SB-25

2122 Words
Alis Keisha terangkat sebelah ketika melihat Giffard yang keluar dari kamar dengan kaki pincang. Tak ada niatan untuk membantu Giffard, Keisha malah lebih sibuk memperhatikan cara jalan laki-laki itu. Tidak hanya itu, Keisha juga lebih memilih menikmati secangkir coklat dinginnya. "Apa liat-liat!!" cetus Giffard Keisha tertawa. "Apa! Nggak boleh!! Kalau nggak boleh jangan di depan aku dong. Pergi sana!!" Jika saja Giffard tidak sakit, sudah dipastikan Giffard akan menguliti perempuan itu tanpa ampun. Sayangnya kaki dan juga tangan Giffard tengah banyak luka dan sakit, lihatlah, sikunya masih saja bengkak dan belum kempes. Semalam Keisha juga harus begadang karena Giffard mengadakan kesakitan tanpa henti. Dan sekarang dengan walau menyebalkan Keisha malah berdiri di depan Giffard. "Pergi!! Aku mau lewat!!" Bukannya pergi, Keisha malah menghalangi jalan Giffard. Bahkan beberapa kali Keisha juga mendorong Giffard dengan pelan dan tertawa. Tentu saja hal itu membuat Giffard semakin kesal. Dia tidak suka diganggu apapun yang terjadi. "Heh perempuan saiko! Awas ya kalau aku sembuh, jangan harap aku ngasih kamu kesempatan untuk nafas." "Dih … ngancem!!" ejek Keisha. "Yaudah sini aku bantu, kasiah kakek Giffard nggak bisa jalan lurus." lanjutnya. Giffrad ingin menepis tangan Keisha. Tapi perempuan itu lebih dulu menginjak kaki Giffard yang sakit makin tambah sakit. Tentunya Giffard langsung menggandeng tangan Keisha, dan meminta perempuan itu mengantarkan Giffard ke ruang tengah. Giffard juga memberitahu Keisha, jika temannya akan datang menjenguk ke rumah. Tapi disini Giffard sama sekali tidak memberitahu ayahnya, yang ada Giffard malah memberitahu Debora dan juga opa Leo untuk datang ke apartemen ini. Bahkan Keisha juga menawarkan diri untuk masak makan siang untuk mereka. Siapa tahu saja mereka mau makan bersama dengan Giffard dan yang lain. Tentu hal itu langsung membuat Giffard menatap Keisha dengan penuh curiga. "Katanya nggak bisa masak? Kok masak?" ucap Giffard. "Masak itu tergantung mood. Kalau lagi mood ya enak dan bisa, kalau nggak mood ya gak enak dan gak bisa." "Terus sekarang mood kamu apa?" "Lagi bagus!!" Giffard menatap Keisha curiga. Bukannya tidak percaya dengan wanita itu, hanya saja Giffard takut kalau apartemen mahalnya terbakar habis karena mood Keisha. Selama ini dia juga jarang melihat Keisha memasak di dapur, meskipun Giffard sudah memberikan semua kebutuhan rumah seperti yang Keisha inginkan. Mendapat tatapan itu Keisha pun langsung menggerakkan dua tangannya ke arah matanya dan pada Giffard secara gantian. “Mikir apa kamu!! Mikir aku nggak bisa masak ya.” tuduh Keisha yang langsung tepat sasaran. “Jangan begitu dong, kita kan lagi belajar, aku juga harus memasak kan? nanti kalau kamu pulang kerja gak ada apa-apa cuma ada angin, mengamuk. Kamu kan suka marah-marah.” lanjutnya. Giffard mendengus kesal, dia pun langsung mengambil majalah yang ada di sampingnya dan membuat buku itu sebagai kipas. Selain sakit rasanya juga panas. “Yaudah masak sana, yang enak. Soalnya mami sama opa mau datang juga.” Seketika itu juga Keisha mendelik sempurna, dia pun menatap Giffard dengan tatapan tidak percayanya. Yang tadinya mereka duduknya memiliki jarak yang lumayan jauh, Keisha menggeser duduknya tepat di samping Giffard. “Heh kamu ngundang mami kamu sama opa kamu? Buat apa Gif!! jangan bilang kamu juga bilang kalau kita tinggal satu rumah?” lagian Giffard tidak sebodoh itu, mana mungkin dia bilang pada ibunya masalah ini. yang ada maminya bisa terserang penyakit jantung, karena kaget dengan ucapan Giffard. dan yang jelas pula, papanya akan mencekik leher Giffard tanpa ampun. Meskipun sudah tua dan memiliki tiga anak, percayalah ayahnya itu sangat cemburu ketika melihat Giffard lebih dekat dengan ibunya dibanding dengan ayahnya. Dia sangat bahagia ketika memiliki ibu yang peduli dengannya selama ini. Ibu yang selalu ada untuk Giffard, dalam segala hal. Hanya saja Giffard tidak menceritakan kelainan pada ibunya. “Terus kalau tanya aku ngapain disini, aku jawab apa?” “ya jawab aja, kamu kerja di apartemenku sebagai pembantu.” “Astagfirullah Giffard!! Pengen cekik.” Giffard melemparkan tatapan tajam pada Keisha, dan menarik telinganya dengan gemas. “Cuma punya waktu tiga puluh lima menit sebelum mereka datang, kamu harus udah memasak.” **** Usai memasak Keisha langsung menghidangkan makanannya di atas meja makan. Keisha juga berpamitan pada Giffard untuk pergi sebentar ke cafe. manajer barunya memanggil dirinya dan meminta Keisha untuk datang ke cafe dimana tempat dia bekerja. Selama bekerja dia selalu baik dan masuk tepat waktu, lalu kenapa juga dia harus dipanggil? Sesampainya di cafe, Keisha langsung menemui manajer barunya di lantai dua. Orang itu langsung memberikan selembar kertas untuk Keisha. padahal kan dia baru datang, setidaknya disuguhi minum atau makanan. karena Keisha sendiri juga merasa haus dan belum makan. Perempuan itu harus segera pergi ketika teman dan juga ibu Giffard datang ke apartemen laki-laki itu. “Ini apa Pak?” tanya Keisha curiga. “Mulai hari ini kamu dipecat dari cafe ini. Itu surat pemecatan kamu dan juga gaji bulan ini.” Bagai disambar petir, Keisha pun melongo mendengar hal itu. Tangannya gemetar, matanya melotot melihat surat dan juga amplop yang berada di depannya. Dia dipecat? Kenapa? Apa selama ini Keisha melakukan kesalahan yang fatal, hingga dia harus dipecat? Keisha hanya tidak masuk selama satu minggu, itu pun juga karena Giffard yang mengatur KEisha dan meminta perempuan itu untuk pindah. dan sekarang dia dipecat? Keisha tertawa kencang, hingga membuat manajer barunya menatap Keisha aneh. “Kenapa kamu tertawa?” kata Theo heran. “Bapak lucu ih, masa iya saya dipecat. Pak selama ini saya kerjanya bagus loh, libur seminggu yang lalu karena ada urusan penting. Saya juga gak pernah telat kok Pak, saya juga datangnya selalu tepat waktu masa ia saya dipecat?” Theo mengangguk, nyatanya memang keisha dipecat dari cafe ini. Dia sudah tidak membutuhkan tenaga Keisha, itu sebabnya dia dipecat dari cafe dengan pesangon full. Kurang baik apa coba Theo sama keisha? Sudah dipecat gaji full sebulan lagi. Keisha menggeleng, tidak ada yang enak jika dipecat dari kerjaan. tapi Keisha yang masih saja penasaran dengan semua ini langsung membuka kertas itu dan melihat isinya. dan benar saja dirinya dipecat karena banyaknya pekerja di cafe ini. Buru-buru Keisha langsung menghitung karyawan cafe ini yang tidak lebih dari sepuluh. dan Keisha masih dipecat? “Pak ini beneran dipecat karena pengurangan karyawan?” kata Keisha memastikan. Theo pun mengangguk. “Tapi ya pak, ini acfe cuma punya sepuluh karyawan, mana ada pengurangan Pak? Kecuali ada seribu pegawai baru saya bisa dipecat.” Theo tersenyum, benar kata Giffard selain nyebelin Keisha juga keras kepala. Dia pun menjelaskan jika dirinya memang dipecat karena pengurangan pegawai. Itu sudah mutlak keputusan pemilik cafe dan mau tidak mau Keisha juga harus menerima. Mendengar pemilik cafe, Keisha lupa jika cafe ini milik Giffard. yang otomatis Giffard juga terlibat dalam masalah pemecatan Keisha. Perempuan itu mengalah, dia pun memutuskan untuk pergi. Keisha harus berbicara dengan Giffard masalah ini, enak saja dia memecat Keisha tanpa alasan yang jelas. Dan menurut Keisha pengurangan pegawai itu tidak masuk akal. Kecuali dia kerja di kantor dan juga pabrik, masih bisa dilogika. Ini cafe … Membutuhkan waktu setengah jam, akhirnya Keisha pun sampai di apartemen Giffard. perempuan itu masih melihat ibu, opa dan juga teman Giffard berada di tempat ini. Dan juga perempuan yang mengaku kekasih Giffard juga ada disini juga. Sengaja banget ngudang uler, biar bikin panas. batin Keisha. “Udah balik? Loyo banget sih.” kata Giffard. Keisha cemberut, dia pun menyimpan kertas itu di dalam tasnya. Ini bukan saatnya untuk berdebat, apalagi ada ibunya. Bukannya di bela yang ada Keisha akan di usir dari rumah ini juga karena berani memukul atau berbicara dengan nada tinggi dengan Giffard. “Laper.” kata Keisha asal. Giffard menatap piring di depannya dan mengambilnya, lalu dia berikan pada Keisha. “Makan gih, aku sisain buat kamu.” “Terimakasih.” Keisha membawa makanan itu ke dalam kamar, kali ini dia akan makan di dalam kamar saja dibanding harus berhadapan dengan banyak orang. Selain dia tidak mood, dia juga belum lapar sungguhan. itu hanya alasan agar Giffard tidak tahu jika dirinya akan marah. Melihat makanan di depannya, Keisha malah dikejutkan pintu kamarnya terbuka dengan lebar. Muncullah Giffard dibalik pintu dengan kaki pincangnya. Keisha mendengus bangkit dari duduk nyamannya, dia pun menggandeng Giffard untuk masuk ke dalam kamar mereka. “Kenapa masuk kamar? Teman sama ibumu sudah pulang apa?” Giffard menggeleng, mereka masih ada di depan sana, lagian mereka sedang asyik bercanda tawa satu sama lain. “Terus ngapain masuk?” tanya Keisha penasaran. “Harusnya aku yang tanya. Itu kamu pulang kenapa murung begitu? Aku ada salah apa?” Melipat tangannya keisha pun mengamati gerak gering Giffard. Bisa jadi laki-laki itu pura-pura bertanya ada apa, agar Keisha tidak marah padanya. Sudah cukup!! Sandiwara ingin jangan sampai berlanjut. “Kebiasan banget sih sok nggak tau apa-apa, padahal dalangnya.’ Alis Giffard mengerut, dia pun menatap Keisha dengan aneh. “Ada apa sih!! Nggak jelas banget perasaan.” “Nggak usah sok punya perasaan deh, kalau kamu sendiri juga nggak punya perasaan.” Giffard semakin tidak mengerti, dia pun meminta Keisha untuk menjelaskan apa yang terjadi. Lagian dia juga tidak tahu apa yang terjadi, dan kenapa juga Giffard yang disalahkan. Memutar bola matanya malas, Keisha pun mengambil secarik kertas dari dalam tasnya. “baca nih, ulah kamu kan!!” kata Keisha. Giffard semakin bingung, dia pun membuka secarik kertas itu dan terkejut. “Heh ini bukan aku ya.” “Terus kalau bukan kamu siapa ha? Yang punya cafe kan kamu bukan aku atau orang lain. Kamu tau nggak sih kerja di sana itu sulit, dan sekarang seenak jidatmu, kamu malah minta pak Theo untuk mecat aku? Dengan alasan pengurangan karyawan? Aku pikir cafe itu tidak begitu besar, dan karyawan juga sedikit.” jelas KEisha. Giffard bersumpah jika dirinya tidak melakukan apapun. Dia belum menghubungi Theo tiga hari ini, dan Giffard juga tidak memberi perintah apapun pada Theo. “Kalau bukan kamu siapa lagi? Dedemit yang wajahnya sama kayak kamu? Ini kan yang punya cafe kamu, dan pak Theo bilang ini keputusan yang punya cafe. Coba jelasin masa iya aku salah terus!!” Laki-laki itu tetap ngeyel, jika bukan dirinya yang memecat Keisha. setelah perjanjian itu Keisha memutuskan untuk kerja. itung-itung duitnya bisa di buat bayar utang pada Giffard. Kalau dia dipecat oleh sang pemilik cafe, lalu uang mana yang harus Keisha berikan pada Giffard? Dia sudah tidak memiliki penghasilan lagi untuk saat ini. “Tapi beneran bukan aku, Kei. Aku nggak melakukan apapun.” kata Giffard membela. “Aku telepon Theo dulu, ini pasti ada salah pahamnya.” Keisha hanya diam sambil menunggu Giffard berbicara dengan Theo. Jika benar terbukti jangan salahkan Keisha jika dia akan mencekik Giffard saat ini jua. “Theo … lo kenapa mecat Kei. Gue kan belum kasih perintah!!” kata Giffard ketiak sambungan teleponnya di angkat. Bahkan Giffard juga menekan tombol loudspeaker agar Keisha bisa mendengar apa yang Theo katakan, jika bukan dirinya yang memerintah Theo untuk memecat Keisha. “Lah kan lo kan yang minat, Keisha Maheswari dipecat dari cafe.” Giffard gelagapan, dia pun menjelaskan pada Theo jika dia tidak memberi perintah apapun pada Theo. Tapi kenapa pria itu mengatakan hal yang tidak pernah dikatakan oleh Giffard!! Laki-laki itu ingin protes, tapi yang ada Keisha langsung menarik ponsel Giffard dan mematikan sambungan teleponnya. Perempuan itu langsung menatap Giffard tajam, jika apa yang dia dengar dari Theo adalah sebuah kebenaran. Jika Giffard telah memecat dirinya. “Demi Tuhan, Keisha. Aku nggak mecat kamu, aku juga gak ngasih perintah apapun sama Theo.” “kalau nggak kamu siapa lagi? Gif kamu tau kan aku butuh pekerjaan itu.” Ya Giffard tahu tapi kan masalahnya bukan Giffard yang melakukannya. Keisha kembali duduk di depan makananya dengan tidak nafsu. Kepalanya pusing mendadak jika seperti ini, dia sudah mau tinggal dengan Giffard. Tapi yang ada Giffard malah menghancurkan semuanya. Disini giffard mencoba kembali menelpon Theo dan mengatakan jika semua ini tidak benar. Keisha tidak dipecat, mungkin diminta istirahat untuk beberapa hari kedepan. Tapi yang ada jawaban The masihs ama, jika Giffard yang meminta Theo untuk memecat Keisha. Jika tidak percaya, Giffard bisa melihat pesan akhirnya dengan Theo, dimana Giffard minta Theo untuk memecat Keisha. Buru-buru Giffard membuka room chat dirinya dan juga Theo. dan nyatanya tidak ada perintah apapun, kecuali giffard meminta Theo untuk menggantikannya mengurus cafe. Hanya itu sebelahnya tidak ada. “Udah lah capek!! Mau ngelak kayak apapun juga itu cafe punyamu, bukan yang lainnya. jadi kalau aku dipecat atas perintah kamu wajar!! kamu sudah tidak membutuhkan tenaga kerja kayak kau ingini.” “Tapi Kei masalahnya aku nggak melakukan apapun. Aku tidak minta Theo untuk mecat kamu. Tolong percaya sama aku.” kata Giffard membela dirinya sendiri. “Kalau bukan kamu terus siapa? Senangkan kamu sekarang aku jadi beban hidup kamu.” Setelah mengatakan hal itu Keisha pun memutuskan masuk ke dalam kamar mandi. Sekarang apa yang harus dia lakukan? Dia tidak memiliki banyak uang untuk mengirim ibunya di kampung dan juga ayahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD