SB-15

2260 Words
Menjelang malam, Keisha memutuskan untuk pergi bersama dengan Aldo. Dia mengajak Keisha untuk makan malam.bersama di salah satu cafe kesukaan Aldo. Ingat kesukaan Aldo bukan kesukaan Keisha, karena yang jelas Keisha tidak akan mampu membeli makan mahal yang melikit di giginya. Dengan menggunakan hoodie warna mint, dipadukan dengan celana hitam. Sepatu dengan warna hijau yang sangat cocok dengan dirinya. Keisha tersenyum ketika melihat Aldo uang sudah duduk di hadapannya dengan senyum yang mengembang. Lelaki itu baru saja kembali dari kamar mandi, sejak sepuluh menit yang lalu. Entah apa yang dia lakukan selama ini di kamar mandi, sedangkan Keisha saja yang perempuan tidak selama itu juga. "Makanannya belum datang?" tanya Aldo. Keisha menggeleng. "Belum. Dari tadi yang datang cuma minumnya aja." Aldo mengangguk kecil, dia pun menatap sekeliling tempat makan ini dengan antusias. Ada banyak orang disini, dari yang muda hingga yang tua. Ada juga yang pertemuan bisnis, dan juga makan malam dengan keluarga. Semuanya lengkap, dan menurut Aldo dia tidak salah mengajak Keisha pergi ke tempat makan ini. Selain tempatnya nyaman, Aldo juga suka dengan suasana tempat ini yang terlihat klasik gaya eropa. "Kayaknya kita salah datang hari deh." Aldo memulai pembicaraan. Dia tidak suka keheningan diantara mereka yang cukup mengganggu. "Kita salah hari, deng." katanya kembali. "Maksudnya gimana deh. Salah hari gimana?" Keisha nampak bingung dengan ucapan Aldo yang ambigu. Ini hari Kamis lalu hubungannya dengan tempat makan ini apa? Aldo pun menjelaskan jika hari Kamis seperti ini tempat makan ini akan penuh. Banyak ibu ibu sosialita yang datang ke tempat ini, dari yang punya suami berselingkuh dengan pria lain. Ditambah janda kembang yang selalu berada di depan dengan baju seksi. Itu sebabnya Aldo bilang jika dia datang salah hari, karena biasanya Aldo datang ke tempat ini tidak pernah hari Kamis. "Jadi kamu sering kesini?" tanya Keisha yang mulai penasaran. "Sama siapa? Pacar kamu?" Aldo menggeleng, kalau saat ini dia tidak menjalin hubungan dengan siapapun. Dia sedang menikmati kesendiriannya sampai saat ini. Terakhir kalinya, Aldo sempat menjalin hubungan dengan Clara, mereka sempat nyaris main bertunangan. Tapi Clara malah meninggalkan Aldo demi lelaki lain yang lebih kaya darinya. Aldo sendiri juga sadar diri, jika dibanding dengan keluarga Clara, Aldo tidak ada apa-apanya. Dia hanya serbuk pasir hitam di bawah kaki keluarga Clara. Bahkan Aldo juga memaki dirinya yang berani mencintai anak orang berada, sedangkan dia tidak melihat kemampuan dirinya seperti apa. Mendengar hal itu Keisha pun prihatin. Dalam hati, dia juga menyalahkan Aldo yang dulu disukai oleh Keisha tidak mau, malah memilih Clara. Giliran putus sama Clara, yang ada malah mereka bertemu. Dulu, waktu Keisha jadi orang ketiga di hubungan mereka. Aldo juga menutup akses apapun tentang Keisha. Hingga dia juga menutup dirinya, tapi tidak dengan hidupnya untuk lelaki lainnya. Dan yang jelas Keisha lebih suka lelaki virtual yang membuat dirinya bahagia sampai saat ini. Bukannya mati rasa, hanya saja Keisha lagi nyari doa siapa sih kuat banget sampai membuat Keisha seperti ini. Menunggu hampir setengah jam, sambil mendengar dongeng mantan terindah Aldo. Makanan yang mereka pesan pun datang. Pelayan tempat makan ini juga meminta maaf pada Keisha dan juga Aldo, atas pesanan mereka yang datangnya sambat terlambat. Selain ramai, ternyata banyak juga pegawai yang ambil libur di hari Kamis ini. Jadinya mereka kekurangan pegawai untuk melayani pelanggan di tempat makan ini. "Mas kalau butuh bantuan pelayanan. saya siap kok bantu, asalkan dibayar perjam." kata Keisha bangga. Aldo mendelik. "Loh bukannya kamu masih kuliah ya? Bukannya tahun ini kamu lulus?" Keisha mengangguk. "Ya memang. Tapi … sayang aja duitnya nganggur. Lagian cuma untuk hari Kamis aja kan, selebihnya nggak juga." Aldo menggeleng, dia meminta pelayan itu untuk segera pergi. Jujur saja, dia tidak suka Keisha seperti ini. Bukannya apa, harusnya Keisha itu fokus pada kuliahnya. Dia harus lulus tahun ini, mengingat Keisha harus berhenti kuliah tahun lalu karena biaya. Dan sekarang Keisha malah sibuk mencari uang dan mengabaikan kuliahnya? "Aldo, bukan aku mengabaikan kuliah aku. Kamu tau kan aku anak rantau, aku kesini juga pengen sukses dan jadi orang. Kamu juga tahu kan kuliah aku itu beasiswa, dan kamu juga tahu kan kalau aku nggak pernah minta uang sepeserpun salah kedua orang tua aku soal kebutuhan aku disini. Dan kamu juga tahu, jika sejak dulu aku kerja sambil kuliah. selain buat bayar kuliah, tugas dan sebagainya. Duit bulanan dari aku kerja juga buat bayar kos sama bertahan hidup." Keisha mencoba menjelaskan sedetail mungkin, agar Aldo tidak berpikir jika apa yang Keisha lakukan saat ini hanya untuk kesenangannya sendiri. "Itu sebabnya aku mencari kerja apapun, yang penting semua kebutuhan aku disini dan juga biaya tambahan kuliah aku nggak terbengkalai dan membengkak." lanjutnya. "Aku terharu sama kamu, jarang ada perempuan yang semandiri kamu. Kerja sambil kuliah itu capeknya luar biasa loh, dan kamu kelihatan santai aja." Bukannya terlihat santai, yang jelas Keisha sedang menghibur diri dengan kemiskinannya selama ini mah agar dia tahu, jika mencari uang seribu itu harus mengeluarkan keringat banyak. Aldo meminta Keisha untuk tetap semangat, jika dia membutuhkan sesuatu Aldo siap membantu Keisha. Entah bantuan model apapun, jika dia siap membantu tentu saja Aldo akan membantunya. Keisha terlalu bersemangat dengan ucapan itu, dia akan menghubungi Aldo jika dia membutuhkan bantuan. Tapi sayangnya, sekarang yang ada dipikiran Keisha hanya satu Giffard. Bocah itu membahagiakan Keisha mahal, bahkan gaji dari bapak Kenzo dan juga adik Giffard juga bisa menunjang hidupnya selama dua bulan. Belum lagi, Keisha juga tinggal di apartemen Giffard, dia tidak perlu memikirkan harga minyak dan juga beras yang tiap hari naik terus menerus. Lalu untuk apa juga Keisha nanti menghubungi Aldo, jika semua apapun yang Keisha inginkan Giffard menuruti semuanya. "Kan belum tentu juga. Gif kan orangnya ngeselin, bukannya nuruti yang ada Gif bakalan buat aku mati kelaparan di apartemen." gimana Keisha pelan. Aldo mendongak, menatap Keisha dengan heran. "Ngomong sesuatu Kei? Aku nggak terlalu denger, suara musiknya kenceng banget." kata Aldo. Keisha gelagapan, dia pun langsung menggeleng cepat. Dia tidak mengatakan apapun, dia hanya menghafalkan tugas untuk sidang besok. Makanya dia terus menggerakkan bibirnya dengan suara lirih, agar Keisha tidak lupa. Aldo tersenyum kecil, dia meminta Keisha untuk menikmati makannya. Lagian hafalan itu gampang, Keisha hanya perlu membaca intinya saja dan selebihnya dia harus mengembangkan sendiri untuk mendapat nilai bagus. Dia juga meminta Keisha untuk tetap belajar dengan giat, meskipun dia harus bekerja juga. Setelah dia lulus kuliah, Aldo yakin jika Keisha akan mendapatkan pekerjaan yang baik dari yang lain. "Amin … makasih ya doanya." -SugarBaby- Disisi lain, Giffard yang penasaran dengan Keisha. Dia pun memutuskan untuk mengikuti perempuan itu di sebuah cafe. Cafe yang baru saja dilihat kekhawatiran Giffard, atau mungkin dia sering lewat jalan ini dan tidak melihat jika ada Cafe? Atau mungkin cafe ini hanya buka malam hari, dan siang harinya malah tutup? Entahlah Giffard juga tidak tahun. Memesan satu Milkshake rasa coklat, Giffard tak henti-hentinya menatap Keisha yang bercengkerama dengan Aldo. Dari raut wajahnya Keisha, Giffard bisa memastikan jika banyak sekali yang mereka bahas. Dari yang menyedihkan hingga sampai membuat mereka tertawa bersama. Bahkan Giffard juga sempat melihat raut wajahnya Keisha yang hanya diam saja. Tatapan mata perempuan itu menunduk, ke sebuah mangkuk di depannya. Entah mangkuk apa, tapi mampu membuat Keisha melamun. Apa mungkin dia sedang memikirkan Giffard? Tentu saja iya! Lagian, siapa sih uang tidak jatuh hati, atau suka dengan Giffard? Dia itu tampan, memiliki bentuk tubuh yang bagus seperti model. Dia juga pintar, meskipun terlihat bodoh di mata Kenzo. Bapaknya itu mengira jika Giffard ketinggalan pelajaran, karena setiap kali Kenzo melihat buku Giffard. Tidak ada satu Coretan pun disana, jangan kan coretan tulisan A saja tidak ada selain nama.Giffard saja. Itu sebabnya Kenzo selalu meminta guru bimbel untuk anaknya. Selain nakal, dia juga suka bikin stres. Padahal dulu, waktu kecil dia begitu dewasa dan baik, tapi makin kesini makin ancur Giffard dimata Kenzo. "Ini makanan boleh sentuh nggak sih? Gue laper Gif." kata Aiden. Ya malam ini, Giffard meminta Aiden untuk menemaninya mengikuti Keisha. dengan alasan dia akan mentraktir makan malam di salah satu tempat makan yang belum pernah mereka datangi. Dan disini, Giffard maupun Aiden sudah memesan dua makanan ringan, tapi yang ada mereka harus menunggu nyaris setengah jam barulah makanan mereka datang. Buru-buru melahap makannya dengan santai. Sesekali menatap ke arah Giffard yang terus menatap ke arah belakang tempat duduknya. Mungkin perjuangan itu memastikan, atau mengirim pesan pada kedua temannya jika mereka makan malam romantis. Giffard tak tahan, dia ingin sekali menghampiri mereka. Dapur Aiden terus saja meminta Giffard untuk bersabar. Giffard juga harus sadar diri, jika dia hanya membeli Keisha saja tidak untuk memiliki perempuan itu. Giffard juga harus sadar jika dia menggunakan perempuan itu untuk kesembuhannya bukan untuk hal lain. Jika sampai menyimpang, itu tandanya Giffard sangat menyukai perempuan itu dan ingin memilikinya. "Lagi mikirin nyingkirin Aldo." desis Giffard. Aiden melirik sinis. "Sadar posisi lo siapa, Gif." "Gue nggak peduli." sarkas Giffard. Alde menghela nafasnya berat, dia pun menatap.Giffard dengan seksama. "Gue tau masalah lo disini. Tapi lo juga nggak punya hal buat ngatur hidup dia. Yang harus lo tau cuma satu Gif, apapun yang dia lakukan asal dia masih ingat sama lo." Giffard menoleh menatap Alden dengan tajam. Bukannya dia tidak suka, tapi disini Giffard berpikir jika dia susah membeli Keisha seutuhnya. Dan Giffard berpikir juga, jika Keisha hanya miliknya. Tapi yang ada perempuan itu menjadikan Giffard sebagai penguntit, ketiak mendengar kata oke aku tunggu di taman kota. Sudah jelas jika mereka akan bertemu berdua dan jalan bersama. Harusnya Aiden juga melihat sikap Keisha yang berbanding jauh, ketika Keisha bersama dengan Aldo dan juga Giffard. Masa iya sih Aiden tidak melihat hal itu? Giffard pikir bata Aiden masih cukup jernih untuk melihat hal itu dan membandingkan satu sama lain. "Asal lo tau, gue nggak dua puluh empat jam per tujuh hari buat sama lo!! Jadi yang jelas gue nggak tau!!" protes Aiden kesal. Giffard tak menjawab, dia memutuskan untuk diam lebih dulu. Lebih memilih menikmati Keisha yang mulai makan bersama dengan Aldo. Lelaki itu mencoba untuk mengirim pesan pada Keisha. Dan dia tahu jika perempuan itu membaca notif pesan Giffard, dan tidak ada niatan untuk membalasnya. Seperti itulah perempuan? "Terlalu ribet!!" gumam Giffard. Aiden mendongak, menatap Giffard dengan heran. "Lo ngomong sesuatu?" Giffard menggeleng, lelaki itu bangkit dari duduknya hingga memakai Aiden mendongak. Lalu, detik berikutnya Giffard lebih memilih menghampiri Keisha dan menariknya secara kasar. Tentu saja hal itu membuat Keisha terjatuh dengan tangan yang masih diseret oleh Giffard. Belum lagi Aldo yang langsung menarik kaki Keisha, dan menghentikan langkah kaki Giffard. "Dia manusia bukan sampah!!" cetus Aldo. Giffard tersenyum, dia merasakan Keisha yang sudah bangkit dari jatuhnya dan meronta. "Saya tidak mengatakan hal itu." katanya tanpa membalikkan badannya. "Tapi cara anda menyeret dia seperti sampah!!" Giffard menarik nafasnya dalam-dalam untuk menahan emosinya. "Sampah saya terlalu berharga, sehingga saya tidak menyukai sampah saya bersama dengan orang lain!!" Setelah mengatakan hal itu, Giffard kembali menarik tangan Keisha dan pergi dari tempat makan ini. Jangan lupakan teriakan Keisha yang menggema membuat banyak pengunjung langsung menahannya, belum lagi satpam yang datang ingin menghentikan kericuhan ini langsung mencoba saat tahu siapa yang mereka hadapi. Suara musik yang menemani mereka makan pun langsung berhenti karena ulah Giffard. Singkatnya, Giffard mendorong tubuh Keisha untuk masuk ke mobil. Jika tadi Keisha sempat berteriak meminta tolong, hingga memaki orang itu. Ucapan Keisha langsung berhenti sendiri ketika melihat mobil hitam yang sangat dia kenali. Siapa lagi jika bukan Giffard yang selalu saja membuat darah tinggi Keisha naik hingga empat ratus. "Kamu itu kenapa sih pake acara datang segala!! Bikin kacau tau nggak!!" teriak Keisha kesal. Bukannya menjawab ucapan Keisha, Giffard lebih memilih menjalankan mobilnya menuju apartemen. Sudah cukup!! Perempuan itu sudah membuang waktu berharga Giffard hanya karena mengikuti nya makan malam bersama dengan Aldo. Lelaki itu cukup berani membawa Keisha ke sebuah tempat makan mahal dan elit. Giffard hanya takut jika Aldo pulang cuci piring atau tidak bisa makan selama satu bulan. Tau kan harga makanan di sana bagaimana? Kopi paling murah saja tujuh puluh lima ribu. Apalagi yang di pesan Keisha itu adalah caviar import, yang harganya saja nyaris mirip dengan sepatu yang dikenakan Giffard saat ini. "Gif aku lagi ngomong ya sama kamu!!" kesal Keisha kembali. Dia tidak suka jika dia marah dan Giffard hanya diam saja. "Aku tau!!" jawab Giffard enteng, dan semakin membuat Keisha brutal. "Kalau tau kenapa diem aja!! Nggak punya mulut?" makin kesini Giffard makin ingin menyumpal mulut Keisha dengan kaos kaki yang tidak dicuci selama lima tahun agar mau diam. "Yang penting aku dengar!" jawabnya dengan santai tanpa ada rasa bersalah sama sekali. Seketika itu juga tangan Keisha ingin sekali mencekik leher Giffard hingga merah. Meninggalkan jejak-jejak tangannya agar seluruh dunia tahu, jika Giffard anak dari bapak Kenzo nyebelin bin ngeselin!! Mengusap dadanya dan merapal kata sabar. Keisha kembali dikejutkan oleh mobil yang mereka tumpangi pun terhenti. Keisha menatap Giffard yang turun lebih dulu, tanpa mau menunggu dirinya. Sedangkan perempuan itu hanya mampu melongo melihat rumah mewah di depan matanya dengan banyak penjaga di setiap sudut rumah ini. Apa iya rumah kaya harus seperti ini? Andai akan Keisha punya rumah sebesar ini, sudah dipastikan setiap hari kalau ada hajatan di kampung, lebih baik dia menyewakan rumahnya dan mendapatkan banyak uang. Sayang kan, kalau rumah besar begini hanya dihuni bapak- apakah berjas hitam dengan kacamata hitam, meskipun ini malam tapi mata mereka cukup tajam dan tahu jika musuh tengah bersembunyi. Keisha terkejut ketika kaca mobil ini di ketuk, tentu saja Keisha langsung menurunkan kaca mobil ini dan menatap Giffard dengan melongo. "Ada apa?" tanyanya dengan wajah polosnya. "Turun bodoh!!" Seketika itu juga, tangan Keisha reflek menimpuk bibir Giffard dengan pelan. "Yang sopan ngomong sama Kakak, Adik Giffard!!" cibirnya dan langsung membuat Giffard tidak menyukai nya. To Be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD