"Biasa aja sih. Masih cakepan yang tadi." jawab Keisha dengan santainya. Meskipun jantungnya sudah berdebar kencang melihat tatapan Giffard yang mulai menajam.
"Sekali lagi!!"
Suaranya pun sudah berubah sedingin es. Jika Keisha meneruskan yang ada dirinya juga yang susah. Tersenyum paksa, perempuan itu menawarkan buah semangka yang dibelinya sebagai ganti buah mangga. Bulan ini belum musim mangga, yang jelas akan sulit untuk mencari buah mangga untuk beberapa bulan kedepan. Itu sebabnya, daripada Keisha pulang tidak membawa apa-apa lebih baik dia membawa buah semangka untuk Giffard.
Tentu saja laki-laki itu langsung menatap buah semangkanya dengan rasa malas. Dia pun meminta Keisha untuk minggir dari hadapannya. Dia sudah tidak nafsu makan sama sekali. Rasa lapar nya mendadak hilang dengan sendirinya.
Keisha mencoba menahan laki-laki itu, namun, Giffard malah menepis tangan Keisha dengan kasar. "Malam ini aku nggak pulang." ucapnya
Keisha melongo. "Gif jangan begitu dong. Masa cuma perkata tampan dia kamu ngambek milih pergi. Gak mau!!"
Mendesah kecewa, Giffard menunjukkan pesan masuk dari ayahnya yang meminta laki-laki itu untuk pulang ke rumah. Mungkin ayahnya tahu, jika Giffard jatuh dan menginap di apartemen karena tidak ada yang mengurus. Jika Giffard tidak pulang, sudah dipastikan kalau bapak Kenzo akan datang ke apartemen ini dan menyeret Giffard pulang. Dan laki-laki itu tidak mau sama sekali jika Kenzo tahu di apartemen ini tidak hanya ada dirinya, lagian Giffard juga belum siap mendapat tamparan dari Kenzo atas dirinya yang berani menyembunyikan perempuan di apartemennya.
"Lah terus aku gimana? Masa iya kamu mau ninggalin aku sendiri disini?"
"Nggak usah drama deh, biasanya juga sendiri. Katanya wanita mandiri!!" dengan Giffard.
"Gak jadi, setelah kamu datang!! Pokoknya aku nggak mau di tinggal, titik!! Nggak peduli gimana caranya!!"
Enak saja, yang awalnya ngajak Keisha tinggal bareng siapa? Terus sekarang laki-laki itu malah mau pulang ke rumahnya hanya karena bapaknya? Tidak bisa dibiarkan!! Apalagi Keisha juga tidak mau tinggal di rumah sebesar ini sendiri. Iya kalau tidak ada maling? Kalau ada setan gimana?
Sedangkan Giffard sendiri yang melihat hal itu langsung mendengus. Laki-laki itu mampu menatap Keisha pergi dari hadapannya dengan perasaan kesal. Dia juga tidak mau pulang, tapi jika tidak sudah dipastikan Kenzo akan kembali menghajarnya. Belum lagi ada Keisha, Giffard tidak mau melibatkan perempuan itu dalam masalahnya.
"Kei … " panggil Giffard pelan. Namun, perempuan itu tak mau mendengar panggilannya sama sekali. Sedangkan dirinya harus turun saat ini juga, dimana salah satu supir milik Kenzo telah menunggunya dibawah.
Mengirim pesan singkat untuk berpamitan keluar sebentar, akhirnya Giffard pun turun ke bawah dengan susah payah. Kakinya begitu sakit untuk berjalan, sedangkan dia tidak menggunakan alat bantu apapun untuk menyangga tubuhnya.
Berjalan tertatih, akhirnya Giffard pun sampai di lantai dasar apartemen ini. Dia pun melihat satu mobil mewah terparkir indah di antara mobil-mobil mewah lainnya. Hanya dengan gerakan tangan, mobil itu mendekat dan membuat supir itu langsung turun dan membantu Giffard masuk ke dalam mobil.
"Den Gif gapapa?" tanya Budi sangat supir.
"Kaki gue sakit Bud. Lagian lo kenapa gak sekolah?"
Bisa dibilang Budi ini usianya seumuran Giffard. Dia adalah anak dari pembantu di rumah Giffard selama ini. Mereka tumbuh bersama, hanya saja ketika masuk sekolah waktu Debora meminta Budi satu sekolah dengan Giffard, Budi menolak. Selain mengklaim dirinya tidak pantas, Budi juga tidak ingin Giffard malu berteman dengan Budi yang hanya seorang supir rumahan.
Padahal sudah di awal Giffard menjelaskan hal itu tidak menjadi masalah untuk Giffard. Tapi tetap saja Budi tidak mau mendengarkan Giffard sama sekali.
Sepanjang perjalanan Giffard mendesah kecewa. Dia bertanya-tanya kenapa ayahnya meminta dirinya pulang secara mendadak. Dia sempat berpikir jika ibunya telah memberitahu keadaan Giffard setelah jatuh dari motor. Tapi masalahnya kalau Kenzo tahu dari awal kenapa dia baru meminta Giffard kembali?
Tidak lama kemudian, akhirnya mereka pun sampai di depan rumah Giffard. Laki-laki itu tak kunjung turun, dia lebih memilih menatap pintu rumahnya yang terbuka dengan lebar di depannya.
Menatap dari kegelisahan Giffard, Budi pun turun lebih dulu. Dia pun membuka pintu mobil Giffard dan membantunya turun. Bahkan Budi juga tidak melihat ada alat bantu untuk majikannya berjalan.
"Saya bantu, Den." kata Budi.
Giffard mengangguk. mengulurkan tangannya pada Budi dan meminta bantuan Budi untuk berjalan. Maklum saja Keisha itu jahat tidak membelikannya kursi roda atau mungkin tongkat untuk berjalan. Berjalan tertatih, Giffard pun menahan sakit di bagian bawah lutut.
Melihat hal itu, Kenzo pun mengerutkan alisnya. Matanya menatap beberapa luka di tangan dan juga kaki Giffard. Ada di kening tapi hanya di plester saja.
"Itu kaki kamu kenapa? Patah?" tanya Kenzo heran.
Giffard mendengus. "Perasaan suka banget kalau anaknya menderita."
Menatap Debora, Kenzo meminta istrinya untuk mengambil obat yang ada di kotak dekat dengan dapur. "Biar diobati Mama dulu kakimu, baru kita bicara."
"Papa mau bahas apa? Perusahaan lagi?"
"Itu salah satunya. Tapi ada juga yang lebih penting dari itu."
"Apa?" perasaan Giffard mendadak tidak enak melihat senyum merekah di bibir Kenzo. Sungguh, jika pria tua itu sudah tersenyum aneh sudah dipastikan akan ada sesuatu yang terjadi dengan hidup Giffard.
"Obati dulu kakimu dan temui papa di ruang kerja Papa."
Setelah mengatakan hal itu Kenzo pun pergi begitu saja tanpa penjelasan yang pasti. Giffard yang merasa ponselnya bergetar pun langsung mendesah. Sudah dipastikan jika itu adalah Keisha yang tengah mengamuk pada dirinya.
****
Ini Paulina dan dia calon tunangan kamu.
Ucapan itu terus saja terngiang-ngiang di pikiran Giffard. Entah kenapa hal itu langsung membuat laki-laki itu pusing dengan sendirinya. Giffard itu pikir jika ayahnya hanya akan membahas perusahaan yang sudah menjadi namanya. Dia meminta Giffard untuk memegang sebisa yang dia bisa. Tapi kali ini perintah Kenzo membuat Giffard ingin sekali mencekik laki-laki itu.
Bagaimana bisa Kenzo memperlakukan dia seperti ini. Lagian, ini tuh jaman apa sih kenapa masih aja berlaku tentang perjodohan? Bahkan Debora yang mendengar hal itu juga sempat membantah. Dia tidak setuju dengan keputusan Kenzo, hanya saja Kenzo tidak menerima penolakan dari Giffard dan juga Debora.
Dia tidak menyukai perempuan itu, dia tidak mengenal perempuan itu, dan dia tidak menginginkan perempuan itu juga. Kenzo tidak bertanya apa mau Giffard, bagaimana perempuan yang diinginkan Giffard. Sedangkan Giffard juga memiliki pilihan sendiri. dia sudah besar, dia semudah dewasa, bukankah dulu Kenzo bilang jika nanti Giffard dewasa dia bisa memilih apapun yang dia inginkan. Lalu kenapa kali ini tetap Kenzo yang memilih jalan hidup Giffard?
Papa tau ya kamu itu kelainan Giffard. Papa tau kamu ada hubungan dengan teman asrama kamu, Carlos. Dan Papa yakin ini jalan satu-satunya untuk menyelamatkan masa depan kamu.
Sungguh, Giffard tidak menyangka jika ayahnya dengan cepat mengetahui apa yang terjadi dengan dirinya. Padahal selama ini Giffard sudah menutupinya mati-matian, agar Kenzo tidak mengetahui apa yang dia lakukan di luar negeri. Dan sekarang tidak hanya Kenzo saja tapi juga dengan Debora yang mengetahui semua ini dan langsung pingsan. Belum lagi Kenzo juga menyalahkan dirinya dalam hal ini. Pingsannya Debora itu kesalahan Giffard, itu yang Kenzo katakan.
Papa tidak ingin kamu menolak semua ini Gif. Ini semua demi kebaikanmu, ini semua demi kamu juga.
Kepala Giffard semakin pulang, dia ingin bangkit dari duduknya. Namun tertahan karena melihat Debora yang berdiri tegak di depan pintu kamarnya. Giffard kembali duduk, dia tertunduk lesu. sungguh, dia merasa kecewa dengan apa yang dia lakukan selama ini, sehingga membuat wanita yang membesarkan dirinya saat ini menatapnya penuh kecewa.
Kaki Debora berat untuk melangkah mendekat. Tapi wanita itu mencoba untuk menguatkan hatinya menghadapi Giffard. Dia tahu, putranya itu pasti memiliki alasan lain kenapa dia melakukan hal ini.
"Maafin Giffard, Ma." katanya lirih.
Debora mengangguk, tangannya mengusap air matanya yang masih saja keluar dengan perlahan. "Hmm, baiklah Mama maafkan. Tapi Mama pengen tau alasan apa yang membuat kamu kayak begini?"
Ibu mana yang bisa menerima kenyataan jika anaknya menyukai sesama jenis? Mungkin di negara lain bisa, tapi negara ini belum tentu bisa menerima kenyataan seperti ini. Tidak menyalahkan Giffard dan hal ini, karena Debora juga termasuk salah dalam hal mendidik Giffard. Dia menyetujui keputusan Kenzo tanpa melihat dampak apa yang akan anaknya terima hidup di negara orang.
"Banyak. Salah satunya cinta. Rasa sakit yang selama ini aku rasakan membuatku salah arah."
Menutup matanya perlahan, air mata Debora kembali terurai. Sudah diduga, hal sebesar ini dasarannya tentang tentang luka. Mengangkat tangannya kendaraan, dan meminta Giffard untuk diam. Tanpa diperpanjang pun Debora sudah tahu betul bagaimana jalan ceritanya nanti. Banyak sekali buku, film dan juga video pendek yang pernah dia lihat, sepasang kekasih hingga menikah dengan sesama jenis juga banyak sekali. Itu sebabnya tanpa diperjelaskan kembali Debora sudah tau semuanya.
"Jangan katakan apapun, Mama sudah tau. Kasih tau Mama saja siapa perempuan itu?" tanya Debora menahan rasa sakit hatinya
"Christin. Dia mengkhianatiku Ma, dia mempermainkan ku selama ini. Cintanya palsu, kasih sayangnya juga palsu."
"Lalu Keisha? Apa dia alat untuk penyembuhan mu?"
Seketika itu juga Giffard memilih diam. Tentang Keisha … sampai detik ini Giffard tidak memiliki banyak alasan tentang perempuan itu. Perempuan yang entah kenapa membuat Giffard berpikir keras tentang masalah ini
Masalah perjodohan Giffard masih mampu menahannya, masih mampu memikirkan banyak cara untuk menolaknya. Tapi masalah Keisha, entah kenapa dia malah memikirkan nasib dan juga perasaan perempuan itu. Bagaimana jika dia tahu semua nya? Bagaimana jika dia tahu jika selama ini Giffard hanya memanfaatkan Keisha saja?
Helaan nafas keluar dari bibi Giffard tiba-tiba saja dia tidak bisa mengatakan apapun pada Debora. Lebih tepatnya, Giffard sendiri tidak tahu apa yang harus dikatakan pada Debora tentang Keisha. Bagaimana hubungan mereka selama ini.
"Aku–"
"Giffard … jawab Mama." kata Debora tegas. "Apa kamu memanfaatkan Keisha sebagai alat penyembuhan kamu?"
"Iya. Aku menggunakan dia sebagai alat penyembuhku."
Memijat pelipisnya pusing, Debora pun langsung menepuk punggung tangan Giffard dua kali. "Bagaimana jika selama penyembuhan kamu jatuh cinta dengan dia, dan dia tahu tujuan kamu mendekatinya? Apa kamu sudah memikirkan alasan apa yang akan kamu berikan pada dia? Sudah membayangkan betapa kecewanya Keisha selama ini dan juga amarah perempuan itu?"
Bahkan Debora saja tidak berani membayangkan bagaimana wajah Keisha ketika dia tahu tentang hal ini. Sudah dipastikan Debora akan memberikan pipi kirinya jika perempuan itu akan menamparnya karena putranya sudah berani menyakiti perempuan polos, lugu dan baik seperti Keisha.
"Aku tidak tau apapun, Ma. Tolong jangan bahas Keisha, dia sedang marah denganku karena aku pulang."
"Baiklah. Kalau begitu tidurlah, kamu butuh istirahat. Pulanglah, kalau lukamu sudah sembuh. Nanti biar Mama yang ngomong sama Keisha."
Giffard hanya diam, sampai Debora mengusap lembut rambutnya dan mengecup puncak kepalanya. Bahkan Giffard juga bisa merasakan ada sesuatu yang meneteskan diatas kepalanya. Berkali-kali Giffard merapalkan kata maaf untuk ibunya, yang sudah berbaik hati sudah mau merawatnya selama ini. Jika bukan karena Debora, mungkin Giffard juga tidak akan pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, kecuali tentang kejamnya memiliki seorang ibu.
***
Memeluk tubuhnya sendiri, Keisha sudah seperti perempuan patah hati terhebat di dunia ini. Giffard pergi setelah berbicara dengannya siang tadi, dia hanya mengirim pesan pada dirinya dan mengatakan jika dia harus pulang hari ini. Nyatanya sampai sekarang, Giffard tak lagi menghubunginya. Dia sudah mencoba menelpon dan juga mengirim pesan pada Giffard. Tak tak ada satupun panggilan atau pesan Keisha yang Giffard balas. Nyatanya hal itu mampu membuat Keisha menangis.
Harusnya Keisha juga senang melihat laki-laki itu pulang dan jauh dari nya. Tapi kenapa kekurangan Giffard malah membuat Keisha menangis? Apa yang terjadi dengannya kali ini.
"Jahat kamu Gif!! Jahat!!" racau Keisha. "Tega banget loh kamu ninggalin aku kayak begini!! Padahal kan tadi aku udah bilang jangan pergi, kenapa sih nggak mau dengerin aku juga!!"
Mengusap air matanya, Keisha pun memukul gulingnya dengan kesal. Bisa-bisanya dia yang meminta Keisha untuk tinggal di apartemen ini, sedangkan dirinya juga yang meninggalkan Keisha di apartemen ini. Kalau dari jauh-jauh hari Giffard bilang, mungkin dia bisa pulang ke kos. Menginap beberapa hari kedepan di kamar Bertha atau Tika. Bukan malah mendadak pergi tanpa kejelasan apapun.
Menangis kencang, Keisha pun mematikan playlist pada ponselnya. Dirinya sudah galau, dirinya sudah menderita malam ini, apalagi lagunya yang begitu mendukung suasana hati Keisha.
Sekali lagi, perempuan itu mencoba menelpon Giffard. Dan sayangnya ponsel laki-laki itu malah mati dan tidak bisa di hubungi. Keisha bersumpah pada dirinya sendiri jika laki-laki itu pulang dan menemui Keisha, jangan harap Keisha mau mengajaknya berbicara. Bahkan ketika pria itu meminta maaf pun, Keisha juga tidak akan memaafkan. Dia marah, dia tidak terima dengan sikap Giffard. Apapun yang dilakukan laki-laki itu, Keisha tidak akan mau memaafkan laki-laki itu.
"Yaudah kamu begitu sama aku. Aku juga bisa begitu sama kamu!!" ucap Keisha kembali di depan kaca. "Jangan salahkan aku Gif, kalau aku juga akan marah sama kamu." ujarnya kembali.
Melakukan hal yang sama, Keisha juga mematikan ponselnya. Dia akan membeli ponsel baru untuknya dengan sisa yang yang dia punya. Dia akan membeli ponsel baru untuk memulai bisnis Berjualannya kembali. Dia bisa hidup tanpa Giffard, meskipun harus serba kurang tapi tidak masalah pasti ada jalan untuk menjual dari laki-laki itu.
To Be Continued