SB-26

2059 Words
Karena tidak ada kerjaan lainnya lagi, setelah pemecatan itu. Akhirnya Keisha pun menghabiskan sisa uangnya untuk membeli banyak sekali kosmetik. Dia akan mulai berjualan online. Dari masker topeng hingga bubuk pun dia beli, meskipun dia belum tahu bagaimana reaksi masker ini jika digunakan. Melihat dari komposisi, cara pakai, hingga ke gunanya. Keisha mendadak pulang sendiri dengan banyaknya masker yang dia beli. "Ini kayaknya harus di coba dulu, biar tau rasanya kayak apa." gumam Keisha. Perempuan itu menatap Giffard yang lagi santai sambil bermain games. Setelah insiden pecat dadakan, Keisha kesal dengan Giffard yang seenaknya. Walaupun laki-laki itu terus bilang jika bukan dirinya yang memecat, tapi sayangnya Keisha sudah terlanjur percaya jika cafe itu milik Giffard otomatis memang Giffard yang memecat dirinya. Merasa ada yang memperhatikan, Giffard pun menoleh cepat dari ponselnya. Menatap Keisha yang langsung memalingkan wajahnya sambil ngomel tidak jelas. Belum lagi gerak tubuhnya yang menggambarkan seolah dia sedang mencibir Giffard. Langsung saja Giffard melempari Keisha dengan banyak sofa ini, hingga mengenai kepalanya. Keisha menoleh marah menegakkan Giffard. Perempuan itu lambung melemparkan kembali bantal itu dan mengenal salah satu luka kaki Giffard. "Sakit Istri!!" pekik Giffard. "Amit-amit panggil istri!!" cibir Keisha kesal. "Siapa suruh banyak tingkah lempar bantal, giliran di lempar balik meringis kesakitan." Pasalnya yang dilempar ini luka bukan bukan kaki Giffard yang sehat walafiat. Tentu saja Keisha meringis kesakitan, coba saja kalau Keisha punya luka terus Giffard yang jitak, gimana coba perasaannya? "Ya nggak gimana-gimana lah!! Emangnya mau gimana lagi!! Wong gak punya perasaan, kok suruh coba dengan perasaan." cibir Keisha. Untung saja Giffard itu orangnya sabar coba kalau nggak. Sudah dipastikan hari ini juga hari terakhir Keisha bernafas. Mencoba bangkit dari duduknya, Giffard berjalan tertatih mendekati Keisha. Awalnya perempuan itu ingin membantunya, tapi mengingat apa yang pria itu lakukan jadi malas. Toh, Giffard itu nyebelin setengah mampus. "Mau apa? Duduk lesehan, nanti giliran bangun susah bingung!!" Giffard mendesah. "Habis ini aku kerja apa buat hidupin kamu?" Kalau masalah itu Keisha juga tidak tahu Giffard harus kerja apa. Asalkan cari duit yang halal, yang tidak membahayakan nyawa dan hidup Giffard saja tidak masalah bagi Keisha. Dia akan mendukung apapun yang pria itu lakukan. Hanya saja Keisha juga pengen kerja lainnya, dia memasukkan banyak lamaran kerja tapi tidak ada satupun yang terpanggil untuk interview. "Hidup kita salah Kei. Tapi aku akan mencoba untuk memperbaikinya." Keisha hanya mengangguk meskipun dia tidak tahu apa arti dari ucapan Giffard sendiri. Memperbaiki apa saja Keisha juga tidak tahu. Tapi jika berubah menjadi lebih baik lagi tidak masalah bagi Keisha. "Kita baikan kan?" tanya Giffard memastikan. Keisha menoleh cepat. "Kata siapa? Nggak ya." "Tapi kan pengen baikan aku sama kamu." "Dih!! Ogah!!" Giffard mendengus. "Pernah denger kata pak ustad nggak. Kalau marahnya lebih dari tiga hari itu namanya cinta." Seketika itu juga Keisha menatap Giffard dengan heran. Tidak ada hubungannya marah lebih dari tiga hari terus ujung-ujungnya cinta. Kalau Giffard lupa, Keisha itu marahnya baru dari kemarin belum ada tiga hari. Mungkin sekitar satu hari setengah marah Keisha pada Giffard. Lah ini gimana ceritanya tiga hari lebih bisa cinta? "Pengen bilang Giffard bodo tapi beneran bodo!!" dengan Keisha. "Tapi itu beneran." "Psikolog kali yang ngomong, masa iya ustad bilang begitu?" "Ngeyel aja kerjaannya. Pokoknya kita baikan, titik!!" Keisha menatap Giffard tidak suka. Dia tidak mau baikan dengan Giffard, entah lebih atau tidak selama tiga hari nyatanya Keisha tidak peduli. Dia sama sekali tidak peduli dengan apa yang Giffard katakan. Toh, dia hanya kesal dengan laki-laki itu bukan marah. Lagian kenapa sih mendadak minta baikan? Orang biasanya juga kalau marah begini dia suka ngilang entah kemana dan tidak peduli dengan Keisha. Sedangkan sekarang … Kruyuk … Alis Keisha pun mengkerut menatap Giffard yang nyenggie di hadapannya. Perempuan itu langsung memicingkan matanya sambil menatap perut Giffard dengan curiga. "Jangan bilang … kamu baikin aku karena laper ya!!" seru Keisha tambah kesal. Seketika itu juga Giffard nyengir tanpa dosanya di depan Keisha. Sungguh, dia juga tidak tau kenapa mendadak lapar lagi setelah makan banyak dengan Keisha. Dia juga nyemil makanan ringan yang Keisha belikan. Tapi entah kenapa cacingnya pada demo minta makan kembali kali ini. Dan harapkan Giffard hanya satu, yaitu Keisha mau masak atau membelikan makan untuk dirinya. "Lagi peran suami istri loh. Kan gak baik kalau suaminya kelaparan begini." rayu Giffard agar Keisha mau menuruti apa yang dia inginkan. "Bodo amat!! Gak peduli pokoknya gak! Sekarang gak jadi suami istri. Tapi babu sama majikan!!" seru Keisha tambah kesal dan ngawur. Seketika itu juga Giffard menjitak kepala Keisha dengan sayang. "Pelit amat sih! Kuburan sempit nih!!" "Astagfirullah hal azim Giffard begitu banget doanya. Ingat ya kata pak ustadz, kata doa buruk itu balik ke orangnya!!" "Secara gak langsung kamu—Kei beneran aku laper loh." Giffard merengek layaknya bayi. Ini kali pertama Giffard harus melakukan hal ini hanya karena urusan perut. Keisha yang tidak tega pun pergi ke dapur membuat dua piring mie instan. Lagian dia juga tidak mau Keisha disalahkan dalam hal ini, jika Giffard meninggal hanya karena kelaparan. Pembantu cantiknya tak mau membuatkan makan sedikitpun dan membiarkan majikannya kelaparan hingga mati. Membutuhkan waktu tiga puluh menit akhirnya mie instan itu pun jadi. Keisha langsung menaruh mie instan itu di depan Giffard. "Masih panas, kalau makan hati-hati." ucap Keisha. Giffard menaikkan satu alisnya. "Perhatian banget sih ayank. Kan jadi laper banget." "Amit-amit astaga … " Keisha memukul perutnya pelan, lalu memukul pantai rumah ini berkali-kali. Seolah dia tidak ingin Giffard mengucapkan kata selebay itu. "Jangan begitu, kasihan bayinya tersakiti." " Ya Tuhan … Giffard pengen cekik." **** Bel rumah ini terus saja berbunyi sejak lima belas menit yang lalu, Giffard yang susah payah berjalan menuju ke pintu itu dan membuka pintunya dengan pelan. "Cari siapa?" pertanyaan bodoh itu keluar dari bibirnya. Laki-laki yang mengenakan hoodie hitam pun menyodorkan paket atas nama Keisha. "Nganter paket Kak. Katanya suruh anter kesini tanpa mau dititipin." jelasnya. Giffard mengangguk, dia pun menerima paket itu dan segera menutup pintunya. Namun, tukang paket itu menahan pintu apartemen ini dan membuat Giffard menatap heran. Harusnya yang bingung dan heran ini tulang paket, pasalnya itu paket atas nama Keisha tapi kenapa yang keluar malah laki-laki tampan berkulit putih? "Kenapa? Kan sudah saya terima paketnya." tanya Giffard heran. "Ya masalahnya paketnya belum dibayar Kak. Itu paket COD." Giffard menatap paket itu dengan seksama. Lalu menatap jumlah yang yang harus dia bayar. Pria itu mendesah dan meminta tulang paket untuk bersabar sebentar. Dia akan mengambil uang untuk membayar paket atas nama Keisha. Hingga tak lama, Giffard pun kembali dengan sejumlah uang untuk membayar paket itu. "Terimakasih Kak." Giffard hanya bergumam saja, dia pun menutup pintu apartemennya dengan kencang. Perasaan hampir setiap hari paket datang hanya untuk Keisha. Lagian dia itu beli apa sih!! Yang kemarin aja belum dipakai, terus sekarang beli lagi. Mendesah pelan, akhirnya laki-laki itu menelpon Keisha dan meminta perempuan itu untuk cepat pulang. Perempuan itu harus ke kampus untuk mengikuti gladi bersih untuk kampusnya. Karena bulan depan Keisha sudah dinyatakan lulus. Dan sekarang perempuan itu bingung harus membayar pelunasan dan juga toga yang akan dikenakan. Mencoba membuka paket itu karena pemasaran, ternyata isinya hanya sponge make up. Perasaan, setahun Giffard Keisha itu bukan tipe perempuan yang suka make up. Giffard juga bisa melihat banyak sekali satu kardus yang isinya kantong plastik lucu dengan berbagai ukuran. Mungkin itu pesanan teman Keisha, mengingat perempuan itu gencar memposting banyak sekali masker dengan harga miring dari pasaran biasanya. Terlalu asyik memainkan sponge make up, Giffard pun berdecak kesal ketika Haikal menelponnya. Laki-laki itu meminta Giffard untuk membuka pintu Apartemennya, karena dia sudah berdiri di depan pintu sejak satu menit yang lalu. "Gue nggak bisa jalan anj*ng!!" umpat Giffard kesal. Haikal terkekeh. "Pin lo apaan, gue buka sendiri se*an!!" Seketika itu juga Giffard menyebutkan pin smart pintunya. Laki-laki itu masuk dengan wajah tanpa dosa, sambil membawa dua kotak kue terkenal di ibukota. "Buat lo." ucap Haikal. Laki-laki itu menatap Giffard sejenak. "Lo gak pengen ambilin gue minum Giffard?" Seketika itu juga Giffard mengumpat dengan lantang, mengeluarkan sumpah serapah nya untuk Haikal. Kalau mata dia bisa melihat, kaki Giffard itu luka dan dia kesulitan untuk jalan. Bukain pintu buat dia aja gak bisa apalagi jalan ambil minum. Terkekeh kecil, Haikal pun bangkit dari duduknya. "Begitu aja lo marah, Gif. Kan gue cuma bercanda." "Tapi gue lagi nggak mau di becandain." Haikal mendengus kembali duduk di tempatnya semula, sambil menatap sekeliling apartemen ini dengan heran. "Wanita lo mana?" "Gue suruh beli makan. Gue lagi laper." "Pantes rese!!" Giffard menyipitkan matanya menatap Haikal curiga. "Lo kesini ada perlu apa?" Pasalnya, Haikal hanya ingin tahu perkembangan Giffard saat ini seperti apa, sudah ada perubahan atau tidak. Soalnya, orang sembuh dari dunia pelangi memang agak sulit. Dia tidak akan tertarik, atau tergoda dengan perempuan. Dia bisa tergoda hanya dengan sesama jenis, atau mungkin membayangkan jika si perempuan itu adalah kekasihnya pasangan sesama jenis itu. Itu sebabnya Haikal ingin tahu perkembangan Giffard seperti apa. Laki-laki itu mendesah kecil, dia masih berusaha untuk tidak memikirkan laki-laki lain ketika berciuman dengan Keisha. Dia membayangkan adegan panas yang pernah dia lihat dari video yang Haikal berikan padanya. Tapi nampaknya sampai detik ini Giffard tidak merasakan perubahan apapun. Hidupnya, dirinya juga masih seperti ini, hanya saja dia merasa senang ketika bertengkar dengan Keisha. Sungguh, yang ada dipikiran Giffard saat ini hanya satu. Dia tidak peduli bisa sembuh atau tidak musuh takdirnya, yang penting dia bisa tertawa bersama dengan Keisha. "Bet–" "Gif … buah mangga gak ada." ucap seseorang yang baru saja masuk tanpa melihat ada orang lain atau tidak. Perempuan itu melempar sepatunya ke rak sepatu, sambil menenteng dia kantong plastik hitam di tangan kiri dan juga kanan. "Tadi adanya–" ucapan Keisha terhenti, ketika dia menyadari di rumah ini tidak hanya ada mereka berdua. Disana, Keisha disuguhi laki-laki tampan dengan senyum manis bat gula. Laki-laki itu bangkit dari duduknya dan membantu Keisha yang mendadak keberatan membawa buah pir dan juga apel yang tidak ada sepuluh kilo. Matanya benar-benar dimanjakan oleh pahatan sempurna, benar kata Tika kalau circle tampan, sudah dipastikan isinya orang tampan. Nyatanya, Keisha mengakui jika Giffard itu tampan, begitu juga temannya Aiden dia juga tampan memiliki bola mata yang indah. Sayangnya usianya jauh dibawah Keisha. Sedangkan saat ini, yang ada di hadapannya benar-benar sempurna, tipe Keisha banget. Tinggi, putih, cerah secerah matahari, punya lesung pipi, hidung bak perosotan TK, mata yang tidak begitu besar dan sipit, badan gempal, tangannya juga berotot. Gimana gak suka malai lihat begini setiap hari mau, Keisha juga ingin. Ingat ya!! Keisha itu pecinta laki-laki tampan. Apapun jenisnya dia suka. "Hai–" sapa Haikal melambaikan tangan pada Keisha. Keisha meringis, dia menyodorkan tangannya hendak berkenalan. Tapi suara Giffard malah mengalihkan dunia Keisha. "Kal … pulang sana lo. Gue udah sembuh." ucapnya. Haikal melongo, begitu juga Keisha yang langainh melotot melihat hal itu. Tak memperdulikan hal itu, Giffard terus mengusir Haikal dari apartemen nya. Jika dia ingin datang, harusnya Haikal menghubunginya lebih dulu, bukan malah langsung datang tanpa mengatakan apapun. "Heh kenapa di usir, kan kita bisa makan siang bareng." kata Keisha kecewa dengan sikap Giffard, yang mengusir laki-laki tampan dari apartemen ini. Kapanlagi sih bisa bertemu begini, astaga Giffard … "Masih ingat kan, kalau aku gak suka berbagi? Masih mau berbagi?" ucap Giffard menatap tajam ke arah Keisha. Bagaimanapun Keisha harus mempertahankan laki-laki ini untuk bisa makan siang bersama dengan mereka. "Ya kan punya aku bisa buat dia. Lagian aku juga udah makan kok." ucap Keisha berusaha. Giffard berdecak. "Ck!! Kapan kamu makan? Dari tadi cuma diem bae ngurus itu masker." Keisha mencoba menjelaskan pada Giffard, tidak baik jika ada tamu terus berantem. Tau kan, mereka ini baru saja baikan masa iya bertengkar karena masalah sepele. Makan atau tidak itu tidak peduli bagi Keisha, nanti dia juga kenyang sendiri melihat teman Giffard makan. Sayangnya, ketika Keisha mempertahankan Haikal di rumah ini, laki-laki itu malah pamit pulang. Dia akan pulang, dan akan kembali esok atau lusa atau kapan kalau dia mau. Lagian, dia datang cuma ingin melihat keadaan Giffard yang katanya jatuh dari motor. Keisha cemberut melihat Haikal pergi dari apartemen ini. Dia pun mengalami Giffard dan memukulnya bertubi-tubi melampiaskan kekecewaannya pada Giffard. "Giffard jahat!! Giffard jahat!! Giffard jahat!! Giffard anak setan mengusir orang cakep dari rumah." ucap Keisha berpura-pura menangis. Sungguh, kesempatan itu tidak datang dua kali. Ya kalau Keisha bertemu kembali kalau tidak? Menahan kedua tangan Keisha, Giffard pun melemparkan tatapan tajam pada Keisha. "Terus menurutmu aku gak cakep apa?" To Be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD