Keisha terkejut ketika Giffard tiba-tiba saja langsung mendorongnya. Punggungnya menyentuh dinding ruangan ini yang terasa dingin, bahkan ketika Keisha ingin mendorong Giffard. Lelaki itu lebih kuat untuk mengurung tubuh kerempeng Keisha di antara kedua tangannya. Salah satu kakinya yang menyempil di antara kedua kaki Keisha. Ketika Keisha ingin berteriak meminta tolong, atau mungkin meminta bantuan siapapun untuk menyelamatkan Keisha dari terkadang Giffard. Lelaki itu lebih dulu membungkam mulut Keisha dengan mulutnya, menjejalkan lidahnya untuk masuk dan bermain dengan lidah Keisha.
Ciuman ini begitu kasar, sentuhan nya juga sangat kasar dan arrogant. Beberapa kali Keisha menepis tangan Giffard yang menyentuh perut datar Keisha. Itu tangan kalau cuma naik tidak masalah, hanya ada dua gundukan yang besarnya juga standart di mata Keisha. Tapi kalau sampai turun ke bawah, bukankah itu sangat bahaya?
Disini Keisha terus berusaha untuk menyingkirkan Giffard dari hadapannya. Mendorong tubuh lelaki itu, hingga memukulnya. Nyatanya hal itu tak membuat Giffard pergi dari hadapan Keisha. Air mata wanita itu menetes dengan perlahan, seiring dengan siksaan yang Giffard berikan. Bukannya apa, Keisha tidak menyukai sikap Giffard yang seperti ini. Menyentuhnya dengan kasar bahkan tidak memiliki izin sedikitpun dari Keisha. Ini tubuh Keisha, jangan mentang-mentang dia orang kaya dan bisa melakukan apapun. Dia tidak memiliki hak sedikit pun atas tubuh Keisha.
Mencoba untuk melepaskan diri dari Giffard, wanita itu malah dikejutkan oleh Giffard yang tiba-tiba saja memukul dinding samping Keisha dengan keras sambil berteriak. Mata wanita itu tertutup, tangisannya semakin pecah seseorang dengan sikap Giffard yang menakutkan. Merasa tubuhnya tak di hadapan apapun, Keisha terduduk lemas di hadapan Giffard seraya menangis.
"Apa yang kamu lakukan!! Aku tidak menyuruhmu untuk menangis!!" seru Giffard.
Bukannya berhenti, Keisha malah semakin menangis. Dia ketakutan, sungguh, baru kali ini dia melihat Giffard semarah ini. Entah apa yang membuat lelaki itu marah setelah bertemu dengan Leo.
Ya, malam ini. Setelah dia berhasil menyeret Keisha dari Aldo. Lelaki itu malah membawa Keisha pergi ke rumah Leo, kakeknya malam-malam begini. Walaupun sebelum masuk Keisha sudah memperingati Giffard untuk pulang dan kembali esok pagi, nyatanya lelaki itu malah keras kepala dan terus mengetuk pintu rumah ini, meskipun dia tahu jika kakeknya telah tidur nyenyak dan hanya beberapa maid yang membuka pintu dan juga menyambut kedatangan mereka.
Awalnya Keisha nampak biasa saja, karena Giffard bilang ini hanya sebentar. Dia hanya akan mengambil berkas di ruangan kerja Leo. Tapi makin kesini, Giffard makin membuat Keisha jengkel. Tiba-tiba saja, Giffard meminta Keisha untuk naik ke lantai dua. Untuk mencari kamar yang ada tulisan Giffard. Dan bodohnya, Keisha malah menuruti apapun yang Giffard katakan. Dia mencari tangga hingga ke lantai dua. Dia melewati satu pintu dengan bertulisan Debora, yang tak lain adalah ibu Giffard. Setelah itu, samping mamat Debora ada satu kamar lagi dengan tulisan Giffard. Keisha masuk, dan betapa terkejutnya dia ketika Giffard tiba-tiba saja datang dan langsung mendorong tubuh Keisha. Bahkan Keisha sampai tidak bisa melakukan perlawanan apapun.
Giffard memukul dinding kamar ini beberapa kali hingga tangannya memerah. Lelaki itu berjongkok di depan Keisha dan memeluk wanita itu dengan erat. Jangan lupakan penolakan Keisha yang sama sekali tak ingin disentuh Giffard.
Keisha mendorong sekuat tenaga, hingga akhirnya Giffard melepas pelukan itu dan menjauh. "Jangan sentuh aku!! Aku bukan jalang yang bisa kamu sentuh sesuka hatimu, Giffard!!" teriak Keisha.
Dia bahkan sama sekali tidak peduli jika akan ada banyak orang yang mendengar ucapannya. Bahkan Keisha malah bersyukur jika ada orang yang mendengarkannya, dan membantunya lepas dari Giffard. Keisha akan berhutang budi seumur hidupnya jika hal itu terjadi.
"Jangan mendekat!!" teriak Keisha, ketika dia tahu Giffard ingin mendekatinya kembali. Wanita itu mengambil satu pisau kecil di atas bufet ini dan mengarahkan ke pergelangan tangannya. "Aku akan nm menggores pergelangan tanganku, jika kamu mendekat!!" lanjutnya.
Giffard diam sejenak, dia menatap pisau itu yang berada di atas pergelangan tangan Keisha. Alisnya sempat terakhir sebelah dan helaan nafas keluar dari bibir Giffard. Lelaki itu bangkit, dia mengalami tangannya yang memerah. Kalau berjalan ke kamar mandi untuk mencuci tangan tangannya dan mencoba mengobatinya sendiri.
Kembali ke tempat semula, Giffard masih lihat Keisha yang meringkuk di dekat bufet, dengan pisau kecil yang digenggam. Bahkan Giffard juga bisa melihat wanita itu menyembunyikan wajahnya di antara tangannya. Bahunya masih bergetar, pertanda jika wanita itu manis menangis.
"Aku minta maaf!!" hanya kata itu yang keluar dari bibir Giffard dengan entengnya.
Lelaki itu melirik ke arah Keisha yang tak mengeluarkan sepatah katapun. Giffard mendekat, kembali berjongkok di depan Keisha yang masih terlihat berantakan.
"Rapikan bajumu, ayo kita pulang. Jangan coba-ciba untuk bunuh diri, karena itu akan merugikan kamu sendiri. Udah semester akhir kan? Sayang kalau wisudanya harus jadi hantu!!" cibir Giffard.
Keisha mendongak, matanya memerah akan ucapan Giffard. Reflek, tangan kanannya mengayun dengan bebas dan menampar pipi Giffard hingga membuat wajah lelaki itu ke samping.
"Kamu pikir ini lucu!! Kamu pikir ini lelucon!! Kamu bahkan tidak memikirkan dampak apa yang terjadi setelah akan yang kamu lakukan padaku, Giffard!!" teriak Keisha marah.
Giffard mengusap pipi kirinya dengan lembut, rasanya begitu panas. Tapi lebih panas lagi, ketika melihat Keisha semarah ini dengan Giffard. Padahal jika dengan Aldo, wanita itu tempat baik dan tidak menunjukkan sisi gelapnya sedikitpun.
Bangkit dari hadapan Keisha, Giffard pun pergi meninggal Keisha di dalam ruangan ini. Tidak peduli jika wanita itu akan tetap disana dan terus menangis semalam. Dia susah berbiak hari mengajak Keisha untuk pulang, tapi jika wanita itu tidak mau, ya sudah apa boleh buat!! Giffard juga tidak memiliki hak untuk memaksa wanita itu ikut dengannya pulang.
Beda cerita dengan Keisha yang barusan menampar Giffard. Wanita itu malah menatap tangannya yang masih gemetar di depannya. Dia baru saja memukul sumber uangnya dan membiarkan dia pergi. Tapi itu bagus!! Setidaknya dengan begini, Keisha tidak akan melihatnya kembali, dia tidak akan bertemu dengan bocah sialan itu untuk beberapa hati ke depan. Dan yang jelas Keisha bisa terbebas beberapa saat dari bocah sialan itu. Dia akan kembali ke kosnya jika keadaannya sudah membaik nanti.
Mencoba untuk bangkit, dan melemparkan pisau yang dia pegang. Keisha mengusap air matanya dengan kasar. Dia juga memilih merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan meringkuk layaknya bayi. Sungguh, ini pertama kalinya Giffard berbuat sejahat ini padanya. Dia bahkan masih untung Giffard tidak melakukan hal laok sejauh ini. Hanya sebatas ciuman, tapi kenapa kali ini rasanya berbeda …
Dia bahkan bisa merasakan pertama kali Giffard menyentuhnya hingga sampai sekarang. Dari iseng dan hanya bercanda, sampai akhirnya Keisha sendiri merasakan tubuhnya meremang ketika Giffard kembali menyentuhnya. Bahkan Keisha juga pernah merasakan ketika lelaki itu menciumnya, ada kelenjar ameh uang mulai merayapi tubuhnya. Tapi tadi itu …
"Nggak!! Dia b******k!!" racau Keisha menutup telinga dan matanya, hingga terlelap.
****
Keesokan harinya, Keisha bangun dengan tubuh yang sakit. Dia mengatakan sekeliling ruangan ini tampak asing, dia tahu jika ruangan ini masih sama seperti ruangan semalam. Gimana Giffard dengan brengseknya meninggalkan dirinya tanpa main mengajak Keisha pulang.
Wanita itu mencoba untuk bangkit dan hendaklah membersihkan diri. Namun, alangkah terkejutnya Keisha ketika melihat banyak maid masuk ke ruangan ini dengan menundukkan kepalanya.
"Selamat siang Nona. Kami datang untuk mengantar makan siang dan juga baju ganti untuk Nona." kata salah satu diantara mereka.
Keisha mengangguk kecil, dia meminta beberapa orang itu untuk menaruh baju ganti dan juga makan siangnya di atas meja yang ada. Dia akan mandi lebih dulu, dan barulah menikmati makan siangnya. Untung saja Keisha kebagian shift siang dan masuk jam dua siang. Dan sekarang jam masih menunjukkan pukul sebelas siang. Masih ada waktu untuk mandi, makan siang dan berangkat ke tempat kerja. Untung saja kemarin dia membawa tas dan juga uang, jadi kalau begini kan Keisha tidak harus bingung.
Masuk ke dalam kamar mandi, Keisha kembali terkejut lihat orang-orang itu mengikuti dirinya. Keisha menahan mereka dengan mengangkat salah satu tangannya ke udara. "Kalian mau ngapain?" tanya Keisha heran.
"Kami ingin membantu Anda mandi, Nona."
Mata Keisha mendelik sempurna. "Saya bisa mandi sendiri!! Nggak perlu kalian mandikan!!"
"Tapi tuan Giffard ingin saya memandikan Nona."
"Bocah sialan itu kalau ngomong jangan di dengar!! b******k!! Saya bisa mandiri sendiri, terimakasih!!"
Keisha menutup pintu kamar mandi ini rapat-rapat, dan terus merapalkan kata agar dirinya tak emosi jika bertemu dengan Giffard. Apa-apaan dia itu, bahkan Keisha masih cukup waras untuk mengizinkan mereka membantu Keisha mandi. Dia masih sehat, tangan dan kakinya masih berfungsi dengan baik. Dan dengan bodohnya dia harus memiliki pasangan yang apa-apa harus orang lain!!
"Sialan!! Gif nggak ada otak!!" umpat Keisha terus menerus.
Tiga puluh menit. Keisha membutuhkan waktu setengah jam untuk mandi. Wanita itu berpikir jika orang-orang tadi akan pergi dari ruangan ini. Dan ternyata ketika melihat Keisha keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk. Mereka langsung menghampiri Keisha dengan membawakan baju ganti pada Keisha. Meminta wanita itu untuk segera mengganti handuk itu dengan baju yang sudah disiapkan oleh Giffard.
Mau tidak mau, akhirnya Keisha pun mengambil baju itu. Dia tidak mungkin akan mengenakan baju lusuh ini kembali. Takutnya, Keisha ngiler ketika tidur dan mengusap ilernya dengan baju yang dia pakai.
Mengingat iler, Buku-buku Keisha berlari kencang dan melompat pada tempat tidur ini. Dia melihat sprei putih ini dengan mata tajamnya. Dia harus bisa menemukan pulau basah yang dia buat semalam. Jangan sampai seluruh keluarga Giffard menjadikan Keisha bahasa ghibah tentang iler wanita itu. Apalagi para maid ini, yang biasanya mulutnya akan lemes dan menggosipkan Keisha di belakang punggung wanita itu.
Memastikan tidak ada apapun, Keisha meminta beberapa orang untuk melepas sprei ini dan mencucinya cepat. Dengan alasan jika semalaman Keisha gatal-gatal saat tidur. Dan karena tidak mau berisik dan mengganggu banyak orang Keisha pun hanya diam saja.
"Baik Nona kami akan menggantinya dengan sprei yang baru. Lebih baik Nona–"
"Tolong tinggalkan kami!!"
Perintah itu membuat semua orang menoleh termasuk Keisha. Disana ada Giffard uang menjulang tinggi di depan pintu, dengan tangan yang dilipat di d**a. Lelaki itu susah rapi dengan baju hitam dan juga celana hitam sobek bagian lutut. Entah trend masa kapan, tapi dimata Keisha dia terlalu disayangkan jika tidak dilihat.
Keisha memutar bola matanya malas, dia ingin menghentikan salah satu diantara mereka tapi tidak berhasil. Belum lagi, mereka juga sudah dipastikan akan ketakutan jika melanggar perintah Giffard. Tau kan ini rumahnya, dia memiliki kuasa penuh atas rumah ini dan juga orang yang ada di rumah ini juga.
Memastikan jika orang di ruangan ini pergi, dan meninggalkan Giffard dan juga Keisha. Giffard pun mendekat, dia menarik tangan Keisha dan mendudukkan wanita itu di atas bufet. Tentu saja Keisha langsung mendelik dan memukul bahu Giffard beberapa kali. Dia itu gila atau bagaimana!! Keisha hanya menggunakan pikiran handuk, yang panjangnya saja lima bengkak diatas lutut. Dan sekarang dengan beraninya dia malah mengangkat Keisha dan mendudukkannya di atas bufet?
Dia sadar tidak jika paha Keisha harus terpampang jelas di mata Giffard. Belum lagi, Keisha yang lebih memilih menutup dadanya dibanding menarik panjang handuk bagian bawah untuk menutup padanya. Sungguh, bisa masuk angin lama-lama jika seperti ini cukup lama.
"Minggir Gif. Kamu nggak tau apa aku mau pakai baju!!" usir Keisha.
Giffard mengamati tubuh Keisha dan tersenyum. "Mau aku bantu pakai?"
"Nggak butuh!! Aku bisa sendiri!! Punya otak jangan m***m-m***m banget dong!!"
Bukannya matahari, Giffard malah tertawa kecil. Mengetukkan jarinya di atas bufet, Giffard pun membungkukkan badannya agar wajahnya sejajar dengan wajah Keisha.
Cup …
"Maaf. Serius!!" katanya.
Mata Keisha mengerjap beberapa kali, dia pun langsung memukul bibir Giffard dengan tangan kirinya. Ini bukan tamparan, hanya pukulan kecil sebagai peringatan jika Keisha bukanlah wanita yang gampang disentuh.
"Bisa nggak jangan seperti itu!! Aku risih, Gif!! Kita nggak punya hubungan apapun. Jadi tolong, jangan menciumku suka hatimu!!"
"Aku pikir setelah edisi cupang beranak itu kamu menjadi milikku!! Aku juga memberimu banyak yang sesuai apa yang kamu inginkan. Membayar tunggakan kuliahmu dan juga beberapa tugas yang harus dibayar untuk skripsimu. Jadi aku pikir … kamu itu milikku dan kita memiliki hubungan spesial!!"
"Spesial pakai telur dia!!" jawab Keisha asal. "Kita tidak memiliki hubungan apapun. Jadi jangan berpikir cupang beranak itu sebagai awal hubungan kita." lanjutnya.
Giffard mengangguk sambil mengusap dagunya. Dia masih bingung dengan hubungan yang dimaksud oleh Keisha. Hubungan seperti apa yang dia inginkan, hingga di sentuh Giffard saja harus ada hubungan lebih dulu. Giffard itu tidak pernah dekat dengan wanita manapun, dia tidak tahu apapun tentang hubungan masa kini. Dan disini Keisha sama sekali tidak ingin menjelaskan apapun kecuali meminta Giffard untung pergi dari hadapannya.
Selain ingin menggunakan baju, Keisha juga merasa kedinginan karena hanya menggunakan lilitan handuk saja.
"Aku tau!!" seru Giffard lantang, dan membuat Keisha mengerutkan keningnya. "Maksudmu itu hubungan yang … ," Giffard menggantungkan ucapannya hingga membuat Kesian penasaran. Jantung wanita itu memacu kencang tak karuan, serasa menunggu ucapan lanjutan Giffard. "Keisha maukah kamu menjadi kekasih ku?" lanjutnya.
Dan tidak ada epicnya sama sekali!! Pikir Keisha.
To Be Continued