SB-28

1940 Words
Setelah tiga hari, Keisha kembali mengambil ponselnya dan menyalakan kembali. Perempuan itu masih memiliki harapan jika dia akan melihat notif pesan masuk dari Giffard yang menanyakan kabar Keisha, atau mungkin pesan masuk laki-laki itu hanya untuk minta maaf. Sayangnya, tak ada satupun pesan ataupun panggilan dari laki-laki itu untuk Keisha. Dia melupakan Keisha atau bagaimana? Untung saja Keisha menginap di kos Bertha keesokan harinya. Dia tidak ingin di apartemen Giffard yang membuat perempuan itu semakin kesal. Jika Giffard bertanggung jawab, dia harus menjemput Keisha di kos. "Aku perhatiin setiap hari kerjaanmu cuma guling sana guling sini deh. Nggak ada kerjaan lain apa selain itu, balik ke cafe kerja kek. Sudah berapa lama kamu gak kerja setelah tinggal bareng Giffard?" kata Bertha. Masalahnya, Keisha itu sudah dipecat. Dia sudah tidak bekerja di cafe itu lagi, dan memutuskan untuk jualan online. Setidaknya untung dari dia jualan bisa buat beli seblak jamur. Itu semua karena ulah Giffard, dia meminta Theo untuk memecat dirinya secara sepihak. Apalagi alasannya yang tidak masuk akal sama sekali menurut Keisha. "Emang alasannya apa?" tanya Bertha penasaran sambil menyeruput teh hangatnya. "Pengurangan karyawan. Gila nggak? Karyawan gak ada sepuluh biji pengurangan karyawan. Dikata cafe itu pabrik makanan kali yak." Bertha menggeleng, kalau masalah itu dia setuju. Dia tahu betul cafe tempat Keisha bekerja. Memang benar tapi masalah pengurangan memang tidak banyak, cafe itu ramai banyak sekali pemuda pemudi yang datang hanya sekedar menikmati secangkir kopi hingga tengah malam. Atau mungkin mampir karena kehujanan. Dan dia hanya dipecat karena alasan konyolnya? Seketika itu juga Bertha tertawa sambil memukul sofa butut ruangan ini. "Itu bos kamu ngadi-ngadi atau gimana? Cafe tempat kamu bekerja memang besar, aku mengakui itu, Kei. Tapi kalau masalah pengurangan karyawan terus yang dipecat cuma kamu aja, bukannya kesananya aneh?" Dan disinilah, Keisha memberitahu Bertha. Jika dia dipecat itu karena Giffard. Dia meminta pada Theo untuk memecat dirinya, Giffard yang memberikan perintah pada Theo untuk mengeluarkan Giffard. Tapi giliran Keisha marah dan memakai Giffard karena sikap itu. Yang ada Giffard malah membela diri dan mengatakan apa yang Keisha dengar itu bukan perintah dari dirinya. Giffard juga berani bersumpah jika Keisha tidak percaya dengannya. "Terus kamu percaya?" Kalau untuk masalah itu Keisha tidak mampu mengambil keputusan itu dengan cepat. "Gak tau juga permainan orang kaya seperti apa. Pusing aja ngurus mereka." "Yaudah sabar aja. Aku mau kerja dulu, pulang sore minta dibawain apa?" Keisha berpikir sejenak, dia tidak tahu ingin apa. Tapi nanti kalau dia ingin sesuatu, dia akan menghubungi Bertha. Tentu saja perempuan itu langsung mengangguk kecil, dia langsung mengambil tasnya dan memilih pergi, meninggalkan Keisha di kos ini seorang diri karena menang anggotanya pada keluar semua. Perempuan itu kembali ke dalam kamar Bertha, mencoba menghubungi Giffard kembali. Dan sayangnya laki-laki itu tidak menerima panggilan masuk dari Keisha. "Ya sudah kalau udah gak butuh!! Gak papa, tapi kan bisa bilang jangan ngilang begini kayak setan sendiri." **** Entah sudah berapa kali ponsel itu menyala dan mati terus menerus. Menunjukkan id call dengan nama yang sama di layar ponsel Giffard. Dia tidak bisa menerima panggilan masuk itu, dia hanya membaca pesan masuk yang isinya hanya amarah seorang Keisha yang tidak Terima Giffard tinggal. Ini hanya untuk beberapa depan, tapi kenapa dia bingungnya susah seperti seumur hidup tinggal oleh Giffard? Senang? Tentu saja iya. Giffard bahkan tidak tahu letak senangnya ada dimana. Tapi dia suka melihat Keisha marah seperti ini, mencarinya adalah hal yang tak pernah dilakukan oleh Keisha. Tapi kali ini … "Siapa yang telepon?" pertanyaan itu membuat Giffard mendongak, dia menatap satu perempuan di depannya dengan jengah. "Tante Debora ya?" ujarnya. Ya, malam ini dengan rasa terpaksa Giffard menemui calon pilihan papanya. Namanya Clarissa, anak satu teman kerja Kenzo. Kata papa, perempuan itu cocok dengan Giffard. Usianya satu tahun di bawah Giffard. mereka tidak akan menikah muda, tapi hanya melangsungkan pertunangan saja. Jika menikah nanti setelah mereka sudah siap dan matang. Giffard menyimpan ponselnya ke dalam sakunya, lalu berkata. "Bukan urusanmu!!" "Aku punya hak untuk tau, Gif. Aku calon tunanganmu." "Masih calon jangan belagu!! Kalau bukan paksaan papa, hari ini aku juga tidak sudi duduk di depanmu." cetus Giffard. Clarissa tercengah dengan ucapan Giffard. Baru kali ini ada pria yang berani menolak dirinya makan malam. "Kamu tidak ingin menikah denganku apa?" "Tidak. Kamu bukan tipeku!!" Sial!! Umpat wanita itu dalam hati. Bagaimana bisa Giffard menolaknya, sedangkan selama ini ada banyak laki-laki yang memperjuangkan dirinya. Sedangkan Giffard berbeda dari yang lain. Bangkit dari duduknya dan membuat Clarissa mendongak. Giffard memutuskan untuk pergi, dia tidak nafsu makan dan selera makannya sudah hilang melihat Clarissa yang sok manis di depannya. Lebih baik Keisha yang apa adanya dibanding dia yang memiliki bedak setebal harbord. Clarissa yang melihat Giffard bangkit dan pergi begitu saja, membuat Clarissa langsung mengikuti nya. Perempuan itu cukup penasaran kenapa Giffard menolaknya, sedangkan dirinya sudah dandan secantik mungkin untuk menarik simpatik Giffard. Atau membuat laki-laki itu terkesan dan jatuh cinta dengan pada pandangan pertama. Tapi perempuan salah, Giffard bukanlah seperti laki-laki pada umumnya. Menarik tangan Giffard, Clarissa pun menghentikan langkahnya begitu juga dengan Giffard. "Aku tau kamu tidak mau bertunangan denganku. Aku juga begitu, tapi posisinya kita sedang diawasi. Jika kamu bertindak tidak sesuka hatimu, kita bisa menikah dengan cepat. Tolong kerjasamanya." bisiknya Sebenarnya apa sih mau perempuan itu? Giffard mengedarkan pandangannya ke penjuru restoran ini. Dan benar saja disana ada Kenzo dan juga ayah Clarissa yang mungkin sejak tadi mengikuti mereka. Mereka berpura-pura menjadi pelayan cafe ini, hanya sekedar ingin tahu apa yang dilakukan Giffard dan juga Clarissa. Mau tidak mau, Giffard pun mendesah dia kembali bersikap manis agar pertunangan ini bisa dibatalkan. Setidaknya, dia memiliki waktu untuk berpikir bagaimana bisa batal, itu saja selebihnya tidak penting. Keluar dari restoran, Giffard segera masuk ke dalam mobil dan dibantu oleh Budi. Kakinya masih sakit, tapi lukanya sudah ada yang kering. Duduk di belakang dengan meluruskan kakinya. Giffard malah melihat Clarissa masuk di mobilnya dan duduk di samping Giffard. "Mau apa kamu?" tanya Giffard heran. "Mau pulang kan?" "Bukan berarti aku harus satu mobil sama kamu kan?" Tapi masalahnya Clarissa tidak mungkin pulang sendirian. Kalau dia pulang sendiri, nanti jika mamanya tanya dka bisa jawab apa? Tidak mungkin Clarissa mengatakan jika dia pulang sendiri karena Giffard tidak mau mengantarkan Clarissa pulang ke rumah. Mendesah sekali lagi, Giffard pun membiarkan Clarissa masuk ke dalam mobil. Wanita itu duduk di pinggir dekat sekali dengan pintu mobil. Sehingga masih memiliki dua atau tiga jengkal dari duduknya Giffard. Perempuan itu tahu betul jika Giffard tidak menginginkan hal ini. Begitu juga dengan Clarissa yang juga tidak menginginkan pertunangan ini terjadi. Tapi karena ayah mereka berteman baik, makanya hal ini bisa terjadi. Coba saja jika tidak? Yang menemaninya makan malam buka lah Giffard melainkan Satria, kekasih Clarissa sendiri. Begitu juga dengan Giffard yang entah kenapa kalau memikirkan Keisha sejak tadi. Apa yang perempuan itu lakukan, apa yang perempuan itu sudah makan? Atau masih marah padanya, karena Giffard benar-benar mengabaikan dirinya hanya untuk hal ini. Mengacak rambutnya, Giffard merasakan mobil yang mereka tumpangi berhenti. Budi tahu majikannya itu tengah gundah dan banyak pikiran, itu sebabnya dia menghentikan mobilnya tepat di depan gedung apartemen Giffard. "Lampunya mati, apa dia sudah tidur?" gumam Giffard kecil, ketika melihat kaca apartemen lantai miliknya mati. Mungkin iya, Keisha sudah tidur karena kesal dengan Giffard. Clarissa yang tertarik pun ikut menatap gedung itu dengan heran. "Kamu tinggal disini? Atau pacar kamu tinggal disini?" "Bukan urusanmu!!" cetus Giffard dan membuat Clarissa mengangguk. Benar, ini semua bukan urusan Clarissa lalu, untuk apa juga dia bertanya banyak hal pada laki-laki dingin seperti Giffard? Dia sama sekali bukan tipe Clarissa. "Bud … kita pulang saja, gue capek." kata Giffard. "Baik, Den." **** Jam menunjukkan pukul dua pagi, Keisha tak merasa mengantuk sama sekali. Matanya masih terjaga mengamati ponselnya yang sepi. Tidak ada kabar dari Giffard sampai saat ini, apa dia baik-baik saja? Kenapa dia tidak menelpon Keisha? Kenapa? memukulkan kepalanya di sandaran sofa hingga pusing, Keisha mencoba untuk menelpon Giffard. Dengan harapan jika laki-laki itu mau menerima panggilannya. Dia hanya ingin bertanya tentang kabar, apa yang dia lakukan, dan kenapa tidak pulang. Deringan pertama tidak ada jawaban. Hingga sering ketika barulah Keisha melihat durasi panggilannya berjalan. Perempuan itu tersenyum kecil, dia langsung menempelkan benda pipih kotak itu di telinga kanannya. "Hai … " sapa Keisha lebih dulu. Tidak ada jawaban sama sekali, Giffard memilih diam, dia tidak mengeluarkan suara. Hanya saja Keisha bisa mendengar suara helaan nafas Giffard yang cukup ketara. Tidak apa, mungkin memang ini sudah takdir Keisha untuk tidak bertemu dengan Giffard. "Kamu lagi apa? Sudah makan? Kabar kamu gimana? Luka kamu gimana? Ada yang ngobatin nggak? Makan rutin ya, biar cepet sembuh. Biar cepet pulang juga, aku nunggu kamu di apartemen Gif." Setelah mengatakan hal itu, Giffard langsung menutup sambungan telepon Keisha. Dia bahkan mematikan ponselnya langsung, dadanya sesak mendengar hal itu. Padahal itu hanya pertanyaan biasa yang Giffard sering dengar dari Keisha. Tapi kenapa rasanya berbeda ketika mereka berjauhan? Begitu juga dengan Keisha yang langsung tersenyum pahit menatap ponselnya yang mati. Sudut matanya berair, dan entah apa yang membuat dirinya menangis. Ini hanya ditinggal Giffard pulang ke rumah orang tuanya, bukan ditinggal Giffard minggat dengan perempuan lain. Kenapa harus semelow ini!! Bangkit dari duduknya, bersamaan dengan itu juga lampu ruangan ini menyala. Keisha menatap Bertha yang keluar dari kamar dan menghampiri Keisha. "Ini jam berapa? Kenapa masih belum tidur. Mikirin Gif lagi?" ucap Bertha bertubi-tubi. "Katanya bocah kemarin sore, kenapa mikirnya sampai menyiksa diri sendiri sih!!" ujarnya. Keisha juga tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Yang pasti dia hanya merasa asing saja tanpa Giffard. Sedangkan dulu tanpa ada dia juga Keisha baik-baik saja. Lalu, kenapa sekarang tanpa dia Keisha merasa asing dengan dirinya? "Bilang kamu jatuh cinta dengan Giffard. Cuma karena gengsi, dia masih SMA makanya kamu bilang bocah kemarin sore nggak mungkin bisa buat aku jatuh cinta!" Tentu saja Keisha langsung protes. Dia itu tidak jatuh cinta dengan Giffard. Bahkan sampai kapanpun dia juga tidak akan jatuh cinta dengan Giffard, itu ucapan sudah Keisha rapalkan sejak dulu semenjak dia mengenal Giffard. Meskipun dia hidup di sekitar Giffard dan selalu bersama dengan dia, Keisha yakin jika perasaan ini bukan perasaan suka. Hanya perasaan biasa yang lewat sementara dan itu bukan perasaan cinta atau suka. Bertha tertawa. "Sok tau banget. Jatuh cinta udah pernah?" tanyanya dengan nada menyindir. "Oh iya lupa, itu jatuh cinta waktu masih sekolah ya. Sama siapa–" Bertha mencoba mengingat nama laki-laki yang pernah disukai oleh Keisha. Hanya saja laki-laki itu memilih menggandeng perempuan lagi dan bukan Keisha. "Nino. Puas!!" Tawa Bertha meledak, belum lagi raut wajahnya Keisha langsung mendadak jengkel dengan semua ini. Tentu saja hal itu langsung membuat Keisha melepaskan botol kosong entah milik siapa ke arah Bertha. "Tidur sialan!!" **** "Aku bisa jalanin bisnis, tapi tidak dengan perjodohan ini Papa." protes Giffard. Pagi ini Kenzo kembali membahas tentang perjodohannya dengan Clarissa. Sedangkan beberapa kali Giffard selalu menolak apa yang Kenzo inginkan. Dia tidak ingin hal ini dan dua tidak ingin bertunangan atau dengan dengan siapapun kecuali orang yang dia pilih. "Kenapa! Kamu masih menyimpan perasaan untuk laki-laki itu??" seru Kenzo. "Gif … ini jalan terbaik untukmu!!" Bahkan Giffard tidak memikirkan Carlos lagi. Dia tidak memikirkan laki-laki yang pernah membuat dirinya jatuh cinta ke dalam dunia gelap. Sekarang bukan itu yang membuat Giffard kepikiran tapi Keisha. "Lebih baik kamu bertunangan. Kamu bisa menikah kapan saja dengan Clarissa sesuka hatimu. Sebelum perempuan itu tahun jika aku memiliki putra yang tidak normal." "Aku tidak mau menikah dengan Clarissa, apapun alasannya aku tidak mau menikah dengan dia Papa." "Kenapa? Apa alasannya kamu tidak mau menikah dengan Clarissa, Giffard. Dia adalah putri dari teman Papa." Giffard menghela nafasnya berat. "Karena ada hati yang harus aku jaga untuk seseorang, Papa." -SugarBaby-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD