Sentuhan itu masih terasa di tubuh Keisha. Semalam, dia masih merasakan tangan kekar Giffard yang memeluk tubuhnya begitu erat. Mengusapnya pelan dan penuh irama. Hingga mampu membuat tubuh Keisha merinding dan hilang akal.
Ciuman itu turun dari bibir hingga ke leher Keisha. Meninggalkan beberapa jejak yang menusuk mata. Suara erangan yang terdengar jelas keluar dari bibir Keisha. Dia begitu menikmati permainan GIffard, dia begitu memuja tangan kekar yang mampu membuat tubuhnya hampir saja ambruk, jika bocah itu tak langsung menangkapnya. Permainan lidah yang memabukkan, sentuhan yang rasanya kEisha ingin merasakannya kembali. SEdewasa itukah Giffard?
Heii … dia itu masih bocah SMA kemarin sore, tapi kenapa sentuhannya membuat Keisha ingin. Dan satu lagi … kemarin Keisha tak merasakan sesuatu yang keras ketika bergulat dengan Giffard. Apa mungkin lelaki itu menahannya dan hanya ingin membuat Keisha lemas dihadapannya?
Jika iya dia itu benar-benar sialan!!
“Siapa yang si--” Tika menghentikan ucapannya ketika matanya menatap sesuatu yang menusuk mata. Reflek tangannya menyentuh rambut Keisha dan menyibakkan ke arah belakang. “Cupang sape nih … ,” katanya heboh dan membuat Keisha tersentak, hingga menepis tangan Tika. “Heh … situ jomblo ya!!” katanya kembali memperingati status Keisha.
“Terus kalau jomblo nggak bisa nyupang apa?” protes Keisha kesal, dia pun merapikan rambutnya untuk menutup kembali bekas cupang dari Giffard.
“Dikata bisa sampai leher, Kei?” cibir Bertha.
Keisha gelagapan, dia pun langsung menatap Bertha dan juga Kartika bergantian. Untung saja Ghea tidak ada, coba kalau ada sudah dipastikan Keisha akan menjadi bullyan Ghea dan yang lain hanya karena cupang.
Wanita itu beralasan jika cupang itu dia dapat dari masuk angin. Hingga akhirnya minta dikerokin, tidak hanya punggung tapi juga dengan leher hingga lengan.
Karena tidak percaya, Tika pun menarik lengan baju KEisha. Untung saja lengannya pendek, dan dia bisa melihat kerokan koin yang ada di lengannya.
“Nggak ada tuh, bohong ya kamu.” kata Tika.
“Ada … kamunya aja yang nggak bisa lihat!!” protes Keisha menutupi kebohongannya. Bisa gila dia lama-lama mikirin Giffard.
Tika mengambil kacamatanya, dia pun kembali menarik lengan baju Keisha untuk melihat kerokan di lengannya. Dan lagi, dia tidak menemukan apapun di lengan Keisha. tIdak ada warna merah apalagi kebiruan. Begitu juga dengan bertha yang juga mencari kerokan yangs ama di lengan Keisha. Entah kenapa hal bodoh itu, ingin rasanya Keisha tertawa, nyatanya dua temannya itu dengan bodohnya percaya dengan apa yang Keisha katakan.
Menyadari sesuatu Tika dan Bertha pun saling pandang. SElain tidak ada, kerokan itu tidak mungkin kasat mata. Menjauh dari Keisha, TIka lebih dulu melempar gulungan tisu ke arah Keisha, hingga membuat wanita itu mengumpat dengan kencang. Begitu juga dengan bertha yang langsung melempar bungkus keripik ke wajah Keisha. Sialan!! Bocah kemarin sore aja bisa bohong pada Bertha yang lebih tua darinya.
“Itu cupang dari Gif. kemarin dia dapat duit, nggak mungkin nggak berbuat sesuatu.” ucap Bertha.
Mendengar hal itu Keisha pun menutup telinganya. Dia itu pecinta pria tampan yang memiliki roti sobek enam atau delapan. Tapi hanya dengan Giffard saja, sudah mampu membuat Keisha kewalahan.
Bukannya itu gila?
Tika meminta Keisha untuk menceritakan apa yang terjadi, hingga cupang itu ada di lehernya. Tidak mungkin jika semalam mereka tidak unboxing satu sama lainnya. Meskipun hanya ciuman, menurut Tika pasti ada yang lebih dari itu sehingga menciptakan cupang yang nyaris turun ke bawah itu.
Keisha menjelaskan, jika semalam Giffard kembali menjemputnya. Padahal sore hari Giffard baru saja memulangkan Keisha ke kos perkara uang. Semalam juga Giffard mengirim uangs ebanyak dua ratus juta pada rekening Keisha. Dan sampai detik ini uangnya masih utuh, Keisha bingung mau transfernya, takut ibunya banyak pertanyaan yang akan menyudutkan Keisha.
“Masalah cupang Keisha … bukan masalah duit. Nggak peduli berapa banyak duit kamu, yang penting itu cupang kenapa ada dileher kamu!!” kata Tika gemas, karena wanita itu hanya menceritakan yang dari awal Tika dan Bertha tau permasalahannya.
Malam itu Giffard membawa Keisha ke suatu tempat yang Keisha sendiri baru tau. Tempat itu beda dengan apartemen yang pertama Keisha kunjungi dengan Giffard. Seperti biasa Giffard meminta Keisha untuk tinggal bersama. Tentu, wanita itu mau, dia sudah dibayar dan dia juga akan melakukan apapun yang Giffard katakan, asal tidak tidur bersama dengan pria itu tidak masalah. Tapi masalahnya …
“Aku sleding lama-lama kepala kamu, Kei.” kata Bertha.
“Semalam kita---” ucapan Keisha harus terpotong ketika melihat ponselnya. Giffard menelpon, buru-buru Keisha pun menerima panggilan itu. “Hallo Gif … ,”
-SugarBaby-
“Selamat siang Tante.” sapa Keisha tersenyum canggung.
Debora yang baru saja membuka pintu rumahnya hera. “Selamat siang juga, Kei. Kamu jam segini kok kesini? Gif kan lagi sekolah, masih belum pulang. Bukannya lesnya sore ya?”
Les itu masih berlanjut selama empat hari dalam satu minggu. Keisha sendiri tidak tahu harus melakukan apa ketika berada dalams atu ruangan kembali bersama dengan GIffard. mendadak, Keisha memikirkan bagaimana caranya menyentuh kembali perut kotak-kotak Giffard dan membelainya. Pikirannya begitu fantasi jika tentang bocah itu.
Wanita itu datang ke rumah mewah GIffard untuk mengambil makan siang bocah itu. Dan itu atas perintah GIffard yang beberapa menit lalu menelponnya. Keisha juga menunjukkan panggilan itu pada Debora, hingga dia lupa mengganti username Giffard di ponselnya.
“Bocah nyebelin? Siapa?”
Mata Keisha mendelik sempurna, dia pun menarik ponselnya dan langsung mengganti username itu dengan nama Giffard. Jangan sampai mama Giffard memecatnya hanya karena nama anaknya diganti secara paksa dengan Keisha.
“Maksudnya ini Tante.” ralat Keisha.
Debora menatap ponsel itu kembali, dan menemukan nama Giffard di urutan pertama. Itu tandanya bocah nyebelin yang barusan tadi dia baca adalah nama Giffard. Tertawa kecil hingga menawari Keisha masuk. Wanita itu memutuskan untuk duduk di kursi teras saja, dia datang hanya untuk mengambil makan siang GIffard tidak lebih. Jika dia terlambat tentunya GIffard akan marah-marah pada Keisha karena jam makannya sudah habis dan dia tidak makan apapun. Meskipun itu bukan salah Keisha, dan di kantin sekolahnya juga tidak mungkin tidak ada makanan. Tapi Keisha berpikir jika bayi itu membutuhkan asupan makanan lima sehat empat sempurna. Yang dimana sayur, buah, lauk-pauk dan s**u itu perlu. Sayangnya Giffard suka s**u hangat, meskipun s**u dingin itu lebih segar dan melegakan tenggorokan. Sayur juga kelihatannya tidak semua sayur dia mau. Kalau masalah lauk … sepertinya …
“Dia alergi udang, bilang sama Gif ya, satu kotak udangnya suruh kasih ke Aiden.” kata Debora dadakan layaknya tahu.
Keisha terjingkat, lalu mengangguk. Udang adalah salah satu makanan kesukaan Keisha udang menurut Keisha makan udang satu bulan sekali aja udah bersyukur. Dan saat ini Keisha menemukan spesies seperti GIffard tidak menyukai udang? Mungkin kalau dikerjain enak kali ya!!
“Baik Tante … Kei pamit dulu ya, nanti keburu Gif nya marah.” pamit Keisha.
Debora mengangguk. “Hati-hati ya. Maafin Gif ya, Kei, udah bikin kamu repot.” wanita itu tak enak hati. Padahal Giffard bisa menelpon dirinya untuk mengantar makan siangnya. Tapi yang ada putranya itu, malah meminta Keisha untuk mengambil makan siangnya.
“Tiap hari ngrepotin … nyebelin pula!!” gerutu Keisha dengan suara lirih.
“Hmm, kamu bilang apa, Kei?” bukannya tidak mendengar. Mustahil bagi telinga Debora jika dia tidak mendengar gerutuan Keisha yang nyaris tak terdengar itu. Jarak mereka itu dekat dan seratus persen Debora pasti mendengar ucapan itu.
Keisha meringis, dalam hati dia berharap jika Debora tidak mendengar apapun. “Kei pergi Tante. Dadah … “ pamitnya kedua kalinya dan ngacir pergi.
Berlari sampai gerbang rumah, Keisha pun cemberut. Kenapa begini banget sih hidupnya, udah susah tambah susah lagi karena kedatangan Giffard dalam hidupnya. Coba saja kalau tidak terlibat mungkin, hal ini tidak akan terjadi.
Hampir lima belas menit Keisha menunggu taksi onlinenya datang. Dan barulah satu mobil mewah berhenti di depan Keisha. Wanita itu langsung mencocokkan plat nomor mobil itu dengan ponselnya. Dan ternyata benar, mobil hitam mengkilat ini adalah taksi online pesanan Keisha.
"Buset dah … orang kaya gabut ini ceritanya." gumam Keisha. Wanita itu membuka pintu mobilnya dan menatap seseorang di balik kemudian. "Mas Dino bukan?" tanyanya memastikan.
Pria itu menurunkan kacamatanya dan mengangguk. "Iya Mbak. Maaf ya, mobil satunya rusak, jadi saya pakai Alphard." katanya, sungkan.
Kenapa nggak sekalian bawa Lamborghini atau teslar saja? Kan lumayan itu bisa buat bergaya foto selfie pamer sana sini.
Duduk di belakang dengan nyaman, Keisha masih menyempatkan mengambil beberapa gambar dan video dalam ponselnya. Lalu tertawa kecil, ketika mengirim foto itu pada Tika dan juga Bertha.
"Mau ngirim makan ke pengasuhnya ya Mbak?"
Pertanyaan itu langsung membuat Keisha mengangkat kepalanya. Dia pun menatap sopir taksi online ini yang memiliki nama Dino. Tadi dia bilang apa? Pengasuh?
"Iya nih Mas. Maklum saja anaknya ngeselin, makan saja minta saya yang mengantar." kata Keisha dengan nada kesalnya.
Dino pun tersenyum kecil. "Sekolah dimana Mbak anaknya?"
"Di Cetta high School."
Dino terkejut, dia pun melirik penumpangnya dengan tatapan tidak percaya. Dia itu lupa atau bagaimana? Cetta High School, bisa dikata sekolah paling populer dan biasa disebut sebagai kumpulan anak orang kaya. Walaupun ada anak orang tidak mampu dan menggunakan jalur beasiswa, Dino tidak pernah mendengar yang namanya bullyan kasta. Mereka berteman baik, dan katanya jauh dari masalah. Tapi tidak tau isi di dalam sekolah itu seperti apa.
Membutuhkan waktu dua puluh menit, akhirnya Keisha pun sampai di depan sekolah. Dia pun membayar tagihan taksi online nya, dan sesegera mungkin turun dari mobil taksi.
"Makasih ya Mas." kata Keisha.
Menatap pagar sekolah yang menjulang tinggi dan tertutup membuat Keisha mendengus. Harus alasan apa dia masuk ke sekolah ini, sedangkan Giffard tidak mengirim satu pesan pun pada Keisha.
Melangkah mendekat ke gerbang, Keisha dikejutkan oleh satpam sekolah ini langsung membuka pintu gerbang sekolah tanpa bertanya. Begitu juga dengan Keisha yang tidak mengatakan apapun kecuali terima kasih. Dan hal pertama yang menjadi tujuan Keisha adalah lapangan basket. Karena Keisha tahu betul, jika bocah itu berada disana bersama dengan temannya.
Dan benar saja, Giffard yang sedang melompat memasukan bola dan berhasil. Hingga membuat beberapa orang di pinggiran berteriak heboh. Begitu saja sih Keisha juga bisa!! Pikir Keisha kesal
Duduk di tempat yang kosong, dengan sesekali mengibaskan rambutnya, Keisha malah memilih menikmati permainan Giffard di tengah lapangan. Bayangan di pikiran Keisha saat ini adalah tangan kekar Giffard yang menyentuh tubuh Keisha mengusapnya dengan begitu lembut dan menggoda. Memainkannya hingga membuat Keisha menggigit bibir bawahnya. Anggap saja ini pertama kalinya, meskipun dia pernah begitu tapi baru kali ini Keisha merasakan klimaks yang sesungguhnya bersama dengan Giffard.
"Hei … " sapa seseorang dan membuat Keisha menoleh.
Disampingnya ada satu orang bocah SMA juga hanya seumuran dengan Giffard, dan dengan lancang nya mengulurkan tangannya ke arah Keisha. "Nama ku, Tara. Kamu siapa?"
"Ngapain lo tanya nama pacar gue!! Punya nyali lo!!"
Keisha tersentak begitu juga bocah yang ada disampingnya juga ikutan tersentak. Apalagi bocah itu juga langsung pergi dengan umpatan yang cukup keras.
Dia bilang apa? Pacar? Cih!! Mana mau Keisha pacaran sama bocah SMA.
Giffard mengadakan tangannya ke arah Keisha, seolah dia tengah meminta apa yang bocah itu suruh pada Keisha. Jika saja, tidak ada banyak orang. Sudah dipastikan kalau Keisha akan melempar makan siangnya ke arah Giffard, dan meninggalkan dia.
"Setelah ini ambil semua bajumu, dan pindah ke rumah kemarin." kata Giffard.
"Kalau aku nggak mau?"
"Kamu pasti mau!!"
"Kamu maksa aku?" Giffard mengganggu, tanpa dipaksa pun Keisha sendiri yang akan mendatangi Giffard. Karena wanita itu tidak memiliki pilihan selain ikut dengan Giffard. "Nggak akan mempan!!" cetus Keisha.
"Terus aku peduli? Tanpa aku paksa, kamu sendiri yang akan datang ke aku!!" katanya penuh dengan percaya diri.
Rasa.ingin mencekik laki-laki itu semakin menjadi dalam diri Keisha. Selain tidak sopan, sampai saat ini Keisha belum menemukan alasan kenapa Giffard ingin sekali tinggal bersama dengan dirinya.
Bangkit dari samping Giffard dan ingin pergi, nyatanya bocah itu kembali menarik tangan Keisha dan membuatnya kembali duduk di sampingnya. Tentu saja dengan wajah cemberut nya, Keisha pun merasa kesal dengan sikap Giffard.
"Aku itu lebih tua darimu, bisa sopan nggak sih?" gerutu Keisha.
Giffard tersenyum. "Nggak. Kenapa? Nggak terima?"
Tentu saja bodoh!! Dia tidak terima dengan apa yang bocah itu lakukan. Selain memaksa Keisha untuk tetap disampingnya, Giffard juga mengekang apapun yang Keisha lakukan jika bersama dengan dia. Hidupnya tak lagi bebas seperti dulu,padahal Keisha suka sekali hidupnya yang dulu dibanding sekarang yang harus di beli sama Giffard.
Dengan amat terpaksa, Keisha pun menikmati siang ini di pinggiran lapangan basket bersama dengan Giffard. Lebih tepatnya menemani bocah itu makan siang saja tanpa mau menawari Keisha. Jangankan menawari, tanya sudah makan apa belum saja Giffard tidak bertanya.
Mendengus sebal, dan memilih mengambil ponselnya. Keisha malah tersentak dengan sentuhan dari arah samping kirinya. Wanita itu langsung menoleh kaget, begitu juga dengan Giffard yang langsung melemparkan tatapan tajamnya.
"Aldo … "
-SugarBaby-