Entah sengaja atau tidak, tapi Keisha tidak menyukai hal ini. Tangan Giffard sejak tadi terus memeluk pinggang Keisha secara posesif. Tidak hanya Keisha saja yang terganggu, tapi juga dengan kedua teman Keisha yang sejak tadi terus menatap Keisha penuh penyelidik. Padahal mereka tahu apa yang terjadi pada Keisha saat ini.
"Sayang kok nggak dimakan? Nggak enak? Mau pesen lainnya juga?" tanya Giffard tersenyum miring.
Oh s**t!! Senyum yang entah kenapa membuat Keisha muak.
Dia hanya takut jika Giffard tiba-tiba saja pergi dengan tagihan yang membengkak. Sedangkan cafe ini terkenal sangat mahal. Makan disini, bisa menjadi jatah makan Keisha selama satu minggu kedepan.
Lelaki itu terus saja mengoceh karena Keisha tidak ingin makan apapun. Dia merasa mual di perutnya, membayangkan angka-angka nominal uang harus dia bayar nantinya.
"Nanti aja ya." tolak Keisha secara halus.
Alis Giffard terangkat satu, dia pun menusuk daging yang dipotong. Lalu mengarahkan pada mulut Keisha. "Makan!!" perintahnya dengan mata yang menajam.
Tidak mau membuat suasana memburuk, Keisha langsung menerima suapan dari Giffard. Bahkan hal itu langsung membuat semua teman Kesiah berteriak heboh. Pasalnya dia dicap wanita manja dengan kekasihnya, sedangkan sikap Kesiah yang tegas dan tidak pernah manja menjadi pertanyaan bagi mereka semua?
Tidak hanya di sana saja. Giffard bahkan memberi kritikan pada Keisha, jika tubuh wanita itu begitu kurus dan kurang terawat. Dia juga menyinggung uang yang Giffard berikan, apa tidak cukup untuk kehidupan Keisha selama ini. Bukannya itu terlihat sangat menuntut?
"Giffard aku … "
"Njir!! Ini baru bener. Punya pacar yang idupin kamu, jangan kamu yang idupin pacar kamu!! Aku dukung sepenuhnya sih, kalau kamu sama Gif. Udah cakep perhatian pula." sahut Flora yang tidak tahu bagaimana aslinya Giffard.
Wanita itu hanya mampu tersenyum paksa. Jika Flo tahu, bagaimana sifat Giffard kata baik dan penuh perhatian. Keisha jamin, jika kata itu tidak akan pernah muncul di bibir Flo.
Mereka pun memutuskan untuk makan bersama. Disini tidak hanya Flo saja, tapi Giffard juga mengundang Tika dan juga Bertha untuk bergabung dengan mereka. Kata Giffard, tidak afdol jika tidak ada sahabat Keisha yang tinggal bersama dengan Keisha. Bahkan Giffard juga memilih cafe yang dekat dengan kampus dan juga tempat tinggal Keisha.
Bahkan disini Giffard juga menjejali banyak makanan di mulut Keisha. Dia bilang, jika Keisha sangat kurus di mata Giffard. Sudah seperti seseorang yang kurang gizi.
"Oh ya Gif, kamu kuliah dimana?"
Pertanyaan membangkongkan itu membuat Keisha menahan nafasnya. Tidak hanya menahan nafasnya, Keisha juga sempat menggelengkan kepalanya pada lelaki itu agar tidak mengatakan apa yang terjadi. Apalagi Bertha dan juga Tika yang langsung tersedak makanan mereka.
"Kita kan … "
"Hmm, Aiden bisa lo ambilin kado di mobil nggak? Gue lupa!! Lo tau sendiri kan, pacar gue nggak mau jauh-jauh dari gue." potong Giffard cepat.
Aiden menatap Giffard heran, tapi dia juga menjalankan perintah Giffard untuk mengambil kado di mobilnya. Sedangkan Keisha, Tika dan juga Bertha menghela nafasnya lega setidaknya Aiden tidak mengatakan apapun. Giffard pun juga tidak memberitahu dirinya siapa.
Flo sendiri juga tidak masalah, dia juga memilih diam tanpa mengatakan apapun. Seolah dia tidak suka dengan pertanyaan Flo.
"Nggak usah tegang!! Biasa aja!!" bisik Giffard ketika melihat ekspresi Keisha.
Wanita itu langsung menunjukan wajah cemberutnya. Hingga tak lama Aiden pun datang dan langsung memberikan paper bag merah muda pada Giffard.
"Thanks!!" ucap Giffard menerima paper bag merah muda itu. "Sayang … kadonya."
Entah kenapa hal itu malah membuat Keisha geli sendiri. Dia ingin mengatakan jika Keisha bukanlah kekasih Giffard. Tapi karena dipaksa lelaki itu untuk menjadi kekasihnya. Ah tidak!! Keisha sendiri yang mengaku jika dia adalah kekasih Giffard.
Wanita itu mengambil paper bag pemberian Giffard dan menaruhnya di samping. Sayangnya, Flo yang memang cerewet dan kepo angkut. Meminta Keisha untuk membuka kado yang diberikan sang pujaan hati itu. Bahkan tidak hanya Flo, Tika dan juga Bertha yang satu komplotan dengan mereka pun meminta Keisha untuk membuka paper bag itu.
Tentu saja wanita itu langsung membuka paper bag itu dengan mata bulatnya. Isinya hanya sebuah kotak berwarna merah yang cukup besar. Dia pun menatap Giffard dengan tatapan tanda tanyanya. Sayangnya, lelaki itu tidak memberi bocoran kado apa yang Giffard berikan.
Dengan tangan bergetar, Keisha pun mengeluarkan kotak besar itu di atas meja. Dia pun menatap Tika dan juga Bertha yang sejak tadi hanya diam saja, menikmati drama Keisha dan juga Giffard sejak tadi. Bahkan untuk berbicara saja mulut mereka seolah terkunci rapat.
Dalam pikiran Keisha, inisnya pasti sebuah bill makanan hari ini yang dilimpahkan pada Keisha. Dan entah kenapa Keisha rasanya tidak tega jika harus membayar mahal makanan ini. Padahal Giffard yang mengajak, dan dia yang bilang jika dia yang akan mentraktir semua temannya. Sumpah ya, kalau hal itu sampai terjadi. Dia adalah orang yang paling jahat di dunia ini.
"Ayo Kei buka. Aku penasaran isinya apa." kata Aiden celingukan.
Keisha pun mengangguk di pun membuka kotak itu dan terkejut. Isinya gulungan kertas berwarna merah yang cukup banyak. Ada juga kotak kecil di tengahnya. Tentu saja hal itu tidak hanya Keisha saja yang terkejut, tapi semua orang di meja ini juga terkejut dengan hadiah yang diberikan oleh Giffard.
"Jumlahnya berapa itu?" tanya Aiden tanpa sadar.
"Tujuh puluh lima juta."
-SugarBaby-
"Baru kali ini aku lihat duit sebanyak ini." kata Tika menatap kagum kotak merah yang ada di hadapannya.
"Bener Tik, aku juga ini duit atau kertas mainan sih!!" sahut Bertha.
Jika Tika dan juga Bertha menunjukan wajah shocknya, karena melihat uang gulungan dengan jumlah banyak. Sedangkan Keisha sendiri jadi bingung untuk apa uang sebanyak ini Giffard berikan padanya. Wanita itu mencoba untuk menelpon Giffard, tapi yang ada beberapa kali Giffard menolak panggilan dari Keisha.
Bertha membayangkan jika dia memiliki uang sebanyak ini, yang jelas Bertha akan keluar negeri untuk jalan-jalan. Dekat-dekat saja, Singapura mungkin yang tidak banyak memakan uang. Sisanya dia bisa membangun toko kue, atau mungkin stand makanan dengan omset yang lumayan menguntungkan.
Sedangkan Tika, beda cerita. Dia akan pergi ke korea dan menyusul suaminya. Suami yang selalu hidup di imajinasinya, dengan begitu indah dan mempesona. Kalau bisa sih, Tika akan menetap disana dan tidak akan pulang ke Ibukota.
"Dasar kampret!! Dia pikir dia siapa!!" dunel Keisha.
Bertha maupun Tika menoleh, menatap Keisha heran. "Kenapa sih?" tanya Bertha aneh.
"Ngomel melulu dari tadi. Lagi ulang tahun loh, mana di kasih kado lagi sama pacar." cibir Tika.
Keisha mendengus bukan masalah dia ulang tahun apa tidak. Yang menjadi masalah, ini duit buat apaan sebanyak ini. Bahkan Keisha sendiri juga bingung untuk menghabiskannya. Ah tidak, jangan sampai dihabiskan. Yang jelas Keisha akan mengembalikan yang itu pada Giffard. Toh, dia juga tidak mau bodoh lagi hanya karena uang.
Wanita itu mengakui, jika dia membutuhkan banyak uang. Tapi yang jelas Keisha tidak akan diperbudak oleh uang lagi. Apalagi, ini soal Giffard. Yang dimana Keisha sendiri tidak tahu asal usul lelaki itu. Dengan kasar Keisha pun menutup kotak merah itu. Dia pun mengambilnya dan menyimpannya di dalam kamar. Setelah itu, barulah Keisha keluar kamar dan kembali duduk di samping Bertha.
"Kei kalau kamu nggak mau duitnya, buat kita aja. Bagi dua deh nggak papa." kata Tika mendrama.
Keisha menggeleng. "Nggak. Ini duit mau aku kembaliin."
"Lah kenapa? Kan itu Gif yang kasih." sahut Bertha.
Itu memang Giffard yang memberikannya. Tapi kan masalahnya Keisha tidak tahu, kenapa Giffard memberikan Keisha uang sebanyak ini. Dia tidak mau jika Giffard akan memperdaya dirinya hanya karena uang. Kesannya kayak harga diri Keisha bisa dibeli dengan uang.
"Ya pokoknya mau aku kembaliin. Jangan banyak tanya deh. Pokoknya, aku mau kembaliin itu duit!!" kukuh Keisha.
Tika dan Bertha ingin menahan Keisha agar tidak pergi dari kos ini. Tapi yang ada wanita itu sudah kembali ke kamarnya, memasukan kotak merah itu di tas punggungnya dan pergi. Tanpa menghiraukan teriakan Bertha dan juga Tika, yang terus saja meneriaki namanya.
Keisha keluar gang kosnya, dan menunggu taksi online yang dia pesan. Sesampainya di pinggiran jalan, Keisha celingukan menatap taksi online yang dia pesan. Yang katanya berhentinya tidak jauh dari tempat wanita itu berdiri. Mendapati satu mobil hitam polos dengan nomor polisi yang tertera. Keisha pun langsung berlari kecil ke arah mobil itu dan memasukinya dengan cepat.
"Pak sesuai aplikasi ya alamatnya. Tolong cepat Pak." kata Keisha tanpa sadar.
Sopir itu hanya mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya dengan pelan. Sesekali menatap Keisha dari kaca mobil ini dan tersenyum kecil. Ketika di lampu merah, seharusnya belok ke kiri, yang ada mobil yang dinaiki Keisha pun malah belok ke arah kanan. Tentu saja hal itu langsung membuat Keisha menatap jalanan Ibukota dengan aneh.
"Loh … Pak ini … " ucapan Keisha terpotong saat tahu siapa orang dibalik pengemudi. Dia pun langsung melebarkan matanya, ketika tahu siapa orang dibalik pengemudi. "Gif … kamu ngapain disitu?"
Ya dia adalah Giffard entah segabut apa dia itu sampai menyamar menjadi supir taksi online. Dan lagi, untuk apa juga dia magangnya di dekat gang kos Keisha. Bukankah ini seperti sudah direncanakan?
"Kamu nggak lihat aku ngapain? Masih tanya aku ngapain? War biasa sekali anda!!" dengus Giffard.
Keisha menunjukkan wajah kesalnya. Dia pun memukul lengan Giffard, dan memilih pindah tempat duduk. Di awal wanita itu duduk di belakang, sekarang Keisha duduk di samping Giffard.
"Lagi berak!!" dengus Keisha. "Mumpung kita ketemu disini, aku mau ngembaliin kado yang kamu berikan sama aku. Sorry ya Gif, aku nggak bisa terima hadiah kamu. Ini terlalu … "
"Sedikit!!" sahut Giffard.
Bukan terlalu sedikit, yang ada ini terlalu banyak. Uang sebanyak ini juga nggak bakalan bikin hidup Keisha tenang. Lagian, dia masih bisa kok cari uang sendiri, dibanding harus menerima uang Giffard. Yang dimana saat lelaki itu marah, pasti minta balik duitnya ya dengan jumlah banyak. Kan ya, gimana ya, Keisha bukanlah anak dari orang kaya. Dan dia tidak akan bisa mengembalikannya nantinya.
"Nggak gitu Gif, aku … "
Giffard menghentikan mobilnya dia pun turun lebih dulu, dan meninggalkan Keisha di dalam mobil dengan kebingungannya. Tentu saja dia bingung, jika mobil ini berhenti di sebuah gedung yang menjulang tinggi. Karena tidak mau merasakan hal yang sama seperti itu, Keisha pun memilih keluar dari mobil dengan cepat. Lagian dia juga trauma ketika Giffard menguncinya di dalam mobil.
"Gif … " teriak Keisha dan menyeimbangi langkah kaki Giffard. "Kita dimana? Dan ngapain kita kesini?"
Lelaki itu hanya meliriknya saja tanpa ada niatan untuk menjawab ucapan Keisha. Lagian siapa suruh sih, jadi orang cerewet nya minta ampun. Sampai-sampai telinga Giffard panas mendengar ucapan itu.
Menatap pintu lift terbuka, Giffard keluar dengan cepat dan disusul oleh Keisha yang langsung mengekor pada Giffard. Bahkan sangking tidak tahunya Keisha, dia sempat menabrak punggung Giffard yang tiba-tiba saja berhenti.
"Nyalain lampu sen kalau mau belok." omel Keisha.
"Cerewet!! Masuk!!" perintahnya.
Kesiah menolak, dia tidak ingin masuk. Tapi yang ada Giffard malah menarik tangan Keisha dan langsung mendorongnya.
"Giffard!! Nggak sopan banget sih!!" omel Keisha kembali.
"Lelet!!"
Helaan nafas keluar dari bibir Keisha dia pun menatap tempat ini dengan bingung. Ini bukan apartemen yang dulu pernah dia datangi. Tempat ini lebih kecil dari tempat sebelumnya. Dan isinya juga lengkap, hanya saja banyak guci di tempat ini.
"Apa sih!! Malah ngatain!! Ini dimana?" tanya Keisha kesekian kalinya.
Giffard menoleh dia pun menepuk kepala Keisha dan membuat wanita itu segera menepis tangan Giffard. "Apartemen baru. Dan aku pengen kamu tinggal di sini."
"Nggak bisa!! Aku datang nemuin kamu, buat ngembaliin uang yang kamu kasih. Bukan malah ngasih aku tempat tinggal."
"Emangnya aku nyuruh kamu nolak?"
"Ya nggak tapi … " ucapan Keisha terhenti ketika merasakan getaran di ponselnya. Dia pun langsung mengambil ponselnya, dan menatap siapa yang telah menelponnya. Lebih tepatnya melihat, siapa yang mengganggu acaranya yang ingin marah-marah pada Giffard. "Ibu … " gumam Keisha bingung. Untuk apa ibunya menelpon malam-malam begini?
"Hallo Bu … "
-SugarBaby-