SB-14

2072 Words
Memutuskan pergi dari apartemen, Giffard pun mengajak Haikal le sebuah cafe pinggiran jalan. Disini, mereka pun membahas banyak hal tentang perempuan yang ada di apartemen Giffard. Sejujurnya, Haikal sedikit penasaran dengan perempuan itu. Tapi melihat tatapan perempuan ini, mendadak Haikal takut sendiri. "Gue pikir ini percuma." kata Gifard. Haikal menoleh, menatap Giffard dengan tatapan bingungnya. "Maksud lo?" "Ya percuma." kata Giffard kembali dan membuat Haikal bingung. Mendapat tatapan bingung Haikal, Giffard pun menjelaskan jika semua yang dia lakukan ini percuma. Selain membuang banyak duit, dia juga membuang banyak waktu hanya untuk ending yang tidak pasti. Dia sudah mencoba menyentuh Keisha, tapi disini Giffard tak merasakan apapun dalam dirinya. Itu sebabnya Giffard mengatakan jika semua ini percuma bagi dia. Mendesah kesal, Haikal pun meminta Giffard untuk minum lebih dulu. Sejujurnya bukan percuma, hanya saja hasilnya belum terlihat. Tahu sendiri kan, semuanya tidak ada yang instan, semuanya juga membutuhkan proses. Ingin minum kopi saja ada prosesnya, masa seperti ini saja tidak ada prosesnya? Harusnya Giffard bersabar lebih banyak lagi jika dia ingin kembali normal dan tidak mengecewakan kedua orang tuanya. Tapi sepertinya dia berhadapan dengan laki-laki yang memiliki pemikiran pendek. "Gue harus ngeluarin duit sepuluh juta selama sebulan buat dia, brengsek." umpat Giffard. Haikal tertawa. "Terus lo bisa ketemu dia dimana deh? Bisa-bisanya lo milih dia buat penyembuhan lo?" Alis Giffard terangkat sebelah, tidak ada yang isti.dwa ketika Giffard bertemu dengan Keisha. Waktu itu, Kenzo terlalu kaya makanya doa mencari guru private untuk Giffard. Tau sendiri kan Giffard tipe orang yang tidak suka diganggu, atau di atur. Hingga dia menyusun banyak rencana untuk membuat guru private nya kabur dan memilih berhenti. Yang terakhir seingat Giffard itu adalah Tika, karena waktu itu Giffard menyobek kertas yang Tika berikan hingga membuat perempuan itu marah dan mengundurkan diri. Giffard pikir hidupnya akan kembali seperti dulu lagi, tapi nyatanya … hanya berjarak beberapa bulan saja, Tika kembali datang dengan Keisha. Tika merekomendasikan Keisha sebagai guru private Giffard. Awalnya, Giffard juga tidak merespon, doa tidak suka. Tapi makin kesini Giffard mencoba menilai kepribadian Keisha hingga memutuskan, jika perempuan itu bisa membantu dirinya sembuh dari rasa sakitnya. Tapi yang ada … "Ya sabar Gif, namanya juga proses waktunya memang lama. Lo harus sabar." Dan disini Giffard ingin semuanya cepat. Dia ingin sembuh layaknya laki-laki, tapi kenapa sesulit ini? Mengambil kunci mobilnya, Giffard pun bangkit dari duduknya hingga membuat Haikal mendongak. "Lo mau kemana heh?" tanya Haikal heran. "Mau jemput, Kei. Hari ini dia mau pindah ke apartemen gue." jelas Giffard. "Lah maksudnya … lo mau ninggalin gue disini, Gif?" Bukannya ninggalin, lebih ke meminta Haikal untuk pulang sendiri menggunakan taksi online atau meminta kekasihnya menjemput Haikal. Lagian tarif taksi online berapa sih, masa iya Haikal yang seorang psikiater tidak mampu membayar taksi online? Tentu saja hal itu membuat Haikal mengumpat kesal. Bukan masalah duit, pasalnya Haikal sudah mengakhiri hubungannya dengan Clara beberapa hari yang lalu. Dia merasa tidak cocok saja dengan kekasihnya, dan memutuskan untuk mengakhiri semuanya. "Alasannya klasik, gak bervariasi." cibir Giffard. "Kalau lo tau masalah kenapa gue putus, gue pastiin lo akan merasa bersalah." Gifard mengerutkan keningnya. "Apa?" "Dia suka sama lo, sialan!! Karena gue nggak mau hubungan kita hancur, akhirnya dia gue putusin." Giffard mengangguk pelan, dia pun menepuk bahu Haikal sebanyak dua kali. "Gue cabut dulu, nanti gue hubungin lo kalau gue butuh." Seketika itu juga Haikal mengeluarkan sumpah serapahnya untuk Giffard. Bukannya marah, Giffard malah pergi dengan tawa nyaring nya. **** Dengan gemas Bertha maupun Tika langsung menoyor kepala Keisha. Ini bukan saatnya bercanda setelah ini hidup Keisha susah tidak akan lagi. Dia tinggal bersama dengan lelaki yang bukan suaminya. Dan yang jelas Keisha tahu kan apa yang akan terjadi dengannya ketika dia tinggal satu rumah, satu kamar dengan lelaki itu!! "Heh … jangan begitu dong. Dukung bentar lah biar aku tetap masih perawan." protes Keisha kesal. Berta tertawa. "Heh … kayak tau aja masih perawan!! Lagian ya, kita tuh nggak bahas tentang hubungan suami istri yang sedang bercocok tanam. Kita cuma ngingetin kamu aja Kei, kalau keputusan yang kamu ambil secara sepihak ini beresiko." Disini Tika menyetujui ucapan Bertha, ini sangat beresiko untuk Keisha yang belum suami, dan juga Giffard yang masih remaja. Tau sendiri kan nafsu seorang itu bisa membabi buta? Apalagi mereka tinggal bersama, bocah sma seperti Giffard masih dalam masa labil. Dia belum memiliki pendirian yang kuat, belum memiliki prinsip hidup untuk masa depannya nanti. Yang ada dipikiran Giffard hanya satu, bersenang-senang dengan Keisha setelah bosan, Giffard akan membuang Keisha juga. Dan entah kenapa hal itu malah membuat Keisha berpikir dua kali. Itu benar, jaman sekarang cowok itu suka ghosting. Tidak ada yang serius, selain usia Giffard dan Keisha yang berjarak jauh banget. Mana mungkin Giffard mau serius sama Keisha? Yang ada kalau dia sudah menemukan barang bagus, atau perempuan yang seusia dia atau di bawahnya. Keisha mendadak juga kepikiran jika dirinya dibuang setelah di sentuh. Sebagai pengalaman mantan kekasih Bertha yang minta ena-ena dengan Bertha dengan alasan bukti cinta. Untung saja Bertha tak memberikan gak itu, dan kekasihnya meminta mengakhiri hubungan mereka. Lalu sekarang … terjadi pada Keisha. Bagaimana jika Giffard meninggalkan dia setelah Giffard menyentuhnya? "Duh, kepikiran." rengek Keisha. "Makanya kita bilang beresiko." Mendadak Keisha takut sendiri dengan Giffard, dia juga takut jika Giffard benar-benar menyentuhnya. Tapi waktu kejadian itu … "Nggak mungkin deh. Aku yakin nggak mungkin dia menyentuhku, guys." kata Keisha. Dia masih mencoba menyakinkan diri jika semuanya tidak akan terjadi. Giffard tidak akan menyentuhnya seperti apa yang mereka pikirkan. Lagian, yang merasakan barang itu berarti atau tidak Keisha, bukan Tika maupun Bertha. Mereka hanya beropini bukan mengalami seperti Keisha. Dan disini Keisha lupa jika Giffard sudah pernah menciumnya, menyelundupkan kedua tangannya masuk ke dalam bajunya. Bedanya, Giffard tidak melepas baju yang Keisha kenakan waktu itu. Dan Keisha masih berpikir jika Giffard tidak akan menyentuhnya? "Heh Giffard itu laki kalau kamu lupa. Terus kamu masih bilang kalau— heh siapa tuh yang datang!!" Bertha menghentikan ucapannya ketika mendengar suara klakson yang terus berbunyi. Tika yang duduknya dekat jendela langsung menyebabkan gorden untuk melihat siapa yang datang. Ternyata mobilnya terhalang dengan gerbang coklat, sehingga tidak kelihatan sama sekali. Perempuan itu ingin melihat siapa yang datang, dan kalau perlu memarahi nya juga. Tapi disini, Keisha malah berdiri lebih dulu sambil menyeret koper hitam miliknya dan meminta Tika untuk kembali duduk. "Jangan keluar deh, itu setan satu kenapa cepet banget sih datangnya." dumel Keisha. Mengetahui dumelan itu Tika tertawa. "Takutnya kamu jatuh cinta Kei sama dia." "Bocah SMA bisa apa bikin aku jatuh cinta selain Aldo?" Seketika itu juga Tika tertawa kencang, hingga membuat Bertha bingung. Masalahnya yang tahu Giffard pertama itu Tika, dan yang tau sikap Giffard itu seperti apa juga Tika. Meskipun hanya beberapa bulan nyatanya Tika tahu benar, apa jangan akan Giffard lakukan untuk menggoda Keisha agar mau menurut padanya. Meskipun Tika dulu juga sempat begitu, hingga Giffard membuang ujian yang Tika berikan. Dan yang lebih penting lagi, iman Tika begitu kuat dan kokoh ketika berhadapan dengan Giffard. Mulutnya yang ngajakin duel, dan juga sikapnya yang ngajakin berantem terus menerus. "Balik dulu ya, baik-baik kalian semua. Jangan rindu, kalau rindu datang aja ke apart aku." Entah kenapa rasanya Bertha maupun Tika ingin sekali menjitak kepala Keisha yang mendadak sombong itu. Memasuki mobil Giffard, Keisha pun mendesah pelan sambil merapikan rambut dan bajunya. Disini Keisha juga bisa melihat Giffard yang diam saja di samping Keisha. "Kenapa lihat aku begitu? Dan kenapa juga nggak jalan mobilnya? Katanya mau pulang?" tanya Keisha bertubi-tubi. Giffard menoleh sejenak, lalu menjalankan mobilnya dengan pelan. "Kamu ambil barang kok lama banget." "Namanya juga cewek, ya harus sabar dong." "Padahal cuma pindah tempat, bukan pindah alam." Seketika itu juga mata Keisha mendelik sempurna, menatap wajah polos Giffard tanpa dosa ini. Dia bilang apa? Pindah alam? "Secara garis besar, kamu ngatain aku mau pergi mati?" seru Keisha. "Aku nggak bilang. Kamu yang bilang." "Heh dodol!! Kalau kamu lupa, kamu yang bilang bukan pindah alam. Yang jelas kamu sama aja doain aku cepat mati!! Dasar ya, bocah nggak tau sopan santunnya, aku lebih tua dari mu Gif!! Sopan dikit dong!!" Giffard hanya menaikkan satu alisnya, dia lebih sibuk fokus pada jalanan dibanding harus berdebat dengan Keisha. Secara, dia tidak mengatakan apapun kecuali beda alam. Dan lagi!! Keisha sangat lambat, bahkan Giffard harus menunggu perempuan itu selama sepuluh menit. Tidak salah jika Giffard mengamuk pada Keisha, karena lelaki itu tidak suka menunggu. **** Akhirnya mereka pun sampai di apartemen tadi, Keisha langsung memasukkan baju miliknya ke dalam lemari kaca yang kosong. Mungkin sebelum pindah, Giffard lebih dulu menyiapkan semuanya untuk Keisha. Peduli setan dengan usaha lelaki itu, yang jelas sampai kapanpun Giffard tidak akan bisa merebut hati Keisha. Hanya Aldo saja yang bisa membuat Keisha jatuh hati hingga sulit untuk berpaling. Ngomong-ngomong soal Aldo, lelaki itu sempat mengirim pesan pada Keisha di salah satu akun sosial Keisha. Rasa ingin berteriak, tapi Keisha juga sadar diri jika di sampingnya ada Giffard. Yang ada ponsel Keisha bisa masuk comberan tanpa diminta. Tau kan, sikap Giffard yang marah dan mengusir Keisha ketika ber ibarat dengan Aldo di sekolah? Dan Keisha juga tidak mau hal itu terjadi kembali. Dia masih sayang ponselnya, meskipun Giffard bisa membelikan nya, Keisha rasa bocah bodoh itu tidak akan main mengeluarkan uang untuk hal yang tidak penting. Setelah sudah memasukkan bajunya, Keisha memilih duduk di depan cermin besar dan mengambil gambar. Untuk menambah koleksi foto Keisha. Maklum saja setelah sibuk bekerja cari duit untuk menampung hidupnya, belum lagi kuliahnya Keisha jarang sekali foto. Itung-itung bisa lah tempat ini juga bagus, kaca dan juga backgroundnya mendukung. Makanya Keisha ingin mengambil beberapa foto dirinya sebagai koleksi. Disisi lain, Giffard masuk ke dalam kamar dan melihat Keisha yang duduk dan mengambil pose foto yang bagus di depan cermin. Dengan tersenyum kecil, Giffard malah lebih memilih duduk di samping Keisha, dengan kepala yang menoleh ke arah kanan. Lebih tepatnya menatap wajahnya Keisha dari arah samping. Dan di luar pikiran Giffard, jika lelaki itu akan berpikir jika Keisha akan marah dan menampar dirinya. Keisha malah menolehkan kepalanya ke kiri dan nyaris menyentuh bibir Giffard. Jarak mereka cukup dekat, hidung mereka juga saling bersentuhan satu sama lain. Jadi kalau ada setan atau jin yang mendorong kepala Giffard atau Keisha, jangan salahkan manusia jika bibir mereka akan saling mencecap rasa satu sama lain. "Eh … " pekik Keisha. Ia pun langsung menarik tubuhnya menjauh dari Giffard. "Sejak kapan disitu? Kenapa masuk nggak bilang? Nggak sopan banget sih!!" cerocos Keisha. Giffard mendengus dia pun mengambil s**u vanila dan meneguk nya. "Kalau lupa ini apartement ku, jadi aku bebas mau masuk kemanapun selagi aku suka!!" Keisha bangkit dari duduknya dan menaruh ponselnya di ubin kamar. "Heh ini kamarku ya. Jadi kamu harus mengetuk pintu dulu kalau mau masuk. Walaupun gak kututup, gak ku kunci seenggaknya bilang permisi Mbak boleh masuk?" "Najis!!" desis Giffard. Reflek Keisha pun langsung memukul Giffard dan mengusirnya. Disini, Giffard langsung menepis tangan Keisha yang ada di tubuhnya, lelaki itu melemparkan tatapan tajam pada Keisha hingga membuat perempuan itu takut. Disini Giffard juga menjelaskan jika kamar ini adalah miliknya. Apartemen ini memang memiliki dua kamar, tapi Giffard lupa kunci kamar satunya dimana. Dan yang jelas Giffard juga tidak mau tidur di sofa atau lantai kamar ini. Dia cukup alergi dengan dingin, dan punggungnya akan sakit jika dia tidur di sofa. "Ehhh … maksudnya aku gitu yang tidur sofa? Kok kamu jahat banget sih, Gif. Aku itu perempuan loh!!" omelin Keisha kembali. "Yang bilang kamu laki siapa!!" "Kamu!!" "Kapan?" tanya Giffard pura-pura lupa. Keisha mengepalkan tangannya ke udara. Dia pun langsung memberitahu Giffard jika dia tidak mau tidur si lantai atau sofa. Selain bisa membuat Keisha masuk angin dan jatuh sakit, Keisha juga bisa sakit leher jika tidur di sofa. Satu-satunya cara yang ada, Giffard dan Keisha pun tidur dalam satu ranjang yang besar ini. Mereka menggunakan guling atau benda apapun sebagai pembatas. Dan di sini, Keisha juga meminta Giffard untuk membuat tali mereka harus membuat gorden, agar Keisha maupun Giffard tidak melihat satu sama lain. Keisha juga tidak mau jika hanya ada satu selimut di atas kasur, maksimal harus ada dua selimut agar tidak berebut. Giffard diam sejenak menatap Keisha dari ujung kaki hingga ujung rambut, lelaki itu menggeleng. "Sesulit itu?" Dan disini Keisha mengangguk kecil, dia ingin sekali menjawab ucapan Giffard. Namun, panggilan masuk di ponselnya lebih menarik dirinya dibanding harus menjawab ucapan Giffard. Mengambil ponselnya, Keisha pun tersenyum. "Hallo Aldo … ." katanya dengan nada mengenenk Giffard. Seketika itu juga Giffard mengepalkan tangannya menatap Keisha pergi dari hadapannya. To Be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD