Tubuh Keisha merosot ketika mendengar cerita ibunya. Dia pun menyembunyikan wajahnya di lekukan lengannya dan menangis. Apalagi yang harus dia lakukan saat ini?
Ibunya mengatakan jika beliau membutuhkan banyak uang untuk pengobatan ayahnya. Ditambah lagi ibunya juga memiliki banyak hutang pada rentenir untuk hidup dan juga biaya pengobatan. Ayahnya mengidap penyakit gagal ginjal. Dan penyakit itu sudah dirasakan ayah Keisha cukup lama. Dan baru kali ini ibunya memberitahu Keisha tentang kesehatan ayahnya.
Ibunya juga mengatakan jika ayahnya sekarang harus cuci darah setiap satu Minggu sekali. Dan dokter menyarankan untuk mencari pendonor ginjal, agar ayahnya bisa hidup lebih lama lagi. Dan yang jelas itu membutuhkan uang banyak, tidak hanya ribuan atau mungkin ratusan juta.
"Iya nanti Kei usahain ya Bu, semoga aja Kei dapat duitnya." ucap Keisha terisak.
Giffard sedikit tertarik dengan ucapan wanita itu. Dia pun menatap Keisha yang sudah menyusut ingusnya, dan juga mengusap air matanya yang terus saja keluar. Giffard berjongkok di depan Keisha sambil menyadarkan tisu ke arahnya.
"Kenapa? Ada masalah sama ibumu?" kata Giffard penasaran.
"Puas kan kamu!! Aku datang kesini buat ngembaliin itu uang ke kamu. Terus sekarang, posisinya aku lagi butuh itu duit buat pengobatan ayah aku." kata Keisha sambil menangis.
Lelaki itu hanya menghela nafasnya berat, dia pun mengambil kotak merah itu dan dia berikan pada Keisha. "Ambil aja. Aku nggak butuh uang itu."
Yang tadinya Keisha kejer nangis karena ayahnya. Sekarang Keisha tambah nangis ketika Giffard bilang, kalau dia tidak membutuhkan uang. Mungkin Giffard lupa, kalau beli beras sama minyak goreng juga membutuhkan uang.
Wanita itu menolak. Dia tidak ingin menerima uang itu tanpa alasan yang jelas. Keisha tidak ingin terjebak kembali dengan permainan Giffard. Cukup mengakui sebagai kekasihnya saja sudah membuat Keisha pusing. Apalagi duit tujuh puluh lima juta tanpa embel-embel.
"Aku ngasih ke kamu cuma-cuma. Kalau kurang bilang." kata Giffard.
Beda kaum kali ya ini orang. Gampang banget kalau ngomong!!
"Tapi Gif, kamu ngasih ini semua ke aku nggak gratis kan?" ucap Keisha memastikan.
"Emang."
"Tuh kan … ngeselin!!"
Giffard tertawa kecil dia pun langsung menarik Keisha untuk berdiri dari duduknya. Menarik tangan Keisha dengan lembut, untuk duduk di meja apartemen ini. Pandangan Keisha bahkan tak pernah luput dari tangan Giffard yang masih menarik tangannya. Lelaki itu bahkan rasanya enggan untuk melepas tangan Keisha. Dan sialnya Keisha suka!!
"Gif… " panggil Keisha lirih. Dan membuat Giffard bergumam sebagai jawaban. "Mau pegangan terus? Kan nggak lagi nyebrang." ujarnya.
Lelaki itu menarik atensinya dari lampu kota menatap tangannya yang masih menggenggam erat tangan Keisha. Detik berikutnya, dia pun langsung melepas geng aman itu. Dan membuat Keisha seolah merasakan kehilangan.
"Kalau kamu mau, aku mau ngasih tawaran ke kamu. Tinggal sama aku disini, aku akan membiayai pengobatan ayahmu dan melunasi utang ibumu. Bagaimana?"
Tawaran itu cukup menarik. Tapi jika harus tinggal bersama dengan Giffard, Keisha tidak bisa. Selain mereka tidak memiliki status apapun, tempat ini juga jauh banget dari tempat kerja dan juga kampus Keisha. Ditambah lagi, naik angkot pulang pergi juga lumayan. Jatahnya makan juga kan perlu dihitung.
Giffard meminta Keisha tidak perlu memikirkan hal itu. Yang terpenting, ketika dia tinggal bersama dengan Giffard, itu tandanya Keisha harus melepas semuanya, termasuk kerjanya yang ada di cafe milik Giffard.
"Aku nggak mau kalau disuruh keluar kerja. Aku bayar utangnya ke kamu pakai apa kalau aku nggak kerja. Kamu kan tau Gif, aku ini semester akhir. Aku butuh biaya banyak buat kuliah aku. Aku bukan lagi anak SMA yang butuh ratusan ribu buat bayar SPP. Lebih dari itu, Giffard!!"
"Aku tau. Biaya hidup kamu, sama kayak biaya hidup aku di luar negeri. Biaya semester kamu, sapa kayak biaya bulanan sekolah aku. Dan aku tau itu. Aku kan cuma bilang sama kamu, buat tinggal disini. Nggak lebih!! Kalau kamu masih maksa buat kerja, ya terserah. Aku cuma pengen kamu disini temenin aku." jelas Giffard.
"Kasih aku alasan kenapa kamu ngebet banget, pengen aku tinggal bareng sama kamu. Padahal kamu juga tahu kan, kalau kita bukan suami istri."
Menarik tubuh Keisha hingga terbentur dinding kaca, dan mengurung dengan kedua tangannya. Giffard pun berkata, "Ada satu hal yang nggak ingin aku bagi sama kamu. Tapi ada banyak hal yang ingin aku lakuin sama kamu. Kei, secara umur kita berbeda, apapun itu kita beda. Percayalah, aku nggak akan buat kamu susah."
-SugarBaby-
Ucapan itu benar-benar membuat Keisha tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia sendiri juga tidak tahu, hal apa yang nantinya tidak akan menyusahkan Keisha. Dan hal apa yang tidak bisa dibagi dengan Keisha. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Giffard saat ini? Apa yang membuat dia se misterius ini pada Keisha?
Memijat pelipisnya, baru kali ini Keisha dibuat bingung dengan bocah sma. Bocah yang entah kenapa yang selalu mengganggu hidup Keisha. Ya Tuhan sebenarnya apa yang terjadi.
Ting..
Suara ponsel menarik atensi Keisha, dia pun menatap satu pesan masuk yang ternyata dari Giffard. Isinya hanya sebuah foto, kalau dia baru saja mentransfer sejumlah uang yang cukup banyak untuk Keisha.
"Dua ratus juta." gumam Keisha bingung. "Kan aku mintanya cuma seratus juta. Duit dia aku bawa tujuh lima juta, kudunya dia transfer aku dua lima kan? Ini orang salah nominal, atau dia nggak tau angka?"
Keisha mencoba menghubungi Giffard dan menanyakan nominal yang baru saja dia transfer. Takut aja kalau itu orang salah nominal, atau mungkin kelebihan nol satu. Tapi yang ada Giffard malah meminta Keisha untuk keluar kos, karena dirinya sudah ada di depan gerbang kos Keisha.
Tentu saja Keisha langsung melompat dari tempat tidurnya dan keluar menemui Giffard. Dan benar saja, lelaki itu tengah duduk di samping mobilnya sambil menikmati sebatang rokok.
Mengibaskan tangannya di area wajah, membuat Giffard peka dan membuang puntung rokoknya, lalu menginjaknya.
"Ngapain kamu ngajakin ketemu aku? Ada hal penting yang pengen kamu bahas ke aku?" kata Giffard.
"Ada!! Kamu itu nggak tau angka ya, kan aku minta dua lima, kenapa jadi dua ratus sih!!"
"Lagi buta." ucap Giffard seenaknya.
"Gif … Serius!!"
"Lagi nggak pengen diseriusin."
Entah kenapa rasanya Keisha ingin sekali memukul, atau mencekik lelaki yang ada di hadapannya. Begini kalau bocah terlahir kaya, minta duit secuil aja kayak ngasih lima ribu buat jajan. Belum lagi, Giffard yang meminta Keisha untuk ikut dengannya ke suatu tempat. Dimana Keisha akan tinggal bersama dengan Giffard setelah ini.
"Tapi kan masih bisa besok. Kenapa harus sekarang sih."
"Iya atau nggak sama sekali?"
Menghentakkan kakinya kesal, Keisha pun langsung masuk ke mobil Giffard. Duduk di samping kemudi dan menunjukkan wajah cemberutnya. Melihat Giffard masuk dan duduk di samping Keisha, lelaki itu cekikikan dan melajukan mobilnya meninggikan kos Keisha.
"Nggak ada sopan-sopannya jadi bocah!!" cibir Keisha.
Giffard menoleh menatap Keisha bingung. "Aku?" katanya sambil menunjukkan dirinya sendiri.
Memangnya di tempat ini ada siapa lagi selain mereka? Hanya ada Giffard dan juga Keisha yang baru saja turun dari mobil mewah lelaki itu. Belum lagi, tatapan Keisha langsung mengarah pada sebuah gedung tinggi di depannya.
"Kita ngapain disini? Kamu habis transfer aku duit, mau ngebunuh aku ya, di lantai paling atas?" tuduh Keisha kesal.
"Nyekek aja bisa, kenapa harus kesini?" kata Giffard.
Keisha menahan tangan Giffard agar tidak pergi jauh darinya. Masalahnya ini bukan gedung yang tadi sempat Keisha dan juga Giffard datangi. Ini lebih ke tinggi dan melebar. Ada banyak lampu yang menyala di sana. Dan Giffard pun juga tidak menjelaskan apapun kecuali menarik tangan Keisha dan mengajaknya masuk ke gedung itu.
Hal pertama yang dia lihat adalah, semua orang menunduk patuh ketika Giffard melewatinya. Sedangkan Keisha yang merasa tidak enak hati pun, melakukan hal yang sama. Menunduk dan juga tersenyum ramah. Hingga masuk lift pun, Keisha masih bisa tersenyum sebelum pintu itu tertutup.
Hal itu bahkan mendapat komentar dari Giffard, yang tidak suka cara Keisha memperlakukan mereka semua. Giffard saja tidak pernah seperti itu, dia hanya akan menatapnya lalu memintanya pergi. Tidak ada senyuman atau sapaan dari Giffard pada orang lain.
"Manusia batu kayak kamu mana tau senyum!!" cibir Keisha.
Mengurung bunuh wanita itu dengan sebelah tangannya. Alis Giffard sempat terangkat sebelah untuk meneliti raut wajah Keisha. "Tutup mulutmu sendiri, atau aku yang akan menutup mulutmu secara paksa?"
"Coba aja--" Keisha mendorong tubuh Giffard secara kasar, ketika pintu lift ini terbuka. Apalagi ada dua orang manusia, yang berdiri dengan ekspresi melongo melihat Keisha dan juga Giffard. Berdehem sejak menetralkan ekspresinya, Keisha pun tersenyum dan mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.
Disisi lain, Giffard hanya mampu merapikan bajunya yang diyakini Keisha tak kusut sama sekali. Mana ada kesempatan untuk kusut sih, itu lalat kalau nempel di baju juga bakalan kepleset sangking licinnya.
Menatap angka lift ini, Giffard pun menatap angka lift. Masih ada satu lantai lagi, dimana Giffard akan sampai di lantai unit miliknya.
Pintu kembali terbuka, Giffard keluar lebih dulu. Karena merasa malu dengan dua wanita tadi, akhirnya Keisha hanya mampu menganggukkan kepalanya pelan dan keluar dari lift. Mengikuti langkah kaki lelaki itu, hingga mengarah pada satu unit dengan angka 208. Angka yang cantik pikir Keisha.
"Gif kita lagi dimana sih?" kata Keisha yang tak mampu menahan rasa pemasarannya.
Giffard tak menjawab, dia masuk lebih dulu dan disusul oleh Keisha. Hal pertama yang dia lihat adalah ruangan ini elegan dengan warna putih dan cream. Perpaduan warna layaknya di Eropa. Ada dua kamar, dapur yang dominan dengan warna abu-abu. Belum lagi televisi yang besarnya selapangan bola.
Lagi, Keisha membalik badannya lalu menatap Giffard yang hanya berdiri layaknya patuh di dekat pintu.
"Jadi ngebunuh aku, Gif?" pertanyaan konyol itu keluar dari bibir Keisha. Bahkan ekspresi wanita itu juga menunjukkan wajah polosnya tanpa dosa.
Wanita itu susah pasrah, jika nanti Giffard benar-benar membunuhnya hanya karena uang dua ratus juta tadi. Tidak masalah dia mati karena uang, penting mah bapaknya selamat dan menjalani kehidupan yang selayaknya.
Giffard menyentil kening Keisha, hingga membuatnya mendengus sambil mengusap keningnya. "Sakit Gif … "
"Punya pikiran yang estetik dikit. Kalau aku mau ngebunuh kamu, jangankan kesini masukin kamu ke liang kubur dari tadi juga aku bisa!!"
"Pedes banget, Gif." komentar Keisha cemberut.
"Cabe … ?" entah pertanyaan atau pernyataan nyatanya Keisha juga tidak tahu.
Wanita itu meminta Giffard untuk menjelaskan pada Keisha, untuk apa dirinya diajak ke tempat ini. Bahkan ini tempat yang berbeda dari yang tadi, dia datang pertama kali bersama dengan Giffard.
Langsung saja lelaki yang dipanggil bocah itu mulai menjelaskan, jika tempat ini akan menjadi tempat tinggal mereka. Dimana Giffard dan juga Keisha akan tinggal bersama di sini. Tempat ini, tidak jauh dari kampus dan juga tempat kerja Keisha. Jadi, kalau dipikir Keisha tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk transportasi. Jadi menurut Giffard, wanita itu tidak perlu khawatir tentang hal itu.
"Nggak perlu khawatir? Dipikir transportasi gak pake duit apa." cibir Keisha menatap Giffard kesal.
Sekali lagi, Giffard menghela nafasnya berat. "Susah ngomong sama IQ nya rendah!!"
Entah kenapa hal itu langsung membuat Keisha mendelik sempurna. Tangannya reflek memukul lengan Giffard cukup kencang.
"Eh punten … sengaja!!"
Tidak mau berdebat dengan Keisha, Giffard pun langsung menarik tangan Keisha. Menunjukkan kamar, yang dimana nantinya akan menjadi tempat tidur mereka. Meskipun Keisha meminta pada Giffard untuk tidur secara terpisah. Selain tidak memiliki status yang jelas, mereka juga bukan muhrim yang bisa tinggal dalam satu kamar. Orang tinggal satu rumah saja sudah tidak diperbolehkan, apalagi satu kamar.
"Kalau aku bilang, aku nggak nafsu sama kamu. Apa yang akan kamu lakukan sama aku?" tanya Giffard tiba-tiba dan membuat Keisha menoleh.
Sebelum mengucapkan sesuatu, Keisha lebih dulu menatap dirimu. Dadanya tidak tepos, bisa dibilang berisi. Menggunakan baju atau kemeja juga masih memiliki belahan yang menggoda. Kulitnya tidak hitam, bisa dikata putih bersih dan halus. Disentuh atau diraba pun juga tidak mengecewakan musuhnya, tidak ada kasar-kasarnya. Meskipun handbody yang digunakan murahan. Begitu juga dengan wajahnya tidak ada kerikil kecil maupun besar. Yah, walaupun menggunakan produk lokal satu paket cuma ratusan ribu. Rambut panjang kadang lurus kadang kritis, tidak lepek dan dijamin wangi sepanjang hari. Terus Giffard bilang tidak nafsu pada Keisha.
"Kamu homo?" tuduh Keisha menunjukkan Giffard.
Lelaki itu mendekat, dia menghapus jejak di antara mereka. Hingga membuat Keisha mematung dengan mata yang tertuju pada dasarnya bidang yang, entah kenapa di mata Keisha sangat menggiurkan, dan membuat Keisha hilang akal. Melihat reaksi itu Giffard pun tersenyum, tangannya mulai menyentuh tangan wanita itu dan mengusapnya secara perlahan.
"Jika aku bertanya seperti itu, bukan berarti aku ini tidak normal kan." ucapnya dengan suara lirih, menarik dagu wanita itu hingga membuatnya mendongak.
Bola mata yang indah, cokelat alami dengan sorot mata yang melumpuhkan Keisha.
"Gif---"
To Be Continued