yang ada di dalam film, jika pasangan atau menabrak seseorang langsung ditolong atau di tahan. Bahkan dekat dengannya Keisha tak memikirkan hal itu.
“Apa!! Mau marah juga kayak Ayu!! Mau pecat juga setelah dengar aku bertengkar sama Ayu!! Ayo sini cepetan pecat.” seru Keisha.
Dia sudah kesal dengan sikap Ayu, jangan sampai dia juga kesal karena GIffard.
Bukannya menjawab ucapan Keisha, Giffard malah lebih sibuk menarik tangan Keisha sampai di depan kasir. Banyak pengunjung yang menatap mereka dengan tatapan bingung, apalagi suara Keisha yang mendominan berteriak di dapur bersama dengan Ayu dan juga Giffard. Tak salah jika ada banyak orang yang memperhatikan mereka berdua. Termasuk Ayu dan yang lainnya.
Giffard menatap Keisha dengan datar, lalu tersenyum dan berkata, “Kamu saya pecat!!” ucapan itu keluar dari bibir Giffard dengan gampangnya. Tapi anehnya, tatapan itu mengarah pada Ayu bukan pada Keisha. Bukannya yang harusnya dipecat itu Keisha?
Satu persatu orang menatap Ayu dengan bingung, apalagi Keisha yang langsung menarik tangannya dari genggaman Giffard. Tapi kembali di genggam kembali, hingga membuat beberapa karyawan cafe ini berbisik.
“Bagus Tuan Gif, pecat aja dia. Kerjanya juga nggak bener, suka bolos giliran potong gaji ngomek!!” adu Ayu.
Jelas lah dia potong gaji ngomel, masalahnya Keisha tidak masuk kerja memang waktu jatah libur dia. Atau tidak dia akan gantikan dengan yang lainnya, jika kampusnya sangat mendesak. Selain itu Keisha sama sekali tidak pernah bolos kerja, kecuali satu minggu yang lalu dan itu juga karena Giffard. Keisha harus alasan sakit, meskipun yang sebenarnya dia pindah ke apartemen Giffard dan marahan dengan Giffard. Anggap saja dia seperti bocah kemarin sore yang kesal dengan sikap paksaan Giffard.
Giffard tersenyum miring, lalu menggeleng. “Kamu yang saya pecat bukan Keisha.”
“Loh … kok aku!!”
Giffard mengeluarkan lipatan kertas dari jaketnya, lalu memberikan pada Ayu. Disana ada banyak aturan yang Ayu buat, dari potong gaji jika terlambat datang, potong gaji selama libur. Dan juga kadang banyak karyawan yang tak mendapat jatah makan selama dia kerja. Bahkan ada juga beberapa uang kafe hilang dalam dua bulan terakhir ini. Dari cctv yang didapat, semuanya karena ulah Ayu. Sedangkan seingat Giffard, gaji Ayu itu lumayan tinggi dari karyawan cafe ini. Keisha yang gaji pas-pasan aja bisa makan sambil bayar kos, apalagi memenuhi kebutuhan kulihanya. Sedangkan Ayu tidak? Dia belum menikah, tidak memiliki tanggungan apapun, karena memang tinggal bersama dengan kedua orang tuanya. Menurut informasi yang ada keluarga Ayu juga masuk dalam kelas menengah, jadi tidak mungkin juga Ayu memberikan setengah gajinya untuk kedua orang tuanya.
“Tapi Gif—”
“Kamu bisa meninggalkan cafe ini sekarang. Saya akan suruh orang lain untuk menangani cafe ini.” potong Giffard cepat.
Ayu kesal, Ayu marah dia menunjuk Keisha dengan jarinya setelah ini dia tidak akan mengampuni Keisha sedikitpun. Memastikan jika wanita itu pergi, Giffard pun langsung memeluk pinggang Keisha dengan posesif.
Dia tersenyum kembali di depan Keisha hingga membuat wanita itu menggila. “Dia adalah calon istri saya, mana mungkin saya memecat dia. Yang ada … dia akan meminta saya tidur di luar!!” katanya dengan penuh percaya diri.
Mata Keisha mendelik sempurna, hingga dia menyiku perut Giffard hingga membuat laki-laki itu mengaduh. “Bocah kemarin sore bilang calon istri!!” desisi Keisha, tanpa mempedulikan banyak orang yang iri dengan posisi Keisha.
Menundukkan kepalanya Giffard pun mengecup bibir Keisha sejenak. “Kenapa? Emang iya kan!!”
Jantung Keisha berdetak kencang, dia hanya mampu mendorong tubuh Giffard dari hadapannya. “Apa sih nggak jelas!!” Keisha mencoba menjauh dari Giffard, sungguh, dia tidak enak hati dengan banyak karyawan yang saat ini menatapnya dengan terang-terangan. Keisha bahkan yakin, jika dia akan menjadi bahan gosip satu karyawan. “Jangan bilang gitu lagi. Aku bukan—”
“Jadi ini calon cucu menantu Opa?”
Seketika itu juga Keisha rasanya ingin terjun payung dari pesawat tempur sekalian.
****
Keisha merasa tidak nyaman, ketika bekerja dan Giffard terus memperhatikan dirinya sejak tadi. Belum lagi bisik-bisik syahdu dari karyawan yang tidak menyukai Keisha. Sebenarnya ini kesempatan emas untuk Keisha, dia bisa saja melakukan apapun yang dia inginkan. Apalagi Giffard jika Keisha adalah calon istrinya, yang otomatis mereka akan berpikir hal itu benar. Ditambah … Leo, opa Giffard mendengar hal itu langsung secara live di depan mata. Keisha berusaha beralasan, tapi sepertinya orang tua itu tidak mempercayainya, dan lebih memilih percaya dengan Giffard. Dan sekarang apa yang harus Keisha lakukan? Tidak ada!! YA KEISHA SENDIRI TIDAK TAHU HARUS BERBUAT APA SELAIN DIAM DAN PASRAH. Memikirkan banyak hal yang akan dia lakukan untuk mengelak dan menyadarkan Giffard, jika semua ini tidak mungkin.
“Papi … calon mantu aku mana!!” teriak seseorang.
Keisha menoleh begitu juga banyak pengunjung juga ikut menoleh ke arah suara itu. Disana, Keisha bisa melihat Debora, ibu dari Giffard yang datang seorang diri dengan antusiasnya. Dari pandangan Keisha, Debora itu ibu yang sempurna, berwibawa dan juga bijaksana. Tapi kali ini Keisha memusnahkan pikiran itu, ketika melihat ibu Giffard yang masih seperti anak kecil. Berteriak, memeluk ayahnya dengan hangat dan menarik telinga Giffard. Rasanya … Keisha rindu pelukan ibunya.
Terlalu banyak melamun, Keisha tersentak ketika sebuah tangan menyentuh tangannya. Dia pun mencoba menepis, tapi melihat senyum teduh Leo membuat Keisha tidak tega. Akhirnya, Keisha pun mengikuti langkah kaki pria tua ini hingga ke meja Debora dan juga Giffard.
“Calon mantu cucu Opa. Cantik kan? Giffard nggak salah pilih.” ucap Leo.
Keisha menunduk lemas, kali ini sungguh, dia tidak berharap menjadi anggota keluar mereka. Tapi kalau takdir membawa dia kesana, ya nggak masalah sih Keisha juga mau. Tapi … mereka memiliki perbedaan yang sangat ketara.
Debora berdiri, menarik topi Keisha hingga menunjukkan wajah cantik Keisha yang lesu. “Keisha … kamu calon mantu aku?” kata Debora tak percaya.
“Kalian saling kenal?” kata Leo bingung.
Keisha menggeleng. “Nggak Bu. Saya bukan calon mantu Ibu, Gif hanya bercanda. Lagian dia masih sekolah, mana mungkin mau menikah. Masa depannya masih panjang, Bu. Saya juga sadar diri siapa saya, yang jelas saya tidak berharap menikah dengan Gif. kalau sampai jangan deh Bu, saya nggak mau punya suami kayak Gif. Bikin stres dan darah tinggi saya naik terus.”
Giffard yak tak terima pun angkat bicara. “Mau hamil duluan, atau gimana? Enteng bener kamu ngomong begitu.”
“Tuh Bu … dengerin tuh, masa saya mau dihamilin sama bocah SMA. Yang ada saya sama anak saya makan batu sama rumput.” adu Keisha tak terima.
Debora hanya diam menatap Giffard dan juga Keisha yang malah bertengkar. Giffard yang masih kekeh dengan keputusannya dan mengklaim jika Keisha adalah calon istrinya. Sedangkan Keisha yang sama sekali tidak mau menikah atau bahkan hidup bersama dengan Giffard. Sekarang saja tinggal dengan Giffard sebuah bencana yang sangat tidak baik untuk kesehatan Keisha. Apalagi kalau dia menikah dengan Giffard, yang ada jantung, paru-paru, hati pindah fungsi.
“Masih ingat dulu nggak, waktu kamu marahan sama Kenzo. Persisi kayak Gif sama Keisha, nggak mau mengalah. Sama-sama keras kepala, sama-sama kekeh dengan keputusan masing-masing.” kata Leo tertawa.
Dan Debora menyadari hal itu, dia yang tidak mau terlibat antara hubungan Kenzo dan juga Leil. Tapi nyatanya dirinya sudah terperangkap dalam hal itu, mau tidak mau Debora pun maju dan memenangkan Kenzo.
“Jadi … kalian mau menikah kapan?”
-SugarBaby-