Keisha mengerjapkan matanya berkali-kali, mengingat apa yang Giffard perbuat padanya. Kadang, Keisha bingung dengan sikap bocah itu yang suka matahari, kadang baik kadang juga ngeselin. Meskipun banyak sekali scene tengil di memori otak Keisha. Namun, sikap hangat dan peduli Giffard mampu mempengaruhi perempuan itu.
Seperti saat ini, Giffard yang rela bolos sekolah karena tahu jika Keisha memutuskan untuk tidak bekerja dan juga tidak ada kelas khusus. Bocah itu datang ke kos Keisha untuk menjemput perempuan itu. Keisha sudah menolaknya, karena dia masih kesal dengan sikap Giffard semalam, yang marah dan juga dengan tidak sopannya mencium Keisha. Menurut Keisha ini sudah parah, ini sudah diluar kontrak kerja dia dengan Giffard. Sesuai perjanjian tidak ada sentuhan apapun kecuali gandengan tangan. Tapi semalam …
"Ayo dimakan." perintah Giffard.
Keisha mengedipkan matanya sebentar, lalu membuang pandangannya ke arah lain ketika Giffard mengambil posisi duduk di depan Keisha.
"Sayang … " panggil Giffard dengan nada mengejek.
Keisha bangkit dari duduknya dan pergi, dia pun memilih duduk di sofa depan televisi sambil memainkan ponselnya. Memberitahu Tika dan juga Bertha, jika dirinya ingin sekali tenggelam di dasar laut. Mungkin itu akan jauh lebih baik dibanding harus berhadapan dengan Giffard. Tapi nyatanya … Mereka malah mengingatkan Keisha yang sudah dibeli oleh Giffard. Jadi, secara tidak langsung Keisha adalah milik Giffard.
"Bisa nggak sih jangan bikin orang ngedown. Udah tau temennya lagi pusing malah dibikin ngedown." gumam Keisha.
Giffard yang memperhatikan sikap Giffard pun mendekat. Memeluk perempuan itu dari arah belakang. Lebih tepatnya hanya bagian leher, karena memang hanya itu yang bisa dipeluk.
Tentu, Keisha langsung menepis nya. "Apa sih!! Nggak usah pegang-pegang!!"
Giffard melompat dari belakang, hingga duduk di samping Keisha. Dia pun menaruh kepalanya di pangkuan Keisha. "Masih marah? Aku udah minta maaf, ya."
"Aku tau kamu sudah minta maaf sama aku. Tapi jujur ya, Gif, aku nggak suka sama sikap kamu yang seenaknya. Aku tau diri kok kamu udah nyebelin aku, tandanya aku milikmu. Tapi aku juga butuh waktu sendiri, butuh privasi yang semuanya gak harus kamu tau. Aku nggak suka di tekan, aku gak suka di kekang, aku juga pengen bebas kayak yang lainnya." kata Keisha mengeluarkan semua apa yang dia rasakan.
Giffard bangkit, "Kalau aku bebasin kamu. Kamu pasti ninggalin aku!! Itu yang nggak aku suka. Kamu udah milikku, berarti ya milikku!!"
Keisha memutar bola matanya malas. "Aku nggak suka diklaim. Aku tau diri!!" sinis Keisha kesal.
Giffard tersenyum miring, dia pun memilih melumat bibir Keisha di banding harus menjawab ucapan itu. Perempuan itu sempat meronta, memukul d**a bidang Giffard untuk melepaskan tautan bibir mereka. Bahkan ketika Keisha tidak mau menerima ciuman itu, tentu saja Giffard lebih memilih menggigit bibir perempuan itu dan menjejalkan lidahnya untuk bermain dengan milik Keisha.
Tenga Keisha tak cukup kuat. Tenaga Giffard terlalu kuat untuk Keisha yang lemah dan rapuh ini. Perempuan itu melunak, dia pun tak kembali meronta dan menerima ciuman Giffard. Membalasnya dengan lembut sesekali membalas gigitan Giffard. Tak hanya itu, tangan Giffard yang tadinya menahan tangan Keisha melongar, membiarkan tangan perempuan itu memeluk pinggangnya.
Cukup lama mereka berciuman, hingga akhirnya Giffard pun menarik diri untuk menjauh dari Keisha. Memberikan ruang pada perempuan itu untuk bernafas. Dia tahu jika wanita itu kembali memukulkan karena kehabisan nafas. Dan lihatlah, bibirnya bengkak karena ulah Giffard.
Lelaki itu tersenyum sambil mengusap bibir bawah Keisha. "Makan!! Aku mau mandi dulu."
Giffard beranjak dari duduknya dan akan pergi mandi. Namun, ketukan pintu membuat Giffard menatap ke arah pintu itu dengan datar. Siapa yang datang ke apartemennya pagi ini? Meminta Keisha untuk pergi ke meja makan, lelaki itu memutuskan untuk membuka pintu, melihat siapa yang beraninya menganggap dirinya.
"Ada apa?" kata Giffard, saat tahu siapa yang datang.
Haikal. Dia adalah salah satu Psikiater yang selama ini menangani Giffard. Dia juga yang memberi saran aneh ini pada Giffard untuk sembuh, tapi yang ada sampai detik-detik ini Giffard juga tidak menemukan tanda-tanda jika dirinya sembuh.
Lelaki itu nyelonong masuk tanpa di persilahkan. Tentu saja hal itu membuat Giffard mendengus kesal. "Pergi deh lo, nanti siang gue temuin lo di ruang kerja lo." kata Giffard.
Haikal menggeleng. Masuk ke dalam apartemen ini dia kalau menghentikan kalinya ketika melihat satu perempuan yang duduk di meja makan, sambil menyiapkan nasi ke dalam mulutnya. Haikal menatap Giffard penuh tanda tanya sambil menunjuk perempuan itu.
"Ini–" Haikal menggantungkan ucapannya. Sekali lagi, dia menatap Giffard yang diam saja di hadapannya. "Dia yang lo maksud?" lanjutnya, seolah tahu sorotan mata Giffard.
Dan Giffard tak memungkiri, dia pun mengangguk. "Iya."
"Ikut gue keluar."
"Gue mau mandi dulu, kalau mau lo tunggu bentar."
Haikal ingin sekali menolak, tapi Giffard sudah lebih dulu pergi dari hadapannya dan masuk ke salah satu ruangan yang ada di rumah ini. Setelah memastikan Giffard pergi, Haikal pun memilih duduk di meja makan sambil menatap Keisha. Menilai dan meneliti apakah Keisha ini perempuan tulen atau perempuan jadi-jadian. Dilihat dari rambutnya yang panjang, lehernya hingga dia gundukan yang dia miliki. Memastikan jika itu adalah asli bukan balon, atau silikon. Rasa ingin memeriksa tapi Haikal juga takut jika dia perempuan tulen, yang ada panci hitam milik Giffard akan melayang ke arah dirinya.
"Kenapa melihatku seperti itu? Ada yang salah?" cetus Keisha.
Dia bukan tipe perempuan yang suka di tatap. Jangankan Haikal, Giffard yang berani menatap Keisha saja dapat colokan mata apalagi ini. Jangan sampai garpu di tangannya melayang dan mencukil mata Haikal.
Haikal menggeleng sambil mengusap tengkuk lehernya. "Nggak. Cuma mastiin aja kalau kamu perempuan tulen."
Mata Keisha mendelik. Wah ngajak ribut!! Pikir Keisha.
Menaruh garpu yang ada di tangannya, Keisha pun melemparkan tatapan tajamnya. Tangannya menyentuh buah apel dan juga pisau. Memotong dia ujung apel itu dan membelah langit menjadi beberapa bagian, lalu mengupas kulitnya, karena Keisha tidak suka makan buah yang ada kulitnya.
"Kamu pikir aku Agus yang di pinggir jalan?" tanya Keisha sesantai mungkin. "Udah pernah ngerasain di kuliti belum?" lanjutnya.
Haikal menggeleng cepat sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. "Nggak. Nggak!! Terima kasih."
Dalam hati Haikal pun meminta jika Giffard akan cepat menyelesaikan ritual mandinya. Jangan sampai dia benar-benar dikuliti oleh perempuan itu hanya karena menunggu Giffard mandi.
Hingga tak lama, atensi Haikal tertarik dengan suara pintu terbuka. Dia pun menatap Giffard yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggang.
"Gif, gue tunggu di mobil ya?" kata Haikal.
Alis Giffard mengerut. "Tumben, kenapa lo?"
"Nggak papa. Gue tunggu di mobil, cepetan."
Giffard mengangguk, membuat Haikal langsung pergi. Tapi tatapannya malah mengarah pada Keisha yang tersenyum paksa di depannya. Perempuan itu mengupas apel dan memakannya, menurut Giffard tidak ada yang aneh. Tapi kenapa Haikal memilih pergi? Padahal Giffard berharap jika dia bisa mengenal Keisha lebih dekat lagi, agar Giffard tahu setelah ini apa yang harus dia lakukan.
-SugarBaby-
Setelah memastikan Giffard pergi dari apartemen ini, Keisha pun memutuskan untuk pulang ke kosnya. Dengan alasan ingin mengambil barangnya, jika dia diwajibkan tinggal bersama dengan Giffard. Kalau dipikir-pikir selain hemat uang bulanan, tempat ini juga tidak jauh dari kampus dan juga kerjanya. Hidup Keisha akan terjamin dan mendapatkan gizi bagus. Dia juga tidak perlu memikirkan beras habis, gas habis, kebutuhan dapur lainnya habis. Apalagi harus patungan bayar listrik. Sudah dipastikan jika dia tinggal bersama dengan Giffard semuanya akan terpenuhi. Toh, dia juga gak malu-maluin amat. Tubuhnya tinggi, setinggi harapan emaknya Keisha, kulitnya putih, dan yang jelas tidak ada yang tahu jika Giffard masih bocah SMA. Contohnya, waktu ulang tahun Keisha beberapa hari yang lalu. Flo saja masih tanya kuliah dimana, itu tandanya wajah dan penampilan Giffard masih bisa memanipulasi orang banyak.
"Ya jelas lah, secara ya Kei kamu itu udah kayak sugar baby nya Gif. Bedanya, yang jadi biasanya om-om berduit yang sudah punya istri. Tapi kamu … bocah SMA berduit." jelas Tika.
"Bener. Aku juga setuju sama ucapan Tika, dari kemarin aku juga pikir begitu. Kamu adalah sugar babynya adik Giffard." tambah Bertha.
Dan nyatanya Keisha sama sekali tidak suka dengan opini Tika maupun Bertha. Dia itu bukan sugar baby nya Giffard, tapi dia hanya berhutang uang pada Giffard atas pengobatan ayahnya dan juga hutang yang menimpa keluarganya. Itu sebabnya dia mau tinggal bersama dengan Giffard, tanpa alasan apapun. Masalah les sesuai janji Keisha, dia akan melakukan yang terbaik untuk bocah itu. Walaupun kedua orang tuanya tidak tahu jika les yang mereka inginkan, sama sekali tidak diinginkan Giffard.
Mengemasi barang seadanya, Keisha pun menatap kedua temannya sedih. Setelah ini tidak ada lagi yang beli teh poci besar, makanan lesehan dan juga saling titip satu sama lain. Tidak ada yang berteriak kencang, ketika melewati lorong gelap dengan lampu remang-remang yang mati hidup seperti lampu disko. Dan sekarang semuanya tinggal kenangan.
"Bakalan kangen kalian." rengek Keisha.
Niat hati ingin memeluk mereka, yang ada Bertha lebih dulu menepis tangan Keisha dan membuat perempuan itu memantulkan bibirnya. "Apa sih nggak usah lebay!! Aku bukan Giffard yang lihat kamu manyun langsung cium."
Tika menoleh karena tertarik dengan ucapan Bertha. "Heh seriusan?"
"Omong doang kagak ada bukti, hoax tau." cibir Keisha menggerakkan kepalanya mengejek Bertha.
Dan kali ini Bertha malah lebih memilih mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pada Tika, jika apa yang dia katakan benar. Malam itu, Bertha pulang larut malam dia bersyukur pada lampu tetangga yang padam. Sehingga dia bisa mem video Giffard dan juga Keisha yang ada di dalam mobil tengah berciuman. Belum lagi ketika Keisha memantulkan bibirnya dan membuat Giffard menciumnya langsung. Dan ya … mungkin di video tidak begitu jelas ekspresi Keisha seperti apa. Tapi di sini Bertha menjelaskan pada Tika, jika Keisha hanya mengerjapkan matanya saja. Mungkin dia gugup atau tidak siap jika Giffard akan kembali menciumnya.
Keisha yang kesal dengan ucapan itu langsung melempari Bertha dengan buku kosong miliknya. Dia tidak gugup, dia hanya terkejut dengan sikap Giffard yang ambigu. Disitu terlihat jelas jika Keisha tengah marah, dan Giffard mencoba menggodanya dan berharap jika Keisha mau memaafkan dirinya. Bahkan sampai saat ini Keisha juga belum memaafkan Giffard atas sikap bocah itu yang suka seenaknya pada dirinya. Bukannya apa, Keisha itu tidak suka di kekang. Tau sendiri kan modelan Keisha seperti apa.
"Banyak alasan, bilang aja kamu mau lagi!!" kata Bertha.
"Sialan!! siapa juga yang mau lagi. Itu aku belum siap, udah ngomel mendadak dia langsung nyium aku." protes Keisha yang tak terima.
Tika tertawa. "Perlu kamu tau Ber. Aku pernah lihat cupang dia beranak cucu di leher. Aku pikir … nafsu Giffard kayaknya gede juga."
Dan di sini Keisha menjelaskan jika semua itu salah. Mereka memang sering berciuman. Giffard yang tiba-tiba saja menciumnya tanpa alasan, entah dia sedang marah atau tidak Giffard akan melakukan hal yang sama pada Keisha. Alasannya, sampai saat ini Keisha sendiri juga tidak tahu apa. Meskipun dia merasa ganjal dengan sikap Giffard, tapi beberapa kali Keisha memaklumi atas apa yang bocah itu lakukan.
"Ngaku kan akhirnya kalau ciuman nggak cuma sekali. Gitu aja pas di pegang pinggang ngamuk." kata Bertha.
"Apa sih!! Waktu itu aku jelasin juga kan, aku gak merasakan batang berdiri sama sekali. Itu posisi aku mekakang di depan dia." jelas Keisha kembali tanpa mem filter mulutnya.
Tapi tetap saja Keisha dan Giffard sudah hampir buka-bukaan. Tinggal tunggu waktu saja Keisha di unboxing saja sama Giffard dan lahirlah adik Giffard yang lucu imut dan menggemaskan.
Membayangkan saja membuat Keisha merinding. Bagaimana jika hal itu benar? Dimana Giffard benar-benar menyentuhnya hingga hamil? Lalu memiliki anak dengan Giffard yang masih sekolah? Masa iya dia punya bapak anak sekolahan? Masa iya bocah bisa bikin bocah, terus lahirin bocah?
"Eh kok ngeri sih kalau di bayangin." kata Keisha merinding.
Tika tertawa. "Dilakuin aja jangan di bayangin. Takutnya apa yang dibayangkan tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Tau kan kehidupan real jauh lebih menyakitkan dibanding khayalan."
"Ya juga sih. Kali ini aku setuju dengan ucapanmu, Tik." kekeh Keisha.
Bertha sendiri hanya mampu menggelengkan kepalanya. Dia meminta Keisha untuk cepat berkemas sebelum Giffard menjemputnya. Dia tidak ingin melihat bocah itu kembali mencium Keisha kembali di depan Tika dan juga Bertha. Yang ada mereka akan pindah planet jika hal itu benar-benar terjadi.
"Oke bestii selamat tinggal, dan sampai jumpa dikehidupan selanjutnya." kekeh Keisha.
-SugarBaby-