"Kamu beneran Keisha kan?" tanya pria itu.
Keisha mengangguk. "Aku nggak lupa sama kamu, Al. Gila apa!!"
Aldo tertawa kecil. "Aku pikir kamu lupa sama aku. Kamu sendiri ngapain di sini?"
Keisha mati kutu mau mengakui Giffard adiknya tapi tidak mungkin. Aldo cukup tahu siapa Keisha selama ini, jika dia bilang babysitter Giffard juga tidak mungkin. Dia cukup besar untuk diakui sebagai bayi. Dan jika dia mengakui sebagai guru les Giffard kemungkinan besar Aldo akan percaya kan? Tapi … kalau dia percaya mana ada guru les nganter makan siang ke anak didiknya. Bukannya itu kurang kerjaan?
Menggaruk tengkuk lehernya, nyatanya Keisha tak menemukan alasan yang tepat untuk hal ini. Dan dia hanya mampu menunjukkan wajah lucunya di depan Aldo, sehingga membuat pria itu tertawa sambil mengacak rambut Keisha.
Tentu saja hal itu tak luput dari pandangan Giffard. Bocah itu mengepalkan tangannya melihat apa yang Aldo lakukan pada Keisha. Dan lebih menjengkelkannya lagi Keisha tak menepis tangan Aldo atau menyingkirkan tangan sialan itu dari kepalanya. Coba saja kalau itu Giffard yang menyentuhnya, sudah dipastikan jika tangan j*****m Keisha itu akan menyakiti tangan Giffard.
Pergi adalah pilihan Giffard. Itu juga bukan urusan dia, mau dekat dengan siapa. Itu hak Keisha. Disini Giffard hanya menggunakan Keisha untuk kesembuhannya saja. Selebihnya tidak ada. Dan yang jelas Keisha tak boleh mengetahui hal itu.
Mengirim pesan pada perempuan itu, Giffard pun memutuskan untuk kembali ke kelas. Keisha bisa pergi setelah mengantar makan siangnya, dan meminta Keisha untuk mengemasi semua barang yang ketinggalan di kos lamanya. Giffard tidak mau tahu sedikitpun, sore nanti ketika dia pulang dia harus sudah melihat Keisha tinggal di apartemen yang dekat dengan kampus dan juga tempat kerja Keisha.
"Kenapa lo pergi? Pacar lo lagi sama jantan lainnya tuh." kata Aiden.
Giffard mendengus. "Diem lo!! Gue nggak peduli."
"Kalau nggak peduli, gue boleh dong deketin cewek lo?" kekeh Aiden dan membuat Giffard menatapnya tajam. "Nggak usah natap gue kayak gitu!! Gue tau betul kenapa lo deketin Keisha. Lo cuma jadiin dia bahan biar lo sembuh kan?" lanjutnya.
Dan nyatanya Giffard tak menyalahkan hal itu. Apa yang dikatakan Aiden itu benar, dia hanya memanfaatkan Keisha agar cepat sembuh. Hanya ini satu-satunya jalan bagi Keisha, mengonsumsi sebanyak apapun obat yang diberikan tak akan membuat Giffard sembuh. Yang ada dirinya akan terus tersakiti dan terbayang dengan masa lalunya. Yang dibutuhkan Giffard saat ini hanya satu, hidup tenang tanpa beban dan damai.
Giffard tak menjawab, dia lebih memilih nyelonong pergi dari hadapan Aiden. Lagian, dia juga tidak menyalahkan ucapan itu. Apa yang Aiden katakan adalah benar, dan apa yang Giffard lakukan itu adalah sebuah effort untuk dirinya sembuh. Memasuki ruang ganti dan mengganti baju seragamnya, Giffard keluar dengan baju yang sudah rapi. Khas anak sekolah. Pikirnya.
Kembali ke lapangan, dan dia masih melihat Keisha yang masih bercengkrama dengan Aldo. Saling tertawa bersama dan juga cara berbicara Keisha sangat berbeda dengan dirinya. Dan entah kenapa hal itu membuat Giffard tak menyukainya. Keisha tak pernah bersikap semanis itu dengan dirinya, selain mencibir Keisha juga suka sekali marah-marah dan menyalahkan Giffard. Tapi dengan Aldo …
Dengan langkah cepat Giffard pun mendekat, dia lebih memilih menarik tangan Keisha untuk pergi dari hadapan Aldo. Tentu saja hal itu sempat membuat Aldo memekik kaget. Begitu juga dengan Keisha yang memilih meronta, dan menginginkan tangan Giffard menyingkirkan dari pergelangan tangannya.
"Gif lepasin aku!!" seru Keisha meronta. Dia sempat memukul tangan Giffard yang kuat itu, dan hasilnya tidak ada gunanya. Itu lengan terbuat dari besi. Ibarat kata, tangan Keisha ini seperti nyamuk mau memukul atau menggigit sekeras apapun juga tidak akan ada hasilnya.
Pada akhirnya Keisha pun menyerah, dia pun mengikuti langkah kaki Giffard yang keluar dari gerbang sekolah. Disini ada banyak guru yang mulai memperhatikan mereka, ada beberapa murid yang berlalu lalang juga memperhatikan mereka pula. Sungguh, Keisha mendadak ingin hilang saja dari muka bumi ini.
"Aaaaa … " Keisha berteriak ketika Giffard menghempaskan tangannya dengan kasar. Untung saja dia tidak nyungsep dan menjadi bahan tawaan banyak orang. "Apaan sih. Kenapa main usir aja!! Aku mau pulang atau nggak itu urusan aku!!" semprot Keisha. Dia pun memegang pergelangan tangannya yang merah, akibat ulah Giffard.
"Pulang. Tunggu aku di apartemen. Sore nanti, kalau malam baju kamu nggak ada di apartemen. Kamu tanggung sendiri akibatnya!!" ancam Giffard.
"Gitu aja terus!! Dipikir aku babu kamu apa!!"
"Aku udah beli kamu ya, jadi kamu milikku. Aku punya hak di hidup dan diri kamu!!" ucap Giffard memperingati.
Keisha menghentakkan kakinya kesal. Dia pun membalik badannya dan memilih pergi. Jujur, dia tidak suka diperlakukan seperti ini. Dia tahu jika dia meminjam uang Giffard, tapi kan bukan berarti dia milik Giffard kan!!
Memesan satu taksi online, Keisha memutuskan untuk kembali ke kampus. Hari ini ada mata pelajaran jam sebelas, jangan sampai dia terlambat dan mengakibatkan dirinya tidak lulus tahun ini.
-Sugarbaby-
Sesampainya di kampus, hal pertama yang Keisha lihat adalah Tika. Perempuan itu menghampirinya dengan membawa setumpuk buku di tangannya. Lihat wajah Keisha yang cemberut, tentu Tika langsung menyeret Keisha pergi ke taman kampus. Dia membutuhkan informasi, dan juga penjelasan tentang cupang yang ada di leher Keisha. Kalau cuma satu sih, itu masih bisa ditoleransi tapi ini masalahnya ada banyak. Kan bahaya kalau Keisha berciuman sampai kebablasan begini.
"Apa sih Tik. Jangan main tarik aja dong. Sakit tau tangan aku." keluh Keisha.
Tika melemparkan tatapan tajamnya pada Keisha. Meminta perempuan itu untuk duduk di kursi yang sudah disediakan. "Habis ngapain kok merasa sakit!!" omel Tika.
"Maksudnya pergelangan tangan aku yang sakit. Tadi sudah ditarik Giffard, sekarang kamu yang narik."
"Udah ya Kei, jangan banyak alasan. Jelasin itu cupang kenapa banyak banget di leher kamu!!"
Dan pada akhirnya Keisha pula memberitahu mereka tentang pertanyaan cupang ini. Padahal Keisha sudah menutupnya dengan rapat-rapat, menggunakan hoodie dan juga menggerakkan rambutnya. Tapi … kenapa mereka bisa tahu?
Teringat sesuatu, mata Keisha pun mendelik sempurna. Jika Tika dan Bertha saja tahu tempat cupang ini, apa mungkin Aldo juga melihatnya?
"Ya Tuhan Tika … dia lihat gak ya!!" teriak Keisha.
Tika mengusap dadanya kaget. Dia pun menatap sekeliling taman ini dan untungnya sepi. Tidak ada orang lain dirinya dan juga Keisha. Buru-buru Tika menutup mulut Keisha dengan tangan kirinya dan meminta perempuan itu untuk diam.
"Jantungan tau!! Tiba-tiba teriak kayak orang gila." omel Tika.
"Duh, Tik ngomelnya nanti aja lagi coba. Aku lagi mikirin masa depanku yang hancur sehancur-hancurnya di depan doi."
Dan nyatanya Tika masih tak mengerti dengan apa yang Keisha katakan. Dia masih tidak paham doi siapa yang dia maksud, apa mungkin doi yang dia maksud adalah Giffard bocah SMA itu? Masa iya dia Keisha suka dengan Giffard? Atau mungkin mereka adalah sepasang kekasih yang sesungguhnya karena cupang, dan Keisha menyembunyikan nya?
"Jangan punya pikiran macam-macam. Doi yang ku maksud bukan Giffard tapi Aldo!!" seru Keisha kembali.
Mata Tika mendelik sempurna. "A-Aldo!! Aldo Prayoga?"
Keisha mengangguk, dia bertemu dengan Aldo di sekolah Giffard. Tadi, ketika Giffard menelponnya dan meminta dirinya untuk pergi ke sekolah mengantar makan siangnya. Keisha malah dikejutkan oleh kedatangan Aldo, sebagai guru sekolah itu. Awalnya dia hanya sebagai guru pengganti untuk cepat lulus kuliah. Tapi karena materi dan juga pekerjaannya sangat bagus, sekolah meminta Aldo untuk menjadi guru disana dan memberi keringanan karena masih dalam jenjang kuliah. Mereka sempat membahas banyak hal sampai akhirnya Giffard datang menyeret Keisha pergi.
Tika memegang keningnya heran. Dia tahu jika Keisha dulu pernah menyukai Aldo, tapi itu dulu ketika mereka masih dekat satu sama lain. Setelah Aldo mengakui jika dirinya punya kekasih, Keisha pun langsung memutuskan pergi. Dan sekarang mereka kembali bertemu? Apa mungkin rasa cinta mereka juga kembali tumbuh?
Heh mereka? Yang suka kan cuma Keisha. Sedangkan Keisha juga tidak tahu Aldo menyukainya atau tidak.
"Terus masalah cupang itu, kamu nggak bener-bener melakukan itu kan Kei sama Giffard." ini yang lebih penting dari ketemu Aldo, perkara cupang yang membuat pikiran Tika langsung ke video syur.
Keisha menggeleng ragu. "Hampir." dia tahu arah pertanyaan Tika. Tapi memang itu benar terjadi, mereka hampir saja melakukannya tapi Keisha merasa aneh dengan Giffard. "Batangnya gak berdiri sih, yang ku rasakan." lanjutnya membuat mata Tika mendelik sempurna. "Sentuhannya masih terasa, bikin merinding." sambungnya.
Tika geleng kepala mendengar hal itu. Belum lagi, bukan hanya Giffard saja yang meninggalkan cupang di leher Keisha. Tapi Keisha juga yang meninggalkan banyak cupang di tubuh Giffard. Hanya saja bocah itu pandai menyembunyikan cupang dari Keisha yang terlalu banyak.
"Aku sama dia hanya sebatas ciuman saja. Gak sampai buka kok, masih pakai pakaian lengkap. Cuman, aku duduk di atas bufet dengan posisi mengangkang." jelas Keisha kembali.
Tika menutup telinganya. "Terus tangan Giffard masuk tanpa sopan. Mengusap punggung sampai per–"
"Hei stop!! Sialan!!" umpat Tika.
Keisha langsung cemberut. "Katanya mau denger. Kenapa malah di stop!! Mau dijelasin juga." omel Keisha.
"Tapi itu omonganmu, pengen aku rinso."
Mendadak Keisha jadi serba salah di mata Tika. Dia minta Keisha menjelaskan, pas giliran di jelasin kenapa malah jadi begini. Kan kesannya kayak ajeh aja menurut Keisha.
"Gimana sih. Minta dijelasin, sekali dijelasin malah mau di rinso. Bertha kemana, kok nggak kelihatan?"
"Masih ada kelas."
Mengingat tentang kelas, Keisha juga ada kelas akhir hari ini. Dan dia lupa jika hari ini kelas Bertha dan dirinya saja. Dia ingin meninggalkan Tika yang masih duduk anteng di taman kota. sampai akhirnya tangan–
"Mau kemana?" tanya Tika heran.
"Lah kamu lupa atau gimana!! Kan aku ada jelas sama Bertha juga."
Tika mendengus. Dia menunjukkan jam pukul dua belas, lima menit lagi kelas akan selesai. Lalu untuk apa juga Keisha harus masuk kelas? Dia sudah terlambat hari ini, dan jam pelajaran dengan dosen yang sama masih ada nanti sore jam enam malam. Itu pun untuk mahasiswa yang siang ini tidak bisa mengejar kelasnya. Dan kalau Keisha lupa, mereka berbicara di taman ini sudah cukup lama, hanya membahas Aldo dan juga Giffard.
"Tikaaaaa!!! Kenapa nggak ngomong sih!! Dipikir aku ini orang nganggur apa!!!" pekik Keisha kesal.
-SugarBaby-
Jam delapan malam. Keisha pun keluar dari kampus, hari ini dia harus bolos kerja karena jam kampusnya yang berantakan. Entah mau menyalahkan siapa tapi ini semua salah Giffard. Dia yang sudah membuat semuanya berantakan, dan tidak sesuai jadwal yang Keisha susun. Belum lagi dia juga meminta Keisha untuk segera pindah ke apartemen nya, untuk tinggal bersama dengan dirinya. secara motif apa Keisha belum tahu, tapi kan–
Tin … tin …
Keisha minggir mendengar suara klakson itu, dia pun langsung memberi jalan mobil atau motor yang ingin lewat. Tapi disini, bukannya mobil atau motor itu lewat, yang ada mobil itu terus membunyikan klakson hingga membuat Keisha geram sendiri.
Membalik badannya dan menghampiri mobil itu, Keisha pun mengetuk kaca mobil ini dan bersiap untuk marah. Namun, ketika tahu siapa di balik kemudi mobil ini membuat Keisha mendengus.
"Kamu lagi!!" katanya.
"Masuk!!" perintah Giffard.
Ya, dia adalah Giffard bocah SMA yang berhasil membuat dunia berhaluan Keisha lenyap.
"Masuk Keisha!!" perintah Giffard sekali lagi.
"Heh aku lebih tua dari mu, kalau manggil yang sopan dong!! Jangan asal manggil nama aja!!"
Bisa-bisanya dia memanggil Keisha dengan sebutan nama. Apa kedua orang tuanya tidak mendidik dia dengan benar!!
Giffard menoleh dengan cepat menatap Keisha. “Masuk sayang. Atau mau aku masukin?’
Dan nyatanya Keisha menyesal tidak menghadiri seminar pembagian otak positif tingking. Masalah begini saja otaknya langsung berpikir negatif thinking. Seolah dia tahu arah ucapan Giffard, padahal mah dia hanya meminta Keisha masuk ke dalam mobil, bukan masuk ke arah yang berbeda.
Menghentakkan kakinya, Keisha pun masuk. Dia duduk tenang di samping Giffard sambil menunjukkan wajah cemberutnya.
“Seharian kemana aja?’ tanya Giffard yang mulai melajukan mobilnya, meninggalkan kampus Keisha.
Keisha yang memang moodnya sudah berantakan menumpahkan kekesalannya pada Giffard. “Kamu tau nggak sih, karena ulah kamu yang menyuruhku ke rumah ibu kamu terus ke sekolahmu cuma nganter makan siang. Aku harus terlambat masuk ke kelas. Aku harus mengikuti jam malam, dan yang jelas aku harus bolos sekolah juga. Semuanya salah kamu!! Di sekolah kamu ada kantin kan? Kenapa nggak makan dikantin aja!! Kenapa harus aku yang kamu suruh terus ha!!”
“Karena kamu mil–!!”
“Milikmu!!” potong Keisha menggebu. “Gif aku bukan barang yang bisa dimiliki seperti apa yang kamu katakan. Aku tau kamu membantuku, kamu menyelamatkan ayahku. tapi kan bukan berarti kamu harus mengganggu pendidikanku juga kan!! Aku juga ingin lulus cepat, bekerja dan membayar semua hutangku. Jika kamu begini terus, aku nggak bisa pastiin kalau aku bakalan benci banget sama sikap kamu.” lanjutnya.
Nafas Keisha memburu karena amarah, tangannya juga mengepal sempurna untuk mengontrol emosinya. Disini Giffard terlihat santai dan biasa saja, seolah dia tidak terganggu dengan amarah Keisha. Dan hal itu mampu membuat Keisha semakin kesal.
“Turunkan aku di depan. Aku mau pulang ke kos, dan gak mau ke apartemenmu.”
Giffard melirik, dia pun tersenyum tipis. Menghentikan mobilnya di pinggiran jalan sepi. lalu—
Cup …
“Maafkan aku.”
Seketika itu juga mata Keisha mendelik sempurna. Apa-apaan dia ini!!
-SugarBaby-